Catatan JilFest 2008; Sastra dan Penghargaan Nobel

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Jakarta – Karya Pram, dalam kenyataan, adalah satu-satunya karya yang paling dikenal di luar negeri. Namun, sastrawan Putu Wijaya menyebutkan banyak faktor yang memengaruhi populernya sebuah karya. Pelarangan karya-karya Pramoedya Ananta Toer (Pram), tak bisa dielakkan, dapat juga menjadi promosi yang hebat sekali atas karyanya. ?Minat membaca terhadap yang dilarang justru semakin besar ketimbang ketika karya itu tak dilarang,? ujar Putu sambil mengatakan bahwa dia justru bangga terhadap karya mendiang, sekaligus mengakui kualitasnya.

Lain lagi dengan pandangan Prof Dr Budi Darma. Dalam masalah Nobel, menurut pengamat sastra sekaligus novelis ini, sebetulnya ada masalah lain yang dipertimbangkan Akademi Swedia. Sastrawan, sebetulnya bisa dicalonkan apabila dia disiden?melawan negaranya.

Karya Pram, secara intrinsik, memang sangat baik. ?Tentu dengan memakai tolok ukur. Kita bisa membaca karya pemenang Nobel yang lain, baru kita bisa bilang bahwa Pram betul-betul hebat. Kendati, kalau ia tak disiden, mungkin juga mata dunia tak tertuju pada seorang Pram,? ujar Budi.

Budi Darma mencatat bahwa hadiah Nobel diselaputi agenda politik. Berdasarkan tulisan Michael Specter di The New Yorker, 1998?dikutip oleh Atlas?penulis Finlandia Czeslaw Milosz diberikan hadiah ketika Findlandia diduduki Rusia. Milosz diberi hadiah Nobel ketika Solidarity (solidaritas) berdiri di negeri itu.

Budi Darma, melihat bahwa sastra Barat yang dulu identik dengan sastra dunia sedang kehabisan penulisnya karena tak ada lagi pengarang pemenang Nobel yang berasal dari sana. Tiap mendapatkan Nobel, kritik terhadap penulis Barat pun ramainya bukan main.

Penulis bernama James Atlas, pada 5 Oktober 1999, menulis ke The Straits Times, Singapura, 5 Oktober 1999 bahwa secara pribadi dia tahu riwayat para pemenang, bahkan bertemu Grass beberapa hari sebelum pengarang Jerman itu meraih Nobel. Dia juga mengenal Nadine Gordimer dan Saul Bello.

Namun, lanjut Budi, James mengatakan bahwa ketimbang Tolstoy, Joseph Condrad, Proust, mereka (sastrawan pemenang Nobel) bukan apa-apa. Baginya, Toni Morrison hanyalah ahli retorika, tapi isinya kita tak tahu berkisah tentang apa. ?Itu ungkapan dari James, bukan saya,? tandas Budi Darma.

Budi kemudian memberikan jalan keluar bahwa kualitas sastra dunia lebih baik dikembalikan pada perkara intrinsik, tentu selain persoalan ekstrinsik yang kembali pada biografi masing-masing pengarang. ?Lebih baik memperbaiki mutu tulisan. Untuk idealisme, kita lebih baik membumi. Sastra dunia (Nobel) memerlukan persyaratan di luar syarat intrinsik sastra Indonesia itu sendiri,? ujar Budi.

Teks dan Politik Komunitas
Dua pembicara itu tampil terpisah dalam momen seminar JilFest (Jakarta International Literature Festival) 2008 bertema ?Sastra Indonesia dalam Konstelasi Sastra Dunia? (11-14/12) yang terbagi dalam tiga topik yaitu ?Sastra Indonesia di Mata Dunia?, ?Prospek Penerbitan Sastra Indonesia di Mancanegara?, dan ?Politik Nobel Sastra?.

Pembicara lainnya adalah Prof Dr Abdul Hadi W M, Putu Wijaya (Indonesia), Prof Dr Koh Yung Hun (Korea), Prof Dr Mikihiro Moriyama (Jepang), Prof Dr Henry Chambert-Louir (Prancis), Dr Maria Emilia Irmler (Portugal), Dr Steven Danarek (Swedia), Dr Katrin Bandel (Jerman), dan Jamal Tukimin MA (Singapura).

Prof Dr Koh Yung Hun mengemukakan pentingnya penerjemahan sastra sebuah bangsa karena di dalam karya sastrawan itu terdapat ide, pergulatan, fenomena sosial budaya, baik kehidupan individu maupun bangsanya.

?Sastra Indonesia pernah diperkenalkan di masyarakat Korea oleh beberapa sarjana yang mendalami sastra Indonesia. Chung Young Rhim dapat dikatakan berjasa memperkenalkan sastra Indonesia di Korea pada periode awal,? ujar Hun.

Mikihiro Moriyama, mengatakan bahwa apa pun motivasi penerbitan, sebagaimana bisnis penerbitan lain, tentu memakai orientasi ekonomi. Karena itu, pertimbangan pasar dan pertimbangan terhadap nama penulis sangat dipertimbangkan dalam proses penerbitan itu.

Karena itu, yang terpenting bagi Stevan Danarek justru teks seni itu sendiri. Danarek mengemukakan, bahwa fenomena karya yang muncul ke publik kerap kali tak berelasi pada usaha saat si penulis hidup. ?Banyak karya besar mereka justru dikenal setelah mereka wafat,? papar Danarek.

Katrin Bandel, di momen festival yang diisi dengan pembacaan puisi dan workshop itu, kemudian mengemukakan politik sastra dari sebuah komunitas di Indonesia terhadap masyarakat sastra di Eropa.

Menurutnya, ada dampak tak sehat dari upaya pencitraan yang dilakukan oleh komunitas itu terhadap teks dan pencatatan sejarah sastra di Indonesia. ?Institusi dan orang-orang yang terlibat dalam proses pemilihan karya tersebut memiliki tanggung jawab yang tidak kecil,? papar Bandel, sambil menambahkan bahwa komunitas itu, dalam upaya politiknya, sebetulnya telah menyelewengkan tanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *