Gerbong Maut 2

Imam Muhtarom
http://www.balipost.co.id/

Bagian 2-Habis

Tetapi anehnya, kami tidak melihat seorang pun di sela-sela rumah yang tidak berbeda dengan kardus-kardus kue itu. Menangis tersedu-sedukah anak-anaknya? Atau tubuh-tubuh bergelimpangan berlumuran tanah dan darahkah? Atau malah berlari-lari seraya tertawa-tawa karena mereka telah terbiasa dengan peristiwa itu sehingga mereka telah terlatih menghadapinya dan setiap letusan gunung itu berulang mereka menganggapnya latihan tubuh belaka?

PEKARANGAN-PEKARANGAN semuanya kosong. Tak terlihat seorang penggembala pun yang mungkin tengah berdiri agak jauh seraya duduk bersandar pada sebuah pohon yang daunnya melambai-lambai ditiup angin, mengundang siapapun dan apapun untuk berlindung di bawahnya.

Tapi ini kan bukan siang hari, pikir kami karena yang memancar sekarang bukan bundaran putih yang mengkilau di angkasa yang oleh orang-orang disebut matahari — matanya hari, menurut kami — melainkan bundaran kuning yang agak lonjong menyerupai telur ayam disebut sebagai bulan. Mungkin para penggembala itu sedang tidur dan sekarang bermimpi mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dibalik gunung itu di mana rumahnya beserta rumah para tetangganya bertempelan, sebagaimana mimpi-mimpi kami yang datang pada awal kami tidur namun tiba-tiba berubah pada ujungnya menjadi pertarungan sengit antara berpuluh-puluh orang yang pakaiannya sama, warna kulitnya sama dan dalam seruan-seruan yang sama. Tapi meskipun senjata mereka sama mereka saling menyerang dengan beringas diantara rumah-rumah yang terpetak-petak, di sela-sela pepohonan dan entah sebenarnya berapa lama telah saling menikam. Semuanya berakhir dengan kematian.

Kami terbengong oleh mimpi itu. Apakah kami sungguh-sungguh? Kami ketakutan sekali sebab kami berada dalam bagian dari penyerangan itu dan kami tidak mungkin bermain-main lagi. Di mana bapak-ibu kami? Apakah terjebak dalam arak-arakan saling tikam dan saling penggal sehingga yang terdengar adalah kegeraman, jerit kesakitan, lolongan kepedihan di tengah-tengah kegelapan malam pegunungan. Kami berlari dan tidak sekalipun berhenti ketika kami tiba-tiba terbangun oleh pertengkaran bapak-ibu kami apakah setuju atau tidak dengan ajakan kami untuk pergi ke balik bukit dengan kereta api yang memiliki gerbong hitam panjang setelah kami merengek-rengek meminta bapak-ibu kami menyertai menuju tempat impian.

Tetapi sepanjang perjalanan yang menyerupai mimpi terus berlangsung di bawah keremangan cahaya bulan, menembus kabut, menembus lorong-lorong gelap perbukitan yang dibongkar untuk rel kereta api, dengan tikungannya yang semakin lama semakin tajam, di antara pohon-pohon yang daunnya berjuntaian menyentuh permukaan tanah, udara semakin mendingin dan orang-orang dalam gerbong terus-menerus tidak bergerak dari terpekurnya. Kami lama-lama jemu menanti daerah yang, katanya, tidak pernah menjemukan itu.

Kami mengantuk dan kami beranjak dari mulut pintu gerbang mencari bapak ibu kami yang seingat kami, tadi, duduk di pojok gerbong. Tetapi kami tidak menemukannya. Ketika kami memanggilnya bapak-ibu kami tidak juga segera bangkit, merengkuh badan kami dan memasukkannya dalam dekapan. Kami kedinginan dan kebingungan. Orang-orang yang terpekur tetap tidak segera beranjak. Kami menangis tetapi kami sangat lelah sehingga kami tiba-tiba terjatuh di sandar gerbong tepat mengenai orang-orang yang sejak tadi terpekur. Tetapi tubuh kami oleng oleh gerak gerbong yang terus berguncang-guncang, oleh lelah yang merasuki badan kami, dan kami terloncat (atau terlempar?) ke dinding gerbong sebelah.

Kami tiba-tiba menghirup bau busuk yang amat sangat ketika lobang hidung kami menempel di pakaian orang-orang yang sedang terpekur. Kami seperti membau sebuah bangkai binatang membusuk yang biasa dilemparkan tetangga-tetangga kami ke sungai dan beberapa hari selanjutnya tersangkut di dam desa bawah dengan dipenuhi belatung. Tetapi ini bukan binatang membusuk, pikir kami. Ini bau yang belum kami pernah tahu. Perut kami tiba-tiba seperti diputar-putar, bergerak-gerak sendiri dan pada akhirnya keluar semua apa yang tadi masuk ke dalam perut. Kami tidak tahu benar apa yang kemudian terjadi ketika tiba-tiba di antara kepusingan itu kereta tiba-tiba berhenti di sebuah tempat yang barangkali sebuah kota karena sekilat pandang kami menangkap lampu-lampu berpijaran, berderet membentuk garis-garis yang berputar teratur dengan sisi-sisinya gedung-gedung entah untuk apa berdiri tegak.

Dalam keadaan yang membuat kami mau menangis lagi, kami mendengar suara gerak dari luar gerbong yang ramai, berserak dan suara itu suara yang membuat kami gemetar. Apakah mereka seperti yang terdapat dalam mimpi kami. Kami tidak tahu. Kami hanya melihat dalam keremangan gerbong beberapa orang dari luar gerbong, mungkin berjumlah sepuluh sampai lima belas orang sedang melempar dengan sepenuh tenaga dan apa yang dilemparkan itu adalah tubuh manusia yang tampak kaku, mungkin mati, mungkin tidur, mungkin setengah mati, saling membentur dan satu atau dua diantaranya membentur dinding yang terbuat dari lempengan besi dengan suara yang diakibatkannya menyerupai benturan batu.

Kami mundur dan tubuh terhuyung oleh pikiran: apakah dua diantaranya merupakan ibu-bapak kami? Kami harus tidak percaya dengan pikiran kami sendiri. Apakah bapak ibu kami tega meninggalkan kami sendirian dan tidak tahu ke mana kami mesti pergi dan… kenapa orang-orang melempar orang-orang sesamanya dengan begitu keras dan dengan begitu tidak penuh perasaan sebagaimana bapak ibu kami membelai rambut dan kadang-kadang, perut kami.

Kami semakin tidak tahu apa yang disebut tanah impian yang kami dengar dari omongan-omongan yang tidak pernah menyebut dirinya dengan terus terang sehingga kami tidak sebegini jauh tidak tahunya; sehingga kami menyerupai anjing yang ditinggal sang induk karena induk itu tidak didapatkan saat anak-anaknya tiba-tiba, ketika malam hari di tengah teriakan serigala, terbangun, dan menggigil kedinginan oleh hujan lebat di luar dan karena itu ketakutan.

Gerbong yang kami tumpangi terus dipenuhi tubuh-tubuh manusia yang semakin lama semakin sesak dan kami hanya dapat melihat sebatas gelap menyelubung. Bau-bau semakin menyesak dalam dada kami seolah kami adalah bangkai itu. Pintu digeret dengan keras dalam gelap yang diantaranya kami mendengar erangan-erangan yang semakin lama semakin memilukan karena menyebut ke manakah ayah ibunya, ke manakah anak cucunya, sehingga kami menjadi bertanya dalam diri kami sendiri: apakah satu dua diantaranya adalah bapak-ibu kami yang tengah mencari-cari kami yang kini tengah mencari-cari, tetapi sangat begitu lemah sehingga suaranya menjadi serupa orang tengah melihat mati? Kami tidak tentu. Kami tidak membalasnya dengan panggilan balik sehingga kami tidak dapat menyatakan dan menegaskan bahwa suara itu suara milik bapak atau ibu kami.

Kereta berderak dan suara-suara yang mengerang makin hilang dan kami seperti di sebuah dunia yang tiba-tiba memuat kami harus berteriak keras-keras sebab apakah yang kami bayangkan (atau dipaksa membayangkan) adalah gambar khayali yang semakin lama semakin terang namun tidak kami mengerti di manakah sesungguhnya kami tengah berada. Kereta semakin tidak terkendali dengan benak kami yang penuh tanya tujuan mana dan dengan maksud apa kereta itu berderak. Dengan nafas sesak oleh bau busuk yang menyelusup ke lobang hidung, batang tenggorok dan paru, kami terbayang sebuah danau yang luas ketika hari sehabis hujan, udara cerah, dan kami sedang berlayar di tengahnya. Di mana sebuah senja tengah menyuruk ke belahan langit sebelah barat, diantaranya burung melintas dan kami lihat bayang-bayangnya bersama warna lengkungan langit yang diwarnai senja tengah terpantul.

Kami menduga gerbong hitam ini tengah menuju ke dalam senja yang sedang menyuruk di antara kunang-kunang yang semakin lama semakin nyata dalam pandangan kami. Menerobos ke dalamnya, ke jantung senja dalam waktu yang kami sendiri tidak dapat memperkirakannya. Mungkin perjalanan dalam gerbong hitam yang kepalanya meledak-meledak dan badannya berderak-derak akan memakan waktu seumur kami bahkan lebih sehingga mencapai anak-cucu kami, buyut-buyut kami, dan tidak akan tahu bagaimana sesungguhnya peristiwa perjalanan di atas gerbong hitam dalam nafas bau busuk bangkai manusia ini bermula dan hendak kapan mesti berakhir. Kami tidak tahu. Kami tekukkan kepala kami diantara dua kali kami sendiri-sendiri. Sunyi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *