Pertemuan Sastrawan Internasional di Kota Tua

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Jakarta – Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2008 yang digelar di The Batavia Hotel dan Kawasan Kota Tua Jakarta (11-14/12) akan diikuti 100 peserta yang terdiri dari sastrawan seluruh Indonesia dengan pembicara para sastrawan Indonesia, termasuk sastrawan dan pengamat sastra mancanegara.

JILfest yang rencananya dihadiri Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Pinondang Simanjuntak ini akan menggelar materi berupa Seminar dan Pentas Sastra hingga sajian pertunjukan termasuk Penyerahan Wayang Revolusi dari Pemerintah Kerajaan Belanda diwakili Duta Besar Belanda kepada Gubernur DKI Jakarta.

Sastrawan yang akan dilibatkan sebagai pembicara dalam diskusi itu antara lain pengamat sastra Mikihiro Moriyama (Jepang), Jamal Tukimin (Singapura), Putu Wijaya (Indonesia), Henry Chamberlouis (Prancis), Stevan Danarek (Swedia) dan Budi Dharma (Indonesia).

Untuk pementasan di Kota Tua (Hotel Batavia), akan digelar musikalisasi puisi oleh Sanggar Matahari, pembacaan puisi Maria Emrl (Portugal), KHA Mustofa Bisri, Asrizal Nur dan D Zawawi Imron (Indonesia).

“Ini pekerjaan Dinas Kebudayaan, namun di dalam pekerjaan ini kita bekerja sama. Dinas Kebudayaan memiliki kerja sama dengan wadah-wadah organisasi kesenian termasuk Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Cerpen Indonesia (KCI). Ini akan berkait dengan kerja sama termasuk materi acara,” ujar Staf Subdis Pembinaan, Syafei kepada SH, Rabu (10/12).

Menurut Syafei, kegiatan yang ditangani oleh Kasubdis Pembinaan Dinas Kebudayaan Yusuf Sugito ini merupakan lanjutan dari kegiatan sepuluh provinsi di Indonesia yang dilakukan secara intens oleh Mitra Praja Utama (MPU).

“Kegiatan internasional memang baru pertama kali ini. Namun, kegiatan sebelumnya juga telah digelar lewat Temu Sastra yang merupakan hasil kerja sama jaringan komunitas sastra 10 provinsi di Indonesia, termasuk Jabar, Jatim, Jateng, DKI Jakarta, Banten, NTT, NTB, Lampung, Bali dan Yogyakarta,” paparnya.

Membuka Komunikasi
Ketua Pelaksana JILFest 2008, Ahmadun Yosi Herfanda, mengatakan bahwa acara ini memang melibatkan para sastrawan KSI yang kerap dianggap sebagai “sastrawan pinggiran”. Selain karena memang lahir dari wadah alternatif, para sastrawan ini pun muncul di luar “pusat perpolitikan” sastra Indonesia.

“Dengan kegiatan berdimensi internasional ini, citra itu terhapus. KSI juga menjadi pemain penting bagi percaturan sastra Indonesia. Syukur kalau ada dialektika yang terus terjalin dengan komunitas sastra internasional sehingga dialog dengan sastra internasional tak hanya didominasi oleh elite tertentu,” paparnya.

Selain itu, kegiatan ini dapat membuka wawasan sastrawan KSI bahwa cakrawala sastra itu begitu luas, tak hanya di kantong-kantong kecil. Dengan kegiatan ini, para sastrawan dapat mengekspresikan karyanya ke mana saja.

“Dengan JILFest 2008, kita berharap terjalin kontak antara sastrawan Indonesia dengan sastrawan luar negeri. Persoalan jaringan harus dilakukan dengan acara semacam ini. Kesempatan berdialog dan menjalin hubungan kerja sama, bagaimana peta kesusastraan Indonesia bisa jelas dan adil terjadi di tiap sastrawan dan berbagai tempat di Indonesia,” papar Ahmadun, sastrawan dan redaktur di Harian Umum Republika ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *