M o d a r

Eko Hartono
http://www.suarakarya-online.com/

“Timan jatuh dari pohon!” Kabar itu menggema ke seantero kampung. Orang-orang berhamburan dan bergegas ke rumah Timan. Ingin tahu yang sebenarnya. Seakan mereka tak percaya tentang kabar yang tersiar itu. Bagaimana mungkin Timan bisa jatuh? Bukankah dia terkenal pintar memanjat? Setinggi apa pun pohon berani dipanjatnya. Tak heran, dia dijuluki Timan Munyuk yang artinya Timan monyet!

Orang-orang kampung biasa menggunakan tenaganya untuk memetik buah kelapa, menebas ranting, atau menuai sarang madu di atas pohon. Dengan upah sekadarnya. Laki-laki tigapuluhan berperawakan sedang itu menjadi andalan dalam kegiatan panjat memanjat. Karena di kampung itu tidak banyak orang berani memanjat pohon, apalagi yang tingginya sampai puluhan meter.

Tapi bagi Timan memanjat pohon sudah menjadi kebiasaan. Sejak kecil ia senang memanjat pohon. Tubuhnya yang tergolong kecil dan lentur dengan lincah meloncat dari satu dahan ke dahan lainnya. Ia juga suka berayun-ayun di ranting pohon yang melur atau sulur pohon beringin yang menjuntai. Sepertinya ia tak takut jatuh. Padahal hati orang berdesir setiap kali melihatnya berayun di atas pohon, seakan Timan sedang dalam gendongan lengan malaikat maut. Timan malah tertawa-tawa senang. Semua itu dianggapnya seperti permainan. Nyalinya begitu besar. Dia tidak pernah takut berada di ketinggian.

Maka, sungguh amat mengejutkan saat tersiar kabar Timan jatuh dari pohon. Tak pernah ada kabarnya Timan jatuh dari pohon. Sesulit apa pun pohon yang dipanjatnya, semua berhasil diatasinya dengan baik. Tapi seperti kata sebuah pepatah; sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, dan pepatah ini lalu diplesetkan menjadi sepandai-pandai Timan memanjat akhirnya jatuh juga. Ini sebagai pelajaran bahwa tidak ada manusia yang paling hebat!

Tapi sepertinya orang-orang masih belum bisa menerima apa yang terjadi pada Timan. Timan jatuh saat hendak merancah ranting pohon trembesi yang tingginya tak lebih dari delapan meter. Bukan pohon tinggi menurut mereka. Karena ada yang lebih tinggi dari ini pernah dipanjat Timan. Tapi lihatlah akibatnya; kulit pahanya robek, leher dan tangan kirinya patah, sehingga tak mampu bergerak. Ia hanya bisa terbaring tak berdaya di atas ranjang. Menggerakkan lidah pun tak mampu. Benar-benar parah keadaannya!

Orang-orang kemudian berspekulasi dan berasumsi tentang kejadian ini. Meski ada saksi mata dua orang yang mengetahui kejadiannya, yakni Parno dan Tarjo. Keduanya melihat Timan duduk di salah satu dahan sambil menebas ranting dengan golok di tangan. Tiada angin tiada topan, tiba-tiba tebasannya meleset, Timan tak mampu menjaga keseimbangan, melenting jatuh ke bawah. Salah satu kakinya sempat menghantam dahan di bawahnya, merobek kulit paha, lalu menghunjam ke tanah. Kejadian itu begitu cepatnya berlangsung. Kedua rekannya yang ada di bawah hanya melongo, menjerit, lalu menghambur menghampiri tubuh Timan. Ternyata dia masih hidup!

“Sudah jelas! Ini pasti ada yang mencelakai Timan!” cetus salah seorang dari mereka ketika menengok Timan di rumahnya.
“Maksudmu, siapa yang mencelakai?” tanya temannya.

“Dia yang menunggu pohon trembesi itu. Pohon trembesi itu ada penunggunya. Sing mbahurekso pohon trembesi tak mau diganggu!”
“Ah, masak, sih pohon itu ada penunggunya?”

“Pohon itu sudah tua. Sejak lama tidak ada yang berani menebangnya, karena sangat angker. Konon, kata para orang tua dahulu, pohon itu menjadi kediaman para lelembut. Mungkin salah Timan, sebelum menebas ranting belum kulonuwun sama yang mendiami pohon itu!”
“Ini hanya naasnya Timan saja. Dia lagi sial!”

“Dia tidak akan sial kalau mematuhi aturan. Dia tidak ingat kalau hari itu adalah hari naasnya. Hari dan weton saat Timan memanjat pohon sebenarnya tidak baik. Dia memanjat pohon pada waktu yang salah. Dia alpa mengikuti saran Mbah Darmin bahwa hari Rebo Pahing tidak baik untuk menebang pohon!”

“Atau jangan-jangan ini sebagai peringatan kepada kita. Sudah lama kita tidak melakukan bersih desa. Kita lupa memberi sesaji pada danyang penunggu desa ini. Jatuhnya Timan sebagai peringatan. Kalau Timan yang ahli dalam memanjat pohon saja bisa jatuh dan celaka, apalagi kita. Mungkin nanti akan menyusul korban-korban lainnya?”

“Aduh, ngeri sekali! Kalau begitu kita harus segera melaksanakan upacara bersih desa. Jangan sampai jatuh korban lagi!”

Suara orang-orang yang sedang rerasan di ruang tengah itu didengar Timan. Sayang, ia masih belum bisa bicara karena lehernya masih terasa sakit. Andai ia sanggup bicara, mungkin sudah dibantahnya omongan orang-orang itu. Mereka hanya sekadar menduga-duga. Dirinyalah yang paling tahu persis kejadiannya. Dan dari semua omongan mereka tak ada satupun yang benar!

Timan tahu, apa yang terjadi ini adalah karena keteledorannya sendiri. Tapi keteledoran ini juga bukan tanpa sebab. Belakangan hari perasaannya dibuat gundah memikirkan kelakuan istrinya. Tempo hari, saat memanjat pohon asam ia melihat di kejauhan Ratmi sedang menyabit rumput di tegalan ujung barat desa. Sebenarnya pemandangan biasa istrinya menyabit rumput untuk pakan ternak mereka. Yang tidak biasa adalah hadirnya seorang lelaki di dekatnya. Lelaki itu menjajari duduk Ratmi, meremas tangannya, dan kemudian menciumnya!

Di tempatnya Timan hanya bisa menggigit geram. Hatinya meradang. Namun tak kuasa nyalinya untuk melampiaskan amuk perasaan. Dia takut pada istrinya. Tak berani melukai hatinya. Meski sudah berbilang tahun memperistri Ratmi, tapi sejatinya ia tak pernah memiliki istrinya secara utuh. Sejak awal ia sadar, Ratmi menikahinya karena terpaksa. Hanya untuk pelarian semata. Karena laki-laki yang dicintainya menikah dengan wanita lain.

Tapi Timan sangat mencintai Ratmi, sangat memujanya. Ia tak peduli Ratmi tidak mencintainya. Ia yakin, dengan berjalannya sang waktu perasaan Ratmi akan berubah. Timan berharap suatu saat istrinya sadar bahwa laki-laki yang hidup bersamanya sangat mencintainya. Atas nama cinta Timan rela melakukan apa saja untuk Ratmi.

Banyak orang mengatakan Timan laki-laki banci. Kepada istri tunduk dan tidak berani. Timan tak peduli ejekan itu. Laki-laki tidak harus berkuasa dalam rumah tangga. Baginya, bisa hidup bersama wanita yang dicintai, itu sudah lebih dari surga. Dia sudah cukup bahagia bersanding dengan wanita pujaan hatinya. Tak masalah Ratmi melayaninya dengan tidak sepenuh hati. Tak jadi soal, Ratmi tak mau mengandung benihnya. Bagi Timan, yang penting Ratmi jadi miliknya!

Namun perasaan memiliki ini terancam musnah saat menyaksikan pemandangan menyakitkan itu. Bukan hanya sekali ia mengendus perselingkuhan istrinya. Beberapa kali Timan memergoki istrinya berkencan dengan Parman, tetangga mereka. Bukan hanya di tegalan, tapi juga di sendang, pereng-pereng, dan gubuk tengah ladang. Pernah Timan menegur istrinya dan memintanya agar jangan dekat-dekat Parman, tapi wanita itu malah marah-marah dan menantang. “Memang kenapa aku dekat-dekat dengan Kang Parman? Tidak boleh? Kalau kamu tidak suka, ceraikan saja aku. Gampang to!”

Timan hanya diam. Tak berani lagi ia menegur istrinya. Jika Ratmi sudah bilang kata ‘cerai’, hati Timan menjadi ciut. Tulang-tulang tubuhnya serasa dilolosi semua. Timan tak mau bercerai. Dan sampai kapan pun dia tidak akan bercerai dengan Ratmi. Dia sangat mencintainya. Saking besar cintanya pada Ratmi, dia rela harga dirinya diinjak-injak. Dijadikan gedibal!

Tapi perasaan Timan tidak tenang selama melihat istrinya dekat dengan Parman. Dia lalu beranggapan Parmanlah yang telah menggoda istrinya. Ratmi tidak mungkin mendekati laki-laki itu, karena tahu Parman sudah beristri. Jadi Parman yang pertama mengajak Ratmi. Sayangnya, Timan tidak cukup punya keberanian melabrak Parman. Pernah dia berencana menghadang Parman di tengah jalan, dengan sebilah golok tajam terselip di pinggang. Namun saat laki-laki berperawakan kekar, tinggi, dan berotot itu sampai di depannya, nyali Timan kendur. Saat Parman menegur, “Ada apa, Nyuk?” Timan malah cengengesan dan dengan kalem berkata, “Mau ke mana, Kang?”

Begitulah. Timan sadar, Parman bukanlah lawan sepadan. Sekali pitingan tulang-tulangnya bakal patah di beberapa bagian. Puncak pohon cemara setinggi gunung mungkin lebih mudah ditaklukkan ketimbang menjatuhkan seorang Parman. Maka, akhirnya Timan hanya bisa memelihara kebencian dan dendam dalam dada. Tak sekali-kali perasaan itu berubah tindakan. Namun perasaan marah, kecewa, dan benci yang menumpuk ini pun bikin hidupnya tidak tenang. Hari-hari bayangan Parman bermesraan dengan sang istri menari-nari di pelupuk mata. Mengejek dan menekan harga dirinya!

Keresahan dan kemarahan itu pun mencapai puncaknya pada siang naas itu. Dari atas pohon trembesi saat sedang menebas ranting, Timan bisa mendengar obrolan Parno dan Tarjo di bawah. Obrolan yang bikin hatinya panas dan terguncang. Tarjo berkata, “Kamu sudah dengar kabar belum, No? Parman mau menceraikan Lastri!” lalu disambung dengan ucapan Parno. “Kasihan Lastri! Sudah punya anak satu, malah dicerai. Padahal Lastri itu masih cantik dan sangat nrimo. Dasar, Parman gendheng. Mungkin dia sedang tergila-gila sama wanita lain. Dia menceraikan istrinya karena mau menikahi wanita simpanannya itu!”

Tiba-tiba Timan seperti melihat bayangan Parman duduk di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum mengejek dan memandang penuh merendahkan. Timan tak kuasa lagi menahan kemarahannya. Kebetulan ia sedang memegang golok. Mungkin ini kesempatan ia bisa melampiaskan dendamnya. Dengan sekuat tenaga ia menyabetkan goloknya seraya berteriak lantang, “Modar kamu!”
Tapi, naas. Dirinyalah yang hampir modar!

* Tirtomoyo, 16 Agustus 2008

Catatan:
danyang : makhluk halus/penguasa alam gaib
sing mbahurekso: yang menguasai
nrimo : menerima/pasrah
gendheng : gila
Modar : mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *