Antara Sastra dan Kekuasaan

Ammilya Rostika Sari*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

HARI-hari di tahun 1955 dihabiskan seseorang yang nantinya menjadi presiden Amerika Serikat dengan berdagang pupuk. Rupa-rupanya ia punya usaha yang cukup santai. “Saya tidak punya buruh dan juga tidak punya pelanggan,” katanya. Jadi, ia sering kali nongkrong saja di atas karung-karung pupuk itu sambil membaca buku. Suatu kali ia membaca antologi puisi para penyair modern, dan terbaca olehnya sebuah puisi. “Saya tidak mengerti makna puisi itu,” katanya. “Tapi saya mengerti baris yang terakhir.” Itulah kalimat after the first death, there is no other. Puisi itu milik Dylan Thomas, yang belakangan kita temui lagi dalam film “Dangerous Minds” (John N. Smith, 1995), kali ini lewat Michelle Pfeiffer.

Ketika kemudian Jimmy Carter, sang pedagang pupuk itu menjadi presiden Amerika Serikat pada 1976 dan ditandai oleh dua buku (Why Not the Best? dan A Government as Good as Its People), rakyat Amerika segera menemukan dari autobiografi dan kumpulan pidato itu, bahwa presiden mereka itu selain seorang pembaca yang hebat juga adalah seorang pencinta puisi. Ia bukan cuma membaca Dylan Thomas dan James Dickey yang jadi jatah fakultas sastra, tetapi juga menyukai puisi seorang penyair jalanan yang mengamen bernama Bob Dylan.

Apa boleh buat. Partai Demokrat yang jarang menang akhirnya bisa melibas Gerald Ford dari Partai Republik, yang waktu itu presiden, karena banyak orang yang masih kecewa dengan ulah Nixon, dari Vietnam sampai Watergate, dan mencari seorang presiden yang cinta damai. Maka terpilihlah Jimmy Carter, yang pernah menjadi Gubernur Georgia, seorang petani kacang yang tidak dikenal.

Namun, orang-orang Amerika akhirnya toh menyadari betapa presiden mereka itu terlalu lembek, ketika sejumlah warga Amerika disandera di Kedubes AS di Teheran pada tahun 1979. Politik, dalam hubungannya dengan kekuasaan, memerlukan aksi yang dramatis dan sensasional, bukan puitis. Popularitas Jimmy Carter merosot dan dalam pemilihan berikutnya Partai Republik menang lagi. Kali itu mereka memilih Ronald Reagan–seorang aktor kelas dua yang sering berperan sebagai koboi jago tembak. Seberbudayanya orang Amerika, mereka lebih suka melihat dirinya sebagai koboi ketimbang penyair.

Jimmy Carter tentu sangat mengerti soal ini. Apakah tangan-tangan kekuasaan mempunyai hati? Ia menunjukkan The Hands that Signed the Paper, masih dari Dylan Thomas.

Great is the hand that holds dominion over// Man by a scribbled name// That five kings count the dead but do not soften// The crusted wound nor stroke the brow// A hands rules pity as a hand rules heaven// Hands have no tears to flow//.

Mungkin kita harus memerhatikan kalimat yang terakhir. Kalimat yang juga sering dikutip oleh Jimmy Carter. Kita mungkin ingat Dylan Thomas, Chairil Anwar, dan Raja Ali Haji. Akan tetapi, terkadang ketika orang sudah mulai berkuasa maka ia mulai lupa. Sebab dalam kekuasaan, bunga warna-warni kadang lenyap oleh birokrasi atau tangan besi.

Kekuasaan tanpa warna-warni keindahan puisi juga adalah suatu bentuk pengasingan. Dalam dunia perwayangan, kita tentu ingat kisah Maharaja Parikesit, yang membelitkan seekor ular mati pada pendeta Samiti saat pendeta itu tak menjawab kemana kijang yang diburu Maharaja pergi. Akhirnya Parikesit pun dikutuk oleh Srenggi, anak Samiti, bahwa ia akan mati oleh Naga Raksasa tujuh hari lagi.

Dalam kekuasaan seseorang memang bisa terlihat gagah. Namun, bagaimana orang tersebut jika tanpa kekuasaan?

Bukan kegelisahan dahsyat yang hendakkan semua itu. Bukan siksa menunggu yang menyuruhku…. Tapi kurindukan kemenangan-kemenangan, kemenangan yang mengalahkan kecut hatiku. Karena memang kutakutkan selamat tinggal yang kekal. Seperti bila dari tingkap ini kuembuskan napasku dan tak kembali tanpa burung-burung, tanpa redup sore di pohon-pohon tanpa musim?.

Inilah yang dikatakan Parikesit. Ternyata kursi kekuasaan, seperti ditulis banyak orang, justru adalah tempat paling sepi di dunia. Seseorang yang jatuh dari kursi kekuasaan akan lebih tahu makna “Betapa ia ternyata lahir dan akan mati sendiri, tanpa orang-orang di sekitarnya.”

*) Mahasiswa Sastra Jerman Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *