Cermin Manusia Seutuhnya

Rahmah Maulidia*
http://www.jawapos.com/

Salah satu tujuan pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah tercapainya manusia Indonesia seutuhnya. Tujuan ini telah menjadi acuan utama bagi setiap proses pendidikan di Tanah Air. Namun sayangnya, konsep manusia Indonesia seutuhnya saat ini kian ”absurd” di tengah dominasi SDM asing yang merajalela. Indikasi yang terlihat nyata adalah HDI (Human Development Index) manusia Indonesia semakin merosot dari tahun ke tahun.

Buku Full Circle yang ditulis Y.W. Junardy, praktisi profesional yang berpengalaman lebih 35 tahun di dunia korporasi besar, tampaknya ingin menjawab persoalan di atas. Profil dan kompetensi seperti apakah manusia Indonesia seutuhnya itu dikupas Pak Jun (sapaan Junardy) lewat buku ini. Semua dirangkum dalam konsepsi falsafah hidup yang sangat apik, yaitu learn-lead-serve yang sebenarnya hampir sama dengan konsep asah-asuh-asih.

Membuka buku ini kita diajak menelusuri liku-liku perjalanan Pak Jun mulai kanak-kanak hingga menginjak remaja. Ia harus bisa berperan sebagai guru SMA, penjual rokok, dan pemain kasino agar bisa survive di Jakarta; perjalanan hidup selama 26 tahun berkarier di IBM dari posisi terbawah sebagai operator hingga menjadi presiden direktur. Juga perjalanan hidupnya sebagai eksekutif puncak Bank Universal, Excelcomindo, Bentoel, dan Group Rajawali; serta perjalanan hidup sebagai ”pelayan masyarakat” melalui beragam bentuk kegiatan dan organisasi.

Sejak itu kita akan terkesima oleh track record Pak Jun yang luar biasa. Betapa tidak, Pak Jun merupakan sosok yang utuh dan lengkap sebagai manusia. Selama 60 tahun karir hidupnya dihabiskan sebagai profesional, manajer dan leader (hlm. 26). Sehingga, melihat Pak Jun ibarat melihat sosok manusia seutuhnya. Manusia dengan segudang cita-cita dan prestasi yang mampu diwujudkannya.

Gaya bertutur dengan kata ganti orang pertama, saya, yang disampaikan dalam buku ini mengalir deras dan jernih. Karena, buku ini bukanlah buku dengan analisis teori dan metodologi kaku, namun lebih pada buku yang mencerminkan sosok Pak Jun dengan wisdom dan inspirasinya. Karena itu, jika kita memeras buku ini maka akan muncul 3 (tiga) saripati dan gizi hidup yang bisa kita serap untuk bekal menjadi manusia seutuhnya.

Pertama, keutuhan dalam melakukan pembelajaran (learn) yang tak mengenal henti; memimpin (lead) dengan semangat kebersamaan, kemanusiaan, dan penuh integritas; dan mendedikasikan hidup untuk kepentingan pelayanan (serve) kepada masyarakat banyak: ”Learn-Lead-Serve”.

Kedua, keutuhan perjalanan karir dan hidup dari perspektif keseimbangan antara IQ (intellectual quotient), EQ (emotional quotient), dan SQ (spiritual quotient). Ketiga, keutuhan perjalanan karir dan hidup sebagai sebuah proses pencarian menuju kematangan dan kesempurnaan.

Ketiga prinsip hidup Pak Jun di atas memberikan warna pencerahan bagi kita bahwa hidup haruslah digunakan sebesar-besarnya untuk kemanfaatan bagi banyak orang. Karena di sinilah sebenarnya sebaik-baik manusia seperti dalam diktum hadis nabi “khoirunnas anfauhum linnash” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat di antara kamu).

Buku ini terdiri atas 3 (tiga) pembahasan utama: learning, leading, dan serving. Diawali pembahasan tentang learning yang menggambarkan tentang perjalanan Pak Jun sebagai anak desa mulai dari anak sampai remaja dengan semangat membara mencari jati diri. Kehidupan Pak Jun berubah begitu drastis ketika ia diterima di IBM. Di IBM inilah hampir separo hidupnya didedikasikan. Warna IBM begitu kental melekat (inheren) dalam tubuhnya. Karena di IBM inilah sosok Pak Jun dibentuk dan menjadi fondasi untuk belajar menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Semua dibeberkan dalam bab 3-6 (hlm 71-150).

Selepas dari IBM, Pak Jun bergabung dengan Group Astra sebagai Wakil Presiden Bank Universal. Pindah perusahaan juga pindah industri. Dua tahun ia di perbankan, kemudian pindah lagi ke Grup Rajawali (Excelcomindo) di awal 1997. Lalu sempat mampir di RCTI dan perusahaan rokok Bentoel. Semua dikupas di bab 8-10 (hlm. 173-230). Krisis monoter 1997 dan berlanjut di pertengahan 1998 hingga menjatuhkan penguasa Orde Baru, Soeharto, memberikan blessing in disguised (berkah tersembunyi) bagi Pak Jun untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kokoh di Grup Rajawali (hlm. 233-352).

Sampai akhirnya ketika Pak Jun menginjak umur 60 tahun pada 5 Oktober 2007, ia mencoba merenungi semua yang telah ia berikan. Apakah sudah waktunya mengabdi pada masyarakat dan menghentikan semua aktivitas sebagai orang karir? Ataukah terus bertahan di dunia karir? Pilihannya jatuh pada aktivitas sosial yang ia sebut sebagai “passion to serve” (hlm. 257-271).

Dari sana kita sepertinya diingatkan oleh ungkapan bijak dari Sir Winston Churchill: ”We make a living by what we get, we make a life what we give”. Karena sejatinya hidup dan kehidupan itu adalah dua kata yang berbeda makna dan artinya. Oleh karena itu, hadirnya buku ini mampu menjadi cermin yang sebenar-benarnya untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan yang dicita-citakan. Sosok Pak Jun yang digambarkan dalam buku ini akan menginspirasi dan memotivasi kita agar ketika hidup, hiduplah dengan lebih banyak memberi. Karena dengan memberi itulah kehidupan akan semakin utuh dan bermakna. (*)


Judul Buku : Full Circle: Managing Through Learn-Lead-Serve
Penulis : Y.W. Junardy
Penyunting : Dyah Hasto Palupi dan Teguh S. Pambudi
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : 337 halaman
*) Dosen STAIN Ponorogo, dan ISID Gontor Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *