Dari Regenerasi, Multimedia, hingga “Vulgarnya” Penulis Perempuan

Catatan Sastra Indonesia Tahun 2002
Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Pada suatu malam di sebuah kafe Taman Ismail Marzuki, Sutardi Calzoum Bachri tampak asyik membaca sebuah buku antologi milik seorang penyair berusia muda.

Di sekeliling sastrawan yang pernah berjuluk “Anker Bir” itu, tampak beberapa kawan yang tekun mengikuti wejangannya.

?Bagus, tak buruk lah. Kenapa tak kau terbitkan saja dalam bentuk buku agar bisa dikritik orang,? katanya, sambil membetulkan kacamata.

Penyair muda menanti ?persetujuan? penyair kawakan untuk memunculkan sebuah karya. Inikah pemandangan yang menarik disimak satu atau dua tahun belakangan ini?

Ada hal yang menggembirakan yang patut dicatat: tahun-tahun belakangan ini banyak sastrawan muda?entah itu dari cabang puisi, prosa atau pun esai. Tentu saja, fenomena semacam ini begitu melegakan mengingat nama-nama yang muncul sebelumnya selalu nama-nama mapan seperti Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Leon Agusta, Jose Rizal Manua, Hamid Jabbar.

Mereka bukan berasal dari para penyair periode 1980-an mulai dari Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo atau Sosiawan Leak. Mereka tumbuh dan bermunculan dari berbagai komunitas beberapa kota antara lain Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, Batam, Padang, Medan dan beberapa kota lainnya.

Komunitas Sastra
Apa yang dilakukan Tardji terhadap karya penyair muda itu barangkali tak bisa dikategorikan sebagai ?pembaptisan?. Para penyair muda berkembang bukan karena siapa pun dan oleh sebab apa pun. Di atas semua itu, sejarahlah yang melahirkannya.

Pada suasana di atas, yang bisa dipetik adalah telah terjadi komunikasi antara para penyair yang berbeda generasi. Dengan menjamurnya komunitas atau kantong seni, milis internet, kesempatan untuk saling bertemu di kalangan sastrawan memang selalu memiliki kemungkinan. Dengan begitu, peluang kemunculan sastrawan-sastrawan muda pun makin besar. Dari Yogyakarta, ada nama Puthut E.A., Raudal Tanjung Banua, Saut Situmorang, Eka Kurniawan, Katrin Bandel dan T.S. Pinang. Di Surabaya, tercatat nama W. Haryanto, Indra Cahyadi, Imam Muhtahrom dan Ribut Wiyoto.

Di Jakarta, ada nama Nanang Suryadi, Widodo Arumdono, Donny Anggoro, Ahmad Sekhu, Rukmi Wisnu Wardani. Di Bandung, ada nama Firman Venayaksa, Wida Sireum Hideung, Matdon dan lainnya.

Berbagai jalan mereka tempuh untuk menguji proses eksistensi. Bisa lewat pemuatan karya-karya di media massa, berupa koran atau internet, ada pula yang menghubungi penerbit untuk mendapat peluang menerbitkan buku. Atau, mereka sekadar membacakan karya di panggung-panggung seni.

Upaya lain, mereka mengontak para sastrawan yang ?bernama besar?. Toh, perkara estetika, gaya dan proses kreativitas tetap dilakukan secara individual. Lihat saja munculnya pengamat sastra UGM Farouk HT yang ?lama dikenal publik? di tengah ajang peluncuran puisi Antologi Puisi Digital yang diproduksi Yayasan Multimedia Sastra yang diadakan Pusat Kebudayaan Perancis, Yogyakarta.

Kembali bangkitnya beberapa komunitas yang dikelola oleh sastrawan ?tak bernama besar? itu pun marak bermunculan mulai dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Komunitas Rumah Lebah di Yogyakarta, FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar) oleh W. Haryanto dan kawan-kawan di Surabaya, Masyarakat Sastra Jakarta dan Komunitas Sastra Indonesia di Jakarta, lalu ada juga Forum Lingkar Pena dengan pengelola Helvy Tiana Rosa yang melahirkan karya sastra sufistik dengan religiositas Islami. Walau potensi ini tak didukung dengan tersedianya lahan yang cukup luas untuk ruang bersastra, setidaknya komunitas tersebut cukup efektif dalam memunculkan pengarang dengan karyanya yang berkualitas, pada periode belakangan ini.

Beberapa lomba untuk menjaring karya-karya sastra bermutu, seperti lomba cerpen yang diadakan Forum Lingkar Pena (FLP) atau lomba puisi Dewan Kesenian Lampung, hingga pemilihan karya sastra terbaik oleh Khatulistiwa Literary Award di Jakarta, merupakan dinamika yang patut diperhatikan. Walau belum mengundang antusiasme dari kalangan sastra secara luas, untuk jangka panjang usaha ini penting dalam hubungannya dengan perkembangan dunia kesusasteraan Indonesia di masa mendatang.

Sastrawan Wanita
Fenomena lain yang terjadi pada satu atau dua tahun belakangan ini adalah beberapa nama perempuan sastrawan yang mencetak karya dalam bentuk buku berupa kumpulan cerpen atau puisi. Nama-nama seperti Rieke Dyah Pitaloka, Dewi ?Dee? Simangunsong, Djenar Maesa Ayu hingga Fira Basuki mencuat menyusul nama Ayu Utami.

Proses kreatif mereka boleh jadi berbeda. Namun, sebuah kesamaan?entah disengaja atau tidak?terjadi saat mereka memperkenalkan karya ke publik. Ada nama-nama besar di belakang mereka. Rieke, contohnya, meluncurkan antologi puisi Renungan Kloset yang dipromotori penerbit Melibas dengan mengundang sastrawan senior macam Ahmad Tohari, Sitor Situmorang, dan Abdul Hadi WM.

Kemudian, Djenar mengeluarkan antologi cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet dengan editor Sutardji Calzoum Bachri dan dibacakan Sitok Srengenge, Butet Kertaradjasa, dan Ayu Utami. Fira Basuki juga didampingi Arswendo Atmowiloto saat peluncuran triloginya, mulai dari Atap, Jendela dan Pintu itu.

Tak bisa menutup mata, kehadiran para perempuan sastrawan ini sangat didukung kuat dengan ?pentahbisan? sastrawan generasi sebelumnya. Setidaknya, mereka lebih beruntung saat peluncuran ketimbang sastrawan baru lainnya yang ?tak mengundang? nama-nama mapan. Bandingkan saja dengan peluncuran karya seorang Puthut E.A, Nanang Suryadi, atau Agung Yudha yang dihadiri ?hanya? oleh kawan-kawan seniman dan sastrawan segenerasi mereka.

Di luar itu, satu hal yang perlu juga dicatat dari pemunculan para perempuan sastrawan muda ini?terutama Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami?adalah keverbalan mereka dalam membongkar pranata yang selama ini sangat normatif di dalam masyarakat.

Para perempuan penulis ini tampil dengan egaliter, tak jauh beda dengan penulis pria baik dari cara pengungkapan, maupun pengangkatan tema-tema seksualitas bahkan cenderung verbal atau vulgar.

Lihat saja mulai dari pengungkapan dialog via internet yang dilakukan oleh Ayu Utami dalam karyanya Saman, Djenar Mahesa Ayu yang menamakan salah satu tokohnya dengan penamaan ?alat vital perempuan?.

Fira Basuki bertutur tentang perselingkuhan tokoh utama dengan seorang sahabat suaminya. Walau seperti Oka Rusmini, Fira tak terlalu mendetail pada pengungkapan yang verbal itu, tampak ada latar kesamaan mereka dalam mengungkap hal yang selama ini kerap dianggap tabu oleh para pengarang wanita pada generasi sebelumnya.

Benarkah di Indonesia, penulis dan masyarakat kita telah egaliter, sehingga mampu berbahasa verbal seperti halnya pengarang Finlandia, Rosa Liksom, pada novelnya yang berjudul One Night Stand itu?

Kebebasan Media
Catatan lain adalah munculnya banyak media berekspresi di luar koran dan penerbit label besar. Para penerbit kecil terbukti lebih militan dalam memunculkan karya-karya sastrawan baru, baik berupa karya keroyokan maupun yang mengusung nama pribadi.

?Kita bisa punya beberapa penerbitan. Kami eksis di wacana budaya dan karya sastra, mengangkat karya yang berkualitas,? ujar Mujib Hermani, dari penerbitan Melibas yang meluncurkan antologi puisi perdana Rieke Dyah Pitaloka yang berjudul Renungan Kloset itu.

Media lain yang menarik dicermati adalah jurnal yang kembali aktif penerbitannya selama satu tahun belakangan ini. Bila kita melihat aktifnya majalah budaya Horison, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa juga Jurnal Cerpen, yang beredar dan mengangkat nama-nama penulis yang variatif, dari segala generasi, kita bisa antusias menatap wajah sastra kita. Bahkan, di Yogyakarta, Insist mencetak jurnal On/Off dalam bentuk antologi dengan kemasan buku, setelah berkerja sama dengan penerbit Bentang Budaya.

Yang menguat juga belakangan ini adalah para penulis yang berinteraksi melalui karya dan dialog di media internet. Dengan situs atau milis tertentu, para penulis ini bisa berkarya, menikmati, berapresiasi bahkan saling mengkritisi.

Para pengamat dan esais pun tampaknya tak bisa menutup mata terhadap fenomena tersebut, termasuk para insan sastra seperti Faruk HT, Sutardji Calzoum Bachri yang ikut berkomentar terhadap keberadaan mereka, baik di forum resmi atau pun tak resmi. Bahkan, perdebatan tentang media internet ini pun ramai diangkat di lembaran budaya media massa cetak nasional hingga lokal.

Untuk radio dan televisi, sekalipun belum cukup memadai untuk menampung karya sastra, para generasi belakangan ini, sudah mendapatkan fasilitas dari media elektronik ini. Di berbagai radio mancanegara antara lain Radio Nederland dan Radio Jerman edisi bahasa Indonesia, kerap muncul nama dan karya para penulis Indonesia. Pembacaan karya mereka pun kerap on air sehingga bisa dinikmati oleh pemirsa dengan jangkauan yang cukup luas.

Di atas semua itu, yang jelas dunia sastra kita membutuhkan karya-karya berkualitas, menunggu sastrawan-sastrawan yang dapat membuat karya-karya memukau macam yang dibuat Pramoedya Ananta Toer. Siapa tahu, kelak sastrawan Indonesia mendapat giliran meraih Nobel dan tidak sekadar menjadi penonton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*