Sampakan, Penolakan Identitas Estetik

Satmoko Budi Santoso
http://www.kr.co.id/

Jika Albert Camus punya postulat ?pemberontakan itu kreatif?, maka saya, dalam penggarapan pementasan kali ini punya satu pernya taan sekaligus pertanyaan, ?Meniru itu kratif??

PERTANYAAN di atas dilontarkan Marhalim Zaini, sutradara pementasan lakon Pensiunan karya Heru Kesawa Murti, dalam leaflet pertunjukan yang digelar di Auditorium Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, 2 Juni 2001 silam. Perlu ditandaskan di sini, tanggal berjalannya pementasan itu sesungguhnya tidak penting, bisa dianggap sebagai kebetul an, karena yang coba dikritisi adalah fenomena pemunculan kembali traktat sampakan, kemungkinan ruang dan waktu aktualisasinya dalam konteks terkini. Karenanya, tulisan ini lebih pada kepentingan menengok seberapa jauh rasionalisasi gaya sampakan telah menjadi ideologi dan berhasil membentuk asumsi, juga paradigma tentu sebagai risiko sosialisasinya sendiri. Karenanya pula, kritisisme yang menyinggung pada aspek dramaturgi amat dimungkinkan.

Sutradara Marhalim Zaini mengusung nama kelompoknya sebagai Teater Batu kuala, yang hampir semua personelnya mahasiswa-mahasiswi Jurusan Teater ISI. Pertanyaan yang bernada gugatan itu seng aja ditulis karena ? seolah-olah ? ia harus berproses memenuhi standar kurikulum institusi yang kebetulan menyodorkan tuntutan agar sanggup menyutradarai konsep epik Bertold Brecht.

Ada dua hal yang menarik dari kontroversi pemikiran Marhalim Zaini. Pertama, lakon Pensiunan Karya Heru Kesawa Murti telah dinubuatkan sebagai lakon standar yang bertanggungjawab atas tertib dramaturgis epik Bertold Brecht. Karenanya, lakon tersebut hadir sebagai acuan, bisa dibawa dan ?ditiru? di mana-mana ? asal mau. Kedua, konsep pembongkaran estetika dengan tafsir baru, yang dilakukan generasi pelaku teater yang berkelanjutan, yang kebetulan berada dalam beban identifikasi generasi ?carut-marut?, berada dalam kebimbangan eksistensi dalam konstelasi sosial-politik-kultural, dan harus mampu menerjemahkan diri sebagai delegasi jiwa zaman. Yang cukup menarik disimak, memang pada term kedua, di mana ada semacam dilema bahwa seorang sutradara tetap harus membebaskan diri dari keterjebakan konsep kreatif : anasir nilai cukup penting bahwa hak milik identitas estetika orang lain tak perlu diseret-seret, lebih-lebih dikembangkan. Hak milik identitas estetik orang lain menjadi bernilai kredo tunggal tak tergugatkan, karenanya kreativitas lain yang mengembangkannya menjadi bernilai naif. Dalam konteks inilah penolakan regenerasi visi estetik berlaku mutlak dan absolut, bangunan maintream ideologisasi tak perlu dilanjutkan. Atau, meski dengan lakon yang sama, kalau bersikeras melanjutkan sudah semestinya tetap dengan pembongkaran tafsir baru ?

WUJUD PEMENTASAN Teater Batu Kuala sendiri tak mengecewakan. Lakon Pensiunan berkisah perihal kebobrokan wilayah birokrasi yang terjadi di suatu kantor pensiunan. Cara berpikir mani-pulatif ? menipu, memeras, dan semacamnya – ternyata selalu dikembangkan oleh orang-orang yang duduk dalam urusan birokratisasi kantor pensiunan tersebut.

Bisa dipastikan, orang-orang dalam kantor pensiunan ialah orang-orang yang tergolong ?bau kain warna ganih?, siap berkalang tanah, uzur. Tentu, akan menjadi sah ketika orang uzur tersebut muncul sebagai sosok narsis, karena tuntutan mengungkap romantisisme dunia mereka di masa lalu, sebagai satu-satunya agenda dalam mengisi waktu menunggu giliran menerima jatah uang pensiun. Maka, bertemulah tokoh Tulang Sibolga Butar-butar (Abdul Harahap), Petugas (Agung), dan Ribut (Fery), orang-orang yang teridentifikasi mempersiapkan skenario memakan uang pensiun milik Pak Minggir (Erwin), Sudi (Nur), Giwang (Sugeng), dan bebe-rapa nama lain. Tulang Sibolga Butar-butar, sebagai otak kawanan ?perampok birokratis? ini, terbongkar belang kejahatannya, ketika konspirasi mereka harus bertemu dengan Bu Wiji (Niniet), yang sampai mengetahui tindakan amoral Rama Wiji (Dikson), suaminya sendiri, terhadap anak orang lain. Abstraksi tipologis cara mengritik birokrasi yang terlampau biasa, hampir semua persoalan bisa tersudutkan karena belang amoralitas ? ingat bahwa kontekstualisasi zaman ketika lakon Pensiunan ditulis ialah pada tahun 1978, yang nota bene lakon pertama pemen tasan Teater Gandrik, juga lakon pertama yang lahir dari tangan Heru Kesawa Murti ?

Yang pasti, tanggungjawab logika penceritaan dari kisah semacam itu tak akan jauh dari gaya banyolan, kebetulan ketika dibawakan Teater Gandrik berhasil dirumuskan dengan istilah sampakan ? satu lontaran pernyataan Kirdjomulyo (almarhum) yang menafsirkannya dari ?traktat? memahami gendhing Jawa, yang terdiri dari filosofi sesek (sesak), sampak (berusaha keluar dari situasi sesak dengan menetralisir lewat cara tertentu, bisa guyon an), dan suwuk (pembebasan dari situasi sesek karena telah menemukan formula sampak). Atau, sepaham dalam bahasa Dr. Kuntowijoyo ketika menggeneralisasi teater sampakan sebagai ?avant-garde ke belakang?. Atau juga, dalam versi pernyataan Veven SP Wardhana dan Budiarto Danujaya ialah ?post-ludruk?.

KEMBALI PADA anasir penolakan identitas estetik sutradara, keseluruhan jalannya pementasan yang cukup lancar dan tak menemui kendala teknis, memang tak sepenuhnya merujuk pada tafsir ?epik Brecht-sampakan? yang konkret, di mana yang paling pen ting ditandai pada aspek rumusan alienasi teoritisasi Brecht. Visi estetik sutradara justru mempercayai pola penggarapan dramaturgi realis-konvensional, di mana alur, pola pengadeganan, pembangunan watak dan akhir cerita mengacu pada teoritisasi ?struktur empat kerucut?, awal-pembangunan plot-puncak-akhir. Urgensi alienasi visi estetik Brecht hampir tidak ada, rujukan perihal alienasi yang dipahami secara sederhana sebagai cerita yang serius dibangun aktor, terhancurkan hanya dikarenakan pemunculan karakter, dialog atau suasana lain yang nyleneh, tak beralasan, seolah tak sadar dan tak harus bertanggungjawab ketika menghancurkan logika penceritaan yang sudah berjalan.

Sepenggal contoh konkret tafsir alienasi Brecht semacam itu bisa dilihat ketika tokoh Bu Wiji mendudukkan dirinya sebagai perempuan superior, yang bisa seenaknya menginjak-injak laki-laki, dengan ringan-tangan bisa membuka blangkon tokoh Rama Wiji, ngeplak kepala, memelototi, menendang, dan tindak anarkis subversi nilai keperempuan yang lain. Pasti, adegan semacam itu memungkinkan pengembangan teoritisasi alienasi Brecht, meski sebenarnya ? secara ideologis ? justru bernilai sangat serius karena berhadapan dengan tafsir nilai lain, yakni keterinjakan ideologi patriarki dan feodalisme kultur Jawa yang bodoh, yang seolah-olah ? lewat temperamental t?koh Bu Wiji ? tak perlu dibela, apalagi dihormati. Tokoh Rama Wiji pun hadir sebagai manusia tak berkutik, harus merelakan harga dirinya hancur. Bu Wiji, ?pejuang demokratisasi pemberantasan patriarkisme?, bisa tersenyum tanpa beban, merasa diri telah meruntuhkan bangunan ideologisasi yang nyaman. Kontekstualisasi ruang dan waktu penceritaan yang penting untuk kondisi terkini, teramat ideal untuk menghancurkan imajinasi perihal kultur Jawa, kebahagiaan superioritas-feodal tak lazim berlajut.

Yang perlu dikritisi dalam konteks lebih jauh, ialah basic keaktoran, sebagaimana sempat disinggung Jujuk Prabowo, salah seorang supervisor pementasan, ternyata ?ukup sulit mengedepankan tokoh sebagai dan menjadi. Bisa dibuktikan dalam pementasan, kualitas aktor-aktris Teater Batu Kuala masih sekadar sebagai, belum menjadi. Mereka hadir hanya sebagai penafsir peran, belum pada ?traktat? mengeksplorasi tafsir peran agar berhasil menjadi karakter tokoh tertentu. Dalam tafsir penguasaan pemeranan, hanya tokoh Tulang Sibolga Butar-butar yang mempunyai kesempatan menunjukkan dirinya menjadi, sekalipun dalam usianya yang masih muda dan bukan murni orang Batak tetap mampu menangkap ruh karakterisasi.

Sampai di sini, tanggungjawab sutradara menjadi bernilai plural, ia tak hanya menafsir laku pementasan, namun juga berpikir demokratisasi kreatif. Ia mempunyai keinginan membebaskan diri dari kurikulum estetik institusi seni, dan berada dalam alur kurikulum estetik lain yang diidealisasikan lebih merujuk pada otentisitas identitas estetik. Penghadiran nama tokoh yang diadaptasi menjadi nama macam-macam, juga menjelaskan kesadaran multikulturalisme, suatu nilai keberjamakan paling manusiawi yang makin jarang ditemui, disebuah bangsa yang lebih suka mengarah pada sebutan the junk nation, karena kebodohannya mendewasakan cara berpikir mondial dan mudah terprovokasi.

Kesemuanya ini menegaskan penandaan tipologi paradigma dan psikologisasi generasi pelaku teater yang terhidupkan di zaman yang berbeda, meskipun kontekstualisasi kebobrokan birokrasi yang digambarkan Heru Kesawa Murti ber-setting tahun 1978 tetap aktual sampai sekarang, di zaman yang mengatasnamakan diri reformasi segala ini. Cara berpikir korup dan mutlak menerima komisi masih berlaku. Namun, hal urgen yang wajib digarisbawahi ialah : tetaplah tengok cara berpikir sutradara yang menyodorkan ketidakmungkinan kontekstualisasi peran regenerasi, yang lebih berpijak pada ?perampokan identitas estetik?, tak tertantang mencari dan mengembangkan idealisasi lain. Dalam konteks ini pula, nilai pemberlakukan kurikulum menjadi bangunan estetik yang justru meriskankan proses kreatif para pelaku teater yang ? tak ? sengaja masuk dalam sarang institusi seni ? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *