KUMPULAN PUISI INDONESIA, PORTUGAL DAN MALAYSIA

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Memang benar jika sebuah karya ditentukan oleh zaman. Siapa yang suntuk dengan karya, dialah yang kelak tercatat dalam buku besar kesusastraan dan melegenda. Dan penyair besar itu tidaklah sebuah proses yang dadakan layaknya undian tabanas. Atau sekadar audisi. Tapi mereka yang benar-benar menyuntuki karyalah yang kelak bakal menemukan nama besarnya. Mereka senantiasa berproses untuk mencapai kekentalan tertentu dalam karya. Membubuhkan puitika dalam ruang kosong yang masih tersedia.

Saya kira mereka juga pasti tidak sekedar iseng menggurat karya. Apalagi hanya merajut kata dalam keindahan akustik. Mereka pasti menggali kedalaman makna dalam simbol-simbol yang tengah disematkan. Mereka sadar betul kalau sebuah karya itu diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi tiap pembacanya. Setiap pembaca setelah menikmati karya akan berkesan dan bahkan mampu mengubah sikapnya. Itulah hakekat sastra yang bersifat mendidik.

Sebab-sebab itulah yang pada muaranya akan menjadikan seorang penyair diakui mobilitas karyanya dalam khasanah kesusastraan nasional bahkan internasional. Karyanya mendunia dan dijadikan rujukan elemen masyarakat. Namun bukan sebatas itu, mungkin usaha tersebut sudah cukup untuk mendapat pengakuan secara nasional. Akan tetapi belum tentu mendapat pengakuan di mata dunia. Ada satu usaha yang harus ditempuh seorang penyair. Yaitu penerjemahan ke dalam bahasa internasioal atau bahasa asing (disesuaikan dengan daerah yang bakal dijadikan objek penyebaran karya). Dan karya-karya itu disebarkan pula ke negara-negara lain. Dengan tindakan semacam itu, saya kira sebuah karya akan banyak dikenal dalam khalayak internasional.

Sekarang marilah menengok mobilitas sastra di negeri kita ini, Indonesia, berapa banyak karya-karya penyair besarnya yang tengah diterjemahkan, cukup minim bukan! Barangkali faktor inilah yang menjadi kendala kurang dikenalnya karya pribumi di mancanegara. Karya-karya dari sastrawan Indonesia kurang mendapat perhatian dari masyarakat mancanegara. Jangankan diperhatikan, dikenal saja tidak!

Fenomena yang cukup menarik, seandainya sudah ada bentuk penerjemahan karya ke dalam bahasa internasional, yang patut dipertanyakan masalah mutu penerjemahannya sendiri. Jangan-jangan dengan penerjemahan itu, mutu karya menjadi menurun. Namun sangat beruntung jika terjadi peningkatan mutu karya dengan adanya pen-translit-an tersebut. Ini mampu mengangkat kredebilitas penyair dan negara asal penyair di mata dunia. Jadi, harus benar-benar selektif dalam memilih pe-translit. Jangan asal comot. Yang penting ada orang yang mau me-translit, karya langsung diberikan begitu saja.

Ada satu tindakan yang sangat fantastis dalam dewasa ini. Ini kabar yang cukup menggembirakan. Sebagian kelompok ada yang tengah berkenan menyuarakan kesusastraan Indonesia di kanca internasional. Mereka membuat strategi, bagaimana agar kesusastraan Indonesia eksis di luar negeri. Strategi itu ditempuh melalui pembuatan antologi puisi tiga negara. Indonesia, Portugal, dan Malaysia. Antologi ini diterbitkan PT. Gramedia dengan tebal 424 halaman. Judulnya Kumpulan Puisi Indonesia, Portugal, Malaysia: Antologi de Poeticas. Dengan 118 puisi di dalamnya. Isinya dikemas dalam bentuk bahasa portugis yang dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia. Dengan demikian, paling tidak kesusastraan (puisi) Indonesia akan dikenal masyarakat Malaysia dan masyarakat Portugal (sebab pe-translit-annya dalam bahasa Portugis). Minimal para penyair kedua negara tersebut.

Antologi ini cukup banyak diisi karya-karya penyair ternama dari ketiga negara tersebut. Dari Portugal misalnya. Ada Dom Dinis, Joao Garcia de Guilhade, Sa de Miranda, Bernardim Ribeiro, Luis Vaz de Camoes, Almeida Gerret, Manuel Maria Barbosa du Bocage, Antero de Quental, Cesario Verde, Camillo Pessanha, Antonio Nobre, Florbela Espanca, Fernando Pessoa, Ricardo Reis, Alberto Caerio, Alvaro de Campos, Mario de Sa-Carneiro, Almada Negreiros, Jose Regio, Miguel Torga, Jorge de Sena, Sophia de Mello Breyner Andresen, Carlos de Oliveira, Eugenio de Andrade, Alexandre O?neill, Sebastiao da Gama, David Mourao-Ferreira, Antonio Ramos Rosa, Raul de Carvalho, Herberto Helder, Luiza Neto Jorge, Ruy Belo, Natalia Correia, Nuno Judice, Joaquim Manuel Magalhaes, Alberto, Manuel Gusmao, Ana Luisa Amaral, Fiama Hasse Pais Brandao, Jose Tolentino Mendonca, dan Jose Luis Peixoto. Dari Indonesia ada Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Muhammad Yamin, Roestam Effendi, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Asrul Sani, Subagio Sastrowardoyo, Ramadhan KH, Toto Sudarto Bachtiar, Toeti Heraty Noerhadi, Taufiq Ismail, Rendra, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Ibrahim Sattah, D. Zawawi Imron, Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Suminto A. Sayuti, Afrizal Malna, Isbedy Stiawan, Fakhrunnas MA Jabbar, Acep Zamzam Noor, Zeffry J. Alkatiri, Joko Pinurbo, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Taufik Ikram Jamil, Dorothea Rosa Herliany, Radhar Panca Dahana, Warih Wisatsana, Gus TF Sakai, D. Kemalawati, Ulfatin C. H, Fika W. Eda, Jamal T. Suryanata, Cecep Syamsul Hari, Jamal D. Rahman, Aslan A. Abidin, Asrizal Nur, Moh. Wan Anwar, Taufik Wijaya, Amien Wangsitalaja, Rieke Diah Pitaloka, Sutardji Calzoum Bahchri, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fatin Hamama. Dari Malaysia ada A. Samad Said, Usman Awang, Firdaus Abdullah, Kemala, Baha Zein, Muhammad Haji Saleh, Latiff Mohidin, Abdul Ghafar Ibrahim, Siti Zainon, Moechtar Awang, Lim Swee Tin, Kassim Ahmad, Zaen Kasturi, Marsli, Hasyuda Abadi, dan Rahmidin Azhari. Nama-nama penyair yang tengah termaktub dalam antologi ini memiliki kontribusi yang tinggi dalam dunia kesusastraan di negaranya masing-masing. Karya ini memuat penyair yang bereksistensi pada abad tigabelasan Masehi hingga kiprah penyair dewasa ini. Sungguh, hadirnya buku ini benar-benar fantastis bagi masyarakat pecinta sastra dan umumnya bagi elemen masyarakat yang ada.

Melihat dari sosok penyair yang diturutsertakan dalam antologi ini, sudah barang tentu buku ini sangat bermutu tinggi. Kary-karya yang ada pasti mengandung nilai-nilai yang patut untuk diteladani. Ambil saja karya Dom Dinis penyair asal Portugal. Dalam sajak yang berjudul Ai Flores, Ai Flores do Verde Pino (Wahai Bunga, Bunga Pinus Hijau) ada nilai kesetiaan yang begitu tinggi. Si aku dalam sajak ini selalu mencari-cari keberadaan kekasih dan kawannya yang tengah berpisah dengannya. Si aku ingin merajut kebersamaan kembali. Meski ia tengah banyak dihianati dan didustai.

Tahukah engkau kabar kawanku,
ia yang mendustai janjinya padaku!
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?

Tahukah engkau kabar kekasihku,
ia yang mendustai sumpahnya padaku
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia? (hal: 5, bait 3 dan 4).

Seperti itulah gambaran hidup yang semestinya. Ketika seseorang pernah didustai sesamanya, ia sesegera mungkin menghapus kedongkolan hatinya. Entah itu dilakukan oleh seorang kekasih ataupun seorang kawan. Sebab tak ada seorang pun yang tak luka tatkala penghianatan melingkupi pribadinya. Yang benar, bagaimana usaha dalam menyurutkannya. Akhirnya menghapusnya. Mengharapkan kebersamaan selalu menjadi payung dalam menyisir perjalanan hidup. Menganggap kedustaan tak pernah ada. Itulah cinta dan persahabatan yang sejati. Dan kelak bakal abadi.

Beda lagi dengan Joao Ruize de Castelo Branco. Peraih Nobel tahun 1998 ini dalam sajaknya Cantiga, Partindo-Se (Syair, Pergi Sendiri) memberikan penekanan pada aspek penyelaman diri terhadap orang lain. Ia seolah menyaran akan betapa pentingnya sorot mata dalam melukiskan batiniah seorang manusia. Melalui mata, seseorang mampu menangkap gambaran dan suasana batin seseorang yang berkecamuk. Mata, jendela bagi jiwa. Duka-derita, kesediha-kepiluan, kemarahan-kedengkian, sepi-rindu, kebahagiaan-ketenangan memiliki media khusus sebagai bentuk ekspresinya. Dialah mata. Cukup dengan meneropong pancaran sinarnya, seseorang mampu membongkar gejolak batin sesamanya. Namun ini menuntut kejelian tertentu dari kita agar benar-benar mendapatkan kevalidan ekspresinya.

Mata ini lebih baik mati, // dari pada hidup seratus ribu kali. // Mata sedih ini beranjak penuh kesedihan, // Jauh dari sebuah harapan yang indah, // Anda tak pernah menatap mata // Yang lebih sedih dari siapapun. (Hal: 11, bait 2)

Penyair tampaknya menggunakan majas sinekdoke pars prototo. Ia memakai kata sebagian untuk keseluruhan. Kata mata mewakili keadaan jiwa dan raga seorang penyair secara keseluruhan. Ia saat itu benar-benar dalam keadaan yang kalut dalam sedih. Ia sedih dan rindu sebab terjadi perpisahan dengan kekasihnya.

Setiap penyair memiliki gaya dan ciri khas masing-masing. Itu tidak lepas dari kedekatan psikologi serta kultur sosial masyarakat yang berkembang saat itu. Zaman pulalah yang juga turut berperanserta dalam membentuk karakter karya seorang penyair. Karena ada hubungan sebab akibat antara seorang manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Coba tengok sajak Hamzah Fansuri, Rubayat. Di dalamnya terlukis kental bahwa antara lingkungan sekitar dengan seseorang itu terjadi hubungan sebab-akibat yang kuat. Dalam sajak tersebut menyaran pada keberadaan Hamzah saat ada di Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Konon dalam legitimasi masyarakat, orang yang pergi haji merupakan orang yang tengah pergi ke rumah Tuhan. Berarti ia pergi untuk menghadap Tuhan.

Orang yang menghadap, diindikasikan pasti terjadi pertemuan. Tapi tidak semua penghadapan diri itu terjadi pertemuan. Adakalanya orang yang menghadap itu harus pulang dengan tangan hampa. Hamzah Fansuri ternyata dalam ibadah hajinya, ia tidak menemukan keberadaan Tuhannya di sana. Dari kota asalnya, Barus ke tanah suci Makkah ia hanya menemukan kehampaan akan keberadaan Tuhan. Ibadah yang dilakukannya hanya sebatas syariaat semata. Itu adalah pintu gerbang untuk menggapai hakikat dan kesejatian. Segala yang ada di tanah suci tersebut hanyalah berorientasikan pada simbol-simbol religius yang mesti digali maknannya. Atas beningnya hati dan niat yang tumbuh dalam dirinya, Hamzah akhirnya menemukan jawaban akan keberadaan Tuhan yang hakiki. Ternyata Tuhan ada dalam rumahnya (dirinya) sendiri.

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitil Ka?bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah (bait 1, hal:165).

Persepsi semacam itu didasari akan sebuah hadits yang artinya barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher manusia sendiri. Itulah dasar-dasar yang kiranya melandasi pernyataan Hamzah bahwa Tuhan ada dalam dirinya. Sebab raga manusia merupakan rumah bagi batinnya. Jika seseorang telah mengenal Tuhan, sudah barang tentu ia akan mudah menjalin pertemuanatau orang dekat. Sebagai amsal, ketika seseorang telah akrab kenal dengan pimpinan perkantoran, ia sebenarnya telah memiliki modal untuk mengatur pertemuan. Bisa sedikit leluasa keluar masuk perkantoran itu. Ibarat ia telah memiliki orang dalam. Namun jangan sekali-kali disamakan antara pertemuan manusia-Tuhan dengan manusia-manusia. Harus ada hijab yang menjadi pemilahnya. Apabila sebuah pertemuan telah berlansung, diindikasikan akan tercipta suatu dialog. Memadukan sesama kehendak. Baru kemudian terbentuklah Kun.

Agar seseorang dekat dengan Tuhannya, istilahnya dikasihi Tuhan, itu berbeda jauh dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia. Kalau kepada sesama manusia, orang yang ingin mendekatinya harus memiliki modal yang lebih. Boleh dibilang, kalau ingin dekat dengan pengacara, minimal harus bermodalkan uang yang cukup lumayn banyak. Kalau ingin didekati gadis atau perjaka, minimal bermodalkan ketampanan. Atau bahkan uang juga. Tapi berbeda dengan pendekatn diri kepada Tuhan. Seorang manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan atau ingin dicintai Tuhan, ia tidak dituntut untuk mengeluarkan modal yang lebih. Bahkan tidak sama sekali. Ia cukup bermodalkan kepolosan, keikhlasan, dan keridlaan terhadap segala yang telah diperkenankan Tuhan kepadanya. Cukup itu, tidak perlu membawa apa-apa lagi.

Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan Yang Baqi (bait 2, hal:165)

Hamzah saat itu benar-benar pasrah, polos, ikhlas, dan ridla terhadap ketentuan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Ia mencitrakan dirinya sama seperti keridlaan Ismail AS saat Ibrahim AS hendak mengurbankannya. Dengan jalan itulah ia kemudian merasa dekat dengan Tuhan. Dekat dengan kekekalan.

Puisi Rubayat ini, merupakan cermin keadaan pribadi seorang Hamzah Fansuri dalam tahap pengenalan jati dirinya. Ia berusaha mengekspresikan secara total gemuruh batin yang begitu memekat. Ia memberikan tuntunan-tuntunan yang luhur bagi kita semua, terutama diri pribadinya yang dalam pencarian kesejatian. Bahkan dalam bait terakhir puisi tersebut merupakan pernyataan yang tegas akan status dirinya dalam kehidupan ini. Ia menegaskan bahwa setelah kesanggupan diri untuk ridla, menjauhkan diri dari kezaliman, serta mengenal sifat-sifat Tuhan yang ada dalam dirinya, maka ia pun menjadi pemimpin kedua dalam alam ini setelah Tuhan Yang Esa. Ia memiliki kewenangan untuk mengatur segala hiruk-pikuk yang berkecamuk dalam alam kebendaan ini. Khalifah fil ardli.

Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjelma sultan kedua alam (bait 8, hal:166)

Suasana religiusitas juga diciptakan oleh Raja Ali Haji dalam sajaknya Gurindam Dua Belas. Kereligiusitasannya kental. Bahkan nilai-nilai sosial juga kuat. Apalagi semuanya disandarkan pada pribadi kita. Ia memberikan tuntunan dalam hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal manusia dengan sesamnya. Ini berorientasi terhadap sikap dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang berorientasi pada tindak pengenalan jati diri, zakat, kejujuran, bertutur kata, dermawan, perilaku, ilmu, kesabaran, pengendalian diri, dan lain-lain.

Pesona religius tampak kentara dalam ungkapan berikut; barang siapa mengenal Allah // suruh dan tegahnya tiada ia menyalah // barang siapa mengenal diri // maka telah mengenal akan tuhan yang bahari // barang siapa meninggalkan zakat // tiada hartanya beroleh berkat (bait 1-3, hal 169). Pernyataan ini memberikat isyarat bahwa tindak atau usaha pengenalan diri terhadap Tuhan merupakan hal yang tak dapat dipersalahkan. Dan proses pengenalan itu dicapai lebih awal dari tindak pengenalan diri sendiri. Pengenalan itu tidak hanya sebatas bertumpu pada sifat dan karakter pribadi kita, melainkan berorientasi pada hakekat kita ada di dunia ini. Tujuan kita hidup di alam ini juga harus kita kenali. Ini gerbang utama sebelum masuk pada pengenalan terhadap asma dan sifat Tuhan yang telah tersemat dalam diri kita dan menyamudra di dalamnya.

Pengenalan tersebut juga dapat mencakup pada karunia Tuhan yang tengah diberikan kepada kita. Baik berupa kesehatan dan kesempurnaan jasad serta kepribadian, maupun harta benda kita. Tindakan ini dapat diaplikasikan dalam bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rasa syukur itu tidak sekedar diucapkan dengan ungkapan alhamdulillah saja, melainkan dalam perilaku keseharian. Semisal; kita dikaruniai lisan, cara penyukurannya semestinya dengan bertutur kata yang baik serta tidak dipergunakan untuk mengumpat orang lain. Lisan dapat lebih terjaga dan tak menggelincirkan kita dalam fitnah. Ini dapat masuk dalam kriteria zakatal fil lisani.

apabila terpelihara lidah // niscaya dapat daripadanya faedah (bait 4, hal 170)
mengumpat dan memuji hendaklah pikir // disitulah banyak orang yang tergelincir (bait 6, hal 170)

Kalau dari sisi harta, kita harus menafkahkannya dengan baik dan benar. Memberikan sebagian haknya untuk fakir-miskin. Bersedekah dan zakat. Sikap ini berkonotasi pada tindak untuk menghilangkan sifat bakhil dalam diri kita. Sebab dengan sifat bakhil, rasa toleransi dan solidaritas dengan sesama akan sirnah. Dan mampu mengarahkan kita pada sikap kikir. Melupakan diri dari hakekat harta yang telah dimiliki. Bakhil laksana perompak yang mesti dilawan dengan pedang kemurahan hati. Hal itu dilakukan agar semua karunia Tuhan yang tengah diperuntukkan bagi kita berolehkan berkah yang melimpah-ruah. Menjadikan hidup kita lebih bermakna.

barang siapa meninggalkan zakat // tiada hartanya beroleh berkat (bait 3, hal 169)
bakhil jangan diberi singgah // itulah perompak yang sangat gagah (bait 8, hal 170)

Coba tengok kembali pada puisi Firdaus Abdullah yang berjudul Dilema. Penyair asal Malaysia ini menyuarakan tentang kerukunan antas sesama. Toleransi dan persatuan. Terutama bangsa dan negara. Ia tidak menghendaki adanya peperangan. Baginya peperangan itu sebuah kerugian yang sangat besar. Tak ada sebuah kemenangan dalam peperangan. Kemenangan hanya bersifat fatamorgana. Sebab dalam peperangan ada yang mesti dipertaruhkan. Sama-sama mengalami kerugian, baik yang kalah atau yang menang. Yang kalah jadi abu. Yang menang jadi arang.

Antara harapan // yang tak mungkin // dan kemungkinan yang diabaikan // setimbun sesal yang pahit // dan serentetan nostalgia yang manis // berperang // dalam satu pertempuran // di mana kemenangan mutlak mustahil bertapak // karena // kalau tidak hancur jadi abu // maka terpangganglah jadi arang (hal 320).

Sungguh fenomena sajak yang benar-benar dilematis. Pernyataan yang dianggap sebagai tindak memakan buah simalakama. Itulah realitas dalam berperang. Harapan yang indah dan besar memiliki relatifitas kemungkinan yang cukup kecil. Dan bahkan kemungkinan tersebut kerap terabaikan. Pada akhirnya sebuah perang akan menghasilkan penyesalan yang begitu pahit dan keindahan hanya menjadi kenangan yang terus membayang dalam jiwa-angan.

Lebih lanjut fenomena kehidupan bernegara juga diungkap oleh Marsli N.O. Ia menggambarkan bagaimana jalannya pemerintahan. Penyair asal Malaysia ini dengan sajaknya yang berjudul Tanpa Kepala melukiskan kepincangan yang terjadi dalam realitas sebuah pemerintahan negara.

Tanpa kepala mereka berjalan // Tanpa kepala // Mereka khasanahkan segala indra // Hidungnya dipinggul // Matanya di dada // Telinganya di pusar // Mulutnya di perut // dan otaknya di lutut // Tanpa kepala mereka berjalan // Tanpa kepala mereka berbicara // Tanpa kepala mereka berfikir // Untuk sebuah wilayah // Bernama negara (hal 354).

Dalam puisi tersebut, begitu jelas terlihat kesungsangan dalam praktik pemerintahan negara. Ini juga dapat merujuk pada tidak adanya wewenang oleh seorang pemimpin negara dalam menjalankan roda pemerintahannya. Keputusan dan peraturan serta undang-undang yang tengah dirumuskan tak diindahkan dan diabaikan. Dianggap sebagai sampah rongsokan. Sistem pemerintahan tidak berjalan dengan semestinya. Hal itu tidak sejalur dengan rel yang ada. Dapat dikatakan anggota parlemen berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan kehendak pribadinya. Padahal di dalamnya masih ada pemimpin yang berkompeten memberikan kebijakan-kebijakan tertentu. Sistem pemerintahan jadi serba terbalik.

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*