MENGULITI MAKNA SAKRAL

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Sakral itu mendiami kerahasiaan diri. Menjelma kesakralan umum saat dikumandangkan dalam gaung atmosfir yang serupa. Ia terbentuk atas reruang kebisingan profan, dari padatnya suara-suara kedirian yang terpencil. Dan hadir di kala mempercayainya sebagai kekhusukan makna. Dirinya bukan di ambang logika murni, sebab timbangannya perasaan nurani. Tetapi melalui kesibukan pun sanggup tercipta.

Atau berangkat dari daya yang disakralkan sejenis kerahasian. Gairah diri ditetapkan, lantas menggiring nalar-perasaan orang lain ke dalam emosi pribadi yang mewujudkan kesakralan bersama. Awal dari ketidaklaziman semisal mempercayai pohon besar. Dan bonsai yang tak wajar di masukkan dalam bagian tersendiri, lalu terbentuklah kehususan di kemudian hari.

Kesakralan menuju keadaan semula; kesadaran masa kecil atau harapan mendatang, yang jelas bukan kekinian dalam barisan logika awam. Andai menempati nalar kekinian, tentu terdukung situasi hening; waktu-waktu permohonan doa. Kerja kesungguhan bathin-raga yang menggerakkan semangat ke arahnya, sebagai mata rantainya pada wilayah profan, atas hasil yang tampak di luar perkiraan.

Hari-hari dilogikakan waktunya serupa perubahan gemintang mengenai nasib manusia. Inilah sisi lain logika sakral, atau realitas nalar pun sanggup dimasukinya. Ruangannya dalam diri sendiri; rahasia memproses pribadi memaknai hayati dengan mendialogkan suara-suara profan dalam bingkai kesakralan manunggal.

Sakral bukan pembedah tetapi yang dibedah, ia tidak memiliki daya sendiri sebelum insan menempelkan identitasnya, oleh kerahasiaan merasai sesuatu. Kalau suatu kursi pun yang lainnya disebut sakral, sebab melihatnya dengan pandangan masa lampau; kesadaran itulah yang menimbullah angan (sejarah) sebelumnya. Angan itu pembentuk asosiasi kesadaran, dan di saat menyebutnya memiliki makna sakral. Atau oleh pantulan pribadi manusianya, kesakralan ada.

Manusia, apalagi yang profan; menyembunyikan apa yang disakralkan dalam perasaannya, terbukti lebih banyak diam daripada mengutarakan percakapan bathiniahnya. Atau ruang-ruang pemberhentian itu melingkupi suara rahasia. Al-hasil, kesakralan ada sebelum datangnya profan. Namun bukan terbentuk sedari sugesti, ia di atas tingkatan itu, tetapi kadang kala bernasib sama jika telah menemukan penalarannya. Sedangkan kesakralan murni ialah hasil dari kerahasiaan bathiniah.

Kita menempatkan sesuatu dalam bentuk sakral, lantas di kemudian masa tidak lagi. Ini bukan berarti perpindahan kedewasaan, namun nalar kita sudah tidak merasa asing. Hal itulah yang dilakukan manusia profan untuk menghapus nilai-nilai sakral, namun tidak mungkin mampu membuang semua kesakralan dalam dirinya. Sebab insan mempunyai yang terahasia. Dan penilaian keprofanan bisa menjelma kesakralan, pada sudut terpencil perasaan, saat memaknai kesadaran diri pada belahan hidup yang damai, di sanalah ia membentuk dunianya.

*) Pengelana asal Lamongan, JaTim. 17 Mei 2006. 09.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *