LINGKUNGAN HIDUP DALAM SASTRA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Konon, lapisan ozon kini makin menipis. Tanpa lapisan itu, manusia segera akan tertimpa penyakit kanker kulit, katarak mata, dan berbagai penyakit lain. Panas bumi juga akan meningkat. Jika itu terjadi maka Singapura, akan tinggal sebagai negara yang pernah ada dan kini berada di dasar laut. Sebagian besar Jakarta tenggelam karena mencairnya es di kutub Utara dan Selatan. Jagat raya tinggal menunggu kehancurannya. Pemanfaatan, eksplorasi, dan eksploitasi alam secara tak terkendali mempercepat proses penghancuran planet bumi ini. Itulah beberapa masalah yang ditimbulkan akibat pencemaran alam. Dampak pemanasan global memang tidak dapat dibuat main-main.

Jika kini ramai orang mengangkat masalah lingkungan hidup, pencemaran laut dan udara, penggundulan hutan, dan punahnya makhluk hidup spesies tertentu akibat rusaknya ekosistem, para sastrawan di belahan dunia mana pun, justru sudah sejak dahulu mengingatkan pentingnya persahabatan dengan alam: kembali ke alam (back to nature). Persahabatan dengan alam dan kepedulian terhadap lingkungan, telah menempatkan alam dan lingkungan hidup sebagai sumber ilham dan kreasi imajinatif sastrawan.

Sekadar menyebut beberapa, periksalah puisi-puisi Manyoshu (sekitar tahun 759), Jepang, yang memperlakukan alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jepang pada masa itu. Bahkan, sebagian besar sastra Jepang sampai kini memperlihatkan betapa alam selalu ditempatkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keseharian mereka. Alam adalah sumber kehidupan, sumber ilham. Maka, perlakukanlah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia.

Tengoklah pula puisi-puisi Romantisisme (abad ke-16) yang sarat dengan nafas kerinduan pada alam. Eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam akibat Revolusi Industri, pengagungan atas rasionalisme, dan penciptaan senjata pembunuh massal, tidak hanya menjauhkan manusia dengan alam dan masyarakatnya, tetapi juga menjauhkan manusia dengan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan religiusitas. Sebagian besar puisi yang dihasilkan zaman Romantik memperlihatkan semangat kerinduan pada alam, kembali ke masa lalu, pemujaan pada nilai-nilai spiritualitas dan harapan besar mengusung kembali hubungan manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan.
***

Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, sikap sastrawan terhadap alam juga memperlihatkan hal yang sama. Cermatilah karya-karya Indonesia mulai dari khazanah sastra klasik sampai sekarang tidak sedikit yang mengekspresikan kreasi imajinatifnya sebagai bentuk pengagungan dan keakraban pada alam. Sebut saja puisi-puisi Muhammad Yamin. Ia merasa begitu kagum pada keindahan tanah kelahirannya, sehingga ia merasa perlu mengungkapkannya dalam puisinya yang berjudul ?Tanah Air?. Gambaran yang terasa penuh pesona dengan segala keindahannya, diperlihatkan Ramadhan KH dalam ?Priangan Si Jelita? yang mengangkat keindahan kota Priangan.

Jika kita periksa karya-karya penyair lainnya, tentulah kita akan mencacat sekian banyak puisi yang di dalamnya kita jumpai pengagungan para penyair kepada keindahan alam dan keingingan mereka untuk menjalin persahabatan dengan alam. Amir Hamzah, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana sampai kepara penyair generasi terkini, seperti Abdul Hadi WM dan Sapardi Djoko Damono?sekadar menyebut dua nama?, termasuk di antara penyair Indonesia yang karyanya memperlihatkan keakraban mereka pada alam. Laut, hutan, awan gunung, pohon, burung, ikan, adalah beberapa benda atau makhluk alam yang paling sering digunakan dalam ekspresi kreatifnya.

Pengungkapan alam dalam kesusastraan Indonesia umumnya lebih banyak terungkap jelas dalam bidang puisi daripada prosa ?novel atau cerpen. Sungguhpun demikian, tidak berarti para pengarang prosa itu luput memperhatikan masalah lingkungan. Hanya secara kuantitas jumlah cerpen atau novel yang sarat bernafaskan lingkungan lebih sedikit dibandingkan dengan puisi.

Dalam prosa Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana dalam Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940) cukup kuat menggambarkan latar alam (hutan). Kemudian, novel-novel Indonesia belakangan ini, juga tidak sedikit yang menampilkan latar alam secara meyakinkan. Sekadar menyebut beberapa, periksa misalnya, novel Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan yang mengangkat latar alam Kalimantan (Dayak), Aspar Paturisi dalam Arus (1976) dan Pulau (1976), juga berhasil mengangkat gambaran kehidupan laut Sulawesi. Perlu juga disebutkan karya Umar Kayam, Para Priyayi (1992) yang mengangkat keindahan hutan Madiun.

Di samping itu, novel-novel Indonesia yang sangat kuat menampilkan latar alam ?kehidupan dunia flora dan fauna?barangkali dapat terwakili oleh karya-karya Ahmad Tohari, mulai dari Kubah (1980), trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982,1985, 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Lingkar Tanah lingkar Air (1993) sampai ke novelnya Bekisar Merah (1993). Ternyata kekuatan latar alam itu tampak pula dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin (1989) dan Nyanyian Malam (1997).

Ahmad Tohari secara meyakinkan telah berhasilmenggambarkan pentingnya keselarasan hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam jagat raya ini. Tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagian besar hidup bersatu ?dan menyatu?dengan semua makhluk hidup dan alam di sekitarnya. Hampir semua tokoh yang ditampilkan Ahmad Tohari adalah gambaran sosok manusia yang selalu menenkankan pentingnya menjalin keharmonisan hubungan manusia dengan makhluk hidup dan alam raya ini. Tanpa usaha itu, manusia cenderung akan melakukan eksploitasi terhadap kekayaan alam, kesewenang-wenangan terhadap makhluk hidup lainnya.

Dalam konteks ini, konsistensi kepengarangan Ahmad Tohari yang secara sadar menekankan pentingnya manusia bersahabat dengan alam, menjalin persaudaraan dengan makhluk hidup lainnya sesungguhnya ?langsung atau tidak?telah menempatkan peran kepengarangannya sebagai ?pejuang lingkungan.? Jika saja para pengambil keputusan yang menangani urusan ?Kalpataru? mau menengok karya-karya Ahmad Tohari, niscaya ia sangat patut dipertimbangkan sebagai pemenang Kalpataru. Barangkali pula memang sudah saatnya hadiah Kalpataru diberikan kepada sastrawan yang karya-karyanya menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan alam ini.

Begitulah, sudah sejak lama sastrawan Indonesia begitu peduli kepada alam, dan kepedulian itu terlihat dari penggambaran latar alam beserta isinya (hutan, gunung, pepohonan, sungai, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk hidup di jagat raya ini).
***

Bagi sastrawan, kesadaran mengenai pentingnya lingkungan dalam kehidupan manusia, seperti telah disebutkan, sudah sejak lama mereka kumandangkan. Para penyair selalu mengingatkan pentingnya persaudaraan dengan dunia sekitar dan menekankan perlunya manusia menjalin hubungan yang harmonis dengan alam. Persahabatan dengan alam dan kepedulian penyair terhadap lingkungannya telah menempatkan alam dan lingkungan sebagai sumber ilham yang tiada pernah ada habisnya.

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas mengenai masalah itu, berikut akan disinggung beberapa puisi penyair Indonesia yang coba mengangkat persoalan itu. Mohammad Yamin adalah penyair yang coba mengangkat persoalan itu, sebagaimana tampak dalam puisinya ?Tanah Air? yang mengungkapkan kekagumannya pada keindahan.

Gambaran yang sama juga diperlihatkan Ramadhan KH dalam puisinya yang berjudul ?Priangan Si Jelita?. Bahkan jika kita periksa karya-karya penyair lainnya, tentulah kita akan mencatat sekian banyak puisi yang di dalamnya kita jumpai pengagungan para penyairnya pada keindahan alam dan keinginan mereka untuk menjalin persahabatan dengan alam. Amir Hamzah, Sanusi Pane atau Sutan Takdir Alisjahbana sampai ke para penyair generasi berikutnya, seperti Taufiq Ismail, Abdul Hadi, Sapardi Djoko Damono sampai penyair yang muncul belakangan, termasuk di antara penyair Indonesia yang karyanya memperlihatkan keakraban mereka pada alam.

Sekadar contoh betapa kuatnya kepedulian penyairnya terhadap lingkungan alam di sekitarnya, periksa misalnya puisi Taufiq Ismail, ?Adakah Suara Cemara?. Di sana citraan alam pegunungan–pohon, angin, mega, bukit, daun, ladang, jagung, berhasil menampilkan suasana alam yang menyejukkan, penuh ketenangan. Suara angin mendesing, bukit-bukit biru, gemerisik daunan, gugusan mega yang seperti hiasan kencana, dan ladang jagung, menguatkan suasana yang ingin diangkat penyair. Citraan pendengaran?mendesing, menderu, gemersik, menyeru?dimanfaatkan Taufiq Ismail secara amat bakt.

Sementara Sapardi Djoko Damono dalam puisinya, ?Tekukur? menampilkan suasana yang mengharukan. Burung yang tiada berdaya namun tetap mendambakan kebebasan, tiba-tiba saja disergap kekejaman pemburu. Segalanya lalu menjadi tragedi, karena darah burung itu mencemari bunga, rumput, dan kilauan sinar matahari. Lalu ada pula gadis kecil, tak berdosa, yang justru merasakan merdunya suara burung itu. Sebuah ironi yang ?mencerca? betapa sadisnya sang pemburu.

Dalam puisi ?La condition Humaine?, Abdul Hadi juga memakai ironi untuk menyatakan hal yang bertentangan dengan kenyataan yang seharusnya terjadi. Pohon mangga yang tak berbuah dan tak berdaun, dan tanah yang tak subur, nyatanya tak mengurangi sang ayah dan si aku liris meninggalkan makan buah-buahan. Artinya, bahwa hutan nenek moyang si aku liris, sesungguhnya hutan yang subr dan penuh buah-buahan.

Jelas bahwa para penyair itu amat akrab dengan lingkungan hidup. Mereka tidak hanya hendak menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam, tetapi juga menekankan persaudaraan dengan alam itu sendiri.

Begitulah sejak lama sebenarnya sastrawan kita begitu peduli pada alam. Kepedulian itu terlihat dari penggambaran keindahan latar alam beserta isinya. Jika saja kita periksa puisi-puisi Indonesia yang di dalamnya mengisyaratkan sikap penyairnya dalam menjalin persaudaraan dengan alam, maka kita akan menemukan ratusan, bahkan ribuan, puisi yang menggambarkan hal tersebut. Oleh karena itulah, peran sastrawan dalam mengkampanyekan pentingnya lingkungna hidup bagi umat manusia, tidak dapat diabaikan begitu saja. Sikap para penyair yang menempatkan alam sebagai ?sumber ilham?, kiranya dapat diteladani.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply