MERANGGEH MIMPI DAN MITOS MENUJU KENYATAAN

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Yang berjiwa muda memahami sejarah generasinya, serta mimpi-mimpi yang tersebar di benak jamannya. Ada suatu makolah yang mengatakan, bahwa mitos awalkali timbul dari dunia mimpi.

Kehidupan terbagi beberapa ruang bersegala dimensinya. Ada kesadaran, setengah kesadaran, ketidaksadaran, di bawah kesadaran juga di atas kesadaran. Kali ini mengungkap ruang bawah, tepatnya dimensi mimpi.

Orang menemukan mimpi dalam menyusuri tidurnya, berupa corak yang tidak tersangkakan atau tanpa perencanaan. Kehadirannya barangkali dari pantulan proses hayati. Atau atas kedalaman bathiniah yang menjelmakan spiritualitas mimpi oleh hikayat profan. Lantas terungkaplah mimpi kepada impian insan.

Mimpi mewarnai kesadaran pagi membangun harapan, terkadang sampai suntuk pada subyek yang dibebankan. Bagaimana menariknya menjadikan mawas diri? Jarak merentangkan permenungan sampai bermakna? Maka simbul dalam mimpi harus ditakar pada dunia realis. Lalu mendapati bayangnya bagi perbandingan, sehingga memperoleh keterangan. Atas pengembangan nilai-nilai yang disejajarkan sesimbulnya, bagi dialog nyambung dikala terbangun.

Agar menemukan jalur sepatutnya didedah. Apakah mimpi dan bagaimana impian. Mimpi yang hadir dengan serba kemendadakan, tidak diperkenankan kesadaran peribadi membangun dunianya. Kecuali memahami hakikat mimpi di dalam memasuki kerelaan tubuh menghilangkah kebutuhan lahiriah. Kali ini tidak mengajak membangun mimpi lewat melembutkan realitas sebelum tidur, tetapi memaknainya dengan mencari manfaat di saat terjaga.

Maka terlebih dulu mengakrabi mimpi pada persilangan obyek yang serupa; betapa kuat penilaian hasrat atau perasaan yang didapati mimpi. Dengan mengetahui seluk-beluk kehadirannya, kita memperoleh kesadaran impian bersama nilai-nilainya. Apakah sekadar lewat atau telah mewakili kasus yang terhadapi realitas. Maka penerimaan tersebut menambah dinayanya mimpi, mengurangi benang-benangnya sehingga tidak terjadi salah penafsiran.

Mimpi dan impian sejatinya sama, yakni belum berkembang seutuhnya dalam kesadaran. Demi mencapainya, pertimbangkan pengharapan baik dipersiapkan, sebelum reaksi luar bermunculan tanpa kendali. Pengertiannya, bagaimapun angan memiliki dampak mimpi serta impiaan. Namun sebaiknya tak sekadar lemparan kerikil, tapi sejauh mana mengenai sasaran. Dan ini lebih satu tingkat dari perkirakan, yaitu suatu bentuk kesadaran mengenai pengetahuan awal, dalam menjawab mimpi ataupun impian.

*) Pengelana asal Lamongan. 3 Juni 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *