HADJID HAMZAH IN MEMORIA

Sri Wintala Achmad
http://sastrakarta.multiply.com/

Manakala saya tengah berhelat dengan Personal Computer (PC) untuk menyelesaikan sebuah esai budaya, ponsel di atas meja berdering. Tidak terduga, kalau Short Massage Service (SMS) yang dikirim kawan Agus Setiawan (karyawan TBY) dan Eko Nuryono itu memberitahukan bahwa Mas Hadjid Hamzah (Redaktur Budaya/Pimred mingguan Minggu Pagi) telah berpulang ke rumah keabadian. Innalillahi wa innaillahi Roji?un.

Kepulangan Mas Hadjid ke rumah keabadian yang merupakan sepasang mata uang dengan kehadirannya di alam maya selayaknya tidak perlu ditangisi hingga kering arimata. Namun sebagai seorang yang belum tuntas menimba pengetahuan (pengalaman) empirik almarhum, saya merasa kehilangan. Sebagaimana saat saya kehilangan sepeninggal sedulur sinarawadi Suwarno Pragolapati, Kuswahyo SS Rahardjo dan RPA Suryanto Sastro Atmodjo dari alam maya ke alam keabadiannya.

Kepribadian Mas Hadjid Sebagai Editor
Sejauh saya kenal Mas Hadjid sebagai redaktur budaya yang ramah dan rendah hati. Beliau murah senyum kepada setiap penulis yang mengirimkan karya ke kantor redaksi MP. Tidak membeda-bedakan penulis yunior dengan senior. Beliau tidak pernah keberatan untuk memberikan masukan atas karya-karyanya yang tidak dimuat di rubrik sastra dan budaya Cakrawala.

Kerendah-hatian Mas Hadjid dibuktikan pula oleg kawan Abdul Wachid BS. Kawan yang menjadi dosen tetap di STAIN Purwokerto itu menyatakan di depan saya sewaktu melayat almarhum. Dengan santun, beliau minta maaf kepada Wachid lantaran tidak memuat naskah-naskah esai sastranya yang terlampau panjang. Menjelang wafatnya, obsesinya akan membangun rumah kecil diungkapkan pula kepada kawanku itu. Menurut beliau, sastrawan harus punya rumah sendiri. Sekalipun kecil.

Banyak penulis muda merasa kehilangan atas kepergian Mas Hadjid ke rumah keabadian. Lantaran beliau seorang redaktur berjiwa samudera dalam membina mereka melalui kecermatan kerja editorial-nya. Beberapa judul naskah esai saya yang telah mendapatkan sentuhan editorial beliau menjadi lebih selaras dengan isiannya.

Kepada kawan seprofesi, Mas Hadjid selalu mendorong untuk terus menulis. Beliau pernah keraya-raya datang ke rumah Mas Suryanto (almarhum) di Nagan Lor 21. Beliau mendorong Mas Sur yang mulai tidak aktif berkarya sesudah lepas dari pekerjaannya sebagai redaktur sebuah harian di Yogyakarta itu untuk menulis dan mengirimkan karya-karyanya ke MP. Usaha beliau tidak sia-sia, meskipun harus mati-matian mengedit karya-karya Mas Sur yang ditulis dengan spidol di atas kertas bekas.

Mas Hadjid seorang redaktur bersikap luwes. Beliau yang tidak pernah berurusan langsung dengan Personal Computer (Internet) itu tetap menerima naskah-naskah yang ditulis dengan mesin tik manual. Sebagaimana karya-karya Fauzi Absal yang selalu dikirim via pos. Bukan via email yang merupakan kecenderungan sebagian besar penulis saat mengirimkan naskah-naskahnya ke alamat redaksi harian (mingguan) tertentu.

Tidak meleset, apabila Mas Hadjid dipersepsikan sebagai redaktur yang unik. Redaktur yang di atas meja kerjanya hanya bertumpukan naskah-naskah kiriman dari para penulis. Bukan seperangkat computer canggih. Dalam bekerja, beliau mengandalkan alat manual. Hingga hasilnya tidak mengundang resiko tinggi. Serangan virus ganas atau terhapus oleh sekelompok tangan usil.

Kepribadian Mas Hadjid sebagai Pimpinan Redaksi
Hampir tidak ada bedanya saat menemui Mas Hadjid Hamzah di rumah pribadinya dengan di kantor redaksinya. Kesan yang saya tangkap, beliau seorang pemimpin arif. Beliau mampu membangun jalinan kerja dengan para stafnya yang tidak memunculkan image interaksi atasan dan bawahan. Melainkan jalinan kerja antar anggota keluarga yang memiliki spirit tunggal dalam meningkatkan kualitas kerja. Bekal utama di dalam upaya pengembangan media yang dikelolanya.

Jangan heran, apabila anda sempat melihat hubungan Mas Hadjid dengan para redaksi MP lainnya, semisal: Arie Sudibyo, Niesby Subakingkin, AB Prass, Daryanto, Latief dll tampak hangat. Mereka seperti keluarga yang selalu rukun baik dalam kondisi suka maupun duka. Kerukunan dan kedamaian ideal yang selalu diwarnai dengan canda-tawa di tengah kesibukan kerja. Suasana santai namun serius inilah mampu memertahankan image MP sebagai bacaaan enteng berisi.

Ungkapkan ini bukan isapan jembol. Kawan-kawan penulis yang sempat melayat almarhum, seperti: Bambang Darto, Iman Budi Santosa, Teguh Ranusastro Asmara, Musthofa W. Hasyim, Hamdy Salad, Fauzi Absal, Otto Sukatno CR, Nur Iswantoro, Kuswaidi Syafi?ie, Abdul Wachid BS, Eko Nuryono, Herlina Tiens dll menjadi saksi. Di mana hubungan kekeluargaan beliau dengan para personal MP telah terbentuk sangat kental. Tidak aneh saat upacara pemakaman jenazah, semua personal MP yang bersikap sebagai anggota keluarga almarhum mengmbil peran sebagai para among tamu.

Betapa wajah para redaksi MP itu menyerupai langit terselimuti awan pekat. Manakala mereka melepaskan kepergian jenazah Mas Hadjid untuk disemayamkan siang itu (Senin, 10 Desember 2007). Barangkali airmata mereka akan menderas sebagaimana hujan yang ditumpahkan dari langit. Sesudah jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Sesudah sukma jati meninggalkan raga. Sesudah empat unsur yang membentuk jasad manusia kembali pada muasalnya. Air kembali pada air. Angin kembali pada angin. Api kembali pada api. Tanah kembali pada tanah.

Kreativitas Sastra Hadjid Hamzah
Dalam peta sastra Yogyakarta, Mas Hadjid lebih dikenal sebagai cerpenis. Karya-karya banyak dimuat di berbagai media di Indonesia. Akan tetapi, selama beliau menekuni profesinya sebagai cerpenis, banyak pengalaman getir dihadapinya. Banyak karyanya yang dimuat tidak mendapatkan honorarium. Beliau ungkapkan persoalan ini dengan nada kesal, saat saya berkunjung di rumah pribadinya.

Pengalaman pahit yang tidak pernah Mas Hadjid lupakan, yakni sewaktu salah satu naskahnya yang diterbitkan kawannya (pemilik usaha penerbitan) di Jakarta tidak mendapatkan honorarium. Bahkan sewaktu naskah itu terbit, beliau tidak diberi tahu. Dari kejengkelannya itu, beliau menyatakan bahwa kawannya yang pernah tinggal di rumahnya itu telah menjadi seorang kanibal.

Sekalipun banyak batu sandungan, namun semangat Mas Hadjid untuk tetap berkarya tidak pernah pupus. Semangatnya menulis selain cerpen telah beliau buktikan. Karya-karya terjemahannya dengan nama samaran Hendrasmara telah banyak dipublikasikan. Salah satu buku terjemahannya yang telah terbit, yakni: “Cinta yang Menciptakan Keajaiban Dunia”. Buku yang memuat kumpulan kisah cinta para tokoh dunia tersebut merupakan bukti, beliau seorang translator tangguh.

Sebagaimana diungkapkan almarhum Kuswahyo SS Rahardjo, Mas Hadjid pernah berpesan kepada saya. Sastrawan tidak berdosa untuk menulis apa saja. Selagi mampu, sastrawan dapat menulis selain karya sastra. Demikian pula, seorang sastrawan harus melek bahasa Inggris. Apabila karya-karyanya akan dikenal dunia.

Catatan Akhir
Seratus hari sudah Mas Hadjid Hamzah meninggalkan kita, namun jasa beliau di dalam turut menumbuh-kembangkan kreativitas sastrawan muda layak dihargai. Bukan dengan uang, melainkan dengan harapan besar agar MP tetap konsisten sebagai media penumbuh-kembangan sastra di Yogyakarta.

Meskipun Mas Hadjid tidak bisa ditemui lagi di jagad gumelar ini, namun karya-karyanya niscaya mengingatkan kita pada keugaharian kepribadiannya. Kehadirannya sebagai sastrawan niscaya tercatat dengan tinta emas di dalam kitab sejarah sastra Yogyakarta. Namanya akan senantiasa dikenang oleh seluruh sastrawan, penulis, dan insan pers. Pandangan hidup dan spiritnya yang tersirat di dalam karya-karya senantiasa mengilhami setiap pembacanya.

Tidak ada kalimat arif untuk mengakhiri tulisan ini, selain doa agar Mas Hadjid nicaya damai di alam keabadiannya. Semoga keluarga yang ditinggalkannya, senantiasa diberi ketabahan oleh Allah SWT. Gusti ingkang hamurbeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *