Tulah

Ratih Kumala
jawabali.com

Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.

Bithiah sudah datang pula. Ia kini menjadi salah satu dari kita. Ramses tak sudi lagi melihat wajahnya karena lebih dari tiga puluh tahun lalu perempuan itu berbohong pada Raja Mesir, memungutku dari sungai dan menenggelamkan kotak anyaman jerami yang mengapungkanku ke dalamnya padahal perca tua yang membungkusku adalah kain budak. Dan aku tak hendak melepaskannya sebagai jubahku kini. Sekarang dan nanti. Kau sudah mengoleskan darah domba itu di pintu-pintu kediaman budak, Joshua? Telah Tuhan titahkan padaku, dan kuwartakan padamu untuk mencelupkan seikat hisop dalam darah yang ada pada sebuah pasu. Darah dari anak domba saat Paskah. Darah itu harus kamu sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorang pun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi.

Aku tahu, kau pasti tak kan melewatkan satu pintu budak pun. Kau juga telah memberi tahu para orang tua keturunan budak untuk mengoleskan darah domba, bukan? Kau pasti telah memagari rumah-rumah budak dari kedatangan malaikat maut. Ini akan jadi malam yang sibuk bagi malaikat maut. Apabila ia melihat darah pada ambang pintumu, maka akan dilewati pintu itu. Pemusnah tak akan masuk ke dalam pintumu dan menulahi.

Kita harus menunggu dengan cemas sambil mencicip makan malam ini. Mencoba berpura-pura menikmati daging dan roti tak berragi, padahal malam ini tak lain adalah cekam. Tuhan tengah merayakan Paskah bagi dirinya sendiri malam ini. Lihat, kita bahkan berbondong-bondong menghadiri pesta-Nya, dengan pinggang berikat, kasut di kaki serta tongkat di tangan. Habiskan danging ini malam ini juga, yang dibakar dan dihidang dengan sayur pahit.

Tak kita rebus pula sayur ini. Dan jika pagi tiba namun sajian masih bersisa, haruslah kita tak meninggalkan apa-apa dari daging ini. Maka kita bakar dengan api hingga habis. Dengar, jeritan para perempuan lamat-lamat melengking mendapati anak laki-lakinya tiba-tiba terkulai tanpa nyawa. Malaikat maut menyisakan hanya raga nan alpa.

Ingatlah, Joshua! Malam ini seluruh raya akan mencatat hingga tak terhingga waktunya. Bahwa Firaun sendirilah yang telah menjatuhkan kutuk untuk pengikutnya. Duhai, Tuhan tak jua kunjung membuka hatinya. Lihatlah, ia akan mati dalam kesia-siaan. Dia tak lain adalah makhluk alpa. Tak berhenti ia mengaku bahwa dirinya adalah Ia. Padahal tak lain dirinya adalah sama dengan kita. Hayati. Dan tak ada hayati yang cukup tinggi untuk mengaku bahwa dirinya adalah jauh di atas orang lain apalagi sebagai penentu sebuah kematian. Tak ada.

Dan, kau lihat Joshua, apa yang terjadi kini? Kesombongan telah membawa seluruh putra sulung pengikutnya menjadi tak lebih dari mayat. Kita akan memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagi kita dan bagi anak-anak kita.

Ketika Firaun terpuruk dalam kesendirian dan kesedihan kehilangan putra mahkotanya, saat itulah kita semua pergi. Para perempuan berjalan mendekap adonan-adonan, yang tak sempat diragi. Itulah bekal kita menuju negeri bernama Kanaan.

Di perjalanan para perempuan membakar adonan-adonan itu menjadi roti bundar. Roti yang keras, namun Tuhan menjadikan roti-roti tak beragi itu suci. Pun menjanjikan pada kita tiba di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Aku sendiri bertanya-tanya; apakah itu untuk menghibur lelah perjalanan kita, atau memang Ia sudah berrencana.

Kuberitahu sesuatu, Joshua. Kita takkan melewati Filistin, meski jalan itu yang paling dekat, melainkan berputar melalui jalan di padang gurun menuju Laut Teberau. Percayalah, Tuhan berjalan bersama kita; siang hari dalam tiang awan untuk menuntun perjalanan dan malam hari dalam tiang api untuk menerangi pandangan kita.

Aku, Laut Belah.
Namanya Miryam. Aku mengenalnya saat ia mengambil rebana dan semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Mereka bernyanyi, sebuah lagu panjang yang syairnya tak putus seperti lingkar. Ombakku bernyanyi di kunci F, saat Miryam dan para perempuan itu bernyanyi di kunci G. Aku ikut girang hingga tubuhku penuh gelombang. Orang-orang menyebutku Teberau. Tapi aku memanggil diriku sendiri Si Laut Belah. Kuceritakan padamu, kenapa aku memberi julukan itu pada diriku sendiri. Masih segar dalam ingatanku, hari itulah aku mengenal Miryam, perempuan yang mendekap buntalan berisi roti tak berragi dan selingkar rebana.

Ketika itu hari tenang. Tak ada Badai, temanku yang kadang berkunjung. Langitpun cerah, yang ada hanya langit terang kehijauan, saat sekelompak orang berbondong-bondong eksodus. Wajah mereka kebingungan dan salah satu dari mereka berteriak dengan marah, “Apakah kamu akan menjadikan lelaut ini sebagai kubur kami, Musa?”

“Musa, bagaimana kita akan melewati laut? Sementara Firaun menyusul kita?” bisik perempuan cantik dengan mata kehijauan. Wajahnya ketakutan. Lelaki yang dipanggil Musa itu berbisik pada perempuan bermata kehijauan, “Jangan takut Miryam,”

Ooo, Miryam nama perempuan itu. Lalu Musa berteriak, “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Saat itulah aku mendengar gemuruh yang lain, berbondong-bondong dengan kuda-kuda gagah dan kereta-kereta perang indah menyusul kelompok eksodus yang berada di bibirku. Lantas, ehm, sebelumnya aku akan memperingatimu, bahwa cerita yang akan kukatakan berikut mungkin tak bisa kau percaya. Tetapi aku bersumpah atas nama seluruh ikan di yang hidup dalam tubuhku, bahwa aku berkata jujur. Sampai di mana aku tadi cerita? Oya. Lantas, lelaki yang disebut Musa itu mengangkat tongkatnya dan menepuk tongkat itu keras-keras ke tubuhku.

(Sungguh, aku kerap dilempari batu-batu oleh anak-anak yang piknik di bibir pantaiku, kerap pula digilas kapal-kapal yang begitu besar, hingga disambangi temanku Badai yang kurangajar berputar-putar, tapi tak pernah kurasakan tubuhku sesakit kali itu).

Kali ketika Musa memukul tongkatnya ke tubuhku, Aku bergidik, ngeri. Kupandangi wajahnya, ada pancaran kharisma yang tak pernah kulihat sebelumnya pada orang-orang yang pernah mengunjungiku. Lalu kuputuskan untuk memberinya ruang untuk berjalan. Ia dan Miryam, dan orang-orang rombongannya.

Itu adalah kali pertama aku memberi jalan bagi orang. Dan kukatakan padamu, jika kau mau coba-coba mengacungkan sebilah tongkat lalu memukulkannya ke tubuhku, takkan aku beri jalan. Lagipula, jika terus kuberi jalan, apa guna kapal-kapal yang berlayar di tubuhku? Kecuali jika kau bisa memukul tongkat itu sekeras Musa memukulnya padaku waktu itu.

Ketika rombongan eksodus itu telah sampai di seberang, Musa kembali memukul tongkatnya dengan keras. Aku kembali gentar, pukulan itu seperti hipnotis buatku. Seakan aku diperintah untuk menutup ruang jalan yang tadi kubuka, kupenuhi kembali dengan air. Tak peduli sekelompok pasukan berkuda gagah masih di tengah-tengah tubuhku. Kulahap mereka hingga ke pecut-pecutnya.

Jika kau tak percaya, selami aku dan carilah bangkai kuda-kuda, juga orang-orang, yang masih menyatu dengan kereta-kereta tempur yang mahal. Itu adalah harta karun yang tak hanya dicarai para bajak laut, tetapi juga para arkeolog dan sejarawan!

Tepat ketika aku menutup tubuhku itulah, kelompok eksodus yang sudah berada di seberang bersorak-sorai. Dan perempuan itu, Miryam, mengambil rebana lalu menyanyikan sebuah lagu panjang yang syairnya tak putus seperti lingkar. Ombakku bernyanyi di kunci F, saat Miryam dan para perempuan itu bernyanyi di kunci G. Matanya, aku tak akan lupa, warnanya cerah kehijauan seperti langit hari itu.

Sumber: Republika Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *