Filmisasi Karya Sastra

Raudal Tanjung Banua*

http://www.lampungpost.com/

Diangkatnya novel laris ke layar lebar bukan fenomena baru. Dua dasawarsa lalu, novel-novel klasik sastra diangkat ke layar kaca:Siti Nurbaya (Marah Rusli) dan Sengsara Membawa Nikmat (Dt. Majoindo?). –lit

Pengangkatan karya sastra sedikit-banyak masih memperlihatkan hubungan “alamiah” film-sastra, setidaknya dari pilihan karya yang diangkat. Memang, aroma industri mulai tercium sejak dini. Hubungan pertama yang sangat alamiah dan tak terelakkan dalam proses filmisasi karya sastra tentu dalam hal skenario.

Orang sastra tampaknya kurang banyak berkiprah di bidang penulisan skenario, apakah karena skenario rata-rata sudah ditangani langsung orang film, kurang kerja sama antarbidang, atau hal-hal lain. Boen Sri Oemarjati (1971) pernah menyatakan di Indonesia banyak penyair, novelis, dan cerpenis, tapi sangat sedikit penulis naskah drama–sesungguhnya hal itu juga berlaku bagi penulis skenario!

Hubungan sastra-film bukan ahistoris. Ia seiring sejalan sejak dulu dengan para kreatornya yang kadang berperan ganda atau menjadi pelintas-batas antardispilin seni seperti M. Yusach Biran, Asrul Sani, Putu Wijaya, dan Arifin C. Noer. Mereka menulis skenario dan menyutradarai filmnya; nama mereka juga berkibar sebagai sastrawan.

Jauh sebelumnya, Usmar Ismail, bapak film Indonesia, dikenal lebih dulu sebagai sastrawan dan aktor kawakan. Teguh Karya, Eros Djarot atau Slamet Rahadjo memang bukan sastrawan, namun mereka berhubungan dekat dengan sastra sebagaimana kedekatannya dengan bidang kesenian lain seperti teater dan musik.

Bentuk hubungan sastra-film, sebenarnya juga terjadi antara sastra-teater, atau teater-film, tapi kemudian memunculkan analog yang cukup paradoks; tidak berlanjutnya kerja sama kolaboratif itu, makin sedikit kreator lintas-batas, dan akhirnya makin pudarnya tegur-sapa kreatif. Orientasinya bergeser pada hubungan industri.

Bandingan dan Upaya Alternatif
Fenomena sastra yang difilmkan seperti sekarang bukan dalam konteks hubungan “alamiah” sebagaimana dinarasikan di atas; tapi hubungan untung-rugi. Difilmkannya novel laris Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi tidak terlepas dari momentum meraup untung.

Yang difilmkan memang bukan buku (karya) yang nilai sastranya lebih dapat dipertanggungjawabkan seperti karya Pramoedya, Ahmad Tohari atau Navis; tapi buku yang laku keras di pasaran. Artinya apa? Ini merupakan pilihan sadar orang film, produser atau sutradara meraih limpahan publik dari buku best seller. Namun berbeda dengan proses manca yang tetap memperhitungkan kekuatan sastrawi film yang berangkat dari sebuah buku, di Tanah Air hal itu nyaris tak berlaku.

Film legendaris The Godfather yang disutradarai Francis Ford Coppola; bukunya yang ditulis Mario Puzo lebih dulu meledak di pasaran. Yang menarik, film itu menghasilkan skenario yang baik dan terbit sendiri sebagai buku sastra yang mandiri (sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Penerbit Akubaca, 2003). Proses kerja samanya pun unik:Penulis dan sutradara berduet (jika bukan berjibaku) mengerjakan sebuah skenario yang diganjar Oscar (1972).

Film Rashomon karya Akira Kurasawa mengangkat “hanya” sebuah cerpen Ryunosuke Akutagawa, namun hasilnya dikenang sepanjang masa. Seri Harry Potter pastilah dipilih karena publiknya yang luar biasa, sebagaimana Da Vinci Code.

Ada pula film Il Pastino yang diangkat dari novel Antonio Sekarmeta. Filmisasi novel yang bercerita tentang kehidupan penyair Pablo Neruda di Chili itu digerakkan nilai sastranya yang tinggi. Bahkan novelet satire George Orwell, Animal Farm, yang sangat “berat” berani ditransformasikan ke sebuah film yang aktor-aktornya tak lain buah animasi, jelmaan tokoh kuda, sapi, domba, sampai babi!

Namun, di Tanah Air, karya sastra serius justru dicoba cairkan demi pasar, misalnya Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari yang sajian layar lebarnya sangat mengecewakan, sampai pada hal teknis, bagaimana Pengakuan Pariyem Linus Suryadi hendak diganti judul menjadi Pangkuan Pariyem.

Di tengah situasi ini, film-film yang berangkat bukan dari novel (genre sastra yang paling dominan dalam hubungannya dengan film) cukup menarik diperhatikan dan mungkin bisa jadi alternatif mencerahkan. Film Garin Nugroho, Bulan Tertusuk Ilalang, berangkat dari “sebuah” puisi D. Zawawi Imron berjudul Bulan Tertusuk Ilalang; di sini interpretasi dan simbol jadi pertaruhan. Film Doa yang Mengancam Jujur Prananto berangkat dari cerpennya sendiri; ada spirit mengembalikan hubungan wajar sastra-film, sama halnya dengan cerpen Triyanto Triwikromo, Anak-anak Mengasah Pisau yang ditransformasikan jadi film televisi oleh Dedi Setiadi.

Begitu pula film Mereka Bilang Saya Monyet Djenar Maesa Ayu dari cerpennya sendiri; bagaimanapun unsur-unsur seksualitas dan metropolitan–yang laku dijual–mewarnai film ini, tapi sedikit banyak kita melihat bahwa ia tidak tergantung besar-kecilnya gagasan, tapi pada perwujudan gagasan. Jauh sebelumnya, novel Cau Bau Kan Remy Sylado dilayarlebarkan oleh Nia Dinata dengan judul sama; cukup dipujikan dari sisi kolosal dan rancang artistik kostum, meski banyak yang berkata bahwa buku dan filmnya seperti jalan sendiri–itu tentu hal lain.

‘Perempuan Berkalung Sorban’
Hari-hari belakangan, kita disuguhkan film baru dengan cita rasa islami ala Hanung Bramantyo, Perempuan Berkalung Sorban (PBS), diangkat dari novel karya Abidah El-Khaliqy berjudul sama. Mengapa baru sekarang novel itu difilmkan sedang ia sudah terbit beberapa tahun lalu, bahkan jauh sebelum fenomena Ayat-ayat Cinta? Alasannya jelas, publik kita masih dalam eforia Ayat-ayat Cinta, bicara persoalan syariat dan Islam.

Apa yang diangkat memang masih dalam lingkup kisah-kisah islami, namun kadar sastrawinya ditingkatkan sedikit; dari karya yang cenderung pop/konvensional yang ditulis santri yang tiba-tiba dikenal sebagai penulis, kini beralih ke karya seseorang yang notabene sudah cukup dikenal sebagai sastrawan, terlebih dengan wacana-wacana besar yang menyertainya seperti feminisme, persoalan patriarkis, dan kehidupan pesantren. Ini, selayaknya orang kampanye, bakal jadi amunisi untuk membikin janji baru: Film ini berbeda dengan garapan Hanung terdahulu, padahal, tetaplah dalam spirit penciptaan yang sama: pasar!

Seiring dengan itu, muncul sikap latah, bukan saja Presiden/Wapres serta pejabat negeri ini nonton bareng film fenomenal; juga dari kalangan akademik. Belum lama ini, novel PBS-Abidah diganjar “Adab Award” oleh Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.

Seandainya novel itu tidak difilmkan, apakah penghargaan akan diberikan? Bukankah dengan demikian, sastra dianggap tidak independen sebagai bidang yang layak diberi penghargaan?

Hal yang tampak sepele ini sebenarnya menyiratkan dunia akademik pun tidak steril dari pengaruh industri, melanggengkannya, bukan mengkritisi.

Sastra yang dianggap sunyi, dengan infrastruktur dan massa-publik yang nyaris sepi, justru masih bisa menyumbang kepada film; sementara apa yang disumbangkan film kepada sastra, selain uang dan selebriti bagi pengarang? Adakah sumbangan yang bersifat dialektik, esetetik, dan gagasan sebagai tawaran alternatif? Ada misalnya, fenomena penulisan sebuah film bahkan sinetron dalam buku, sebagaimana banyak dilakukan Penerbit Gagasmedia, namun tanpa momentum apa pun, jika tidak malah mencairkan sastra dan “mempromosikan” film/sinetron itu sendiri?

Inikah yang diharapkan sastra? Pertanyaan paling penting juga menyangkut publik: Apakah pembaca dan penonton diuntungkan secara estetik dan wawasan dalam proses kerja sama filmisasi karya sastra?

*) Koordinator Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.

Leave a Reply