Lelaki Tua dan Tas Kresek*

Wayan Sunarta
http://www.sinarharapan.co.id/

Hampir semua penduduk di kota kecil itu, terutama kusir dokar dan penjaja batu akik, mengenal lelaki tua yang suka menenteng tas kresek itu.

Di kalangan kusir dokar, lelaki tua yang tubuhnya masih sehat dan tegap itu, biasa dipanggil Landu. Sedangkan di kalangan penjaja batu akik, lelaki yang topinya hampir tidak pernah lepas dari kepalanya itu, suka dipanggil Ambu.

Begitulah, lelaki yang cenderung pendiam itu, memiliki dua nama kesayangan: Landu dan Ambu. Landu adalah Ambu, dan Ambu tiada lain adalah Landu. Namun, sesungguhnya tak seorang pun penghuni kota yang tahu nama asli lelaki tua yang berwajah bersih namun cenderung melankolis itu. Meski Landu sudah hampir setahun gentayangan di kota itu.

Sebagaimana nama aslinya, tak seorang pun penghuni kota yang tahu apakah Landu memiliki keluarga atau sanak famili. Apakah ia punya anak atau cucu? Apa pekerjaannya? Bahkan rumah lelaki tua itu pun penghuni kota tidak tahu-menahu. Dan memang penghuni kota yang ramah-ramah itu tidak begitu mempersoalkannya. Yang penting Ambu tidak membuat keonaran atau mengganggu ketenteraman kota.

Namun kemisteriusan Landu bukannya tidak mengundang rasa ingin tahu dan penasaran. Mereka tahu lelaki tua yang sudah pantas disebut kakek itu termasuk orang yang sangat baik, ramah, sabar dan santun pada penghuni kota. Misalnya, ketika berpapasan di jalan dengan warga kota, Landu selalu senyum kecil, dan setelah itu dengan tergesa-gesa melanjutnya langkahnya yang panjang-panjang. Tidak banyak cakap, hanya senyum kecil saja. Dan warga kota sudah lama memakluminya. Namun rasa penasaran terhadap sosok Landu telah menghinggapi pikiran-pikiran anak-anak muda kota itu.

Namanya juga anak muda, seringkali suka pada hal-hal yang berbau petualangan dan misteri. Maka beberapa anak muda pernah melacak jejak Landu, untuk sekadar mengetahui di mana lelaki tua itu menghentikan langkahnya dan membuka daun pintu dan disambut oleh cucu-cucunya yang mungkin saja masih kecil-kecil. Namun sayang, kaki Ambu bukannya melangkah ke arah rumah atau yang menyerupai rumah. Dari kejauhan, dengan kecewa anak-anak muda itu melihat Landu menghentikan langkahnya pada sebuah tikungan, dan asyik bercengkerama dengan para kusir dokar.

Di pangkalan dokar itulah Landu biasanya menghabiskan waktunya, hanya dengan ngobrol, atau sekadar mengusap-usap kepala kuda. Dan biasanya, kuda-kuda itu selalu menanti belaian lembut tangan Landu. Pada saat-saat seperti itu tampak darah keayahan Landu mengalir memenuhi wajahnya yang bersih. Dan kuda-kuda itu lebih meyerupai anak-anak yang mengeluh pada ayah karena letih seharian bekerja.

Landu lebih memahami perasaan kuda ketimbang para kusir yang kerjanya hanya melecut dan memaksa kuda-kuda itu bekerja siang-malam. Namun Landu tidak terlalu berani, atau lebih tepatnya tidak sampai hati, menyampaikan keluhan kuda-kuda itu kepada kusirnya. Baginya, kuda dan kusir sama-sama menderita, hanya berbeda peranan saja. Apalagi ketika bemo dan tukang ojek mulai menggeser peranan dokar di kota kecil itu, pendapatan kusir menurun drastis, dan mereka sering pula mengeluh kepada Landu yang dianggapnya lebih bijaksana memandang suatu hal. Dan biasanya Landu akan menampung keluhan mereka dalam diam.

Beberapa anak muda yang masih memeram rasa penasaran belum mau menyerah, ingin mengetahui siapa sebenarnya Landu yang misterius itu. Maka suatu hari, mereka kembali mengikuti jejak Landu. Dan mereka kembali menemui kekecewaan. Mereka tidak pernah menemukan di mana rumah Landu sebenarnya. Mereka hanya melihat jejak Landu berakhir di kerumunan orang yang asyik meneliti batu-batu akik di sebuah pasar kecil.

Ambu sangat menyukai batu-batu akik. Ia suka menikmati warna-warninya, syukur-syukur di antaranya ada yang bertuah, misalnya bisa menyembuhkan suatu penyakit, mengusir roh jahat, atau membuat pemakainya bisa menghilang sesuai keinginan. Namun Ambu belum pernah menemui batu akik yang memiliki khasiat khusus itu. Ia lebih sering menikmati warna-warni batu-batu akik itu yang mengingatkannya pada lukisan-lukisan abstrak milik seorang kawannya.

Penjaja batu akik tidak pernah kesal, meski Ambu tidak pernah membeli sebutir akik pun. Beberapa penjaja batu akik sering mengajak Ambu berdiskusi tentang makna-makna batu akik yang dijualnya. Mereka mengira Ambu seorang tokoh atau penganut aliran spiritual tertentu yang telah mencapai tingkat ilmu tinggi karena wajahnya yang seakan bercahaya itu. Ambu berkali-kali menjelaskan bahwa ia hanya manusia biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Namun, justru sikap rendah hati yang dianggap berlebihan itu malah meyakinkan para penjaja batu akik bahwa Ambu bukan manusia sembarangan. Maka terpaksa Ambu harus meladeni pertanyaan-pertanyaan berbau magis penjual batu akik dengan menjawab sekenanya saja.

Ke mana pun Landu melangkah, tas kresek berwarna hitam selalu setia menemani tangannya. Tak seorang pun tahu apa isi tas kresek itu. Bahkan, ketika Landu lewat di depan segerombolan anak muda pengangguran yang asyik main gitar sambil minum arak, beberapa anak muda malah membuat tebak-tebakan mengenai isi tas kresek itu.

?Ayo, siapa yang tahu, apa isi tas kresek kakek itu!? anak muda setengah gondrong melontarkan tebakan itu.

?Mana kita tahu! Periksa saja sendiri!? jawab kawannya yang bermata sipit.

?Paling-paling juga sirih dan tembakau!? ujar yang bermain gitar.

?Jangan-jangan uang! Siapa tahu kakek itu orang kaya yang lagi menyamar!? ujar anak muda yang lengannya penuh tatto.

?Ya. Bisa jadi ia seorang investor, atau mungkin mantan koruptor yang bersembunyi di kota kita!? kata anak muda kurus berkacamata agak tebal.

Maka begitulah, tak seorang pun tahu apa isi tas kresek warna hitam yang suka ditenteng Landu ke mana-mana itu. Dan sungguh suatu pekerjaan yang tidak ada gunanya menebak-nebak isi tas yang dibawa seseorang. Namun, lambat laun rasa penasaran terhadap isi tas kresek itu sama kuatnya dengan keingintahuan perihal asal-usul lelaki tua aneh itu.

Di luar dugaan, beberapa anak muda yang terkenal bandel dan suka bikin onar di kota itu, merencanakan suatu niat jahat. Mereka akan mencegat lelaki tua itu di jalan sepi dan merampok tas kresek yang suka ditentengnya ke mana-mana itu. Dua anak muda bandel menguntit lelaki tua itu. Mereka mengawasi Landu yang bersiul-siul keluar dari sebuah bank kecil sambil menenteng tas kresek. Keyakinan mereka bertambah kuat bahwa tas kresek itu berisi uang, mungkin jutaan rupiah.

?Apa kubilang! Tas kresek itu pasti berisi uang!? ujar yang bertatto kepada kawannya yang setengah gondrong.

?Bila berhasil merebut tas kresek itu, kita akan kaya dan bisa minum berbotol-botol bir di kafe dengan ditemani beberapa wanita cantik!? sahut kawannya tak kalah seru.

Anak-anak muda bandel itu terus menguntit. Merasa ada yang mengikuti, Landu terus mempercepat langkahnya. Di sebuah pertigaan anak-anak muda bandel itu kehilangan jejak. Merasa buruannya hilang, mereka mengumpat tidak karuan. Yang lengannya bertatto merasa yakin kalau lelaki tua itu memiliki ilmu menghilang.

Namun keberuntungan tidak selamanya berpihak pada Landu.
Maka, pada hari yang naas, ketika Landu sedang asyik menikmati ayunan langkahnya di sebuah jalan kota yang sepi, dua pengendara motor menyambar tas kreseknya. Belum tuntas kagetnya, pengendara motor yang mengenakan helm cerobong telah tancap gas dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, apalagi mata tuanya yang agak rabun. Beberapa menit Landu hanya bisa terpana di pinggir jalan yang meninggalkan kepulan debu dari motor yang ngebut itu.

Tubuh Landu merasa lemas. Sembari membetulkan letak topinya yang agak miring, tampak wajahnya penuh kemurungan. Sesuatu yang sangat berharga, seakan melebihi uang jutaan rupiah, telah dirampas oleh pengendara motor itu.
***

Sementara itu, di sebuah tegalan yang jauh dari keramaian, beberapa anak muda dengan harap-harap cemas membelalakkan mata pada tas kresek hasil rampasan. Anak muda yang lengannya bertatto tidak sabaran merobek tas kresek. Beberapa bendel kertas menyembul. ?Setan! Kita telah ditipu. Tidak ada uang!? umpatnya.

Anak muda yang setengah gondrong mencoba mengorek-orek isi kresek, kemudian menggerutu seraya menendang tas kresek hingga kertas-kertas berhamburan ke udara. ?Sialan! Hanya sebendel puisi! Agaknya kita telah merampok seorang penyair. Sialan!?

Kejadian dramatis itu diakhiri dengan lumayan indah oleh anak muda yang berkacamata tebal. Dengan sigap ia menangkap selembar kertas yang melayang-layang di udara, mencoba membaca isinya dengan gaya deklamasi: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan?sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.1***

1 Baris puisi itu berjudul ?Melodia? karya penyair legendaris Umbu Landu Paranggi. Ke mana pun berjalan, penyair ini suka sekali menenteng tas kresek warna hitam yang mungkin saja berisi kertas-kertas puisi.

* Judul ini diinspirasi dari judul novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *