JILFest, dari Politik sampai Spirit Bersastra

Aries Kurniawan
http://www.republika.co.id/

Sebuah perhelatan sastra berskala international, Jakarta International Literary Festival (JILFest), yang diselenggarakan atas kerja sama antara Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Cerpen Indonesia, dan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, digelar di Kota Tua Jakarta, pada 11-14 Desember 2008.

Melalui iven ini sekurangnya akan terkabarkan kepada masyarakat sastra dunia bahwa Indonesia memiliki sejumlah sastrawan dan karya-karya sastranya bisa dijadikan salah satu pintu masuk bagi masyarakat dunia untuk memahami budaya dan masyarakat Indonesia.

Iven ini sekaligus menjawab kegelisahan banyak sastrawan Indonesia atas ketiadaan iven sastra berskala international — tidak sebagaimana di bidang musik, film, dan seni pertunjukan, yang telah lebih dulu memiliki iven internasional di Jakarta.

Ketiadaan iven sastra berskala international berimbas pada rendahnya tingkat pergaulan sastra dan sastrawan Indonesia di manca negara. Diakui atau tidak, sastrawan Indonesia umumnya memang belum dikenal di level international kecuali Pramoedya Ananta Toer.

Sebagaimana diilustrasikan salah seorang pembicara seminar JILFest, Putu Wijaya, ketika mengikuti sebuah festival sastra di Berlin, dia harus dengan sabar menjelaskan pada seorang peserta dari Amerika bahwa Indonesia juga mempunyai banyak sastrawan.

Mengatasi kondisi itu, menurut Putu Wijaya, penerjemahan sastra Indonesia ke dalam berbagai bahasa tidak bisa tidak harus segera dilakukan. Dan, JILfest diharapkan menjadi langkah awal dalam membuka ruang-ruang kerja sama antara sastrawan Indonesia dengan sastrawan negara lain, baik secara lembaga maupun individu.

Pembicara lain, Jamal Tukimin (Singapura), mengatakan prospek penerbitan karya sastra Indonesia di Singapura dan negara-negara Melayu sangat besar. Di singapura, buku-buku terbitan Indonesia sudah masuk sejak Perang Dunia II. Dengan sedikit penyesuaian bahasa (bukan terjemah) buku-buku sastra Indonesia dapat mengisi 75 persen pasar buku sastra Singapura.

Menurut pembicara dari Jepang, Prof Dr Mikihiro Moriyama, buku-buku sastra Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Jepang terbilang masih sangat sedikit. Potensinya yang besar masih belum tergarap maksimal. Melalui iven Jilfest ini kerja sama antara sastrawan Indonesia dan Jepang diproyeksikan dapat ditingkatkan.

Topik seminar
Pada seminar putaran pertama diusung topik Sastra Indonesia di Mata Dunia, menghadirkan pemakalah Dr Katrin Bandel (Jerman), Prof Dr Koh Young Hun (Korea), Dr Maria Emilia Irmler (Portugal) dan Prof Dr Abdul Hadi WM (Indonesia).

Katrin menyoroti politik sastra yang dilancarkan Komunitas Utan Kayu (KUK) di Eropa. Hasil sorotan Katrin mengungkapkan bagaimana KUK mencitrakan Indonesia sebagai bangsa yang tiranik, radikal, dan intoleran terhadap keragaman untuk ‘menjual’ Ayu Utami, salah seorang eksponen KUK, di Eropa.

Sebegitu penting rupanya pengakuan international bagi sastrawan Indonesia sehingga cara apapun (baca: pembohongan) harus ditempuh untuk mendapatkannya. Mengapa ini terjadi? Katrin menengarai sastrawan Indonesia punya kepentingan besar untuk dikenal di Eropa.

Berkait soal politik sastra, Abdul Hadi WM mengatakan bahwa bagaimana pun kerasnya upaya sastrawan Indonesia mengenalkan diri kepada dunia tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa kemauan politik pemerintah dalam sistem pengajaran sastra Indonesia di sekolah.

Pembicara dari Perancis, Henry Chambert dan Stevan Danarek (Swedia), menyarankan perlunya upaya yang sangat keras bagi masyarakat sastra Indonesia untuk menuju ke Nobel Sastra, bukan semata dengan cara kekuatan karya sastra itu sendiri melainkan dengan strategi lain seperti penerjemahan dan diplomasi budaya. Dia mencontohkan bagaimana Pramoedya Ananta Toer gagal meraih Nobel meski sudah masuk nominasi Nobel selama dua puluh enam kali.

Upaya-upaya itu bagi Budi Darma adalah berupa peran Indonesia di bidang-bidang lain di luar sastra seperti ekonomi, politik, sosial, teknologi, dan kekuatan militer dalam pentas dunia. Bagaimana dunia akan melirik sastra Indonesia apabila mereka tidak memiliki referensi tentang Indonesia.

Acara lain
Selain seminar, JILFest 2008 diisi lomba penulisan cerpen berlatar Jakarta, pertunjukan sastra, bazar buku, workshop penulisan cerpen dan puisi, workshop musikalisasi puisi dan wisata budaya.

Lomba menulis cerpen berlatar Jakarta diikuti 360 peserta dari pelosok tanah air dan luar negeri. Kali ini dimenangi cerpen berjudul Selendang Cokek untuk Ayuni karya Floreance Sahertian (Sidoarja), disusul Pieter Akan Mati Hari Ini karya Deny Prabowo (Depok, Jabar), Pelangi Nusantara karya Sigid W (Palembang), Klinik Putih di Ujung Rel Kota Tua karya Thowaf Zuharon (Jakarta), Lelaki Tua di Bangku Taman karya Irene Rahmawati (Kebumen), dan Kereta Nyanyian karya Akidah Gauzillah (Jakarta).

Kegiatan workshop musikalisasi puisi, penulisan puisi, dan cerpen masing-masing digelar di Museum Wayang, Museum Seni Rupa, dan Museum Sejarah, dengan pemateri Agus R Sarjono dan DR Suminto A Sayuti untuk puisi, Helvy Tiana Rosa dan Shoim Anwar untuk cerpen, serta Tan Lio Ie dan Ane B’Neh untuk pertunjukan puisi. Workshop diikuti sekitar 400 pelajar SMA, mahasiswa, guru dan umum.

JILfest 2008 dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta H Fauzi Bowo di Museum Seni Rupa. Fauzi menorehkan kalimat pertama puisi tentang Jakarta dan diselesaikan oleh Taufiq Ismail. Fauzi lantas membacakan puisi itu, disusul Taufiq Ismail dan penyair Jerman Martin Jankowski. Acara pembukaan disudahi dengan pergelaran wayang Betawi di Museum Wayang.

Pertunjukan sastra utama digelar di Museum Sejarah dan pentas sastra penutup digelar di pelataran Pasar Seni Ancol dengan pemandu Nur Hayati (Pusat Bahasa) dan penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy. Antara lain, menampilkan penyair D Zawawi Imrom, Asrizal Nur, Jose Rizal Manua, Diah Hadaning, Rukmi Wisnu Wardani, baca cerpen Putu Wijaya dan musikalisasi puisi Sanggar Matahari.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Pinondang Simanjuntak, didampingi ketua panitia pelaksana JILFest Ahmadun YH, pada sambutan penutupan mengatakan akan mendukung penyelenggaraan JILfest sebagai iven dua tahunan. Hal senada dikatakan Fauzi Bowo pada sambutan pembukaan. Keduanya percaya peran penting sastra dalam ikut menciptakan kehidupan yang damai sekaligus memberi identitas bagi Jakarta sebagai ibukota negara.

Hampir semua peserta JILFest, antara lain Inggit Putria Marga, Fikar W Eda, Chavcay Syaefullah, Sihar Ramses Simatupang, Mustofa W Hasyim, Imam Ma’arif, Irman Syah, Micky Hidayat, Khoirul Anwar, Ibnu PS Megananda, SM Zakir, Mohamad Saleh Rahamad, dan Dinullah Rayes, ambil bagian untuk membacakan sajak-sajak mereka pada pentas penutupan. Acara penutupan ditandai penandatangan back dropp oleh Pinondang Simanjuntak dan Ahmadun YH, diikuti seluruh peserta. Sampai jumpa pada JILFest 2010!

*)Cerpenis dan peserta JILfest.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *