Puisi, Cakram Emosi

Fariz al-Nizar*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Adalah sastra, sebuah jalan yang digadang-gadang untuk mengheningkan diri seorag selain mistisme atau tasawwuf tentunya. penyair ghalibnya banyak yang mengekspresikan kalbunya lewat goresan pena. Sajak, puisi dan juga proisi ?meminjam istilahnya Emha Ainun Nadjib yang menemai tulisannya dengan terminologi tersebut yaiu persetubuhan antara prosa dan juga puisi sekaligus- dan juga syair.

Penyair atau munsyi-dalam bahasa kompas- adalah jiwa-jiwa yang selalu merasa terpanggil, sensitif terhad apa saja yang terjadi di sekelilingnya ?arround them?. Ia begitu reaktif, responsif terhadap tiap cc kejolak yang terjadi baik di dalam maupun di luar dirinya. Tapi dalam hal ini reaksi serta respon merekan buka berupa aksi tapi bisa berupa novel, syair ataupun puisi.

Pada tataran ini bisa dibedakan reaksi pera penyair dalam mengahapi suatu problem dengan reaksi misalnya pemuda-pemuda organisatoris yang berafiliasi dengan organisasi yang bersifat gerakan, pembela, front. Dalam kasus Ahmadiyah misalnya, penyair tidak akan pernah mondar-mandir membombardir tempat jamaat Ahmadiyah tapi mereka lebih akan mengambil secarik kertas, alat tulis dan sesegera mungkin ia akan menuangkan kegelisahannya. Hal itu berbeda dengan pemuda gerakan tadi ?kok gak capek gerak terus- mereka para pemuda gerakan itu lebih bersifat reaktif dengan cara menjadikan Ahmadiyah sebagai lumbung bulan-bulanan mereka.

W.S Rendra, ia mengeluarkan syairnya untuk kemanusian yang hilang di timur tengah, di mana Israel-Palestiana yang diwakili oleh hamas sedang bergejolak. Tapi lagi-lagi pemuda yang tergabung dengan organisasi gerakan mereka menghancurkan siangoge-sinagoge yang ada disekitar tempat domisili mereka.

Dalam pada ini bisa dikatakan bahwa puisi adalah cakram emosi seseorang walaupun yang dibaca adalah sesuatu yang bernada emosi-konfrontatif tapi jika itu berupa puisi semua itu kontan menjadi ah, bener juga kata orang ini?begitu kira-kira komentar yang akan keluar dari mulut para pedengar.

Saya bukan pembela abadi para penyair, saya bukan pem?back up? puisiwan dan saya juga bukan ?muassib? para munsyi, tapi hal ini adaah murni ojektivitas bahwa puisi adaah rem dari lajunya emosi diri ini. Seemosi apapun seorang penyair ketika membaca puisinya, yang melihatnya sekalipun dijamin tak akan pernah menghiraukan ke?emosi?annya tersebut. Paling-paling mereka dengan enteng akan mengatakan wah itu penjiwaan puisi yang bagus.

Bukankah perkembangan puisi dewasa ini cukup menjanji? Di mana-mana ada orang membaca puisi, di rumah, di kantor, di bus dan juga tak pernah ketinggalan di saat-saat demo terjadi. Dan hal itu menunjukkan akan iklim kedewasaan serta kematangan kita setidaknya kematangan dalam menghadapi suatu tantangan serta amasalah yang kita alami.

Anda bisa pandangi wajah seorang Abdul Wahid B.S, Ahmad Mustofa Bisri, W.S Rendra, Goenawan Muhamad dan juga D.Zawawi Imron betapa sejuk dan teduh sorot mata mereka. Begitu juga anda bisa cermati cara bicara dan bertutur Ahmad Tohari, Taufiq Ismail, Agus R. Sarjono, Sapardi Djoko Damono dan Emha Ainun Nadjib betapa santun gaya bicara mereka.

Anda bisa kaji dan cermati biografi Chairil Anwar Almarhum, Muhammad Iqbal Almarhum, Rab?iah Adawiyah Almarhumah, Kahlil Gibran Almarhum, Jalauddin Rumi, Muhyiddin Ibnu Aroby dan juga Hamzah Fansuri betapa mengalirnya hidup mereka, betapa nyatanya kehidupan hidup mereka.

Dalam hal hidup Iqbal pernah berkata lewat goresan penanya
Kau mestinya bagikan gandum!
Ditumbuk, untuk menghilangkan kulitmu
Madzmumah, kotoran
Ditumbuk lagi, agar kau halus
Lembut jadi adonan
Dan terakhir kau harus bertemu
Setan yang berwujud api
Agar kau gosong atau jadi roti

Sepenggal syair di atas menggambarkan betapa dalamnya seorang penyairnya. Ia begitu dalam mendalami hidup dan kehidupan ini. Bagi seorag penyair di setiap langkah kakinya, kedipan matanya, anggukan kepalanya semuanya menjadi sangat puitis. Wallahu a?lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *