Seniman Abai Catat Konsep Karya

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

SEMOGA ini bukan kegelisahan pribadi, sehingga luput dari sindiran cerdas Albert Einstein: ?Seluruh masalah di bumi ini bisa dipecahkan ilmu pengetahuan, kecuali masalah pribadi.? Bermula dari sepinya gagasan seni, sejak dari sejarah, kritik, dan karya seni ditambah kebimbangan proyeksi akademisi di perguruan tinggi, memicu pentingnya seniman mencatat sendiri ?konsep gagasan estetik maupun artistik? karyanya.

Tanpa kerendahan hati atas catatan seputar pemikiran sang seniman, lantas, apa yang kemudian bisa ditawar dari perjalanan sejarah, kritik dan karya seni?

Sejarah seni pasti ada, mungkin tidak terbaca. Kritik seni barangkali tidak bekerja. Sementara karya boleh lahir, berbiak, lalu mati tanpa jejak. Padahal ketiga hal itu adalah subtansi seni yang tak bisa disapih, apalagi dianiaya. Jawa Timur, mustinya tumbuh subur dalam ketiga ranah itu karena kekayaan sub-kultur yang plural, beragam, dan menjanjikan bagi perkembangan jagad seni sejak sastra, rupa, musik, teater dan lain sebagainya. Boleh dikata, puncak-puncak kebudayaan diantaranya pernah ada di wilayah yang secara administratif kebetulan disebut Jawa Timur ini.

Dari sinilah, catatan konsep kesenian itu penting untuk kemudian menjadi ?harta karun? baru pendokumentasian hasil pemikiran kebudayaan. Semuanya untuk dibaca. Segalanya demi bertaruh, bertarung bagi perkembangan sumbangsih budaya dalam penulisan sejarah, kritik, dan karya seni.

Sekadar contoh di lapangan sastra modern (Jawa Timur) ada sederet nama yang tak semua punya catatan bagus perihal sejarah, kritik, dan karyanya. Sejak Muhammad Ali, Budi Darma, Akhudiat, D Zawawi Imron, Suparto Broto, Hardjono WS, M Fudloli Zaini, Sabrot D Malioboro. Lantas L Machali, Herry Lamongan, Aming Aminudin, M Anis, Rusdi Zakki, Wawan Setiawan, Sirikit Syah, Wahyu Prasetyo, Beni Setia, Jil Kalaran. Pada generasi yang mutakhir, Kusprihanto Namma, dan Bonari Nabobenar, M Shoim Anwar, Tjahyono Widarmanto, Tjahyono Widianto, Syaiful Hajar, Leres Budi Santoso, Zoya Herawati, Ratna Indraswari Ibrahim, Syaf Anton, Hidayat Raharja, HU Mardi Luhung, Arif B Prasetiyo, Mashurii, Riadi Ngasiran, Anas Yusuf, S Yoga, dan tentu jumlahnya bisa ditambah lebih banyak lagi.

Melihat jumlahnya yang tak sedikit, dapat dipahami bila sebagian seniman tak sepaham dengan pentingnya mencatat ?konsep estetis dan artistik karyanya.? Biasanya pendapat itu atas dasar pikiran bahwa tugas itu mustinya diemban kritikus sastra (seni). Akan tetapi kemiskinan kritik sastra kita, dan pentingnya membuat tonggak sejarah seni di ?tempat sendiri? semoga melunturkan asumsi sebagian yang kurang setuju. Kerendahan hati dalam menyusun konsep seni, dan mencatat sejarah sendiri menjadi yang utama untuk entah di suatu waktu, entah hari ini atau esok di masa yang mendatang pasti bakal dibaca, didokumentasi, diteliti dan menjadi pondasi karya berikutnya.

Barangkali bisa dimulai dengan pertanyaan kecil pada diri sendiri. Semisal, mengapa menulis sebagian besar karya sastra justru pada saat kehilangan pekerjaan? Tentu saja sulit dicari persis jawabannya. Barangkali hanya bisa merasakan dampaknya. Inilah kiranya persoalan pribadi pengarang, yang di luar dugaan, telah banyak menlahirkan karya-karya yang kemudian bukan lagi menjadi persoalan pribadi saja. Pendeknya telah berkembang jauh menjadi problem keilmuan dalam hal ini sastra.

Ini contoh kecil untuk menjelaskan bahwa menulis sastra adalah suatu upaya menjaga diri, memahami diri agar tak kehilangan hak milik sebagai manusia. Semacam cinta yang sesungguhnya, cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan, apalagi kehilangan. Cinta yang tidak takut pada jarak, waktu dan tentu saja ruang. Cinta yang bisa mendengar dan merasakan jerit tangis, luka, bahagia, sampai dasar relung yang terdalam manusia. Cinta yang sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tak sanggup menampung kandungan isinya. Tapi juga cinta yang tak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata.

Dalam wilayah gagasan, saat itulah tak sulit untuk merondai pikiran dengan menempatkan dirinya pada tirai puisi?imajinasi, persepsi, intuisi atau interpretasi. Tidak terlalu susah membiarkan otaknya memutar balik pandangan tentang pikiran dalam semesta. Semesta telah dirangkumnya dalam satu gerak pikiran besar. Tidak bersusah payah berkat kata dalam puisi, yang menghadirkan perasaan, intuisi, imajinasi, jiwa, kesadaran bahkan ruh?hal yang sangat manusiawi sekaligus mempribadi. Sebaliknya ia telah menemukan ruh, kesadaran, jiwa, imajinasi intuisi dan perasaan setiap kata sebagaimana ia temukan dirinya dalam kata.

Ia membabtiskan kata itu seperti manusia juga. Seperti partikel, seperti gelombang abstrak, sebagaimana dalam teori relativitasnya Einstein yang kesohor itu. Sebab itu meskipun ia tahu begitu banyak, jutaan kata-kata, miliaran buku-buku, seperti juga manusia ia tahu bagaimana harus hidup, menyela dan menyusun pikiran besar. Ia pun tahu, perlu kerendahatian untuk berjanji. Juga janji sebagai pengarang memperlakukan kata seperti halnya terhadap manusia. Begitu sebaliknya akan menghormati manusia seperti halnya angkat topi terhadap kata.

Betapa ia tak akan tinggal diam saat menjumpai kenyataan seperti sekarang: Kata sudah demikian kejam menjadi pembunuh berdarah dingin yang menghabisi manusia, seluruh semesta, membantai sesama kata dan bahkan membunuh dirinya. Akibatnya, kematian terjadi dimana-mana. Kecuali bagi siapa saja yang bersih dan jujur. Pendek kata sebagai pribadi, sebagai pengarang, sebagai ilmuwan dan sebagai manusia, setiap mereka berjanji akan menemukan dan melahirkan kebersihan dan kejujuran kata dalam kepengarangannya kelak. Kata sendiri belum pernah diperlakukan semulia roh dasarnya.

Jika pun terjadi, apologi di luar itu semua justru melepaskannya dari ruh sastra sebagaimana galibnya yang musti percaya diri, ?kreatif,? berani, bebas, sadar diri tengah menarikan tarian semesta di lautan kata. Entah itu ia dalam keadaanya yang terkendali atau sedang dikendalikan oleh suatu kekuatan yang di luar dirinya, tapi ia yakini sebagai imamnya, penciptanya. Kadang-kadang ruh sastra itu tak peduli benar dirinya bermakna atau tidak. Tapi pertanyaan itu tak pernah diajukan padanya yang telah tahu tujuan hidupnya. Kedengarannya hanya serentetan bunyi. Kelihatannya cuma bayang-bayang. Kesannya seperti tanpa pesan. Sebaliknya bukan mustahil di belakang itu malah tersimpan pikiran besar, arti yang gemilang dalam perjalanan hidupnya. Spirit hidup yang luar biasa di tengah lautan kata meskipun dalam kenyataannya di negeri ini dalam penggunaannya, kata-kata demikian keruhnya, tidak orisinil, kerdil dan kosong. Kendati entah di kedalaman lautan kata atau di pinggiran pesisir pantai perawan, saat ini terus diuji oleh sastrawan-sastrawan dengan jiwa besar.

Kebesaran jiwa sastrawan-sastrawan, pengarang-pengarang, seakan mutlak diperlukan dan terus diupayakan mendekati pemaknaannya, yang kurang lebih serupa takdirnya, nasibnya, spirit hidupnya, kegelisahannya: serupa dengan kata. Sebagai pengarang tentu ia harus sadar berada di sepanjang ruang dan waktu. Sebagai pengarang tentu tidak akan mencari jawab apalagi untuk menemukannya. Karena naluri kepengarangan mengungkapkan hal itu akan sia-sia. Pengarang hanyalah diberi hak untuk mengajukan pertanyaan, bujuk rayu, kebijakan filosofis, dalam bentuk seindah mungkin, sedahsyat mungkin agar seolah kelak mendapat jawaban pasti atas segala tanya dan mengakhiri kegelisahannya.

Mungkin jawabannya seperti ini: Mengarang lebih tepatnya adalah usaha menipu diri sendiri. Sampai di sini pengarang penting untuk percaya berkat pengorbanan?yang meski tak istimewa tapi perlu dengan jiwa besar seperti itu,?sanggup mempertahan diri, menahan diri dengan puasa agar senantiasa melakoni sebagai manusia yang kreatif semestinya atas nama Sang Pencipta. Pengarang perlu menipu diri untuk meraih kegelisahan hidup kepengarangan selanjutnya, kebingungan berikutnya. Kedengarannya memang na?f, dan gila. Pengarang harus gagah hidup miskin, di tengah kemiskinan di lautan kata, samudera bahasa di negeri ini, yang fatalnya juga masih hidup susah karena serba terjerat kemiskinan, juga terlilit utang (apalagi kata).

Dengan demikian segala kemungkinan bisa terjadi sekalipun ini paling tidak mungkin. Menjadi makhluk yang karena keterbatasannya sanggup menjangkau ketakterbatasannya. Menjadi sesuatu yang biasa demi menuju yang luar biasa. Berada di suatu peristiwa kecil tapi menjadi dahsyatnya. Sesuatu yang seringkali sia-sia, tak tersentuh tetapi sesungguhnya betapa luas maknanya. Atau sesuatu peristiwa besar yang semula percuma, kemudian disederhanakan agar selanjutnya enak dibaca dan perlu. Tak mengapa, kawan.[]

*) Penulis adalah pengarang, Pimpinan Komunitas KELUARGA (Kelompok Intelektual Asal Lingkungan Jalan Airlangga).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *