Mashuri, Wayang, dan Kekinian

Evieta Fadjar
tempointeractive.com

Jakarta:…Aku putramu, yang kau beri nama Wisrawana dan bergelar Danapati alias Danaraja ketika memerintah Praja Lokapala menggantikanmu, tak juga mengerti, sampai di mana kasihmu kepadaku. Ingatanku masih terpatri pada tragedi hidup yang pernah kau sulut dan membakar seluruh diri dan harapanku. Sayang, segalanya bermula begitu indah…

Demikian kalimat pendahuluan dari novel Hubbu karya Mashuri, 31 tahun, yang memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Karya itu mengungguli 248 naskah lain dan berhak memperoleh hadiah utama Rp 20 juta.

Novel itu, menurut penulisnya, mencampur unsur wayang dengan kekinian. “Unsur yang dicampur aduk itu menarik,” ungkap Mashuri, yang gemar memadukan surealis, sufi, dan pendayagunaan bahasa dalam karya puisi dan romannya.

Hubbu berasal dari bahasa Arab, yang berarti cinta. Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup Jarot, nama panggilan tokoh Abdullah Sattar. Ini kisah tentang latar belakang keluarga, kisah cinta dengan obsesi-obsesinya, dan konflik batin masa remaja sehingga membuatnya merasa paling hina di dunia. Lalu ia memenggal masa lalu dan bangkit dari keterpurukan.

Mashuri mengaku awalnya ia ingin memberi judul Mahabbah. “Tapi kata itu lekat pada sosok Rabiah Adawiyah, sufi perempuan dari Basra, Irak. Saya mencari akar katanya, Hubbu. Sebab, novel ini hendak menggali hubungan cinta, kasih, dan berahi,” ucap Mashuri, yang sedang menempuh pascasarjana itu.

Pengisahan novel ditempuh dalam berbagai sudut pandang dan gaya penceritaan beragam dari penuturan tokoh terhadap Jarot, lengkap dengan perspektifnya.

Bagaimana melahirkan novel ini? Dengan kiasan, Mashuri mengibaratkan proses kreatif karya ini mirip orang mengandung. Ia tidak mempersiapkan karya ini khusus untuk sayembara. “Saya hanya mencari bentuk lain pengungkapan atau ekspresi bersastra,” ujar pengagum Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad ini.

Prosa dan puisi dianggap punya kelebihan dan kelemahan dalam menampung aspirasi. Puisi juga mewarnai novel ini. “Karena saya berangkat dari puisi,” kata pria yang antologi puisi tunggalnya, Jawadwipa 3003, dibacakan di Fakultas Sastra Universitas Airlangga dengan teatrikalisasi, musikalisasi, dan diskusi.

Banyak rekan Mashuri menganggap novel itu adalah biografi Mashuri. Sebab, ada kisah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga dan berlatar belakang pesantren. “Saya berusaha menghindari identifikasi yang bisa membunuh kekayaan tafsir tersebut. Ini fiksi kendati ada pijakannya,” kata jebolan pondok pesantren Salafiyah Raudlatul Mutaallimin dan pondok pesantren Ta’sisut Taqwa Galang, Lamongan, itu.

Sebelum menulis novel, pria asal Lamongan ini sangat produktif menulis puisi, esai, dan sedikit cerpen, yang dipublikasikan di berbagai media cetak dan buku antologi. Ia juga aktif menulis puisi dalam bahasa Jawa (guritan). Kini ia sedang menyusun novel ambisius, Menafsir ulang Centini.

Bagi Mashuri, menulis adalah aktivitas yang diyakini membuatnya terbiasa berselancar di atas kata dan kalimat. “Setiap hari saya bikin puisi. Sebagai kesaksian atas hidup dan kehidupan,” kata Mashuri, yang mengakui meminjam istilah ini dari penyair senior Herry Lamongan.

Pekerjaan bersastra itu dilakukan di sela-sela pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar Memorandum, Surabaya. “Menulis untuk mengisi hidup, sedangkan menjadi wartawan untuk menyambung hidup,” ujar mantan pengasuh rubrik Ngaji Sastra harian Duta Masyarakat itu.

Dari semua karya yang pernah dia buat, seperti puisi atau novel, tema yang memancing perhatiannya selalu berkisar soal seks, cinta, tradisi, dan kilas balik masa lalu dan kini. “Di dalamnya ada pengkhianatan, rahasia, dan tabu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*