Minok

balipost.co.id

Raudal Tanjung Banua

Minok tertegak menahan isak. Ujung kaitan melayah di lantai, belum sempat ia singsingkan, ketika Agus — putra kecil semata wayangnya — kembali mengucapkan kata itu, ”Bu, besok Agus ikut menyeberang, mencari ayah…”

SESUNGGUHNYA, Minok bisa saja membentak si anak, namun ia merasa tak ada gunanya. Hanya akan membuat Agus menangis. Dan lebih dari itu, jauh di lubuk hati terdalamnya, sebenarnya Minok tak tega menghancurkan begitu saja impian anak sekecil itu. Atau malah akan membuat Agus tambah berpaling kepada neneknya, lengket dan membangun impian-impian itu lagi, lebih kukuh, dari malam ke malam. Mungkin yang pantas dihentikan adalah sang nenek, ibu Minok sendiri, yang selalu membawa sang cucu mengembara bersama cerita dan dongeng-dongengnya.

Tentang kerajaan seberang, bula-bula sakti dan keris pusaka. Tentang istana dan sang raja, tentang… ”Ibu boleh ikut sama Agus, biar Agus nggak sendirian, biar ayah senang ketemu di istana. Ayah Agus raja kan, Bu?” suara itu lagi, seperti mimpi atau igauan, namun jelas bukan dongeng.

Kini, Minoklah yang hendak menangis. Ia tahankan sebisanya. Sia-sia. Dipungutnya ujung kain yang terlayah di lantai, mengusap mata. Tertunduk ia dengan kepala terguncang, dan bagi Agus itu sudah cukup — ibunya seperti orang mengangguk, bahkan berulang-ulang.

”Hore, ibu Agus baik, ibu Agus baik, Agus beri tahu nenek!” Begitu saja, Agus sudah meloncat pergi, dan berlari mencari sang nenek di warungnya. Suara anak usia empat tahunan itu seketika lenyap ditelan suara-suara lain yang menyeruak sepagi itu: denting piring, dangdut di radio, ban yang dicongkel, sumpah-serapah sopir truk pada kernet, mesin truk yang lenguh….

Memang selalu begitu: daerah ujung pulau, dekat pelabuhan penyeberangan, dengan warung-warung sederhana yang berjejer, truk-truk berhenti selayaknya kapal yang sandar. Warung itu pula, sebagaimana warung lainnya, yang menjadi sandaran hidup bagi Minok dan ibunya. Betapa bising sebetulnya. Betapa keras menelan suara anaknya. Untunglah, di malam hari, ketika giliran Minok menjaga warung, sang ibu punya waktu menemani si buyung, dengan dongeng-dongeng itulah. Dongeng bermata dua!

Minok tak tahan akhirnya. Ia singsingkan ujung kainnya, ligat tangannya mengambar ember cucian, lalu bergegas menemui ibunya di warung. Satu-dua sopir menggodanya, tapi ia memasang tampang aneh — antara garang dan murung. Di dapur, ia dapatkan ibunya sedang mengulek bumbu, sementara Agus masih berteriak-teriak riang,” Agus akan menyeberang, Agus akan ketemu ayah…”

”Hei, buyung, tak usah jauh-jauhlah kau menyeberang, awak ini mau jadi ayahmu!” Situmorang, si sopir truk, menimpal dengan logat Batak yang kental.

”Nggak mau, nggak mau…” Agus kecil berlari menyusul ibunya. Dari dapur, Minok mendengar sang kernnet ikut berujar, ”Macam mana pula abang ini, ayahnya ‘kan raja?”

”Si Raja Tega!” sambung sopir lain, dan tertawa.
”Hahahaha….!!”
Sungguh kurang ajar. Minok tak tahan. ”Mak dengar? Ini gara-gara Mak selalu menceritakan dongeng itu….” ”Minok!”
”Tapi Mak dengar sendiri, kan? Aku tak tahan…”
”Tapi Mak tak bermaksud buruk, Nok. Bagaimanapun, Agus kelak akan bertanya siapa ayahnya, maka Mak beritahu pelan-pelan lewat dongeng itu….”
”Lalu Agus menganggapnya sungguh-sungguh, itu yang Mak mau? Lebih baik katakan saja semua padanya…” ”Agus masih kecil, Nok. Kasihan ia. Lagi pula ia tak bakal mengerti.”
”Mungkin lebih baik! Sedari kecil ia tahu bahwa ayahnya seorang laki-laki tak bertanggung jawab, seorang mandor yang memelihara perempuan gelap!”
”Minok!” Sang ibu berteriak tertahan. Matanya yang sedari tadi memang perih oleh percikan rempah, seketika ganti memercikkan air mata. Minok tak peduli. Bergegas ia pergi, dan tersentak ketika ia dapati putra kecilnya termangu di tepi pintu.
***

DI tepi muara sungai kecil, Minok bercermin. Parasnya terpantul di air payau, gundah dan risau. Matanya yang merah karena begadang hingga tengah malam — menjaga warung, dipersembab oleh air mata. Ucapan sang anak kembali terngiang, serasa sayatan pisau kecil di gendang telinganya. Bagaimana tidak. Ucapan tak berdosa itu, selalu membuat Minok kelabakan.

Minok kesal kepada ibunya yang telah membuat Agus begitu. Sayang nenek kepada cucu dengan dongeng pengantar tidur — apalagi di tengah situasi warung yang keras, Minok maklum, bahkan bersyukur. Namun mengapa cerita ”Minak Kejala Bidin dan Minak Kejala Ratu” yang selalu tinggal di kepala Agus? Cerita itulah yang mendorongnya untuk selalu menanyakan ayah, dan akhirnya menganggap ayahnya sebagai raja, sebagaimana tadi diucapkannya. Kalau tidak karena si nenek yang gemar mengulang, bahkan mungkin menjadikan Agus sebagai umpama, mustahil sang anak begitu lekat dengan cerita itu.

Ah, Minok tahu belaka siapa ibunya. Perempuan berangkat tua itu sedari dulu seolah berpegang pada cerita masa lalu, yang entah bagaimana cukup telak dengan jalan hidup Minok kemudian. Kekuatan apakah yang ada pada dongeng, pada legenda, dan pada yang bernama masa lalu, sehingga melekat nyaris persis dengan jalan hidup seseorang? Apakah karena cerita itu diucapkan seorang ibu, secara berulang pula, dan siapapun tahu, ucapan perempuan yang bernama ibu betapa makbulnya?

Sambil mencuci, Minok ingat masa hidup di kampung, jauh di Gunung Sugih, Lampung Tengah, sedari kecil ia akrab dengan dongeng itu. 0, tak hanya akrab, tapi telah menjadi bagian — kalau bukan beban — hidupnya. Semua orang kampung jelas mengenal cerita ”Minak Kejala Bidin dan Minak Kejala Ratu”, apalagi diyakii bahwa Putri Kandang Rarang dan Putri Sinar Alam yang dinikahi Raja Banten, berasal dari Punggung, masih di Lampung Tengah.

Dan Minok tak mungkin lupa. ”Konon, setelah menikahi dua perempuan bersaudara itu, sang raja kembali ke Banten tanpa mengajak serta mereka ke istana….” begitu dulu ibunya kerap bercerita. Minok kecil terhanyut karenanya, mungkin seperti Agus kecil.

Ya, Minok ingat bahwa menurut cerita, kedua perempuan yang tetap tinggal di Pungung itu akhirnya hamil. Putri Kandang Rarang melahirkan lebih dulu. Anaknya bernama Minak Kejala Ratu. Lalu Putri Sinat Alam melahirkan pula kemudian, anaknya bernama Minak Kejala Bidin. Putri dan putra raja inilah, yang setelah dewasa mempertanyakan siapa ayah mereka, dan oleh sang ibu diberitahu: sang ayah tak lain seorang raja di tanah seberang. Maka menyeberanglah mereka, menempuh perjalanan jauh sampai Minak Ratu tak tahan lagi, menyerah dan untuk sementara tinggal di suatu daerah yang kelak bernama Pelabuhan Ratu. Sementara Kejala Bidin selamat menghadap raja yang tak lain sang ayah, lalu pulang membawa bula-bula sakti beserta tiga buah keris pusaka: Kelambi Sani, Atteu Lawt dan Cemmai Segannik. Minak Ratu yang kemudian datang menyusul ke istana, hampir saja tak dipercayai sebagai anak oleh raja, tapi untunglah ia lulus dari ujian yang diberikan kepadanya, sehingga ia pun pulang membawa sebuah keris keramat, Stemen Piteu namanya.

Ya, begitulah cerita itu, terutama Minok dengar langsung dari sang ibu yang entah mengapa, kelewat senang menceritakannya meski di antara letih, setelah seharian bekerja di kebun sawit. Barulah ketika beranjak dewasa, Minok menyadari, mungkin cerita itu disukai ibunya lantaran dengan itu sang ibu merasa memiliki wadah buat menumpangkan harapan beserta penghiburan diri.

”Nok,” sesuara menyentakkan kenangan panjang Minok. Ternyata Bi Geni datang mendekat. ”Kalian bertengkar lagi? Kenapa?”
Minok memaksakan diri tersenyum. ”Biasa, Bi, nggak ada apa-apa.”
”Tapi ini tak biasa, Nok. Sejak kalian tinggal di sini, baru kali inilah bibi lihat ibumu pergi….”
”Pergi?” cepat Minok berdiri. Ditatapkan Bi Geni, perempuan baik yang telah menampung mereka selama ini. Bersama paman Inung, suaminya, Bi Geni mengontrakkan warung bagi mereka, sampai mereka bisa berusaha sendiri. Sekarangpun Bi Geni tak berubah. Masih dengan bahasa lembut merajuk membawa berita. Maka tanpa menunggu lagi, langsung Minok berlari pulang. Cuciannya tercecer tak ia pedulikan. Dan benar, sang ibu sudah tak ada. Juga Agus! ”Nok, kamu tak usah ke mana-mana, pamanmu telah menyusul mereka…,” tangan Bi Geni merangkul bahu Minok. Didekapnya erat. Agar ada sedikit damai dan ketenangan. ”Tenanglah, Situmorang telah memberi tahu ke mana ibumu pergi,” katanya lembut.
***

TERNYATA Mak Wima, ibu Minok, naik kapal penyeberangan. Tujuannya satu: mengajak Agus mencari sang ayah. Sebelum kapal bergerak, Mak Wima memutar ingatannya.

Sejak ayah Minok meninggal, sesungguhnya Mak Wina menggantungkan harapan kepada Minok seorang, anak perawannya yang cantik dan menawan. Karenanya Mak Wima sengaja memelihara dongeng-dongeng dan cerita paling menyenangkan — tentang raja seberang lautan, datang meminang! Mungkin semacam doa yang dipanjatkan. Tentu, Mak Wima merasa cukup layak dan berhak menumpangkan harapan pada buah hatinya itu. Sebab, Minok tumbuh sebagai muli sikep yang menawan: tubuhnya tinggi langsing, kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang. Alam Gunung Sugih yang permai dengan kebun sawit luas membentang telah membentuk tubuh dan pribadi anaknya itu sebagai muli yang pantas mendapat sanjungan di seluruh tiyuh, sepenuh kampung. Terkadang, tanpa sengaja ia mendapatkan Minok di tepian, sepertinya sedang mengaca bayangan!

Ah, tak apa, ini pertanda baik, begitu ia selalu berbisik. Sebab berarti Minok telah menyadari bahwa dirinya banyak dikagumi laki-laki. Ya, banyaklah memang laki-laki sekampung dan di perkebunan yang menaruh minat pada anak gadisnya. Dan sebagai harapan, salahkah kalau Mak Wima tak ingin melepas Minok ke sembarang lelaki? Laki-laki itu mestilah yang terpilih, laki-laki yang bakal memberi hidup lebih baik, mungkin seperti indahnya dongeng, tempat ia menumpangkan harapan!

Itulah mungkin yang hendak diraih, ketika suatu hari Mak Wima resmi menerima pinangan mandor perkebunan: Mandor Bayong! Minok pun tak menolak. Ia tersedu di depan penghulu, dulu. Namun, ketika Minok dalam keadaan hamil besar, sang mantu yang mandor besar dipindahkan ke Pulau Jawa. Anehnya, tak kunjung berkabar, bahkan sampai Minok melahirkan. Sampai akhirnya, Mak Wima dan Minok beserta bayi merah dalam gendongan, mencarinya ke seberang! Mereka mencari si mandor besar di kaki Gunung Karang, Pandegelang, tempat bertugasnya yang baru. Tapi lelaki manakah gerangan yang mau kiamat ditemui perempuan gelap? Ya, ternyata bagi Mandor Bayong, Minok tak lebih istri simpanan.

Apa hendak dikata, Mak Wima dan Minok pulang dengan pedih. Mak Wima ingat bagaimana Minok, anaknya yang malang (juga dirinya yang malang) tak henti-hentinya menangis di atas kapal penyeberangan, sambil bergantian mendekap sang cucu yang masih merah. (Ah, juga sekarang, hanya saja kini Agus sudah tumbuh menjadi bocah). Dan tak mudah bagi mereka kembali ke Gunung Sugih, karena pastilah cakap dan gunjing siap menanti. Bakal terucap tak hanya oleh perempuan-perempuan di perkebunan, tapi juga dari mulut-mulut muli mekhani yang dulu iri, cemburu dan dengki. Tentu, sambil mencari kutu di ijan, di setiap nuwo atau saat mencuci di tepi way. Untunglah, ketika singgah di Bakauheni, di tempat seorang saudara jauh, Bi Geni dan Paman Inung, mereka mendapat tawaran yang tak mungkin ditolak. Bi Geni yang kebetulan membuka warung kecil-kecilan di daerah penyeberangan itu, menawarkan usaha serupa: menyewa warung sederhana, tempat di mana Mak Wima dan Minok dan cucunya akhirnya bertahan.

Pluit kapal melengking pertanda keberangkatan. Mak Wima mendekap sang cucu lebih erat, menggumamkan tekad, ”Ini kedua kali aku mencari kau mandor, dulu bersama Minok dan Agus yang masih merah, sekarang anakmu sudah pandai berbicara. Kuajarkan ini memimpikan ayah, untuk mendapatkan kau kembali atau meludahi kepengecutanmu…” Saat itulah, Inung, suami Bi Geni muncul di hadapan Mak Wima, ”Ayuk…” suaranya tenang. Meski nafasnya sesak baru datang, tapi ketenangannya mampu menghadirkan ketenteraman seketika itu juga. ”Ayuk Wima tak boleh berangkat sekarang, kita rundingkan dulu baik-baik di rumah. Mari kita turun, kapal akan berangkat….”

Mak Wima tiba-tiba merasa lumpuh oleh ketenangan itu. Wibawa Inung telah merenungnya tanpa harus banyak berkata-kata. Mak Wima ingin meraung, tapi suaranya bagai lenyap ditelan pluit keberangkatan. Pelan ia menurut.
***

NENEK dan cucu itu kembali akhirnya, tentu tetap tak bisa lepas dari lirik sumbangan mata orang-orang. Mata perempuan-perempuan penjaga warung yang berjejer kiri-kanan, yang meluber sampai ke tepi semak bakau.

”O, jadi ayah si Agus raja di Banten? Kenapa tak jadi menyeberang, bukankah begitu banyak kapal ke Merak?” seorang perempuan beranting-anting bagai membuka kotak suara. Di antara gemerincing telinganya.

”Tak tahulah, mungkin rajanya keburu ditangkap, korupsi ‘kali..”
”Ada-ada saja!” Dan tawa pecah bersama-sama di luar sana.
Di dalam rumah, Minok merangkul anaknya, dan Mak Wima merangkul Minok. Mereka menangis bersama-sama. Sedang Agus kembali kepada permintaannya, ”Agus ingin menyeberang, Bu, naik kapal besar…”
Minok belajar terbiasa. Senyumnya mengelopak mengambang.

Lampung – Rumahlebah, Yogyakarta, 2003.

Catatan (Kosakata Lampung):
– Bula-bula : guci dari tanah tempat air suci dalam dongeng Minak Kejala Ratu.
– Muli sikep : gadis manis.
– Tiyuh : kampung.
– Muli Mekhani : bujang-gadis.
– Ijan : tangga rumah.
– Nuwo : rumah.
– Way : sungai.
– Ayuk : kakak perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *