Ladang Terbakar

Raudal Tanjung Banua
kr.co.id

APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga.

Apalagi? Sekarang, tak ada yang perlu dirisaukan, kata sebuah lagu yang Sombiang simak diam-diam dari radio transistor yang tergantung di paku dinding, nyaris nyerocos seharian. Pada malam tertentu biasanya ada acara pantun kasmaran asuhan Saad Toyib dan Kario-dua pasangan pengasuh yang pas; satu gaek, satu muda; satu takzim yang lain kocak. Itulah yang menemani Sombiang selama ini di ladang dalam hari-hari yang panjang (ah, siapa bilang tak ada risau?). Kadang Sombiang terbahak sendirian, kadang tertegun sedih bila pantun yang dilantunkan menyentil perasaan.

Apelah daye bulan di dahan/Mau terbenam, eh, disamber buaye/Apelah daye badan sendirian/Di dingin malam berteman si air mate
Sombiang menggeliatkan badan di atas dingin tikar pandan.

Siang hari ia bekerja selayaknya petani sejati, mengolah tanah, merawat benih dan memetik apa yang layak dipetik, semuanya dengan kasih. Malam hari, kadang ia pulang ke rumah-jauh di kampung-tapi lebih sering bermalam di pondok-biasanya di pondok lama, dekat ladang durian dan sahang. Bila sesekali rasa sepinya tak tertahankan, tak jarang Sombiang berkunjung ke pondok peladang lain, atau berlama-lama di tepian sehabis bekerja agar bertemu sesama peladang sekadar bercakap-cakap. Tentang harga timah. Tentang tambang timah lepas pantai di Bubus yang sering diwarnai konflik. Sembahyang rebut di klenteng tua Batu Rusa. Sampai juga pada naiknya harga-harga dan bejibunnya partai baru tapi diisi orang-orang lama.

Meski mereka peladang, kebutuhan tak sebatas ladang yang subur atau harga membubung. Salah seorang di antara peladang yang fasih berdiskusi tentang hal itu adalah Datuk Bulian, seorangtua yang tetap perkasa, dengan anak dan istri yang rutin mengunjunginya sekali sepekan (terkadang dengan membawa koran). Ah, membuat Sombiang cemburu sebetulnya. Sedang Sombiang, siapa yang akan mengunjunginya? Lanik istrinya-yang sampai saat ini belum juga hamil-jangankan sekali sepekan, sekali sebulan saja tak pernah menginjakkan kakinya di ladang mereka. Kadang ia maklum, istrinya terlalu sibuk membantu ibunya mengurus warung yang buka hingga malam. Tapi, terkadang Sombiang juga berpikir, itu semua lebih disebabkan karena selaku anak tunggal di keluarga, istrinya terlalu disayang; jangankan ke ladang, ke kebun belakang rumah pun seolah ia berpantang. Pantang itu terutama justru digariskan ibunya sendiri yang memang kelewat memanjakannya.

Terkadang, di tengah keasyikkan bicara “bangsa” dan “dunia”, terbicarakan juga urusan keluarga masing-masing. Tentang anak-anak yang naik kelas. Istri yang gemar menabung. Dan di antara itu, kerap terlontar suara,”Sombiang, warung istrimu tambah maju tampaknya?” Sombiang mengangguk sedikit. Lalu,”Tak sempat lagi ia ke ladang ini, ya?” itu dari Sadeli.

Atau ini,”Istrimu belum hamil juga ya?” kata Rabius pula. “Kenapa tak pernah melirik Datuk kita? Datuk Bulian ‘kan bisa bikin ramuan kesuburan.”

Inilah yang paling tak disukai Sombiang dari acara kumpul-kumpul di tepian.

Tapi kini, mulai saat ini, tidak lagi! Ia telah bulat memutuskan: istrinya, Lanik, akan diajak tinggal di ladang, sementara warung di rumah biarlah ibu mertuanya yang mengurus. Sombiang sudah tak peduli. Sombiang merasa cukup jadi penurut: sejak menikah dengan Lanik, ia mau tinggal di rumah mertua hanya karena si mertua merengek-rengek minta pengertian,”Kalian tinggal di sini saja. Rumah di sini besar, warung sudah berjalan, semua untuk Lanik.” Tapi tidak kali ini!
***

KEPUTUSAN Sombiang mengajak istrinya menetap di ladang, serta-merta menerbitkan gunjing orang sekampung; usia perkawinan belum seumur jagung, kata mereka, tapi si istri sudah diserahkan kepada kerasnya untung-jauh dari keramaian. Lain kalau sudah tua, dan anak-anak sudah besar, barulah wajar tinggal di ladang, begitulah selama ini cara orang kampung berkebiasaan. Menjadi adat yang tak bisa ditawar.

“Sedang Datuk Bulian pun tak tega mengajak istrinya tinggal di ladang, padahal anaknya sudah besar-besar,” kata seseorang, dan tertawa-didengar ibunya Lanik dengan pedih dan geram.

“Sombiang punya anak saja belum, sudah ngajak istri bertanam di ladang. ”

“Garap dulu rahim istrimu!” seseorang memotong, membuat ibu Lanik tersirap. Tapi perempuan itu tak ingin melabrak mereka. Aneh, ia malah ingin melabrak menantunya saja. Sombiang! Gara-gara Sombiang terkutuklah, gunjing itu mengalir.

“Kasihan, warung Lanik sedang maju-majunya, malah ditinggal.”

Kembali ibu Lanik membayangkan wajah menantunya saat mengutarakan niatnya mengajak Lanik tinggal di ladang. Wajah yang kukuh dan tenang, tapi terasa dingin sebetulnya. “Begitulah, Mak, kuputuskan mengajak Lanik istriku tinggal di ladang. Kami ingin belajar hidup sendiri dengan lebih tenang.”
“Lanik anakku, anak tunggal!” si ibu berang.

“Ia istriku, tak ada lagi istriku selain dia. Ia anak Mak, semua orang tahu. Tapi bahwa ia tak lebih sebagai pembantu Mak di warung, mungkin hanya aku yang tahu. Kemudian gunjing dan tanya yang tiap hari hinggap di telinganya tentang kapan punya anak, yang membuat gendang telinganya serasa pecah dan hatinya tersayat, mungkin juga hanya aku yang tahu. Karena itu, kami ingin ke ladang setidaknya di sana ia bisa istirahat dengan lebih tenang.”

“O, anakku akan bungkuk dan hitam di ladang! Hentikanlah kekejamanmu!”

“Tidak, Mak. Ia akan bekerja sesuai tenaganya, tidak sampai larut malam seperti di warung, dan setiap kerja adalah atas maunya, aku tidak pernah main perintah. Dan tidak ada pula gunjing yang menyakiti hatinya.”

Perundingan itu (jika memang pantas disebut perundingan) tentu saja buntu. Tapi tidak keputusan Sombiang yang sudah bulat. Ketika hari baru terang tanah, Sombiang segera menarik tangan Lanik ke atas motor traill-nya, dan seketika melaju ke ladang itu. Lanik menangis, tapi jauh di lubuk hatinya, perempuan itu paham sepenuhnya.
***

BEGITULAH, sepasang peladang itu kini terus bertanam tidak hanya di lahan yang subur, tapi juga rajin bertanam di lahan yang lain: ladang rahim. Pondok ladang yang kukuh tinggi menjadi ruang paling hangat bagi mereka berbagi di malam-malam dingin, tak lagi bulan di dahan dimakan buaye seperti kata pantun. Tapi buayelah yang disihir bulan dengan terangnya umpama lampu; kini bahagie hidup berdue, sepanjang hari serasa berbulan madu, ai, ai, pantun di radio tua itu kini diubah sendiri oleh Sombiang, walau di dalam hati. Kalau saja Saad Toyib dan Kario, si pengasuh pantun di radio tahu, pastilah mereka akan bilang,”Madu Bangka pahit rasanya, Bung!”

Ya, ya, karena bersarang di pohon pelawan, madu di sini jadi lain rasanya. Pahit. Tapi ampuh untuk menggempur penyakit. Ibarat itulah hidup Sombiang dan Lanik, di atas pondok bertiang kayu pelawan, hari-hari yang mereka jalani sekilas mungkin terasa pahit-maklum, jauh dari keramaian, menempuh hidup tidak selazim orang berkebiasaan, dan mereka belum lagi punya anak-tapi sebenarnya hidup mereka begitu damai.

Mula-mula Lanik memang merasa canggung, namun hari-hari selanjutnya ia sudah biasa: bangun pagi-pagi, membawa cucian ke tepian, dan pulang dengan air bersih di dalam ember. Memasak, membuatkan kopi buat suami tercinta, yang sepagi hari juga telah melakukan prosesi kerja di lahan masa depan. Pagi yang damai, hari yang damai. Suara burung, kesiur angin, derak dahan pepohonan dan gemerisik daun gugur, irama suara tajak yang terdengar seperti tak-tik-tok jam, denting kayu kering di dapur, desis api yang menyala, semuanya, sungguh alangkah menyenangkan. Jauh dari bisik dan gunjing, jauh dari perburuan uang dan harta. Waktu jadi sepenuhnya milik mereka.

Lanik merasakan suasana di ladang bertolak belakang dengan suasana di rumahnya, di kampung yang mulai sibuk oleh tawar-menawar, tatapan penuh selidik, dan mimpi-mimpi. Di sini, kecuali radio transistor tua yang bernyanyi sepanjang hari, tak ada lagi suara luar yang menggoda dan membuatnya harus bekerja hingga larut malam-demi mimpi warung yang diperbesar menjadi toko swalayan; sebagaimana yang diangankan ibunya. Kelelahan bekerja agaknya, berdampak pada rahimnya. Padahal, selama hampir tiga tahun usia perkawinannya dengan Sombiang, pernah dua kali Lanik merasakan sesuatu tumbuh di rahimnya, tapi gugur lantaran perdarahan. Sombiang tak bisa berbuat apa-apa, kecuali semakin terperangkap dalam gunjing tak bersudah yang menyebut dirinya mandul, atau menuding rahim istrinya tak sesubur ladang sahangnya. Lanik pun tak berdaya dibuatnya, dan sebagai kompensasi atas semua itu, semakin ia membenamkan diri pada kesibukan kerja di warung, dari subuh hingga tengah malam!
Tapi tidak lagi sekarang. Hidupnya kini damai di ladang.
***

DAMAI? Ya. Pohon kopi berbunga, sahang menjuntaikan buah-buahnya dari pohon inang, anak-anak karet berlomba berangkat remaja, durian dan rambutan merayakan musim buah. Sombiang tersenyum ketika pada pagi-pagi sekali istrinya minta dipetikkan mangga muda di samping pondok. Sombiang tahu, sesuatu sedang terjadi pada istrinya. Maka sigap ia menjuluk buah mangga muda, dibersihkan getahnya, dan tak lama ia sudah melihat Lanik mencacah buah yang kecut itu-sepagi ini!-dan memakannya dengan tenang memakai garam dapur. Ya, sesuatu pasti sedang terjadi, Sombiang bergumam sendiri. Dan ia semakin yakin ketika beberapa hari kemudian istrinya muntah-muntah di tepian, disaksikan Rabius yang lewat dan singgah mengasah parang.

“Apakah kalian akan segera punya anak?” tanya laki-laki yang sampai sekarang belum juga menikah itu. Wajahnya tampak aneh.

“Sepertinya begitu, Kawan!” jawab Sombiang sambil menuntun lengan istrinya.
“Kok bisa ya?” Rabius bergumam, kian terasa aneh.

Sombiang menjawab sekenanya:”Ya, bisa. Tiap pagi kami minum madu pahit!”
Lengkap sudah. Di ladang harapan, mereka bertanam, dan semua tumbuh subur dalam kasih malaikat Tuhan. Sombiang merangkul istrinya, dan Lanik pun menyadari ada yang diam-diam bergerak di rahimnya.

Namun, seiring dengan itu, ada pula yang diam-diam bergerak di luar cinta kasih mereka: gunjing itu, bisik itu, dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan itu! Tersiar kabar, entah dari mana berpangkal, bahwa Lanik hamil karena campur-tangan Datuk Bulian!

“Ia menyerahkan istrinya pada dukun tua itu!”

“Itulah alasan tepat baginya mengajak perempuan malang itu tinggal di ladang!”

“Sombiang? Hanya ladang sahangnya yang subur, tidak benih lelakinya. Hanya tangkai cangkulnya yang kuat, tidak tongkat moyangnya!”

“Ya, ia mandul, mengapa istrinya kini mengandung?”

“Konon ia impoten, setelah jatuh dari motor traill-nya. Adakah di dunia ini seorang impoten punya putra?”

“Ya, Tuhan, terkutuklah kami kalau membiarkan ini semua!” seorangtua bersorban melenguh, menatap langit.

“Jangan sampai kita dikutuk, Ustadz. Perintahkanlah kami sekarang juga ke ladang sana, akan kami selamatkan perempuan malang itu, dan kami bakar ladang si suami terkutuk itu!” orang-orang merangsek.

“Jangan,” sang Ustadz mengibaskan tangannya, sambil matanya tetap menatap langit seperti mencari-cari petunjuk.

“Ya, jangan biarkan kutuk itu turun, Ustadz!”
“Apakah Ustadz bisa mempertanggungjawabkan maksiat ini kelak di akhirat?” seseorang menantang.

Ustadz terkesiap, dan segera mengusaikan diri menatap langit, lalu dengan satu kibasan, bergemalah suaranya,”Berangkatlah!”

Maka obor-obor pun disulut. Cahaya senter melesat-lesat. Mengiringi kegeraman orang-orang batas kampung. Sementara di barisan paling belakang, dalam kerumunan kain sarung, Rabius, laki-laki yang lama mendambakan Lanik yang cantik-yang membuatnya tak kunjung menikah hingga sekarang-setengah gigil membayangkan apa yang akan terjadi. Lantaran rindu-dendam, ia berhasil menyebarkan bisik dan tuduhan itu dari tepian hingga ke dalam kampung, dan disambar orang kampung sebagai kebenaran. Bahkan ibu Lanik pun diam-diam jadi sekutu Rabius: dendam sang ibu pada menantu, sudah cukup jadi alasan untuk menyulut restu menggerakkan orang-orang itu.
Orang-orang dengan api di tangan, kini memasuki batas ladang.

/ Bangka-Yogya, 2006-2008

Catatan:
– Sahang (Bhs Bangka): tanaman lada
– Pelawan: sejenis pohon berbunga pahit di Pulau Bangka tempat biasanya lebah bersarang, karena itu madu yang dihasilkan agak pahit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *