Darwin

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Darwin, lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan. Ini agaknya yang sering dilupakan orang sampai hari ini, ketika dunia memperingati 200 tahun hari lahirnya, 12 Februari.

Menjelang akhir hidupnya, ia hanya mengatakan bahwa ia ?harus puas untuk tetap jadi seorang agnostik.? Teori evolusinya yang mengguncangkan dunia pada akhirnya bukanlah penerang segala hal. Ketika ditanya mengapa manusia percaya kepada Tuhan, Darwin hanya mengata?kan, ?Misteri tentang awal dari semua hal tak dapat kita pecahkan.? Continue reading “Darwin”

BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY STIAWAN ZS

Sutejo
Ponorogo Pos

Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY STIAWAN ZS”

PENYAIR FAUZI ABSAL; Berharap dari Honor Puisi Saja, Berat

Haryadi
http://www.kr.co.id/

BERTAHAN hidup dengan menggenggam erat ideologi kepenyairan secara psikologis memang menghadirkan satu kepuasan tersendiri. Berkarya menciptakan puisi kemudian menawarkan kepada masyarakat melalui beberapa cara, pada saat-saat tertentu seakan-akan mengantar pada seseorang berdiri di sebuah menara menjulang. Tetapi jika bicara soal kontraprestasi material dari hasil mencipta puisi, bukan tidak mungkin seorang penyair akan ngelus dada. Continue reading “PENYAIR FAUZI ABSAL; Berharap dari Honor Puisi Saja, Berat”

Nol

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Nol Buku! Itulah puncak sarkasme yang pernah dilontarkan penyair Taufiq Ismail tentang jumlah buku sastra wajib di sekolah-sekolah menengah kita. Padahal, di jenjang pendidikan yang sama, (tidak untuk memuji, tapi mengemukakan fakta), pada zaman Belanda, masing-masing siswa harus membaca 15 sampai 20 buku sastra wajib. Jumlah yang masih terus dipertahankan sampai kini di sekolah-sekolah menengah di Eropa, Amerika, bahkan Asia, seperti Singapura, Jepang, Malaysia, dan juga Brunai Darussalam. Continue reading “Nol”

Tasawuf, Fenomena Kota

Ahmad Nurullah
http://jurnalnasional.com/

TASAWUF merupakan fenomena kota. Sufi-sufi awal hingga mutakhir menyampaikan ajarannya mula-mula kepada penduduk kota. Begitu pula di Indonesia. Sejak awal kedatangan dan pesatnya perkembangan Islam di Indonesia pada abad ke-13 sampai ke-17 Masehi, para ahli tasawuf memulai aktivitas mereka di kota-kota pelabuhan, tempat munculnya komunitas-komunitas Islam yang awal di kepulauan Melayu Nusantara. Continue reading “Tasawuf, Fenomena Kota”

Bahasa ยป