Kritik Sastra Rasa Bandung

Yeni Mulyani*
http://pr.qiandra.net.id/

Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki pusat-pusat kebudayaan. Sebagai ibu kota Jawa Barat, Bandung juga mampu menyuburkan kehidupan sastra. Dengan kata lain, Bandung menjadi pusat berbagai kegiatan kesastraan. Pesatnya kemajuan kesastraan ini menyebabkan hidupnya kritik sastra di Kota Bandung.

Karya sastra Indonesia, pengarang, dan juga pembaca sastra cukup banyak di kota ini. Adanya karya sastra, pengarang, dan pembaca, tulisan kritik sastra pun sebagai hasil proses pembacaan terhadap karya sastra, sorotan kepada pengarang dan tanggapan kepada pembaca sastra, juga tersebar di berbagai media massa di Kota Bandung.

Di samping itu, diskusi, seminar, bedah buku, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan kritik sastra dan apresiasi sastra cukup marak di Kota Bandung. Yang menjadi masalah adalah bagaimana sesungguhnya kehidupan kritik sastra di kota kembang ini mengingat Bandung berada di wilayah sastra daerah (Sunda).

Sastra sebagai disiplin ilmu sebagaimana dikemukakan oleh Wellek dan Warren (1968) terbagi menjadi tiga, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Pernyataan Wellek dan Warren itu mengimplikasikan bahwa teori, sejarah, dan kritik sastra memiliki kedudukan yang sejajar. Artinya, ketiga-tiganya penting sehingga tidak ada yang lebih utama dibanding yang lainnya. Oleh karena itu, pengamatan terhadap kritik sastra sama pentingnya dengan pemahaman terhadap teori sastra, penelitian terhadap karya sastra, dan penelitian sejarah sastra. Dengan demikian, keberadaan suatu kritik sastra akan menjadi bagian penting dalam perkembangan sastra.

Kritik sastra sebagai bagian sistem sastra tentu saja berhubungan erat dengan karya sastra, pengarang, penerbit, pengayom, dan juga pembaca. Kritik sastra lahir karena ada karya sastra, ada penerbit, dan ada pembaca. Jadi, secara sosiologis kritik sastra itu berada dalam suatu sistem yang integral sehingga secara tidak terelakkan bergerak di tengah-tengah elemen yang menjadi lingkungan terdekatnya. Dan, pengamatan tentang kritik sastra tidak hanya melihat baik-buruk sebuah karya sastra, tetapi juga menilai unsur-unsur pengarang, pengayom, dan pembaca yang menjadi lingkungan terdekatnya.

Sistem kritikus adalah sistem penyangga antara penerbitan sastra dan sistem pengarang serta sistem pembaca. Di samping itu, sistem kritikus juga merupakan sistem pengontrol untuk sistem pembaca tertentu. Dapat dikatakan bahwa dalam perkembangan sastra modern, kritik sastra memegang peranan sangat penting, baik dilihat dari segi perkembangan gaya, tema karya sastra maupun dari segi penyebarluasannya.

Pada dekade 1950-an, misalnya, kritik sastra H.B. Jassin, Subagio Sastrowardoyo, Nugroho Notosusanto, dan Ajip Rosidi isinya didominasi dengan penafsiran atau penjabaran berbagai gagasan tentang kesusastraan yang berasal dari luar sangat berpengaruh terhadap penciptaan sastra di Indonesia.

Pada dekade tersebut para sastrawan Indonesia mulai menyumbangkan karya-karya yang kaya ragamnya dan terasa sangat kuat kehendaknya untuk menjadi modern, yaitu menjadi pembaharu. Lewat kritik sastra, para pengarang pemula bisa belajar menghasilkan karya sastra yang berupaya menuju ke arah pembaruan. Kritik sastra pun sangat diperlukan agar sistem sastra bisa berfungsi sebaik-baiknya.

Mengikuti penggolongan Tanaka (1993), terdapat dua macam kritik, yaitu kritik sastra akademis dan kritik umum. Kritik akademis bersifat tertutup yang mencakup para kritikus profesional, pengajar di perguruan tinggi, dan mahasiswa yang menulis untuk lingkungan sendiri. Sedangkan kritik umum bersifat terbuka yang pelakunya mencakup para kritikus umum –mereka yang biasa menulis di surat kabar, majalah, dan media lain dan dibaca khalayak.

Sistem kritik akademis berfungsi sebagai pencari keterangan dan penyusunan konsep kembali, sedangkan kritik umum berfungsi sebagai penyaring dan pemilih yang membantu arus informasi dengan cara menyaring tipe-tipe karya tertentu dari sejumlah besar karya yang ditawarkan kepada pembaca. Meskipun kritik akademis relatif tertutup, secara tidak langsung dapat memengaruhi pembaca terutama jika ia dibaca dan memengaruhi kritikus umum.

Sesungguhnya, sangat sulit membedakan kedua macam kritik berdasarkan penggolongan Tanaka ini secara tegas terutama apabila diterapkan di dalam kehidupan kritik sastra Indonesia. Misalnya, dalam pelaksanaannya kritik akademis dan kritik umum bisa dilakukan oleh orang yang sama. Seorang kritikus profesional bisa menulis kritik akademis dan kritik umum. Ia bisa menulis karangan ilmiah untuk sebuah majalah profesi dan bisa juga menulis resensi buku untuk koran.

H.B. Jassin, misalnya, sejak semula adalah kritikus profesional dan yang dihasilkannya tergolong kritik akademis. Beberapa tulisannya seperti Chairil Anwar Pelopor Angkatan `45 menunjukkan ciri-ciri kritik akademis. Akan tetapi, sejumlah besar karyanya yang kemudian dikumpulkan dalam beberapa jilid menunjukkan ciri-ciri kritik umum. Beberapa di antaranya mirip timbangan buku yang pernah disiarkan di koran, majalah, dan radio.

Apakah kemudian buku yang memuat kritik umum itu digolongkan ke dalam kritik akademik atau kritik umum? Sebagai buku, khalayaknya menjadi terbatas. Ini menunjukkan ciri akademis, tetapi sebelumnya karangan-karangan itu disiarkan lewat koran atau radio sebagai kritik umum.

Sementara itu, untuk mencari corak kritik sastra, pendapat Abrams (1984) tetap harus diperhatikan. Abrams memberikan sebuah kerangka yang sederhana, tetapi cukup efektif seperti (1) pendekatan yang menitikberatkan pada karya itu sendiri (objektif), (2) pendekatan yang menitikberatkan pada penulis (ekspresif), (3) pendekatan yang menitikberatkan pada semesta (mimetik), dan (4) pendekatan yang menitikberatkan pada pembaca (pragmatik).

Istilah objektif merujuk pada pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai sebuah struktur yang otonom terlepas dari pengarang dan pembacanya. Sementara itu, istilah ekspresif merujuk pada pendekatan yang menekankan telaah pada pengarang dalam kaitannya dengan karya sastra. Istilah mimetik yang berasal dari bahasa Yunani, mimesis, sejak dulu dipakai sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara karya seni dan kenyataan. Plato dan Aristoteles menggunakan istilah mimesis, sedangkan terjemahannya dalam bahasa Inggris berbeda-beda. Ada imitation dan representation yang maknanya juga bisa bermacam-macam peneladanan, peniruan, dan pembayangan. Dan, istilah pragmatik merujuk pada efek komunikasi yang sering dirumuskan dalam istilah Horatius dengan dulce et utile “bermanfaat dan menyenangkan”.

Pada masa-masa tertentu, salah satu di antara empat pendekatan itu sering menjadi dominan. Pada zaman romantik, misalnya, pendekatan terhadap karya sastra yang dominan adalah pendekatan ekspresif. Dengan pendekatan ini, pengarang mendapat sorotan yang khas sebagai pencipta yang kreatif dan jiwa pengarang itu mendapat minat yang utama dalam penilaian dan pembasahan karya sastra. Pada masa itu pendekatan ekspresif banyak dilakukan terhadap puisi lirik yang dianggap sebagai bentuk sastra yang paling utama. Kemudian, pada masa lain karya sastra itu sendiri yang mendapat minat utama seperti dalam aliran strukturalisme.

Model Abrams jika diterapkan pada sejarah kritik sastra Indonesia dapat menjelaskan aliran-aliran utama di Indonesia. Dengan model ini, kita dapat bedakan dengan jelas Tatengkeng dan Takdir Alisjahbana pada periode Pujangga Baru. Tatengkeng mewakili pendekatan ekspresif sebagaimana terungkap dalam pandangannya bahwa seni itu adalah gerakan sukma (yang berpancaran dalam mata, terus menjelma ke kata-kata yang indah), sedangkan Takdir dapat mewakili aliran pragmatik dengan semboyannya yang menyatakan bahwa seniman bertugas untuk membimbing bangsanya.

Bagaimana dengan kritik sastra di Bandung? Untuk mengetahui situasi kritik sastra di Bandung –corak dan modelnya– sebagai sampel bisa dilihat, antara lain melalui surat kabar Pikiran Rakyat. Media ini merupakan media cetak satu-satunya di Bandung. yang secara konsisten memuat rubrik sastra. Melalui media ini kita bisa melihat potret karya kritik sekaligus dengan para kritikusnya.

Kritikus sastra Bandung ternyata memiliki cara yang berbeda-beda dalam melaksanakan kritiknya. Objek kajian para kritikus pun beragam. Artinya, kritik tersebut tidak hanya menyoroti karya sastra (objektif), tetapi berkaitan dengan hal-hal di luar sastra yang menjadi lingkungan terdekatnya. Secara umum, dapat dikatakan kritik sastra didominasi oleh jenis kritik umum dan bersifat impresionistik sebagaimana terlihat dari campur-baurnya pendekatan kritik yang diterapkan dalam satu tulisan. Karena bersifat impresionistik, penulis kritik kadang-kadang terjebak dalam inkonsistensi logika dan antara pernyataan yang satu dan yang lain kadang-kadang secara substansial juga saling bertolak belakang. Fenomena ini agaknya tidak dapat disalahkan karena karya kritik tersebut dimuat dalam media massa umum.

Sebagai ilustrasi, karya kritik atas kumpulan cerpen Kuntowijoyo Hampir Sebuah Subversi dapat dikatakan bersifat impresionistik sebagaimana terlihat dari campur-baurnya pendekatan kritik yang diterapkannya. Alinea pertama kritik ini, misalnya, mencoba bertumpu pada teori untuk melakukan kritik dengan pendekatan objektif

“Karya sastra memang bukan fakta tapi fiksi. Karena realitas fiksi inilah karya sastra tak bisa dijadikan rujukan sejarah (ilmu sejarah) untuk melihat persoalan kehidupan yang ada. Realitas sejarah yang ada, di tangan sastrawan, berubah menjadi ide atau gagasan”. Namun, pada alinea-alinea selanjutnya konsistensi pendekatan kritik yang diterapkan langsung luntur, kadang-kadang penulisnya berpijak pada pendekatan ekspresif, kadang-kadang mimetik, dan seterusnya.

Ketidakkonsistenan pendekatan dalam penulisan kritik ini di sisi lain berimplikasi pada pernyataan-pernyataan yang secara substansial juga tidak konsisten, bahkan saling bertolak belakang. Pada alinea ke-5, misalnya, dinyatakan “…. para tokoh utama tersebut kecenderungannya berada pada tokoh-tokoh dengan wawasan intelektual yang tinggi, profesi yang jelas, dan keberadaan ekonominya stabil. Mereka adalah dosen, guru, pegawai negeri, mahasiswa, wartawan, dokter, pedagang, dan karyawan swasta lainnya. Dan kita dapat memasukkannya pada kelompok kelas menengah. Hampir sulit kita mencari tokoh miskin dalam karyanya ini. …. Kemiskinan menjadi maya dalam cerpennya. Di sinilah kita bisa melihat sikap optimisme Kuntowijoyo.”

Sementara itu, pada alinea ke-14 dinyatakan “…. cerpen Kuntowijoyo ini pun merupakan simbol dari suasana masyarakat Indonesia yang sedang berubah yang tarik menarik dari masyarakat tradisional ke modern, dari politik otortarian ke demokratis. …. Dengan demikian cerpen-cerpen tersebut menjadi simbol masyarakat dunia ketiga.”

Selain ketidakkonsistenan dalam penerapan pendekatan kritik yang digunakan, kritik ini kadang-kadang juga terjebak dalam generalisasi seperti dalam pernyataan “hampir sulit kita mencari tokoh miskin dalam karyanya ini …. Kemiskinan menjadi maya dalam cerpennya. Di sinilah kita bisa melihat sikap optimisme Kuntowijoyo. Padahal, secara tekstual cerpen Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan dalam kumpulan cerpen Kuntowijoyo menampilkan kemiskinan. Jadi, dapat dikatakan karya kritik ini berangkat dari pengamatan yang fragmentaris sehingga pernyataan atau simpulannya pun –belum tentu secara tekstual mencerminkan cerpen Kuntowijoyo yang dibicarakan.

Sesungguhnya, media ini juga merupakan lembar kebudayaan yang menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah kebudayaan termasuk sastra sehingga memungkinkan lahirnya jenis kritik akademis. Di samping itu, penulis dan pembacanya pun berasal dari kelompok intelektual sehingga kemungkinan hadirnya kritik akademis sangat besar. Karya kritik Kusman K. Mahmud dan Jakob Sumardjo, misalnya, memiliki tanda-tanda untuk menjadi kritik akademis. Tulisan Kusman K. Mahmud yang berjudul Tradisi Mimetik Sastra Indonesia dan Jakob Sumardjo yang berjudul Sastra dan Tionghoa sudah menggunakan landasan teori dan metode tertentu.

Keduanya pun berasal dari kelompok intelektual sehingga tidak mengherankan karya kritik mereka senantiasa menggunakan pendekatan dan metode tertentu. Hal itu berarti konsep ilmiah masuk ke dalam paparan sehingga tulisan tersebut berkecenderungan menjadi kritik akademik. Meskipun demikian, karena tulisan itu singkat, paparan teori dan metodologi serta pencantuman daftar referensi tidak memungkinkan untuk dilakukan karena “mengganggu” ciri atau kriteria tulisan harian umum. Dengan demikian, kritik Kusman K. Mahmud dan Jakob Sumardjo tersebut tetap saja termasuk kritik umum karena dipublikasikan dalam media umum, bersifat terbuka, dan ditujukan untuk khalayak umum.

Jika melihat nama-nama penulis kritik yang muncul dalam media ini dapat dicatat beberapa hal. Pertama, asal-usul kelahiran kritikus tidak seluruhnya dari Bandung meskipun dapat dikatakan kritikus dalam harian ini didominasi oleh orang Bandung. Dua, para kritikus di kota Bandung ternyata tidak didominasi oleh orang-orang yang secara khusus terjun di bidang kritik sastra. Penulis kritik Bandung datang dari berbagai profesi seperti dosen, penyair, sastrawan, budayawan, mahasiswa, guru, dan tokoh sastra.

Jika dilihat dari latar belakang etnis atau domisili, kritikus yang menulis didominasi orang-orang Bandung atau mereka yang tinggal di Bandung (Jawa Barat). ***

*) Bekerja di Balai Bahasa Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *