Sajak-Sajak Esha Tegar Putra

http://cetak.kompas.com/
Gerimis Batu

gerimis batu, gerimis ragu meminang tali hujan
gerimis ragu meminang kumparan angin
di ambang pintu, gerimis berbunyi lembut
merupa kidung rubaiyat sepi yang dilantun perempuan tanjung
(perempuan yang lehernya memberat, punggungnya bungkuk;
mungkin karena kalung tiram dari selat timur yang dipakainya)
gerimis batu, gerimis bersihantam di topangan buluh rumbia pondok
gerimis menyimpan diam. diam yang memendam peristiwa
pantai di ganasnya musim laut. dan di dada perempuan tanjung, diam
telah berhulu pada penungguan yang teramat
sebab gerimis adalah rindu, gerimis adalah cinta yang padu.
tapi ini kali, duh, gerimis memberatkan pukat ke lambung laut
?gerimis kupandang, kekasih melayang.
gerimis kupegang, kekasih menghilang.? suara perempuan
tanjung dihela ombak ke dasar laut, lalu gemanya disesap
muncung ikan todak, gelembungnya dihisap ubur mabuk
perempuan ujung tanjung, berdiri di tengah gerimis batu, menunggu
lelaki bercadik meranti menepikan badan asinnya
di ambang pintu, gerimis terus menipu, dengan batu

Kandangpadati, 2008

Butir Hujan

butiran hujan turun dari talang betung atap rumahmu
membentuk tali dan menyerupai ular yang setiap
malam mematuk tidurmu. kau tak juga sadar bahwasanya
butiran hujan itu menginginkan sebuah cambung untuk
kau tampung, agar senantiasa ia terungguk dengan
baik. agar ia bisa kau tanak bersama beras, agar ia bisa kau
gelegakkan bersama daun pucuk ubi, agar ia menjadi uap
dan bisa kau lesatkan ke dalam buah merah pedas
mungkin saja kau akan dililit ular setiap malamnya sampai
kau menjadi seorang tua dan renta?ular yang merupakan
penjelmaan dari butiran hujan yang tak kunjung kau maknai
di setiap gerakmu. sebab ia senantiasa berkunjung pada
kesalmu. kesal pada dingin sebagai penabuh daging sintalmu
dan karena itulah kau tak ingin memaknai hadirnya. tiap kali
butir hujan itu merangsek turun dari talang atap rumahmu
kau selalu menolehkan muka ke arah lain agar kau tak
melihat gambaran kesedihan yang terpendam di ricik
bunyinya. bunyi yang jatuh bertimpa dengan kulit tanah

kandangpadati, 2008

Penjulur Lidah

kau, sesuatu yang menjulurkan lidah
dari puncak lembah, hingga basah liurmu terus
menetes dan mengirim bau tak sedap ke dinding
karang lalu bau itu menyelusup ke batu-batu gua
(bau liur yang lebih tajam dari kencing kelelawar
hamil ataupun bangkai ular yang mati kekenyangan
sehabis makan kambing hutan), dari asal apakah
kau terlahir? sejauh ini bukankah kau berinduk
pada titik cahaya malam yang menyangkut di
reranting pohon mati? dan bukankah cahaya itu
berasal dari ekor kunang-kunang yang sedang
berpinak di bawah bulan terang?
kau si sepi yang beranjak ke arah mati, beranjak
dari sebuah lubang segan yang pantang mengenyam
hujan dan kabut dingin. kau terlahir dari induk yang
binal kukira, sebab kulitmu bau masam, bau getah
batang busuk. mungkin juga kau si binatang ingkar
yang dikutuk berlidah panjang hingga kau tak
sanggup mengecup manisnya malam. kau si malang
berbadan hilang, menggantungkan hidup pada sepinya
jalanan angin. malukah kau bertanya pada setiap
gerak air (pada tetes hujan yang merangsek turun
dari daun kemumu) atau bilangan nasib yang kian
buruknya telah disuratkan alam ke rahim indukmu
hingga kau lahir membentuk sesal yang teramat

Kandangpadati, 2008

Penari Piring

berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar
saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. di mana rahasia
kejadian lama disurukkan? di salempang induk beras, di kopiah
tuan kopi, atau di saku baju para penggetah burung rimba?
dan masih suara piring diketuk kulit damar, tingkah-bertingkah
dendang tanjung sani dinyanyikan. tapi alamat diri tetap hilang
terbuang di panjangnya jalan. jalan yang bertarian dua badan
nan dipisah antara rantau dan kampung. apakah itu bayangan laut
tempat pecahan piring diserakkan?

Kandangpadati, 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *