Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi

Judul novel : Cecilia & Malaikat Ariel
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : Andytias Prabantoro
Penerbit : Mizan Pustaka, Desember 2008
Tebal: 211 halaman
Peresensi: Sunaryono Basuki Ks*
http://www.korantempo.com/

Jostein Gaarder awalnya sukses dengan novel filsafatnya, Dunia Sophie. Edisi terjemahannya yang pertama terbit Oktober 1996 (Mizan) dan pada November 2006 telah mencapai cetakan XVIII.

Buku yang pertama terbit dalam bahasa Norwegia berjudul Sofie’s Verden pada 1991 dan hingga kini telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa, serta sudah terjual 30 juta kopi. Pada 1995, novel ini menduduki posisi pertama dalam daftar best seller dunia mengalahkan The Celestine Phrophecy karya James Redfield yang konon telah mengubah hidup banyak orang.

Setelah sukses Dunia Sophie, Mizan menerbitkan terjemahan karya Jostein Gaarder, mulai dengan Gadis Jeruk (2005), Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng (2006), Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Maya (2008), dan Cecilia dan Malaikat Ariel (Desember 2008). Dari keenam buku itu, hanya Dunia Sophie (561 halaman) dan Maya (458 halaman) yang punya ketebalan cukup, sedangkan yang lain tiga ratusan halaman atau kurang.

Jika Dunia Sophie mencoba membeberkan sejarah filsafat dengan cara yang sederhana, Maya mempersoalkan terjadinya alam semesta dan penciptaan manusia, apakah keberadaan kita di muka bumi ini kebetulan atau punya tujuan tertentu.

Cecilia dan Malaikat Ariel masih berkutat tentang filsafat adanya dunia dan surga, antara manusia dan malaikat, dan mempertemukan dua makhluk ciptaan Tuhan itu untuk berdialog membuka rahasia masing-masing. Tuhan menciptakan manusia dari elemen-elemen yang ada di bumi, yang bisa tumbuh dan akhirnya mati, sedangkan malaikat diciptakan dari unsur yang berbeda sehingga mereka tak punya indra, tak tumbuh, juga tak mati. Seperti Dunia Sophie, Jostein Gaarder memilih tokoh gadis muda Cecilia sebagai medium pemikirannya tentang manusia, malaikat, dan Tuhan.

Ketika mula-mula diciptakan, Adam dan Hawa sebagaimana penghuni surga adalah anak-anak yang tak tumbuh sehingga tak bisa mati. Tapi, setan dengan segala tipu daya membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah larangan, yang menghidupkan pancaindra mereka dan jadilah mereka sebagaimana manusia sekarang yang tumbuh serta akhirnya harus meninggalkan surga.

Dialog antara Cecilia Skotbu, gadis belia berambut panjang yang sedang terbaring sakit, dengan malaikat Ariel, yang datang berkunjung dan menghiburnya, sangat menarik dan sering mengejutkan. Sejumlah hal kecil yang tak terbayangkan dan menjadi persoalan, justru muncul ke permukaan dan dibicarakan bersama.

Malaikat Ariel tampaknya turun ke bumi untuk mencari tahu rahasia kehidupan manusia, bagaimana rasanya menjadi manusia, yang tentu saja tak mampu dilakoninya tetapi dicoba untuk dipahaminya. Demikian pula Cecilia Skotbu yang sedang terbaring sakit pada hari Natal juga berusaha memahami kehidupan malaikat dan bertanya tentang kehidupan di surga.

Cecilia menuliskan semua kesimpulan pertemuannya dengan Ariel dalam Diari Cina, buku catatan pribadi Cecilia Skotbu yang merupakan inti kisah ini Misalnya pada hal 67-68 dia menulis: Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan ‘Jas Tuhan’, sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Mantra Keluar terucap, maka kau pun harus keluar. Bukan kita yang datang ke dunia. Dunialah yang datang kepada kita. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini. Kadang-kadang, Tuhan hanya berkata, Aku tahu, banyak hal bisa dibikin berbeda, tetapi semua sudah terjadi, dan Aku sudah berbuat sebisa-Ku.

Dialog antara Cecilia dan Ariel mengungkap rahasia bumi, manusia, surga, dan Tuhan. Karena malaikat tidak punya pancaindra, dia tidak melihat dan mendengar seperti halnya manusia. Malaikat menerima kata-kata secara langsung dengan merasakannya. Ariel memberi contoh orang buta-tuli yang melihat dan mendengar dengan hatinya. Tentang rahasia manusia dan bumi, Ariel mengatakan, Aku tidak tahu rasanya punya badan dari darah dan daging. Aku tidak tahu rasanya tumbuh. Aku tidak tahu rasanya makan, kedinginan, dan bermimpi indah.

Nasib Cecilia dapat diduga pada halaman 73, yang dipahami sebagai foreshadowing untuk apa yang akan terjadi kelak di akhir cerita. Teknik ini dipakai dalam prosa fiksi untuk mempertanggungjawabkan apa yang nantinya diceritakan, sehingga pengarang tak dianggap ngibul karena bercerita sesuka hatinya. Dialog dengan Ariel sebagai berikut:

Terakhir kali aku bertugas sebagai malaikat pendamping adalah di Jerman, lebih dari seratus tahun lalu.

Siapa yang kau dampingi saat itu?

Nama anak itu Albert dan dia benar-benar sakit keras.

Akhirnya, bagaimana keadaannya?

Sayangnya tidak terlalu baik. Karena itulah, aku ada di sana.

Tentunya kau tidak berkunjung hanya ketika keadaan buruk, kan?

Tentang kebesaran Tuhan, Gaarder menulis: Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi? Penglihatan adalah pertemuan antara benda dan pikiran. Dialah gerbang agung antara matahari dan pikiran. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan…

Tentang kematian, Cecilia menulis catatan yang indah: “Saat ajal menjemputku nanti, untaian mutiara halus keperakan akan terberai dan butir-butir mutiara akan terserak, bergulir melintasi negeri ini, dan berlari pulang ke ibu-ibu mereka, tiram-tiram di dasar laut?

Novel ini juga bicara soal otak dan cara kerjanya, tentang saraf, serta rahasia tubuh kita dan rahasia dunia ini. Benar-benar memukau pembaca yang mau berpikir tentang berbagai kemungkinan yang telah ditanggung oleh manusia.

*) Novelis dan pecinta buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *