Abdul Hadi W. M., Belajar dari Kisah Burung Botak

Dewi Sri Utami
www.gatra.com

SEBUAH ruang dosen Universitas Paramadina Mulya, di Gedung Bidakara, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa sore pekan lalu tampak sesak. Paket-paket dalam kardus besar memenuhi ruangan seluas 6 x 5 meter. Di tepi tumpukan kardus, tampak pria setengah baya sedang duduk sambil membaca buku Hikmah dari Timur, karya Idries Shah.

Pembawaannya sederhana, dan tenang. Jari-jemarinya tak pernah berhenti memainkan batang rokok yang sesekali diisapnya. Setiap kali habis, ia sambung dengan menyulut batang rokok berikutnya.

Abdul Hadi Wiji Muthari, penyair yang pernah menobatkan dirinya sebagai wakil presiden penyair Indonesia itu, hanya tersenyum sejenak ketika diminta bercerita tentang kiprahnya sebagai penyair. ”Ah, itu masa lalu saya yang tak perlu digembar-gemborkan lagi,” katanya merendah.

Lebih dari 10 tahun memang, Abdul Hadi WM –demikian nama populernya– sudah tak aktif membaca dan menulis puisi. Saat ini, ia lebih banyak berkutat dengan buku-buku yang berhubungan dengan sastra, agama, dan juga penelitian. Abdul Hadi telah mengabdikan dirinya sebagai dosen di beberapa universitas, termasuk Paramadina Mulya. Di sini ia mengajar mata kuliah falsafah dan agama serta ilmu agama Islam.

”Sepulang dari Malaysia, 1997, saya terjun di dunia akademisi dan jadi ilmuwan,” katanya. Pilihan tersebut merupakan putusan yang cukup berat bagi pria kelahiran Sumenep, Madura, 24 Juni, 55 lima tahun lalu ini. ”Saya salut pada teman-teman yang punya naluri seni kuat, hidup dalam tradisi dan kreativitas,” katanya.

Menurut pengakuannya, menulis puisi makin hari justru kian sulit. ”Kalau nggak penting-penting amat, saya males nulis puisi,” kata peraih Hadiah Sastra untuk Puisi Terbaik majalah Horison pada 1969 ini. Setiap ada ide dan pemikiran di benaknya untuk membuat puisi, selalu saja didahului penyair lain. Abdul Hadi enggan menulis puisi dengan tema sama. ”Sekarang makin sulit mencari tema yang spesifik,” ia menambahkan. Sebab, setiap sudut kehidupan sudah tersoroti oleh karya penyair lain.

Abdul Hadi tak pernah menyesali putusannya, karena pilihan jalur yang diambilnya punya manfaat lebih. ”Dampaknya, lebih banyak waktu untuk membaca dan tak tenggelam dalam dunia penulisan,” katanya. Tak mengherankan jika hampir setiap tahun ia menulis buku sastra bernapaskan Islam.

Di dunia sastra, Abdul Hadi cukup dikenal sebagai salah satu pendukung kebangkitan sastra yang memperhatikan dunia Islam pada awal 1970-an, bersama sastrawan lain, seperti Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Danarto. Dan pada 1980-an, secara terbuka ia sudah menganjurkan tentang sastra bercorak sufi atau transendental.

Sufi dinilainya sebagai kekayaan khazanah sastra yang merupakan warisan sangat berharga dalam sastra Melayu di zaman Islam. ”Kalau tak dipelihara dan dikembangkan, akan lenyap dari sejarah,” ujarnya. Dalam pandangannya, sastra sufi punya peran ganda: sebagai pembangkit kesusastraan serta sebagai jembatan antara tradisi dan kehidupan masyarakat kosmopolitan.

Abdul Hadi mengaku telah menemukan pencerahan lewat ajaran sastra sufi. ”Hidup beragama saya tidak kering, dan saya menemukan diri saya yang hilang,” katanya. Hidupnya terasa menjadi lebih berwarna, ketika kehidupan beragamanya didukung dengan membaca sastra, dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. ”Karya sastra sufi tidak hanya mengungkap masalah kerohanian atau cinta transendental,” tuturnya.

Banyak hal yang bisa diambil, karena beberapa karya sastra sufi mengandung kritik sosial, serta memberikan contoh kehidupan individu dan masyarakat. Kisah burung beo yang dicukur gundul dalam Matsnawi, karya Rumi, merupakan salah satu cerita yang disukainya. Ceritanya sebagai berikut:

Diceritakan seorang pedagang memiliki burung beo yang pandai bicara. Suatu hari tuannya pergi untuk salat lohor. Burung itu disuruh menjagai kedai. Karena merasa bebas, si burung bermain sesuka hati dan menumpahkan botol minyak goreng hingga pecah. Sebagai ganjaran, kepala burung beo dicukur sampai gundul. Keesokan harinya, si beo melihat profesor botak melintas di depan kedai majikannya. Merasa menemukan teman senasib, burung beo berteriak, ”Hai Kawan Gundul, mengapa kepala tuan botak? Apakah tuan menumpahkan minyak goreng seperti saya?”

Penggalan cerita itu, menurut Abdul Hadi, menggambarkan sikap orang yang suka meniru orang lain, tanpa tahu inti persoalannya. ”Seperti orang sekarang yang selalu melihat ilmu dari segi lahirnya semata-mata,” katanya.

Pandangan, tafsiran, dan penyikapan terhadap sastra sufi telah mengantarkan Abdul Hadi sebagai sastrawan sufi yang intens di jalurnya. Ia pun mulai mengulas sastra sufi asli Indonesia, seperti pemikiran Hamzah Fansuri dan Sunan Bonang. Saking bangganya pada karya sastra Indonesia asli, Abdul Hadi mengangkat pemikiran Hamzah Fansuri sebagai tesis S-3-nya di Universiti Sains Malaysia.

Keseriusan Abdul Hadi mendalami dunia sastra sudah dilakoni sejak usia belia. Sulung dari empat bersaudara pasangan K. Abu Muthar dan R.A. Martiya ini sering mendengarkan saat kakeknya membaca macapat, suluk, atau hikayat Nabi Muhammad. ”Saya mulai mengikuti dengan membaca buku-buku Al-Ghazali,” ujarnya.

Di samping menggeluti sastra, darah seni sang ayah juga menurun padanya. Ayahnya –saudagar yang sering berdagang emas– biasa menghabiskan waktu dengan melukis, bermain musik, dan nanggap wayang di rumah, usai berniaga di beberapa kota di Pulau Jawa. ”Pendalaman seni dan budaya saya makin bertambah sejak mengikuti kegiatan Ayah,” katanya.

Sayangnya, bakat dagang pria keturunan Cina ini kurang begitu menonjol dibandingkan dengan saudara-saudaranya. ”Seni dan sastra sudah menjadi jalan saya,” kata peraih Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1979 itu.

Sebagai konsekuensi, sepanjang hidupnya diwarnai segala hal yang berhubungan dengan sastra. Menulis puisi dan buku sastra, mengikuti berbagai seminar sastra sebagai pembicara, dan sesekali menjadi partisipan festival puisi internasional.

Selama mendalami sastra, lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini merasakan ketertinggalan dunia sastra di Indonesia. Terlebih ketika ia menimba ilmu di Pusat Pengkajian Ilmu Kemanusiaan, Universiti Sains Malaysia, selama empat tahun (1992-1996). ”Saya begitu kagum melihat anak SD terbiasa baca-tulis karya sastra,” tuturnya.

Dari sanalah ia merasa perlu melakukan pembenahan pengajaran sastra di sekolah. Pendidikan sastra di Indonesia dinilai sangat minim. ”Selama ini, siswa hanya hafal nama pengarang dan judul bukunya, tanpa memahami isinya,” katanya. Pengajaran sastra tentang kajian teks lama dan baru, menurut dia, harus diperbarui.

Demikian halnya pemupukan jurusan bahasa harus dimulai sejak anak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sebagai pendorong, ia berharap, beasiswa untuk bidang sastra diperbanyak.

Dalam pandangannya, sastra di Indonesia masih dalam tahap teori, bukan pada tahap penafsiran. Akibatnya, sastra Indonesia tidak berkembang. Sebaliknya, jika banyak penafsir, katanya, perkembangan sastra akan mendukung kemajuan perekonomian bangsa. ”Ibaratnya, kita bisa jual karya sastra dan seni khas sendiri, tanpa harus mencontek negara lain,” ia menjelaskan.

Dalam kehidupan keluarga, ayah dari Gayatri Wedotami, 22 tahun, Dian Kuswandini, 18 tahun, dan Ayusha Ayutthaya, 16 tahun, ini tak pernah memaksa ketiga putrinya mengikuti jejaknya di dunia sastra. ”Biar mereka memilih jalur sendiri,” kata pria yang masih aktif di Lembaga Sensor Film ini.

Tapi, urusan kebiasaan membaca sudah diterapkan sejak putrinya masih duduk di taman kanak-kanak. ”Saya beri mereka bahan bacaan segala macam,” katanya. Di rumahnya, Vila Mahkota Pesona, Jatiasih, Bogor, tersimpan ratusan koleksi buku karya sastra yang ia jadikan bahan acuan.

Istrinya, Tedjawati, 50 tahun, juga mempunyai minat di dunia seni. ”Bedanya, istri saya lebih suka melukis,” kata Ketua Dewan Kurator Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal ini. Satu hal yang masih menjadi obsesi Abdul Hadi adalah menjadikan karya sastra sebagai komoditas. Seperti Prancis yang bisa menjual situs seni dan sastra sebagai komoditas wisatanya.

[Gatra Nomor 41 Beredar 27 Agustus 2001]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*