Puisi-Puisi Timur Sinar Suprabana

http://jurnalnasional.com/
DI GARIS TANGAN

di garistangan
hujan dan cinta
berpeluk dalam genggam

di garistangan
harapan dan derita
tak henti bergumam

Muram!

DI MATA RINA

di Mata rina
di deret hari penuh cahya
di jendela yang senantiasa terbuka
di helaihelai kelopak bunga
di kemana ingin kuhela cinta
:sungguh seluruh bagian diriku tergoda

tapi di Mata rina
kukata ?tidak!? sepenuh sukacita
kerna di Mata rina
tak kusua selain kelezatan rasa tergoda

DI SENYUM IDA

di Senyum ida
di adonan malam dan dukacita bergula
dekap merengkuh senyap
sampai hasratpun lindap
sebelum tibatiba pelahan lenyap

di Senyum ida
tak ada yang terang dan belaka
segala muram
suam
dan gumam

di Senyum ida
di sebersit dunia kecil yang merana
hening
tak henti berdenting
pedih pilu nyaring

di Senyum ida
hanya di Senyum ida
:cinta kehilangan pesona

sungguh hanya
di Senyum ida
…..

DI TENGKUK ANNA

di Tengkuk anna
pukau menemu kilau

di situ aku risau
galau dan balau

silau
dan silap

terjerat
dan Tamat

KABUT

benar memang kabut
sungguh cuma kabut
yang tak punya paut
tak pula butuh Taut

itulah sebab mengapa kabut
tiada kaubisa Jumput

KOTA DI MATA

di mata!
ada banyak kota di Mata

mana tapi Cahya
yang berkali kaucerita?

LAGU SEDIH

di lagu Sedih
di Puisi pedih
:Mata tertatih
meletih

apa yang Masih
jika bahkan senyum merepih
:diri dan Cinta tersapih
sampai cermin memutih

segala tinggal Serpih

LENGGANG

engkau
ataukah Malam
melenggang risau
memeram muram
menghembus kilau
meredup Padam

bikin Jeda
yang dirindu mata

ialah Sunyi tak terkata

LENGANG

riwayat punya pautan
angin butuh singgahan

pelayaran perlu tepian
harapan mau tujuan

mengapa engkau Tak?

TAHUN TUNGGU

belum Tiba bagiku
bahkan di ujung bayang daftartunggu itu

TAHUN HUJAN

sesudahnya hujan
menderas di garistangan
sebelum hujan
padahal langit tak mengandung awan

di dalam hujan
bersama hujan
hampir segala perjalanan
berpelukan dalam satu ingatan

di dalam hujan
bersama hujan
nyaris seluruh tujuan
sungguh membayang Muram, bukan?

risau
dan galau

bahkan melayang
:Bimbang

seperti kabut
:Luput

TAHUN SANDAR

pelabuhan
rumah Tepian
menjanjikan
tapi bukan
Tanah yang kuangan

seluruh debar
telah Sandar
keisengan berbinar
segala memerahmawar

mengapa tapi Hambar

TAHUN LADANG

matahari di tanahlapang
matakaki di Ladang

kulitbadan berkilauan
sewarna dedaunan

jiwa membunga
hidup mewarniwarna

menetes
menetas

selalu saja Nestapa

Sengal
tak kunjung tanggal

TAHUN KERLING

pernah, bukan?
menemu badan, tubuh dan diri
tergoda Harapan

menyangka rembulan
pulas dalam genggaman

sampai tibatiba
……

DUA HATI
:dari sebuah lukisan

sendiri, wajah yang menunduk,
badan yang membungkuk,
lengan terkulai dan lutut tertekuk,
biru berlatar coklat kehijauan nyaris hitam
:mengingatkanku padamu
o, yang entah mengapa hampir selalu
berurai airmata (kubayangkan
bahkan juga ketika bercinta)

aku, seperti tibatiba linglung
mengapung
bersenandung
:mengapa masih juga bersedih hati
bukankah di sini, bahkan dalam diri,
masih ada banyak hari baik untuk mati

ialah kapan
mesti meneruskan kehidupan!

SENJA
:rina

lalu engkau, yang kubayangkan nyaris sewajah
dengan hampir segala jenis kangen, sebentar mengerling
sebelum kemudian tersenyum dan berkata, ?ada,
sungguh, yang selalu diam-diam kurindu

ialah kapan, sedetik-dua saja, bisa punya jeda
dengan rasa ingin menyatakan Cinta

dengan hasrat pengin memelukmu berlama-lama.?

lalu engkau, kekasih yang selalu kusua
bahkan ketika tak sedang jumpa,
baring di sela degab jantung,
menari di sela tik-tak jarum jam

menjelmakan hujan
menghijaukan helaihelai dedaun

beri warniwarna pada usia

o,
mengapa tapi sembari berurai airmata?

MEMBAYANG JAUH

jauh
membayang Jauh
cintaku
kalbuku
meluruhluruh
lepuh

jauh mata
jauh tanpa kata
tak ada lambai
tiada gapai
tinggal sunyi
membekap bunyi

di rasa Jauh
kulepas sauh
kulupa pulaupulau
kuurai risau
gemetar dinginmati
pasi pula hari dan hati

kerna Engkau jauh
membayang Jauh!

MEMBAYANG CINTA

membayang Cinta
tekateki dan nestapa
:kemarau menghujan
lebat panjang bertahunan
dedaun layu lalu mengeringkuning
seperti doa dari hati tak hening

apakah yang kau masih mau
selain gulali rasa galau
merah tapi tak manis
seperti mata ketika tak henti nangis
apakah yang kau masih rindu
selain hari bercandu

sungguh kita ini pemadat
pencinta jerat
keriuhan
pecahan bayang tak beraturan
berlompatan dari satu urat ke syahwat
mengalahkan terang bolalampu 99 wat

membayang Cinta
tekateki dan nestapa

tak pernah sepenuhnya Cinta!

SEPERTI MALAM

tidur ia, seperti malam, seperti rasa dan warna mati
di hati. seperti desau yang entah bagaimana senantiasa
menghela risau dan lalu menyelinapkannya
di selasela deret hari yang mengandung juga hanya
rasa dan warna mati

melumpurlumpur!

BETAPA DINGINNYA

betapa Dingin angin,
betapa dinginnya,
bahkan dalam panas matahari

betapa Dingin daging,
betapa dinginnya,
bahkan dalam panas cinta kita.

o, betapa dinginnya Lapar
yang mengempiskan usus perut
dan menyusutkan akal sehat

maka kutempuh hidup, Getir dan Waswas,
kusesap rasa Pahit itu, bergerigi dan tajam,

terus, tak henti, kucatat engkau
dalam Kenangan berjurang
yang pelahan mulai tak berarti apa-apa,
sampai di segala tinggal cuma Debu,
cuma Kabut, cuma Angin,
cuma Daging, cuma Lapar

Dingin.
sangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *