Tasawuf, Fenomena Kota

Ahmad Nurullah
http://jurnalnasional.com/

TASAWUF merupakan fenomena kota. Sufi-sufi awal hingga mutakhir menyampaikan ajarannya mula-mula kepada penduduk kota. Begitu pula di Indonesia. Sejak awal kedatangan dan pesatnya perkembangan Islam di Indonesia pada abad ke-13 sampai ke-17 Masehi, para ahli tasawuf memulai aktivitas mereka di kota-kota pelabuhan, tempat munculnya komunitas-komunitas Islam yang awal di kepulauan Melayu Nusantara. Barulah kemudian fenomena itu merembes ke pinggiran kota sampai wilayah perdesaan dan kawasan pedalaman.

Hal itu dikatakan Prof Dr Abdul Hadi WM, penyair, budayawan, dan Guru Besar di Universitas Paramadina, Jakarta, kepada Jurnal Nasional, kemarin. Bahkan, menurutnya, organisasi tarikat dan lembaga-lembaga pendidikan yang mereka bangun menjamin kelangsungan dakwah mereka berjalan baik. Tidak jarang dalam berdakwah mereka menggunakan media kesenian dan sastra, termasuk yang berasal dari budaya lokal.

“Mereka juga sering dikenal sebagai darwish atau faqir yang suka mengembara sambil menjalankan kegiatan perniagaan. Dengan itu mereka mandiri. Tidak sedikit pula di antara mereka dikenal sebagai tabib, ilmuwan, fuqaha, guru spiritual, wali, sastrawan, dan guru agama yang menguasai berbagai cabang ilmu Islam,” katanya.

Bahkan, sebagian lagi dari mereka aktif dalam gilda-gilda, organisasi dagang yang disebut ta?ifa, yang tidak sedikit di antaranya memiliki afilisasi dengan tarikat-tarikat tertentu. “Gilda-gilda dan tarikat-tarikat ini memiliki jaringan perdagangan, intelektual, dan keagamaan yang membentang luas dari Turki, Yaman, Syria, Iran, dan India hingga kepulauan Nusantara,” katanya.

Setelah mengalami kemunduran cukup lama, kini tasawuf mulai lagi menunjukkan daya tarik dan pesonanya. Awal bangkitnya kembali gairah dan minat terhadap tasawuf bermula pada tahun 1970-an dan kian menunjukkan sebagai fenomena keagamaan yang menonjol pada tahun 1980-an.

Seperti sebelumnya, kebangkitannya kembali di Indonesia merupakan fenomena kota. “Saya katakan sebagai fenomena kota karena kebangkitannya kembali mulai tampak di kota besar seperti Jakarta dan Bandung,” katanya. Sejauh pengamatannya, hal itu mulai terjadi pada 1970-an ketika dalam kesusastraan Indonesia muncul gerakan sastra sufistik, yaitu kegiatan penciptaan karya sastra yang berorientasi pada pandangan hidup (way of life), gambaran dunia (Weltanschauung), nilai-nilai, dan estetika yang diajarkan kaum sufi dalam Islam,” katanya.

Bahkan, di akhir 1970-an dan awal 1980-an, para sastrawan di Indonesia pun mulai sering dan kian mengadakan acara pembacaan sajak-sajak sufi. Antara lain: Malam Rumi (1982), Malam Hamzah Fansuri (1984), Malam Iqbal (1987) yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. “Sejak itu seni bercorak sufistik seperti musik, tari, dan seni rupa kian sering dipertunjukkan dan dipamerkan di beberapa kota besar,” katanya.

Apakah gairah seperti itu merupakan eskapisme? “Tidak. Dunia tempat kita menjalani hidup ini adalah rumah bagi kita, sekaligus kuburan. Masalahnya, bagaimana kita memberikan makna, tujuan, dan dimensi spiritual terhadap hidup kita sebelum akhirnya menyongsong kematian,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *