Memburu Sukses Tutur Tinular

Sunaryono Basuki Ks*
http://www.jawapos.com/

INGAT drama radio Tutur Tinular, Kaca Benggala dan Mahkota Mayangkara yang pernah merajai radio seluruh Indonesia dan kehadirannya ditunggu jutaan telinga pendengar? Sukses ketiga drama radio panjang itu disusul dengan sukses Pelangi di Atas Gelagahwangi (2007) yang disiarkan oleh 100 stasiun radio dan mendapat sambutan hangat pendengar. Atas sukses tersebut S.Tijab, pengarang sandiwara radio kelahiran Solo 1946 itu mencoba untuk menuliskan Pelangi di Atas Gelagahwangi (PAG) sebagai novel dengan harapan akan meraih sukses pula sebagaimana semua sandiwara radionya.

Novel unik dengan latar kejatuhan Majapahit dan kebangkitan kerajaan Islam di tanah Jawa ini diramu dengan kisah dari dunia persilatan, sebagaimana tiga drama radio sebelumnya yang mencampur kisah cinta, sejarah, dan silat.

Di dalam drama radio, pendengar dirangsang dengan kata-kata dan efek bunyi, serta musik untuk mengumbar imajinasi masing-masing. Ketika kisah yang sama dituangkan di dalam bentuk novel, maka pengarang tidak hanya meramu dialog saja, tetapi dia juga harus menyediakan narasi dan deskripsi untuk merangsang imajinasi pembacanya sesuai dengan niat penulis dan tuntutan cerita. Sewaktu menjadikan naskah menjadi sebuah sandiwara radio, pengarang akan dibantu pengarah acara (sutradara), kemahiran berolah vokal para pemain, kerabat kerja yang mendukung musik, efek bunyi, dan apa pun yang dituntut untuk memuaskan telinga pendengar. Sandiwara radio adalah karya audio sebuah tim yang solid yang dikomandoi oleh sutradara, pengarah teknik, dan sebagainya.

Dalam sebuah novel, pengarang tampil sendirian, atau paling banyak dibantu oleh ilustrator yang kadang diperlukan untuk memvisualisasi kata-kata. Namun ilustrasi di dalam novel biasanya hanya sebatas gambar sampul. Berbeda dengan komik. Komikus Teguh Santosa (almarhum) saat memvisualisasi sebuah kisah, akan dengan teliti menggambarkan semuanya. Kalau itu kisah silat, maka akan muncul sebuah gambar silat. Tak cukup hanya tulisan ”ciat ciaaat…”, tetapi benar-benar ditunjukkan teknik bela diri yang benar. Seorang pesilat bila membaca sebuah komik silat dapat dengan mudah menilai apakah komikusnya menguasai teknik silat yang digambarnya atau tidak. Maksudnya, dia tidak harus menjadi pesilat (sebagaimana Teguh Santosa), tetapi dia harus memahami teknik bela diri. Apalagi bila yang digambarkan adalah dua pendekar ulung.

PAG bukan satu-satunya novel dengan latar belakang sejarah yang diramu dengan kisah silat. Langit Kresna Hariadi sudah menulis Pentalogi Gajah Mada, lima jilid novel tebal tentang sepak terjang Gajah Mada, struktur Kerajaan Majapahit, agama, dan filsafat yang melatarinya. Bahkan, dia perlu menggunakan referensi buku Koentjaraningrat untuk melukiskan istana Majapahit.

PAG mengisahkan dua pedepokan pimpinan Resi Wiyasa dan Mpu Janardana, dua kakak beradik seperguruan, dengan lika-liku percintaan Mpu Janardana, Woro Kembangsore, Endang Puspitasari, dan Endang Kusumadewi. Endang Kusumadewi yang belum genap tujuh belas tahun usianya sudah menguasai ilmu Pangracut Sukma yang mematikan. Kemudian Endang Puspitasari mewarisi ilmu Rikma Sidi dari ibu kandungnya yang sudah almarhumah. Sedangkan adiknya, Endang Kusumadewi yang gagal pada ujian pertama, mewarisinya belakangan.

Janardana dan Endang Puspitasari akhirnya menikah, sedangkan Woro Kembangsore karena dosanya telah memanah kijang jelmaan gadis kesepian, mati terkena panah musuhnya dari Gelagahwangi.

Yang menarik dalam novel ini adalah penggambaran mengenai mulai berkembangnya agama Islam di Majapahit dari Ngampel Denta yang dipimpin Sunan Bonang dan Raden Patah. Tokoh Naradipa yang kemudian menjadi Mas Mansyur akhirnya menarik Janardana masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Abdul Rochim. Abdul Rochim terpaksa harus meninggalkan istri dan anaknya.

Pertemuan kembali Janardana dengan istrinya yang dianggap bukan istrinya lagi memang menyedihkan, namun dapat diselesaikan dengan mengislamkan Endang Puspitasari dan mengulangi pernikahan. Gelagahwangi yang menjadi permukiman baru kaum muslim terlibat bentrok dengan Majapahit, padahal Paden Patah adalah putra Prabu Brawijaya. Perang tak dapat dihindarkan dan Majapahit runtuh dengan mudah karena ditinggalkan rajanya menyingkir.

Perang antara para santri dari Gelagahwangi dan prajurit Majapahit terasa tak seimbang. Kalau dalam Pentalogi Gajah Mada Majapahit diceritakan punya pasukan khusus semacam Kopassus yang jago memanah dan juga pasukan khusus semacam Sandi Yudha yang bertugas sebagai telik sandi ulung, di dalam PAG tidak terlihat sama sekali sisa-sisa kebesaran pasukan yang dibangun Gajah Mada itu. Prajurit Majapahit terlalu mudah dikalahkan.

Walaupun cukup menarik sebagai kisah cinta, PAG tampak kedodoran dalam narasi tentang silat dan kandungan faktanya tentang Majapahit. Pembaca juga tak diberi tahu di mana lokasi Ngampel Denta dan Gelagahwangi saat ini. Gambaran mengenai istana Majapahit juga kabur.Kendati begitu, mungkin kita masih perlu membacanya untuk perbandingan. (*)

*) Novelis dan pecinta buku, tinggal di Singaraja.
—–
Judul Buku: Pelangi di Atas Gelagahwangi
Pengarang: S. Tijab
Penerbit : Qanita Bandung
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal: xiv+ 704 halaman

One Reply to “Memburu Sukses Tutur Tinular”

  1. hi

    ketika saya masih kecil saya menggunakan waktu saya untuk selalu mengikuti acara drama radio tersebut…begitu terkesan, sebuah kenangan yang tidak pernah saya lupakan sekarang saya sudah besar dan memiliki 2 anak saya bekerja di sebuah Radio nasional – ada yang menawarkan saya untuk terlibat dalam drama radio….. saya langsung teringat Tutur Tinular dan drama radio lainnya yang pernah saya dengar lewat RRI….SALAM dari DILI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *