Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat

Beni Setia
http://www.jawapos.com/

WARTAWAN cepak yang kemarin memburu dan minta komentar itu mendadak muncul –entah dari mana ia tahu warung tempatku nongkrong– tepat ketika Yu Mah menghidangkan segelas kopi dan empat potong pisang goreng. Tanpa malu dan jauh dari mau menghargai privasiku ia segera menyorongkan koran sambil menghenyak di samping. Melirik ke Yu Mah dan minta dibuatkan kopi. Menyulut rokok dan bertanya apa aku keberatan dengan berita tentang kematian Marni di halaman muka.

”Apa perlu?”

Lelaki itu tertawa. Meraih pisang goreng, melemparkannya lagi karena panas, dan minta dibawakan garpu ketika Yu Mah datang mengantar kopi. Mengisap rokok. Membuat bundaran asap. ”Pacarmu itu jelas korban kekerasan,” katanya, ”Kita tidak boleh membiarkan kekerasan menguasai kota sehingga warga kota makin tidak aman jalan sendirian. Ada opini tentang dunia seks bebas para mahasiswa?”

Aku termangu. Muak. Ia itu tak bicara tentang fungsi ideal pers, dalam melaporkan tindak kekerasan agar selalu terjadi penegakan hukum. Tak! Aku yakin: tidak! Ia lebih sedang mencari celah untuk mengapungkan sensasi kekerasan, opini sepihak keluarga si korban, agar dapat menjajakan sadisme dan sentimentalitas di halaman muka. Aku merasakan itu, setidaknya saat ia –kemarin– gigih menguber agar mendapat snapshot luapan emosi.

Meletakkan koran. Meraih dompet dan menarik tiga lembar 1.000. Menindihnya dengan gelas kopi yang masih utuh, di meja, dan bangkit berpamit ke Yu Mah. Lelaki itu ikut bangkit. ”Kang,” katanya, ”berilah kami kesempatan. Tolong, bantu kami buat menjalankan fungsi sosial pers.”

Aku melengos. Berhenti saat ia kembali menguber. Aku berbalik. ”Berapa hukuman bagi kekerasan pada wartawan yang mengeksploitasi emosi keluarga korban untuk kepentingan berita eksklusif korannya? Apa aku harus menelepon Dewan Pers? Polisi?” kataku.

Kami berpandangan. Lelaki itu mengangkat bahu. Bersungut-sungut. Balik ke warung Yu Mah. Mungkin mencari sumber berita lain agar bisa membuat berita dari sisi lain tentang emosiku. Mungkin telah membuat berita macam itu di koran yang ditunjukkannya tadi!
***

SEJAK Juni aku KKN dan meninggalkan Marni di kampus. Setiap hari, dalam rentang sebulan pulang-pergi (rumah) kos-kampus sendiri, tanpa antar-jemput sepeda motor –seperti ketika kami belum berkenalan. Ya! Meski terkadang kami ada bertukar kabar lewat HP, dan ia yang banyak bercerita tentang pengalaman pergi kuliah sendiri setelah selama ini selalu berdua. ”Kau lihat cowok baru?” kataku menggoda.

Marni tertawa. Bilang bila Selvi, anak Tarbiyah itu, amat manja dan cantik, bila Ningatiasih dari FMIPA sering mencari tahu tentang diriku pada Kris, sedangkan Surtini yang sejurusan dan seangkatan sejak lama tertarik padaku.

”Tapi semua orang tahu siapa aku dan apa hubungannya dengan Marni,” kataku. ”Di jalan ke kampus, di kendaraan umum, tidak ada yang referensi macam itu sehingga kau bebas melirik.”

”Kang!”

”Sori. Guyon, lho!”

Kami tertawa. Tapi aku sangat jarang menelepon Marni karena selalu bergerak melakukan penyuluhan, dan kalaupun ditelepon aku tak bisa pernah lama melayaninya mengobrol karena selalu saja ada penduduk setempat yang berkonsultasi dan kreatif mengajukan gagasan untuk membuat kegiatan sosial.

”Populer kau,” teriak Marlindap Barus, dosen pembimbing, ”Siapa tahu kau dapat jodoh orang sini, lalu nyalon-lah kau jadi lurah. Pantas kau!” Aku tertawa. Seluruh teman tertawa. Anak perempuan sulung Haji Jamil sedang mekar sebagai siswa kelas 3 SMA, dan kata orang, ibunya sudah resah ingin segera menikahkannya. Apa memang peruntungan dan jodohku ada di sini? Lantas bagaimana dengan Marni dan janji romantis anak kuliahan selama 2 tahun itu?

Barangkali semua itu hanya romantika hidup, dan kini: aku tinggal memilih bersama Marni atau ikut Marfu’aini binti Haji Jamil?

”Tuhan, tolong berikan suara-Mu.”
***

TAPI Marni tidak mau dekat ketika aku pulang KKN dengan gairah rindu yang memuncak –kangen desah dan bau keringatanya. Aku mengernyit. Apa ia mendapat cerita bias tentang Marfu’aini binti Haji Jamil dari Selvi, Ningatiasih, Tini, Kris, Toi, Wikantresna, Jumadilkobra, Yopi Egang atau (bahkan) si Marlindap Barus yang suka besar omong itu. Berita yang lebih dulu sampai dari fakta kepulanganku ke kampus. Mungkinkah? Haruskah buka rahasia –belum apa-apa– dan minta pengertian Marni untuk hal yang tak dilakukan, buat seni silaturahmi sebagai keharusan bersosialisasi dan berinteraksi dengan tokoh masyarakat, semacam Haji Jamil, kuwu Tirantara, dan lainnya. Atau justru Marni yang punya affair, dan enggan menggunting dalam lipatan (kikuk) buat sekalian minggat dengan lelaki itu. Tapi siapa? Apa ada yang tahu?

Malam itu aku tidak bisa tidur, meski berlama-lama di warung Yu Mah, setelah makan malam yang terlambat. Tapi warung harus tutup. Dan, Yu Mah harus istirahat.

Aku pulang ke kamar kos dengan gelisah. Apa yang salah? Aku menghidupkan tape dengan volume kuat tapi semua suara dimasukkan ke kuping dengan headphone. Tak juga menenangkan rasa gelisah. Aku mengeluarkan motor dan keluyuran dalam sunyi malam ketika semua orang terlelap di ranjang. Sekilas terpikir hendak memacunya ke Jalupang agar bisa bertemu lurah Madhapi Papat, kuwu Tirantara, Haji Jamil dan ibu Marfu’aini binti Haji Jamil yang berkali-kali minta agar aku lebih sering mampir dan mau menemani anaknya belajar menjelang ujian ini. Tapi mungkinkah motor terbang setengah jam ke Jalupang yang terpisah 200 km dari Bandung?

Aku mampir ke warung Yu Mah ketika ia baru menyalakan kompor dan bersiap akan menggoreng pisang goreng. Aku menghenyak. Dibuatkan kopi, dan piring yang berisi 2 tahu isi, 2 tempe goreng bertepung, 2 bala-bala, dan sejumput cabe.

”Nasinya rung mateng, 10 menit lagi,” katanya –seperti biasa.

Aku melirik. ”Yu,” kataku, ”Apa ada yang cerita tentang aku dan Marfu’aini di Jalupang?”

Yu Mah mengernyit. Aku tersipu. Dengan hati-hati bercerita tentang pengalaman KKN dan penerimaan orang-orang di Jalupang. Yu Mah mengernyit lagi.

”Lalu Mas itu bingung apa? Takut disalahin sama Mbak Marni karena kepincut Marfu’aini, atau tak berani lanjut sama Marfu’aini dan ingin balik pada Mbak Marni?” katanya.

Lugu tapi menohok ke inti persoalan –tanpa menyadari yang telanjur di antara kami. Apa masalahnya hanya itu? Apa itu bukan tergantung dari aku sendiri agar berani bersikap dan ambil keputusan.

”Istikharah!” kata Ismail bin Daud.
***

PAGI itu aku mendatangi (rumah) kos Marni, seperti biasanya, seperti tidak ada persoalan. Dan, pagi itu aku ditohok oleh kenyataan lain: Marni telah pindah kos tanpa memberi tahu ibu dan teman kos, pindah ke mana.

”Katanya udah sepakat dengan Kang Arif,” ujar Surtikanti.

Aku ternganga. Aku bilang, sejak pulang KKN, satu mingguan, aku cuma bertemu tiga kali. Itu juga selintasan karena Marni selalu bergegas menjauh –seperti tak mau didekati.

”Kanti tahu, kenapa? Apa ada problem?” kataku.

Surtikanti mengangkat bahu. Bilang, semua orang lagi sibuk, dan tak peduli karena jadwal ujian yang ketat. Aku menarik napas –melengos. Mematung. Pamit. Melenggang. Memutar motor. Termangu. Menghidupkan mesin. Membuang gas. Tapi cuma langsam –hingga lajunya mungkin bisa dikejar ayam. Apa peduliku?

Siangnya aku memutuskan pulang ke Subang. Menghenyak di kamar. Dua hari melulu cuma makan, tidur, bengong, dan makan dan tidur lagi. Hari ketiga di TV ada berita penemuan mayat tak beridentitas di gerumbul semak Ciherang, Cangkuang. Si korban berambut lurus sebahu, dengan poni, mata sipit, dan tulang rahang menonjol. Tinggi 164 cm dan diketemukan telanjang tanpa apa-apa –tidak ada tanda perkosaan meski otopsi menunjukkan korban hamil 6 mingguan. Aku mengernyit. Aku teringat Marni –terutama oleh rincian bekas operasi usus buntu itu. Apa yang menyebabkan ia pergi ke Cangkuang, dekat Banjaran, jauh di selatan? Apa yang dilakukannya di sana –kalau itu benar Marni? Aku bangkit. Mencari koran ke pasar. Tapi belum ada berita tentang itu. Esoknya terbaca di koran, kalau si korban diperkirakan belum melahirkan, dan –secara sensasional– diperkirakan si wartawan belum menikah. Ia pasti pengikut tradisi seks bebas di luar batas, tulisnya.

Siangnya aku pamit. Balik ke Cicendo. Terkejut saat ibu kos menyerahkan sepucuk surat tanpa prangko –aku terpaksa mengganti uang denda yang dibayarnya. Bimbang. Cemas –saat tahu dengan tulisan pada amplop, yang tegas menunjuk kalau penulisnya Marni. Ada apa? Kenapa bersurat lewat pos –dan tak langsung ngomong? Apa ada problem panas? Aku merobek amplop. Aku membebaskan lipatan HVS polos. Meratakannya. Dan menemukan fakta yang mengejutkan. Tertulis:

Kang Arif, saya minta maaf karena pada semingguan setelah Akang KKN saya tertarik dan berkenalan dengan Yustom, yang dengan lembut mengajak bicara dan ringan melontar lelucon. Kami pun sering berangkat-pulang kuliah bersama. Sampai pada satu hari ia mengajak mampir ke kamar kosnya, merayuku, sampai tidak sadar memberikan yang hanya disediakan untuk Akang. Mungkin karena sudah seminggu ini terlambat. Saya kangen. Bolak-balik, nyaris setiap hari berhubungan. Dua minggu kemudian saya sadar kalau saya hamil. Saya bilang pada Yustom, yang mengatakan itu masalah enteng. ”Kita selesaikan secepatnya,” katanya –mengajak ke Cangkuang, ke orang tuanya. Maafkan saya, Kang. Jodohku mungkin Yustom. Ia anak Fikom …”

Dengan surat itu aku lapor ke Mapolresta Bandung. Dengan ditemani si petugas aku pergi ke RS Hasan Sadikin untuk memastikan bahwa korban itu memang Marni –dan identifikasiku diperkuat oleh kedua orang tua Marni. Dalam muram marah aku terus digrecoki si wartawan berambut cepak itu –dan kawannya. Apa mereka tak tahu aku sedang berduka? Apa tak tahu sesal meninggalkan pacar dan calon anak –aku yakin akan hal itu, siapa yang sebenarnya menghamili Marni? Brengsek! Dan ia –bagiku– lebih sadis dari Yustom yang membantai Marni dan menyebabkan anakku tak lahir. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *