PENYAIR FAUZI ABSAL; Berharap dari Honor Puisi Saja, Berat

Haryadi
http://www.kr.co.id/

BERTAHAN hidup dengan menggenggam erat ideologi kepenyairan secara psikologis memang menghadirkan satu kepuasan tersendiri. Berkarya menciptakan puisi kemudian menawarkan kepada masyarakat melalui beberapa cara, pada saat-saat tertentu seakan-akan mengantar pada seseorang berdiri di sebuah menara menjulang. Tetapi jika bicara soal kontraprestasi material dari hasil mencipta puisi, bukan tidak mungkin seorang penyair akan ngelus dada.

Hal itulah setidak-tidaknya yang saat ini dirasakan oleh penyair Fauzi Abdul Salam (54) yang akrab dengan panggilan Fauzi Absal. Menulis puisi sejak tahun 70-an, hingga saat ini dirinya mencoba bertahan dengan puisi. Fauzi Absal mengaku dirinya tidak mau ‘mengkhianati’ dunia yang pernah mengangkat namanya di peta kepenyairan Indonesia. “Sepahit apapun kepenyairan harus tetap saya geluti,” katanya.

Fauzi Absal mengaku agar asap dapur terus mengebul, dirinya memang tidak bisa semata-mata mengandalkan honor menulis puisi. Apalagi dirinya juga harus memenuhi biaya sekolah kedua anaknya yang kini masih duduk di bangku SMP dan SD. Sadar bahwa istri dan anaknya tidak bisa kenyang hanya dengan disodori puisi, Fauzi Absal buka usaha reparasi sandal dan sepatu. Menempati sebuah rumah kontrakan di daerah Kalasan, Sleman, sehari-hari Fauzi Absal menunggu para pelanggannya.

“Abot tenan yen mung njagakke honor puisi. Lha piye saiki penyair akeh banget, ning koran ora isoh muat puisi saben dina. Gelem ora gelem aku kudu nyengkut nyambut gawe ben isoh ngliwet lan ngragati sekolah anak,” kata Fauzi Absal ditanya soal kenapa dirinya buka reparasi sandal dan sepatu. Pekerjaan itu sebenarnya merupakan ‘warisan’ dari orangtuanya yang digeluti cukup lama. Semasa kecil Fauzi Absal sering membantu ayahnya mereparasi sandal dan sepatu milik para pelanggan.

Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengandalkan honor puisi, menurut Fauzi Absal saat ini sangat mustahil. Kecuali kalau hanya sekadar bisa memenuhi kebutuhan perut saja, barangkali hal itu masih bisa dijalani. Tetapi untuk bisa hidup lumrah secara sosial dan ekonomi, tentu saja tidak mungkin. Fauzi Absal mencontohkan, ketika hendak membeli buku untuk keperluan anaknya, dirinya tidak bisa hanya menawarkan segepok puisi yang katanya akan diterbitkan. Pihak toko buku pasti berpikir seribu kali jika buku-bukunya hanya ditukar dengan segepok puisi. “Hanya penyair super hebat yang bisa hidup layak dengan mengandalkan puisi-puisinya,” jelas Fauzi Absal.

Fauzi Absal menjalani proses kreatif berpuisi dengan bergabung ke Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi. Bersama Iman Budhi Santoso, Linus Suryadi AG (almarhum), Suminto A Sayuti, Bambang Darto dan Kuswahyo SS Raharjo (almarhum), Fauzi Absal merupakan salah satu penyair kesohor pada zamannya. Tapi saat ini Fauzi Absal menyadari bahwa ‘masa keemasan’ itu sudah berlalu. Tidak banyak surat kabar yang memuat karya-karyanya lantaran iklim kompetitif cukup tinggi. Kemunculan sejumlah penyair muda saat ini tentu saja menjadikan persaingan antarpenyair sangat ketat.

Fauzi Absal bertutur dirinya sangat merasakan bagaimana pahit-getirnya hidup dengan ideologi kepenyairan tinggi. Meski telah menyiasati hidup dengan ikhlas jadi ‘dokter’ sandal dan sepatu, toh hidupnya tetap kembang kempis. Kini Fauzi Absal mencoba mengatasi masalah itu dengan merintis kerajinan dari bambu. “Usaha yang saya rintis itu belum bisa berjalan karena kredit yang saya ajukan di sebuah bank tidak segera cair,” jelasnya.

Lalu apakah Fauzi Absal akan menyerah ketika menghadapi situasi yang tidak mengenakkan itu. Fauzi Absal berujar dirinya tetap akan berkarya menciptakan puisi. Tekad itu merupakan salah satu wujud tanggung jawab dirinya terhadap dunia kesusastraan, khususnya kepenyairan. “Beruntung saya memiliki istri yang tahu benar soal risiko hidup bersama seorang penyair. Ibaratnya, saat hendak menikah kami ini sudah siap melarat,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *