Keunikan Sastra Daerah

Mulawati, S.Pd.*
http://www.kendaripos.co.id/

Anda pernah mendengar istilah Kabanti? istilah ini akan sering kita dengarkan di daerah Kabupaten Buton, Kota Bau-bau dan Kabupaten Muna. Kabanti adalah sejenis sastra lisan daerah-daerah tersebut. Dari bentuknya dapat dikatakan bahwa kabanti adalah sejenis pantun atau syair. Syair-syair kabanti memiliki aneka ragam tema, karena secara umum dapat disesuaikan dengan suasana penggunaannya. Syair-syair kabanti pada saat acara pelamaran seorang gadis, tentu akan berbeda dengan syair yang digunakan pada acara pakande-kandea.

Selain kabanti, provinsi Sulawesi Tenggara juga memiliki kekayaan cerita rakyat. Misalnya mitos Oheo, Fabel O Dango Ronga,dan Legenda Onggabo yang berasal dari suku Tolaki. Kampo Motonuno dari suku Muna, cerita tentang ikan duyung Wandiu-diu dari suku Buton dan masih banyak lagi cerita rakyat dari suku lainnya, tetapi belum sempat terpublikasi. Kekayaan sastra daerah ini menjadi sesuatu yang sulit untuk dinikmati karena sebagian besar masih berupa sastra lisan.

Di samping itu, pantun juga menjadi salah satu kekayaan (sastra lisan) Sulawesi Tenggara. Drs.La Kimi Batoa dalam salah satu makalahnya berjudul Pantun Muna: dalam Pola Persajakan, Citra dan Simbol mencoba mengajak kita mengenal nilai-nilai budaya suku Muna yang terkandung dalam bait-bait pantun. Menurut beliau suku Muna telah lama mengenal istilah pantun. Masyarakat Muna membaginya dalam dua jenis pantun yaitu pantun Kantola dan Manari. Saat ini syair-syair kantola dan manari dilisankan dengan bantuan alat musik, ini dilakukan agar syair-syair tersebut dapat diingat dengan mudah.

Sastra daerah baik lisan maupun tulisan merupakan kekayaan budaya daerah yang kelestariannya ditentukan oleh pendukung budaya daerah yang bersangkutan. Sastra daerah menyimpan nilai-nilai kedaerahan dan akan memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan sastra di daerah dan Indonesia pada umumnya. Masalah yang ada saat ini adalah kurangnya perhatian masyarakat terhadap sastra daerah. Sastra daerah telah berada di ambang kepunahan karena hanya segelintir orang yang punya kepedulian terhadapnya.

Budaya luar yang dengan mudah diperoleh dari media cetak maupun elektronik juga sangat mempengaruhi perkembangan sastra daerah. Coba saja kita menanyakan cerita-cerita yang telah saya sebutkan di paragraf awal tulisan ini pada anak-anak kita, rata-rata mereka akan mengerutkan dahi karena tidak mengerti cerita-cerita tersebut. Sebaliknya, tanyakan pada mereka apakah pernah mendengar atau menonton film kartun Naruto? Saya yakin mereka akan menjawab iya dengan mata berbinar. Pada umumnya masyarakat kita belum menyadari nilai pendidikan yang dapat diperoleh dari sastra daerah. Kenyataan ini adalah pertanda semakin terpinggirkannya sastra daerah yang ada di Sulawesi Tenggara.

Atmazaki dalam Buku Penelitian Sastra Lisan Tolaki terbitan Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara mengungkapkan keunikan sastra daerah. Dengan sastra daerah kita dapat mengetahui asal-usul suatu daerah dengan berbagai kearifan yang dicurahkan lewat berbagai mitos, legenda, dongeng, dan riwayat termasuk di dalamnya permainan rakyat dan nyayian sakral.

Jadi, kalau Anda ingin mengetahui asal-usul nenek moyang suku Tolaki, saya sarankan Anda membaca mitos Oheo. Merahnya air sungai Sabilambo juga dapat kita ketahui penyebanya dari mitos Kongga Owose. Asal-usul terjadinya danau Motonuno di wilayah Kabupaten Muna juga dapat kita ketahui dari mitos Kampo Motonuno.

Pada umumnya sastra daerah masih berupa sastra lisan. Belum banyak orang yang tertarik untuk membuat naskahnya. Meskipun demikian, ada segelintir orang yang bergiat membukukan sastra lisan daerah Sulawesi Tenggara, tetapi mereka masih harus mencari dukungan dari pemerintah daerah untuk menerbitkan hasil karya mereka. Perlu kita pahami bahwa tanpa adanya dukungan dari masyarakat daerah ini, sastra bercorak daerah akan hilang tanpa bekas dan masyarakat akan kehilangan identitas budaya.

Ajip Rosidi sebagai salah seorang sastrawan yang berasal dari Sunda telah menggagas sebuah penghargaan bernama Rancage bagi sastra berbahasa daerah Sunda. Di Sulawesi Tenggara langkah serupa akan dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara pada tahun 2008. Kegiatan ini adalah persembahan kecil kami dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra daerah Sulawesi Tenggara.

*) Staf Teknis Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply