PENGARANG, UANG DAN BEBAN IDENTITAS

Damhuri Muhammad
Jurnal Kebudayaan The Sandour

Ketidaknyamanan personal paling parah yang kerap dialami seorang pengarang adalah ketika ia dihadang pertanyaan: Apa pekerjaan anda?. Pengarang itu pasti kesulitan merumuskan jawaban, sebab ?pekerjaan? menurut pemahaman umum tentulah profesi permanen yang memungkinkan seseorang memiliki seragam kerja, institusi (tempat ia bekerja) dan yang paling muntlak adalah standarisasi gaji resmi, (bila perlu harus dijelaskan pula perihal kemungkinan pendapatan tak resmi). Continue reading “PENGARANG, UANG DAN BEBAN IDENTITAS”

Barat Dan Timur

Satmoko Budi Santoso
Jurnal Kebudayaan The Sandour

DALAM kitab risalahnya yang berjudul Orientalism yang amat monumental dan sudah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia itu, Edward W. Said menyebut satu term yang sungguh menarik ditelaah. Tanpa rasa canggung Edward W. Said menyebut kalimat east is a career untuk sebuah konteks pembicaraan mengenai dikotomi dunia Barat dan Timur, terlebih lagi untuk kepentingannya menelaah tentang fenomena postkolonialisme, yang memang sampai di Indonesia pun dijadikan obyek studi serius. Continue reading “Barat Dan Timur”

Buku, Membaca, dan Pengarang

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 18 Mar 2007

The world exists because the books exists.
If God is, it is because He is in the book.
— Edmond Jabès, Je bâtis ma demeure —

Sejarah semesta adalah panggung pertunjukan yang lahir dari khayalan, bebayang teka-teki magis dan renungan Tuhan. Buku, terutama kitab suci, adalah medium yang dijadikan manusia untuk mengenal dirinya, semesta dan Tuhannya. Continue reading “Buku, Membaca, dan Pengarang”

CAF? SOCRATES*

Abonk El ka?bah
http://media-lamongan.blogspot.com/

?Huff?akhirnya? bisik hatiku yang merasa bebas ketika dosen meninggalkan ruangan. Serasa aku kembali ke taman Eden kini, padang rumput nan hijau bertabur merah bunga mawar yang mulai merekah, menyambutku bak pahlawan yang pulang dari medan tempur Jahanam. Continue reading “CAF? SOCRATES*”

Istri Pilihan

Rilda A. Oe. Taneko*
http://www.lampungpost.com/

KABUT pagi masih menyelimuti Maastricht ketika ia pertama kali datang. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Tubuh kecil kurus dengan kulit yang kecokelatan dan wajahnya itu–ah wajah itu, mirip sekali dengan wajah perempuan Indonesia di lukisan milik Papa. Selagi kecil dulu, ada juga sesekali kulihat Papa termenung-menung di depan lukisan itu. Aku masih ingat benar, mata Papa sering kali tampak murung dan menerawang jauh. Continue reading “Istri Pilihan”

Bahasa »