Kidungan Tak Sekadar Pitutur, Juga Ekspresi Anak Zaman

Abdul Lathif
http://oase.kompas.com/

SURABAYA,MINGGU–Sebanyak 18 orang penggemar kidungan dan 14 orang seniman profesional ludruk dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Lumajang dan Jember unjuk kebolehan dalam ajang f estival kidungan dalam rangkaian perhelatan seni pertunjukan bertajuk Festival Cak Durasim Tahun 2008, Minggu (16/11), di Pendapa Jayengrono, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.

Festival kidungan yang dihelat oleh Taman Budaya Jawa Timur ini telah menjadi bagian dari upaya pelestarian kidungan yang selama ini kurang diminati oleh kalangan anak muda, khususnya, di anak-anak muda perkotaan seperti Surabaya. Padahal, kidungan sebagai bagian dari ekspresi berkesenian khas ludrukan, itu memiliki kekuatan yang amat dahsyat dalam pengolahan lirik atau syair-syairnya .

“Sebagian besar penggemar kidungan memang berusia tua, namun jika kidungan yang memiliki kekuatan yang amat dahsyat itu dimasyarakatkan kepada kalangan anak muda, khususnya pelajar sekolah, tidak menutup pemingkinan akan muncul pengidung yang sesuai anak zamanya, sebagaimana Cak Durasim dengan kekuatan kidungannya yang amat dahsyat dalam melawan penjajahan, ” kata seniman ludruk yang juga pemerhati kesenian ludruk asal Surabaya, Hengky Kusuma kepada Kompas.

Ajang festival kidungan yang dihelat oleh Taman Budaya Jawa Timur setiap tahun ini, tak jauh berbeda dengan festival tahun sebelumnya, khususnya para penggemar kidungan yang terlibat seluruhnya adalah kaum tua dengan usia di atas 50 tahun.

Realitas itu mengindikasikan bahwa, kidungan bisa saja terancam punah tatkala kaum tua penggemar kidungan tersebut sudah tiada. Hal itu berarti perlu ruang-ruang festival kidungan yang secara khusus untuk kaum remaja, sehingga renegerasi kidungan tetap terjaga dengan baik sepanjang zaman.

“Kita masih melihat kidungan yang muncul sudah usang, karena pesannya masih seputar masa-masa lampau, entah perjuangan ataupun yang lainnya. Kalau pun ada yang mengangkat masalah kekinian, hal itu kerapkali tidak tuntas, ” kata Hengky Kusuma.

Ajang festival kidungan untuk remaja, demikian kata Hengky, sepatutnya digairahkan oleh lembaga-lembaga kesenian dan dinas pendidikan dan kebudayaan. Pasalnya, melalui festival kidungan tersebut, suatu saatnya akan lahir pengidung yang dahsyat sesuai dengan anak zamannya.

“Jadi, sebelum diadakan festival kidungan untuk kaum remaja, perlu diadakan lomba penulisan syair kidungan sesuai zaman anak-anak muda sekarang ini, sehingga pesannya pun sampai kepada generasinya, ” kata Hengky.

Ketua Dewan Juri Festival Kidungan FX Darmono menyatakan, khusus kelompok seniman ludruk profesional yang tampil dalam festival kidungan, rata-rata sudah bagus dan tidak kesulitan mengekspresikan syair-syair kidungan yang mengharmoni pada gending-gending kidunganya. Sebaliknya dengan kelompok penggemar kidungan yang tampil dalam festival masih kerapkali kesulitan mengekspresikan syair-syair kidungan yang ditembangkannya selaras dengan gending-gendingnya, atau sebaliknya sudah selaras dengan gendingnya, namun suara atau vokalnya kurang bagus.

“Kalau pesan politiknya tidak pas, ya ndak usah memaksakan diri untuk disampaikan dalam kidungan, karena dalam kidungan itu terkandung nuansa estetik dan keindahan syairnya, ” katanya.

Bambang Sukma Pribadi, anggota dewan juri yang juga pengajar seni karawitan SMKN 9 (SMKI-red) Surabaya mengatakan, bahwa konsep penyusunan syair kidungan sepatutnya runut dan tidak melompat-lompat, sehingga pesan yang terkandung dalam kidungan sampai kepada pendengarnya. “Misalnya, mau ngomong pendidikan, belum tuntas maunya apa, tiba-tiba muncul tema pacaran, ” katanya.

Pengamatan Kompas, festival kidungan yang sudah menjadi agenda tahunan dalam rangkaian ajang seni pertunjukan Festival Cak Durasim , ini belum sepenuhnya mampu menggugah apresian untuk kembali tertarik menikmati, apalagi menyukai kidungan. Pasalnya, kidungan yang demikian dahsyat dengan variannya yang amat kaya, baik syair maupun gending-gendingnya, belum sepenuhnya dieksplorasi oleh seniman ludruk sendiri maupun oleh penggemar kidungan.

Akibatnya, kidungan yang muncul pun cenderung bernuansa masa lampau yang kerapkali jauh dari realitas kehidupan kekinian. Padahal, kidungan adalah ruang ekspresi anak zaman yang tidak sekadar pitutur sebagaimana yang masih tampak dalam festival kidungan yang dihelat oleh Taman Budaya Jawa Timur ini.

Jikalau muncul kidungan bernuansa kritik atas korupsi dan kemelaratan rakyat, hal itu tidak sampai menyentuh pada hati nurani apresian. Hal itu berarti, kepekaan dan kecerdasaan amat diperlukan oleh seniman ludruk profesional maupun penggemar kidungan yang menghendaki kidungan tetap eksis sepanjang zamannya.

Dari ajang festival kidungan ini, Dewan Juri memilih tiga terbaik kelompok seniman ludruk profesional, yaitu Heru Pasidiyanto (Jombang), Sofyan (Lumajang) dan Warto (Jombang), dan dua harapan terbaik, yaitu N.J Pi tono (Jember) dan Kadis (Mojokerto). Sedangkan, tiga terbaik kelompok umum alias penggemar kidungan, yaitu Mustofa (Pasuruan), Bandi (Surabaya) dan Asih (Surabaya), dan dua harapan terbaik, yaitu Katubi (Sidoarjo) dan Sukari (Mojokerto).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*