Istri Pilihan

Rilda A. Oe. Taneko*
http://www.lampungpost.com/

KABUT pagi masih menyelimuti Maastricht ketika ia pertama kali datang. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Tubuh kecil kurus dengan kulit yang kecokelatan dan wajahnya itu–ah wajah itu, mirip sekali dengan wajah perempuan Indonesia di lukisan milik Papa. Selagi kecil dulu, ada juga sesekali kulihat Papa termenung-menung di depan lukisan itu. Aku masih ingat benar, mata Papa sering kali tampak murung dan menerawang jauh.

Pagi itu, ia duduk di hadapanku, tepat memunggungi jendela kaca di ruang tamu. Di luar jendela, kabut perlahan-lahan menipis dan akhirnya lesap di udara. Embun mengering seiring dengan cercah matahari yang seperti hari-hari lain di awal musim gugur ini berusaha menyibak awan kelabu.

Tiba-tiba ia berdehem, merubah letak duduknya. Dengan sangat jelas ia mengabarkan kepadaku bahwa ia tidak suka disuruh duduk diam dan menunggu. Hmm, ternyata aku tidak sepenting yang kukira.

“Selamat datang di rumah saya, Nona. Bagaimana perjalanannya? Nyamankah di pesawat?”

Dia tersenyum. Sebentar dan sedikit saja. Lalu tanpa menjawab pertanyaanku, ia kembali merubah letak duduknya. Tubuhnya kembali dengan jelas mengisyaratkan: Ia tidak suka basa-basi.

“Nona, apakah nona tahu tujuan nona kemari?”
“Untuk jadi istri Meneer.”

Singkat dan jelas. Jawabannya membuatku terdiam sesaat. Ah, aku hanya butuh seorang teman.

“Nona tidak usah panggil saya Meneer. Nama saya Jan. Cukup panggil saya dengan itu.”
“Kalau begitu panggil saya Eli. Nama saya bukan Nona.”

Aku tersenyum dan meminta maaf. Ia tidak seperti yang semula kubayangkan. Perempuan yang datang kepadaku pagi ini ternyata tegas dan lugas.

“Kamu tidak seperti yang saya bayangkan. Saya pikir akan datang kepada saya perempuan yang pemalu dan lemah-lembut.”

“Kamu juga tidak seperti yang saya bayangkan. Kamu tidak setua dan sejelek yang saya kira,” jawabnya cepat. Kali ini dengan senyum. Senyuman yang selalu saja kukenang. Senyuman yang mampu meluluhkan salju di pucuk-pucuk cemara. Senyuman itu pula yang membuatku terbahak dan mendekatkan hatiku padanya. Senyuman jahil seorang anak kecil.
***

Sedari masih kanak-kanak, Indonesia, bagiku, adalah sebuah misteri. Ia gelap bagai masa lalu, ia dekat bagai seorang saudara, ia juga, menjelma pertanyaan akan masa depan. Pertanyaan yang sampai saatnya tiba nanti baru akan terjawab. Saat ketika Sang Kala menyibakkan goresan takdir. Tak ada seorang pun boleh tahu kapan sesuatu akan berlaku. Hanya Sang Kala yang dapat menjawab, tak peduli sekuat apapun manusia berusaha. Hanya Sang Kala yang menggenggam rahasia waktu.

Indonesia, kadangkala, bagiku, adalah obsesi. Dan ialah yang memenuhi seluruh benakku ketika kecil dulu.

Dulu, ketika masih kanak-kanak, Indonesialah yang mengiringi tidur malamku. Ia menjelma menjadi sebuah dongeng. Dongeng tentang negeri yang hangat dan indah. Tentang manusia-manusianya yang ramah. Tentang kenangan Mama akan masa mudanya. Masa yang dipenuhi semangat dan kesombongan akan kemudaanya. Masa yang penuh disinari matahari, di sebuah pulau nan kaya akan rempah-rempah.

Berbeda dengan Mama, bagi Papa, Indonesia menawarkan cerita sedih tentang cinta. Cinta yang tak pernah berhujung. Baginya, cukup dengan mengingat Indonesia, hatinya akan kembali terpilin-pilin.

“Indonesia hanya tinggal kenangan. Ia ada tapi tak lagi seperti dulu. Tak ada yang sama. Tak akan ada lagi.”

Itulah jawaban Papa setiap kali kutanya tentang keinginannya untuk pergi ke Indonesia. Setiap pertanyaan yang sama kuucap, ia selalu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali dan jawaban yang ia berikan lebih merupai gumam dan rancau yang mengambang. Sepertinya jawaban itu bukan buatku, tapi lebih untuk dirinya sendiri. Wajahnya murung dan matanya menerawang jauh. Mata yang selalu hadir ketika Indonesia merajai ingatannya.

Lalu, biasanya ia akan kembali menegaskan sambil menganggung-angguk, “Indonesia hanya tinggal kenangan.”

Tapi menurutku, Indonesia lebih dari sekadar kenangan bagi Papa. Ia terus hadir dalam tubuh tuanya. Mangiringi putaran kursi roda dan ratusan keluh kesahnya.

Mama, bukannya tidak paham akan cerita cinta Papa. Tapi dengan cara yang aneh, ia dapat mengerti dan menerima. Mungkin nasib dan kerinduan akan hal yang sama, yang membawa mereka saling memahami.

Walaupun sebagian orang menyebut mereka penjajah, sang agresor; mereka, bagiku, adalah korban. Papa dan Mama lahir dan besar di sebuah negeri jajahan. Cinta mereka pada negeri itu tak bisa terbendung. Tapi mereka dipaksa harus pergi. Ketika suatu saat, semua orang yang ramah menjadi marah dan tanah yang mereka pijak telah bersimbah darah.

Sejak saat itu, mereka melalui hari-hari di negeri sendiri dengan harapan akan kembali tinggal di Indonesia. Akan kembali, suatu saat nanti. Mungkin bila anak-anak sudah besar nanti. Atau bila pensiun nanti. Ah, sepertinya ketika tua nanti.

Dan ketika ketuaan itu hadir, mereka telah menjadi takut. Takut untuk menemui Indonesia. Takut jika ia telah jauh berubah. Lalu sampai akhirnya, mereka kubur semua mimpi-mimpi ketika mereka menutup mata.

Bukan tidak sedih hatiku, menyadari impian kedua orang tua tiada tercapai. Tapi, mungkin itulah kebijaksanaan yang telah mereka pilih, untuk hidup bahagia dalam kenangan lalu daripada menggantikannya dengan kenyataan berbeda.
***

“Kenapa kamu mau menjadi istri saya?”
“Saya butuh uang.”
Ah ah, selain tegas dan lugas, Eli ternyata perempuan yang sangat jujur. “Selain uang, apa yang kamu ingini sebagai istri saya?”
“Kalau boleh, saya lebih dulu ingin mendengar dari Jan. Apa yang Jan harapkan dari saya sebagai istri?”

Matanya lurus memandang mataku. Awalnya aku pikir, akulah sang penanya. Dan perempuan yang datang padaku akan menjawab semua pertanyaanku sambil menunduk malu. Tak berani memandang wajahku. Setidaknya itulah gambaranku tentang perempuan Indonesia. Ternyata aku salah.

Tak menduga, aku mendapat pertanyaan dari perempuan di depanku ini. Lebih lagi, pertanyaan itu hadir dari mata yang tajam dan meminta kejujuranku. Ah, pertanyaan dari perempuan yang khusus didatangkan untuk menjadi istriku. Perempuan yang kata teman Indonesiaku masih keponakannya. Perempuan miskin yang yatim dan tidak berpendidikan tinggi.

“Saya selalu merasa kesepian. Saya ingin memiliki teman.”
“Saya akan menemani Jan.”
“Saya 64 sekarang. Sudah sering sakit-sakitan. Saya ingin ada yang merawat dan melayani saya.”
“Kalau begitu saya akan merawat dan melayani Jan.”
“Saya suka makanan Indonesia. Suka sekali.”
“Saya akan masak makanan Indonesia apa saja yang Jan suka.”

Lalu saya terdiam. Pengharapan saya hanya itu.

“Sekarang giliran saya,” katanya memotong lamunan saya, “Saya ingin diri saya dan keluarga saya mati dalam agama saya. Maka saya minta Jan untuk memeluk agama saya. Saya ingin pindah kewarganegaraan sehingga kalau Jan mati, saya tetap punya hak untuk tinggal di negeri ini. Saya tidak ingin pulang,” dihela panjang napasnya, matanya menerawang jauh, hanya dalam hitungan detik, kemudian ia kembali, “Saya ingin Jan membuat pernyataan bahwa semua pensiun dan tunjangan Jan adalah milik saya, sehingga jika Jan mati nanti saya tidak akan merasakan miskin lagi. Saya ingin Jan membiayai sekolah adik-adik saya dan mengirim uang bulanan untuk Ibu saya.”

Ia perempuan yang kuat. Maka semuanya terjadilah. Aku memeluk agamanya. Ia berpindah kewarganegaraan. Semua pensiun dan tunjanganku adalah miliknya. Dan aku setiap bulan mengirimkan uang untuk ibunya serta menyekolahkan lima orang adik-adiknya. Sebagai balasannya, selama pernikahan kami, ia pun selalu menepati janjinya. Ia menjadi temaku, sehingga aku merasai ramai. Juga merawatku hingga aku merasa sembuh. Juga melayaniku seolah akulah raja baginya. Lebih lagi, tidak satu rumah makan pun di kota ini yang mampu menandingi kelezatan masakannya.

Lalu, ketika memasuki tahun ke dua pernikahan kami. Ia kembali meminta sesuatu dariku. “Aku ingin seorang anak. Aku dengar kalau punya anak, negara ini akan memberi tunjangan lebih. Dan nanti kalau Jan mati, sampai usia 21 tahun tunjangan anak akan diberikan pada ibunya.”

“Tapi saya sudah tua.”
“Saya masih muda.”

Ia perempuan yang kuat. Maka setahun kemudian lahirlah anak kami. Seorang anak, yang seolah menjawab segala pertanyaanku sejak kecil dulu. Pertanyaan akan masa depanku dengan sebuah negeri yang jauh, Indonesia. Seorang anak, yang dalam dirinya bercampur darahku dan Eli. Penerus Papa dan Mamaku. Pembawa nama keluarga Holland. Seorang anak setengah Indonesia.

Seiring dengan bertumbuhnya anak kami, di tahun ke tiga itu, Eli tiba-tiba berubah, ia menjadi lebih khawatir akan kesehatanku. Tak jenuh-jenuh ia meramu dan meracik segala akar-akaran menjadi obat. Tidak letih ia memijat tubuh tuaku dan memastikan kalau aku sehat.

Di tahun kelima, semua penyakit-penyakit yang pernah kurasakan lenyap. Tidak pernah aku merasa sesehat dan yang terpenting lagi: merasa sebahagia ini. Eli membuatku yakin bahwa akulah laki-laki paling berharga di seluruh dunia. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Rasa yang membawaku lesap ke dalam pusara kebahagiaan yang ia ciptakan.

Bertolak belakang dengan kata-katanya yang seolah berharap kematianku dulu, perbuatan Eli membuatku menduga-duga. Semakin hari dugaan di benakku semakin menyuburkan bunga-bunga di dada. Membuat dada ini hangat dan tenang. Ah ah, apakah ini…cinta?

Sampai suatu waktu. Di pagi yang berselimut kabut tebal. Aku masih mengunyah nasi goreng ketika keberanian itu datang. Akhirnya pertanyaanku terucap juga.

“Eli, kenapa kamu terus berusaha agar aku tetap sehat?”

Sambil tetap memunggungiku dan melanjutkan memutar-mutar potongan jahe di atas api kompor-tak pernah lupa tiap pagi Eli membuatkan wedang jahe untukku, ia menjawab tenang, “Aku baru tahu kalau ternyata pensiun dan tunjangan selama Jan hidup jauh lebih besar daripada kalau Jan mati.”

Seperti yang berulang aku bilang, ia perempuan yang kuat.

Maastricht, Oktober 2007

*) Alumni Unila, kini melanjutkan studi di Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *