Rasa Musik

Zuarman Ahmad
http://www.riaupos.com/

SUATU hari saya masuk ke dalam studio tari menyaksikan para penari latihan. Lama sekali saya termenung menyaksikan mereka latihan menari. ?Tari ?kita? tetap seperti dahulu juga, itu ke itu juga, tidak pernah berubah,? kata-kata saya dalam hati.

Kenapa Saya berani mengatakan seperti ini? Karena saya dulu pernah juga jadi pemusik tari, bahkan sebagai komposer untuk tari sampai juga ke negeri-negeri Eropa, Cina, dan beberapa negara Asia Tenggara, dan sudah tak dapat lagi menghitung jumlahnya memainkan musik, membuat musik tari, musik pengiring tari kelompok tari ?di sini? (baca: Riau) .

Kenapa tari ?kita? tetap seperti itu ke itu juga? Apa sebenarnya yang tidak pernah ada dalam tari ?kita?, apa sebenarnya yang kurang pada tari ?kita?? Dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya saya sampaikan pada para penari yang sedang latihan di studio tari sebuah perguruan tinggi itu ketika mereka sedang istirahat. Pertanyaan yang menganjal itu adalah sebuah kata yang bernama ?rasa?. Karena ada tiga hal yang seharusnya ada dalam sebuah tari, yang dalam istilah tarinya disebut wirasa, wirama dan wiraga. Istilah ini diambil dari bahasa Jawa, yang bermakna: rasa, irama, dan raga.

Tari orang Melayu Riau pada dasarnya hanya mencakupi dua hal untuk keharusan itu yakni wirama (irama) dan wiraga (raga). Wirama (irama) menuangkan musikal dalam tari tersebut, sedangkan wiraga adalah bentuk gerak tari itu sendiri (tubuh). Hal yang jarang dan bahkan tak pernah ada secara estetika dalam tari orang Melayu Riau adalah wirasa (rasa, jiwa, roh). Sebuah kesenian yang tidak mempunyai jiwa ataupun kehilangan jiwa sama dengan ?robot? menari, juga ?robot? bermain musik. Jadi, apakah jiwa dari kesenian itu sebenarnya?

Dalam sebuah karya seni, yang dihasilkannya itu adalah sebenarnya perasaan dari jiwanya sendiri. Pada musik misalnya, dengan kehadiran tehnologi canggih, semua suara alat musik dapat ditampilkan dalam sebuah perangkat alat musik yang bernama organ atau para musisi juga menyebutnya kibod (dari kata keybord) atau organ-tunggal, bahkan yang tepat mungkin adalah band-tunggal atau orkestra-tunggal. Karya-karya musik dapat dimainkan dengan menggunakan fasilitas MIDI (singkatan dari Musical Instrumen Digital Interface) dengan perangkat komputer atau organ (keybord) yang menggunakan piranti MIDI, namun penampilan karya musik seperti itu tetaplah seperti permainan ?robot? @ tidak memiliki rasa atau jiwa.

Begitu juga halnya dengan permainan musik yang tidak ada jiwa (rasa) di dalamnya. Saya setuju dengan pernyataan banyak pengamat musik bahwa sekarang anak-anak sangat luar biasa permainan musiknya, tetapi tidak ada penjiwaan dalam memainkan lagu tersebut. Kalau begitu apa bedanya kita (manusia) dengan robot? Sebab, kalau hanya untuk ketelitian memainkan nada-nada melodi sebuah lagu, robot sangatlah teliti (kecuali peralatannya rusak), namun robot tetaplah robot, tidak mempunyai rasa (jiwa). Inilah juga keuntungan pada sisi yang lain seorang seniman yang belajar musik tanpa mengenal notasi, karena mereka hanya mengandalkan rasa (jiwa), namun ingat juga di sisi yang lain juga permainan musik memerlukan juga wirama (irama) dan wiraga (teknik). Semua orang akan dapat menulis cerita atau puisi, namun tidak semua orang akan dapat menumpahkan rasa (jiwa) dalam puisi-puisinya. Karena itu, dalam latihan-latihan teater, olah-rasa sangatlah penting selain juga olah tubuh (raga).

Rasa atau jiwa dalam kesenian adalah juga dinamika, pada dunia musik yakni semua hal yang berhubungan dengan perbandingan keras-lembut bunyi nada-nada melodi yang dimainkan. Namun, rasa tidak hanya mengenai persoalan dinamika (dalam bahasa Yunani: dynamica) yang juga berhubungan dengan tehnologi cara memainkan musik, tetapi, rasa adalah juga bagaimana seluruh jiwa, semangat dalam tubuh batin seorang musisi ikut larut dalam memainkan musik.

Pada periode Barok, dalam karakter musiknya telah memasukkan ornamentasi sebagai pembangun ekspresif melodi, dimana perubahan dinamika terjadi secara mendadak, juga diperkenankan segala sesuatu yang dapat membantu mewujudkan ekspresivitas lagu, seperti bagaimana menginterpretasikan musik yang akan dimainkan itu. Kata Barok berasal dari bahasa Portugis, barocco, yang berarti mutiara yang memiliki tepi yang tidak beraturan. Istilah yang popular di kalangan pedagang permata ini kemudian dipakai dalam kesenian terutama musik sebagai ?memperkaya gaya seni?, yang dalam istilah musik disebut dengan nada hias (ornamentasi) yang menjadi usaha untuk memasukkan rasa dalam permainan musik. Seterusnya pada periode Klasik, pengkayaan-pengkayaan ekspresivitasnya bertambah kuat, misalnya dengan pemakaian vibrato pada tempat-tempat tertentu, seperti nada-nada yang bernilai panjang yang ditahan.

Yang penting dalam pembicaraan tentang rasa ini adalah bagaimana seluruh jiwa, semangat dalam tubuh batin seorang musisi luruh dan bersebati dalam permainan musik itu sendiri. Karakter merupakan yang sangat penting dalam hal ini. Ada dua jenis karakter dalam pembicaraan tentang musik. Pertama, karakter yang dimiliki oleh musisi itu sendiri, misalnya seorang virtuoso akan menemukan karakternya sendiri dalam permainan musiknya, dan karakternya yang tersendiri akan dibicarakan di sepanjang zaman. Karakter yang kedua, yakni alat-musik yang dimainkan. Pada perkembangannya, ada dua jenis alat-musik, yakni alat-musik yang dibuat pada periode awal seperti violin, cello, contrabass, guitar, apa yang disebut dengan akustik dalam pengertian alat-musik manual yang dimainkan langsung apa adanya, tanpa bantuan amplifier atau piranti elektronik lainnya sebagai penguat bunyinya.

Alat-musik jenis akustik dapat dimainkan dengan rasa dan jiwa si pemusik. Ada dua hal yang dapat ditampilkan dari jenis alat-musik ini, pertama si pemain akan dapat mencurahkan segala rasa dan jiwa batinnya dalam memainkannya, dengan mengetengahkan karakter si pemain; kedua, bunyi atau suara yang ditimbulkan dari alat-musik itu sendiri menimbulkan karakter tersendiri. Misalnya, bagaimanapun suara seruling bambu mempunyai karakter dari bunyi yang dkeluarkan dari sebatang buluh, dan si peniupnya akan bersebati dan saling menjiwai, saling merasai antara seruling (sebagai alat-musik) dengan peniupnya (manusia). Hal ini akan sangat berbeda dengan bunyi atau suara seruling yang ditimbulkan dari alat-musik organ atau yang disebut dengan istilah alat-musik elektronik. Bagaimanapun pandainya seeorang memainkan suara seruling pada organ, namun karakter seruling yang dikeluarkannya tidak akan dapat menyamai karakter alat-musik aslinya yakni seruling bambu atau seruling yang terbuat dari buluh itu. Bunyi seruling pada organ itu tidak mempunyai rasa atau jiwa dari bambu atau jiwa dari buluh, dan juga rasa dan jiwa si pemainnya tidak dapat ditimbulkan, karena pengaruh tiupan dari mulut si peniup seruling (manusia) menjadi pengaruh yang juga tak dapat dipungkiri dalam mengetengahkan karakter alat-musik seruling ini, yakni bambu (alat-musiknya) dan si peniupnya (manusia).

Bagaimanapun pandainya memainkan bunyi accordion atau saxophone pada organ atau sejenisnya, tidak akan sama karakter yang diciptakannya dengan bunyi accordion atau bunyi saxophone akustik, karena karakter accordion atau saxophone akustik yang asli tidak akan sama dengan bunyi kedua alat-musik itu yang ditimbulkan oleh organ dengan bantuan piranti elektronik lainnya. Bunyi accordion atau saxophone pada organ hanya menyerupai suara accordion atau saxophone akustik, dan tidak dengan karakternya. Apa sebabnya? Karena dalam permainan accordion atau saxophone akustik asli mempunyai rasa dan jiwa dari alat musik itu dan rasa atau jiwa dari pemainnya, sedangkan pada bunyi accordion atau saxophone pada organ rasa dan jiwa tidak dapat dicapai oleh kedua bunyi alat-musik itu. Pada piano akustik dan piano elektrik (bunyi yang ditimbulkannya dibantu oleh piranti lain seperti amplifier dan listrik) akan sangat berbeda sekali karakter dan rasa atau jiwa yang ditimbulkannya.

Rasa dan jiwa (roh) yang lain adalah pada pemain musik itu sendiri. Sebuah lagu akan memiliki rasa, jiwa atau roh kalau pemain musiknya memainkannya dengan rasa, jiwa atau roh batinnya. Ekspresi sesungguhnya diciptakan dari rasa atau jiwa batin si pemain. ?Musik tidak dapat membuat orang terharu, kalau pemainnya sendiri tidak terharu?, kata Carl Philipp Emanuel Bach. ?Melodi sebagai wujud musik?, seperti yang pernah dikatakan oleh Mozart mengucapkan ?pikiran-pikiran musik, tema-tema tertentu yang menjadi pegangan bagi pendengar?, tulis Wouter Paap. Betapapun, musik yang kita anggap sederhana yang dimainkan oleh piul (violin, biola) Pak Ondan di kampung (dulu) dalu-dalu, dapat membangkitkan birahi seorang gadis dan tojun tingkok (terjun dari tingkap rumah) tergila-gila mengejarnya. Dalam cerita yang lain, dengan ketulusannya serta mencurahkan segala rasa serta jiwanya, musik Orpheus dapat meluluhkan hati penjaga pintu gerbang kota orang mati dalam mitologi Yunani, sehingga ia diizinkan menjenguk calon isterinya Eurydice yang sudah mati karena digigit ular berbisa ketika masih di dunia. Sehingga Cristoph Willibald Gluck, komponis Jerman abad ke-18 pada tahun 1762 membuat karya opera tiga babak yang judulnya diubah dalam bahasa Itali sebagai Orfeo ed Euridice. Raniero da Calzabigi menulis libretto-nya yang diambil dari kisah Orpheus dan Eurydice. Dengan musiknya yang indah menyihir, Orpheus meyakinkan penjaga pintu gerbang Hades untuk menghidupkan kembali Eurydice kekasihnya.

Alangkah sejuknya hati ketika kita sembahyang pada subuh hari di sebuah masjid sederhana kampung kita yang masih pastoral, dengan suara lagu bacaan ayat suci Alquran imam tua yang biasa-biasa saja, tetapi hati dan jiwa kita luluh dalam suasana subuh pedusunan itu. Rasa dan jiwa yang ditimbulkan dari keharuan dan ketulusan imam masjid kampung itu membuat jamaah (makmum) sembahyang subuh itu menjadi haru pula, karena sesungguhnya ?melodi adalah esensi jiwa yang berubah menjadi bunyi?, kata Diepenbrock, seorang komposer Belanda yang pernah ada.

Jadi, mari memasukkan rasa (jiwa, roh) dalam karya seni kita, dalam musik kita, karena tanpa jiwa atau roh (rasa) sebuah raga tidak berarti apa-apa. Tanah akan tetap menjadi tanah, kalau roh tidak dimasukkan ke dalamnya. Dan, menjadi diri sendiri adalah tujuan akhir dari seniman.***

*) Musisi dan pecinta sastra. Tunak dan berprestasi di bidang yang digelutinya ini selain mengelola Majalah Budaya Sagang sebagai redaktur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *