PANGGUNG, IDENTITAS FIGUR DAN PENYAKIT TURUNAN

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dalam setiap kaidah ajaran agama, faham aliran kepercayaan pun konsep wacana yang diserap dan teryakini. Sang pencetusnya membawa amanah pertama, yang menjadikan dirinya cermin bagi para pengikutnya. Sang utusan, sang martir dan sang yang pemuka itu diamini sebagai sosok paripurna, yang tingkah-lakunya memantulkan tauladan bagi rahmat sekalian alam.

Setiap insan yang menempuh perjalanan hayat, niscaya mendapati dirinya bersinggungan dengan sosok-sosok yang dikagumi. Atau hasrat lebih pada model yang disegani. Apa yang terjadi ketika cermin cerlang itu begitu kuat? Apakah membunuh kesadaran para pesolek?

Yang mewujudkan luaran atas kegagalan membentuk kejiwaan, akan menghadirkan pengertian dalam membangun kualitas diri, dengan apa yang terhadapi dari wujud-wujud figur teridam. Atau pengertian figuran tidak sekuat asalnya. Ini akibat dari ruang-masa yang berbeda, dengan peristiwa yang dialami sang figur. Maka inti daripada figur harus dipelajari, demi menggodok jati diri sebagai insan mempuni.

Akan bahaya jika mengambil bentuk luar saja untuk legitimasi, menjangkau kedudukan demi memperoleh untung semata. Atau figur yang teridam, lama-kelamaan menggerogoti jiwanya, sebab tidak mau atau tak mampu berjuang sejauh mana memahami sang figur merevolusi jiwa. Atau sengaja mengambil pakaian sang figur demi menyelamatkan dirinya, tanpa ada keinginan memperbaiki keadaan diri serta sesama.

Apa yang diperoleh dari pengadaan semu hanyalah kebohongan. Mengada di sini tidak menciptakan apa-apa, selain membuang waktu tanpa nilai tambah bagi lingkungannya. Seperti stempel yang sama tetapi tidak pada jamannya. Figur itu menjelma hantu gentayangan, yang dibangun untuk menakuti orang-orang baru tersadarkan dari sekilas warna kehidupan.

Figur tidak memiliki kekuatan kalau tidak dipercayai. Ia dapat merasuk menguasai jika diyakini, lalu menjelmalah si pengaku itu figuran. Maka berhati-hatilah agar jangan sampai terjebak figuran yang mengambil simpati, dengan memanipulasi lewat perubahan dirinya. Olehnya, menfiguri (membebek, mengekor) menjadi penyakit turunan yang harus dibasmi. Kalau tak mengetahui figur asli, sedurung menjalani tugas kesadarannya sebagai insan berpribadi mandiri.

Kita kudu bisa membedakan antara orang yang menemukan jalan, dengan yang hanya mengambil perangai yang difiguri. Maka koncekilah kalbu, karena setiap insan sejatinya memiliki figur halus yang belum tersentuh dalam diri, yang murni atas karakternya sendiri. Dan jangan terkelabuhi tampang kasar yang membuat diri kita merasa aman. Kebaikan figur akan tampak jika dipandang, namun menjadi konyol kalau tidak memahami, menguyah prosesi bagaimana sang figur itu membawa misi bermanfaat.

Figur yang baik menemukan dirinya dalam kenyataan pahit dengan keikhlasan, memperoleh kebaikan penerimaan. Ada figur revolusioner yang tidak mundur barang sejengkal, sebelum mendapati ketegasan dirinya sebagai pemberani membela pendapat (bertanggung jawab), pun menyokong pilihan kebenaran. Tentu keberpihakan figur membekas pada figur turunan, namun acapkali hal itu dipakai dalam bentuk-bentuk berbeda, serupa kelicikan memunculkan pamrih.

Figur itu identitas nilai, konsep wacana yang dipandang dari pergumulan pertimbangan bathin pemikiran yang matang. Hal kurang tepat jika melaksanakan keputusan figur tanpa mengetahui sejauh mana figur itu mengungkapkan akar permasalahan. Figur yang muncul demi kemaslahatan umat, tidak memetik perbuatan baiknya, tetapi seringkali turunannya yang mengambil untung dari fasilitas yang berupa warisan pamor.

Inilah kefatalan yang menjadikan perilaku figur tidak lagi dihargai dengan semestinya. Maka kudunya belajar mengetengahkan kritik perbaikan, demi mendapati faedah. Dan harus berani membongkar diri, apa benar telah mengidolakan figur hingga identitas dirinya hilang lenyap? Atau sudah mengambil inti sang figur dalam membangun keberzamanan diri? Atau lebih jauh, beranikah bersusah payah menemukan karakter diri tanpa pengilon (cermin) sang figur?

Dunia terbentuk oleh beberapa identitas figur. Dan sungai-sungai itu mengalir mengikuti alunanya masing-masing, menuju pada muara yang sama. Bersatu-padu seirama luapan kasih samudra kemanusiaan, yang menjunjung kelestarian. Kita tahu, pemain figuran bukan tokoh yang utama di dalam menjalankan sejarah pemikiran anak manusia. Figuran itu sekadar pelengkap nafas-nafas permainan. Tanpa figuran, jalannya kisah tetap bisa diterjemahkan, sebab figuran semacan kalimah sampiran.

Akan jauh berbahaya jika figuran mencetak figuran lain, sehingga banyak sekali sampiran. Figuran yang membuat figuran, hanyalah menuruti kesenangan nafsu yang menjadikan dirinya bukan sebagai figuran, namun harapannya menjadi pemain utama. Para figuran dari bentukan figuran pertama (turunan awal sang figur), acapkali berwatak buruk dengan mengambil untung kehadiran sang figur yang terlihat samar olehnya.

Figuran yang baik mengikuti naskah sutradara, namun yang lainnya membuat-buat sejenis bid?ah dari jalannya kisah. Biasanya figuran yang muncul pertama, kerapkali membuat ulah, mengabaikan naskah cerita kesungguhan sang figur. Sehingga para figuran selanjutnya, kurang faham atas kehadiran watak sang figur sesungguhnya, tersebab tergiur mengikuti figuran sebelumnya.

Bagaimana pun figuran perlu dimunculkan, demi memperindah benang merah sejarah sang figur, namun mustinya menyadari bahwa tonggak suatu nilai terbentuk dari figur asli, bukan atas pola-pakolah figuran. Memang, kadang terlihat dalam suatu cerita, figuran lebih ditampakkan daripada sang figur murni. Ini bukan berarti menanggalkan nilai dasar yang dikandung sang figur. Sebab sang figur ialah sosok penentu, magnit yang memiliki daya kegenitan sebagai aktor tersohor.

Bagi seorang sutradara yang membentuk nilai suatu negara atau bangsa, harus menggunakan figuran demi memaksimalkan kreasi, sehingga berkelebatnya tidak sekadar sampiran yang memberat-beratkan cerita atau ngelanturnya kisah. Tetapi membentuk kandungan nilai putaran roda pemerintahan, menjadi tampak seperti yang diharapkan.

Tentu ini harus didukung penciptaan figur handal, yang bisa diterima semua lapisan. Kita tahu sang figur lahir tidak dengan sendirinya. Namun oleh keberanian dan kebenaran politis dalam lingkungan yang membuat dirinya hadir diimpikan penonton juga para pemain lainnya. Yang lahir karena tersudutkan keadaan, keterpaksaan atas ruang-waktu. Sehingga dirinya menguliti makna hayat lahir-bathin di sekitar para figuran.

Adalah kehadiran sang figur baru dapat terjadi, setelah banyaknya figuran yang gagal mencipta identitas figur. Sang figur tidak hadir atas olahan tangan figuran, tetapi dari situasi kejiwaannya yang terjepit-hincit menjadikan dirinya utama. Karakter sang figur tersebut begitu kuat mencorong, sebab tempaan hayat yang keras menggencet mentalnya. Sejak kesadaran awal mengenal fitroh dirinya sebagai makhluk tuhan yang sempurna.

2006, 09,
*) Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *