Berbagi Ceruk Pasar Novel Asia

Bagja Hidayat
http://www.ruangbaca.com/

Penjualannya cukup tinggi, meski masih kalah dibanding terjemahan novel Barat.
Abad 20 adalah sebuah masa yang rusuh dengan ide-ide. Rusuh ide yang melahirkan rusuh massal, juga ketakutan yang akut?a continuous frenzy? jika meminjam istilah George Orwell. Kolonialisme modern mencapai puncaknya yang paling nyata pada abad itu. Negara-negara jajahan di belahan Timur bereaksi aktif terhadap datangnya kultur yang merangsek ke dalam ingatan setiap orang.

India, misalnya, menangguk ?untung? dari merasuknya semangat koloni ke dalam hidup mereka. Para penulis mutakhir bertutur dengan ringan dalam bahasa Inggris, sebuah media yang memungkinkan setiap karya berhadapan langsung dengan karya-karya kanon Eropa dan Amerika. Di Amerika Selatan kita mengenal el boom sastra pada sekitar dasawarsa 1960.

India, juga Cina dan Jepang, adalah sebuah wilayah yang unik dalam percaturan sastra dunia. Para penulis di sini memanfaatkan riwayat panjang kebudayaan mereka. Tiga negara itu kini menjelma sebagai wakil Asia Timur, dalam pelbagai segi. Apa sebetulnya sastra Asia Timur?

Tak mudah mengungkai definisinya. Lembar ini?lebih luas edisi ini?hanya akan menyorot novel-novel yang pernah ditulis para pengarang ketiga negara itu yang sudah diindonesiakan. Kemunculan mereka telah membuka mata kita bahwa sastra kanon Eropa dan Amerika bukan kiblat jauh satu-satunya.

Para pengarang itu telah menyajikan ?seraya bimbang dalam berpijak di bumi sendiri dan memandang dunia luar, hal yang menjadi faktor unik?kekayaan khazanah budayanya, sajian yang tak ada dalam sastra wilayah lain. Mereka telah menjadi juru bicara kebudayaannya sendiri. Ciri yang paling nyata dari pengarang Asia mutakhir adalah mengemukanya usaha menghidupkan metafora yang lebih intim dengan memberinya hidup lewat bahasa.

Realisme diusung lalu dihadirkan bukan sematamata reportase. Arundhati Roy, misalnya, menyegarkan bukan karena menghadirkan kisah si kembar Estha dan Rachel dalam The God of Small Things dengan cara yang unik dan kontroversi tentang identitas India, tapi juga ada terasa pergulatan yang intens dalam memperlakukan bahasa.

Ia menghidupkan benda-benda yang remeh sehingga lanskap hadir lebih visual tapi mustahil difilmkan. Jhumpa Lahiri, Bharati Mukherjee, Amitav Gosh memotret India dari tanah seberang. Mereka menghadirkan benua ketiga yang sering rusuh karena persoalan agama dan ras.

Soal umum dalam diri manusia ini memang tema yang seksi. Juga sikap main-main terhadap bentuk seni novel. Dalam Gunung Jiwa, misalnya, Gao Xingjian seperti tengah mengejek bentuk novel yang sudah dirumuskan dengan ajeg oleh para pendahulunya. Sebuah sikap yang juga dipakai Milan Kundera dalam menghasilkan novel yang lebih radikal, yakni anti-novel.

Novel yang mengantarkan Gao meraih nobel itu adalah ?sebuah fiksi gabungan catatan perjalanan, celoteh moralitas, perasaan, coretan, diskusi tanpa teori, cuplikan folklor, omong kosong legenda bohong…?

Pendeknya, novel, bagi Gao, adalah sebentuk perayaan kekacauan, centang perenang yang tak saja tergambar pada tokoh-tokohnya. Bentuk yang amat bertolak belakang dengan, antara lain, novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Gunung Jiwa semacam oleholeh Gao ketika buron selama 10 bulan menyusuri Sungai Yangtze karena dituduh kontra-revolusi.

Hasilnya memang kacau. Ada banyak tokoh dan ragam peristiwa di sana dalam bentuknya yang paling musykil: kisah manusia renik pelahap dahak yang dituturkan perempuan tua ompong. Dari Jepang muncul Ring karya Koji Suzuki dan Norwegian Wood dari Haruki Murakami. Kemunculan mereka tentu saja sebuah petanda gairah baru dalam sastra Jepang.

Sebelumnya, karya- karya puncak Jepang mewakili zaman Taisyo dengan lanskap yang tradisional, meski cara bertuturnya sudah mendobrak pakem lama. Sebut antara lain novel-novel Kawabata, Akutagawa, Mishima atau Soseki. Tapi yang tradisonal juga tetap eksotik dan asyik. Kisah-kisah samurai, biksu-biksu, dan kuil-kuil yang mistis adalah sumur-sumur cerita yang tak habis-habis ditulis di zaman ini.

Takashi Matsuoka menulis kisah samurai terakhir dengan manis dalam Kastil Awan Burung Gereja. Jepang memang sering mengagetkan orang seberang: mereka yang menyebut dirinya Barat. Ada yang berkelakar Jepang mengedutkan dunia setiap 25 tahun sekali. Karena itu tradisi-tradisi Jepang terus dikuntit dan ditulis.

Semua novel yang telah disebut itu kini bisa dibaca dalam terjemahan Indonesia. Tampaknya ada gairah lama yang tumbuh kembali dalam khazanah sastra terjemahan kita. Setelah bosan dengan kanon sastra Barat, kini giliran novel Timur yang membanjiri rak-rak toko buku. Pada sekitar 1980, Ajip Rosidi telah dengan tekun menerjemahkan novel-novel Jepang dari bahasa aslinya.

Penerbit-penerbit yang menerjemahkan novel Asia Timur mengaku penjualan novel-novel ini cukup memuaskan meski tak bagus-bagus amat. Anastasia Mustika dari Gramedia menyebut angka penjualan rata-rata novel Asia Timur hanya 5.000 eksemplar. ?Tertinggi buku Totto-chan,? kata Anas, ?sudah 57 ribu eksemplar dan cetakan ke-10.?

Tapi angka 5.000 bagi pasar buku Indonesia sudah terbilang bagus. Penyunting Penerbit Qanita, Berliani Mantili Nugrahani, mengatakan rata-rata angka penjualan buku berkisar 3.000-4.000 eksemplar. ?Tiga-ribu saja sudah tergolong tinggi,? katanya. Penjualan tertinggi Qanita masih ditempati novel 24 Wajah Billy. Tapi mencengangkan juga jika Kastil Awan Burung Gereja karya Matsuoka terjual 10 ribu eksemplar dalam tiga kali cetak (Maret, April, Agustus 2005).

Respon yang baik dari pembaca ini mendorong para penerbit menyiapkan terjemahan novel-novel Asia berikutnya. Di Gramedia, kata Anas, novel-novel Cina, Jepang, dan India kini menunggu diterbitkan. Selain respon, penerbit menginginkan pembaca tak hanya mengenal novel Barat. ?Tema novel Asia lebih mengena dan tidak asing bagi orang Indonesia,? kata Anas.

Maraknya drama Asia di televisi turut memudahkan orang mengenal cerita novel kawasan ini. Qanita dan Gramedia mengail pembeli terjemahan novel Asia karena ada ?kecenderungan orang sekarang berminat mengenal budaya oriental??ini memang kemajuan Indonesia pascareformasi. Penerbit Obor bahkan sudah punya program Seri Sastra Dunia Ketiga.

Manajer Umum Obor Kartini Nurdin mengakui penjualan terjemahan novel Asia memang tergolong tinggi. Novel Arundhati Roy dan Adeline Yen Mah menempati urutan tertinggi novel terjemahan Obor. ?Novel Asia memang menjanjikan,? katanya, ?paling tidak naik cetak lebih dari sekali.?

Sementara Penerbit Jalasutra lebih didorong keinginan mengukuhkan keseriusan menggarap terjemahan novel Asia. ?Kami ingin menguatkan brand dan image Jalasutra bagi pembaca,? kata Anwar Holid, penyunting fiksi. Penerbit Jogja ini juga sedang menyiapkan terjemahan novel-novel Cina.

Semangat ?demokratisasi? bacaan, tentu saja. Apalagi ini agaknya ceruk baru tren penerbitan, setelah ?sastra jerawat? mengharu biru hingga ditiru habis-habisan oleh para penulis belia lokal beberapa tahun terakhir. ?Penerbit buku itu memang mengikuti tren, tapi idealisme (mendidik masyarakat) lebih di depan,? kata Kartini.

Kanon sastra dunia konon juga sudah berhenti. Kini tak ada lagi ?pusat?. Sastra pinggiran lebih segar dan menjanjikan. Menurut Budi Darma [baca rubrik Percakapan edisi ini], sastra masa depan adalah sastra yang mengusung tema multikultularisme. India dan Cina sudah mempraktekkannya, meskipun semangat poskolonial ternyata tak menular dan digarap oleh para penulis Indonesia.

Sayangnya, terjemahan yang marak itu tak diimbangi dengan kualitas. Masih banyak yang mengeluh buruknya terjemahan novel asing. Judul saja kadang tak diterjemahkan. Berliani beralasan, pemakaian judul asli ini semacam strategi promosi. Di Qanita, judul dari pengarang yang sudah dikenal, menarik, dan mudah diingat akan dipertahankan.

Menurut Berliani, mengubah judul atau mencantumkan padanan Indonesianya dikhawatirkan justru membuat novel itu tak dikenal calon pembeli. Novel Ring, misalnya, tetap memakai judul bahasa Inggris karena pernah difilmkan. ?Kalau diubah, orang tak akan lagi ingat filmnya,? katanya. Alasan yang bisa diterima.

Itu berbeda dengan pilihan yang dibuat Ajip Rosidi. Dua dasawarsa lalu, ketika menejermahkan novel Kawabata Yasunari, Yukiguni, Ajip perlu menulis kata pengantar untuk menjelaskan judul terjemahan yang dipilihnya. Oleh Edward Seidensticker, Yukiguni diterjemahkan menjadi Snow Country. Anas Ma?ruf mengindonesikannya menjadi Negeri Salju.

Ajip, yang pernah mengajar di Universitas Bahasa Asing Osaka, menerangkan bahwa kata dasar ?kuni? dalam judul itu memang sepadan dengan ?country?, tapi ini bukan sebuah wilayah administratif pemerintahan seperti dalam kata ?negeri?. Ia pun memilih padanan Yukiguni dengan Daerah Salju. Pertimbangan Ajip tentu lain dengan pertimbangan Berliani.

Kendati Negeri Salju jauh lebih puitis?seperti novelnya sendiri yang penuh renungan?ketimbang Daerah Salju, Ajip memilih yang kedua oleh pertimbangan setia pada teks asli dengan memberdayakan kosakata Indonesia yang ada. Berliani lebih memilih alasan bisnis dan praktis, yakni buku cepat sampai ke tangan pembaca. Judul asli, kata dia, juga sudah dikenal dalam ?komunitas buku?.

Ketika judul asli dipertahankan orang tak lagi merasa asing. Bagaimana dengan pembaca awam? Menurut dia, pembaca awam akan membeli buku setelah orang di ?komunitas buku? meributkannya: mengulas di media, di blog, atau ribut-ribut di mailinglist. Laris-tidaknya sebuah buku baru dilihat pada bulan kedua setelah naik cetak.

Respon pembaca awam baru terlihat pada bulan kedua ini. ?Tapi daya serap pasar ini sebuah misteri,? katanya. Artinya, terjualnya sebuah judul buku tak bisa ditentukan waktunya. Novel-novel Asia mutakhir sebagian besar diterjemahkan dari bahasa Inggris. Itu karena teks aslinya ditulis dalam bahasa Inggris.

Penulis India, Cina dan Jepang sudah banyak yang menulis di tanah asing, karena imigrasi atau kelahiran. Tapi ada juga karena alasan penguasaan bahasa asli para penyunting di penerbit. Jalasutra menerjemahkan Gunung Jiwa justru dari edisi Prancis. Kepustakaan Populer Gramedia tak banyak memiliki penerjemah bahasa asli.

Menurut penyunting KPG, Candra Gautama, hanya penerjemah Jepang dan Rusia yang sudah siap dan bagus. Karena itu KPG baru menerbitkan Norwegian Wood yang sudah terjual 8.000 eksemplar. ?Untuk Asia kami akan fokus ke sastra Jepang dulu, selain nanti ke Filipina,? katanya. Novel negara Asia lainnya belum disentuh KPG karena terbatasnya pengetahuan peta novel di negara asalnya.

Sastra India dan Cina, kata Candra, belum dijajaki seberapa tinggi responnya. ?Kami lebih mempertimbangkan isi novel ketimbang tren,? katanya. Norwegian dipilih karena menggambarkan dengan telak Jepang modern yang sedang berubah ciri khas negeri pinggiran yang kini merangkak tampil ke muka sebuah ladang tema warisan dari sebuah masa yang rusuh oleh ide-ide.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *