Merayakan Cerpen, Menimbang Agus Vrisaba

Raudal Tanjung Banua
sinarharapan.co.id

Cerpen sedang mengalami “perayaan”. Dalam ranah penciptaan misalnya, kita mendapatkan barisan kreator yang sedang bergairah mengusung berbagai tema dan estetika. Dunia penerbitan pun tak kalah bergairah menyambutnya. Publikasi yang luas, ikut merebut perhatian dan atensi publik, sehingga jadilah cerpen sebagai genre yang sedang dirayakan bersama.

Jelas, itu tidak serta-merta perayaan monumental, sebaliknya berisiko karnaval dan mencemaskan. Maraknya cerpen dengan bahasa metaforis, tubuh dan tabu sebagai objek garapan, misalnya, bagaimanapun tampak paralel dengan ancaman keseragaman. Tentu, tema apa pun sah, sepanjang itu solilokui seseorang, namun jika kemudian terbukti ahistoris, hanya lantaran lagi ngetrend, bukankah kelewat latah sebenarnya? Di sinilah urgensi pentingnya karya sastra, khususnya cerpen yang berhitung dengan konvensi dan tema-tema sederhana, di tengah maraknya cerpen-cerpen yang mengatasnamakan eksperimentasi dan soal-soal besar.

Salah seorang cerpenis yang berhitung dengan konvensi dan kesederhanaan itu adalah Agus Vrisaba, cerpenis kelahiran Klaten, 15 Mei 1941. Membaca 17 cerpennya dalam buku Dari Bui Sampai Nun (Penerbit Buku Kompas, 2004), terasa sekali betapa kehidupannya yang bersahaja, terpantul di sana. Artinya, konvensi bukan hanya sebatas tata bahasa dan perangkat sastra yang mesti jelas aturannya, namun sekaligus menyangkut muatan karya yang jelas sumbernya. Tidak ahistoris, apalagi latah. Di sinilah kita penting menimbang karya-karya Agus Vrisaba.

Dalam bincang-bincang tak resmi dengan cerpenis Agus Noor (kebetulan punya nama depan sama), saya sepakat dengan sebuah pendapatnya bahwa di mata orang yang mengagungkan postmodernisme dan sebangsanya, karya Agus Virsaba boleh jadi dianggap tak istimewa. Ini sealur dengan pandangan beberapa orang, misalnya, atas cerpen Gerson Poyk, Hassan Yunus, BM Syamsuddin atau novel Suparto Brata yang konvensional. Padahal, lewat gaya sederhana itulah mereka menunjukkan kekhasan dan kedahsyatannya!

Karya Agus Vrisaba sendiri berangkat dari (pengalaman) dirinya beserta alam yang ia akrabi. Ini cocok dengan asumsi umum bahwa karya sastra merupakan pantulan obsesi pengarangnya, atau dalam konsepsi Budi Darma tak salah lagi inilah yang dimaksud solilokui! Sosok Agus Virsaba yang sederhana, perenung dan suka memancing, tercermin pada karya-karyanya, yang secara teknis pun memberi pengaruh cukup utuh: tak abai konvensi.

Wong Cilik
Meski Agus lahir dan besar di Klaten, proses kreatifnya lebih banyak berlangsung di Bali, tempat ia pernah tinggal 30 tahun lebih. Tak heran, kebanyakan ceritanya ber-setting Bali, seperti “Dayu Rahmi”, “Nyoman Tidak Mendapat Firasat”, “Komang Pirang”, “Tembakan”, “Tukar Tempat” dan “Nun”. Kepeduliannya terhadap kehidupan wong cilik yang sederhana dan bersahaja, namun selalu tersisih dan disisihkan sistem yang tidak adil, tergambar jelas dalam karyanya. Dan menjadi lebih jelas lagi karena gaya realis-konvensional yang dipilih Agus sekaligus pas dengan tema-tema masyarakat kecil (realisme sosial) sehingga gampang dicerna. Di tengah eforia cerpen-cerpen “eksprimental”, tentu saja karya yang berhitung dengan konvensi semacam ini sangat berarti.

Tema-tema sosial lainnya, tanpa terikat pada sebuah tempat, diangkat Agus dalam “Bui”, yang bercerita tentang kehidupan para narapidana di suatu penjara sebuah kota. Keterkungkungan manusia digambarkan lewat tokoh “aku”, dengan sangat subtil dan menyentuh, justru karena Agus mampu mendayagunakan ungkapan sederhana seperti ini: “Pintu kerangkeng ditutup sesudah aku di dalam. Sejenak aku termangu. Rasanya telah melangkah mundur begitu jauh, melewati batas-batas Cro-Magnon, Naenderthal dan bahkan lebih ke belakang dari batas Homo Erectus. Persis macam gorilla dalam kerangkeng di kebun binatang. (hal. 2).”

Dalam cerpen “Pak Pos” pergulatan batin terjadi di antara sesama masyarakat kecil sendiri. Diceritakan tentang seorang tukang pos keliling yang gemar membuka amplop surat-surat yang akan ia antar. Suatu kali, ada surat dari seorang anak di ibu kota, untuk ibunya di kampung. Si tukang pos, seperti biasa, membuka surat itu dan tak dinyana, ternyata di dalamnya terdapat sejumlah uang?untuk keperluan berobat sang ibu. Uang itu segera diambil si tukang pos, tapi dengan itu ia kemudian mengundurkan diri karena didera oleh rasa bersalah tak bersudah. Kejujuran, rasa bertanggung jawab, dan kecurangan khas wong cilik tergambarkan sebagai karikatur sosial yang lebih luas. Adukan rasa getir dan rasa bersahaja menohok kita semua.

Cerpen “Nun” juga menghadirkan kesahajaan hidup yang lain lagi, yakni kisah-kasih Nun dan Luh. Nun adalah seorang laki-laki buruh perusahaan pakaian jadi dan Luh, perempuan yang bekerja sebagai kuli angkut di terminal. Meski belum menikah secara resmi, kisah-kasih mereka sangatlah mendalam, dan dengan bahasa sederhana (tanpa beraneh-aneh) Agus berhasil menggambarkannya tak sebatas kata-kata, tapi juga menghadirkan aura dan rasa.

“Nun adalah sejenis ikan yang besar yang hanya ada di dalam dongeng, jawab Nun ketika petang tadi Luh menanyakan arti namanya itu. Ada sesuatu pada jawaban itu yang membuat dia merasa seperti dalam mimpi (?) Nun selalu berbuat sesuatu dengan diam-diam. Waktu Luh pulang dengan badan berlumpur, Nun yang mengguyurnya di perigi. Menggosok-gosok punggungnya agar lumpur tergelincir dari situ.” Kutipan ini sangatlah menyentuh, karena kata-kata sederhana mampu menembus dunia batin. Termasuk ketika Luh hamil, Nun sangat bertanggung jawab, bahkan Nun-lah yang membantu bersalin. Dan ternyata Nun tak lain seorang dokter yang hidup “menyamar”. Ini merupakan kejutan di akhir cerita. “Ya, aku dulu seorang dokter. Tapi sekarang aku buruh perusahaan pakaian jadi,” demikian pengakuan Nun (hal.144).

Dunia Ikan
Secara khusus, Agus yang hobi berat memancing ikan itu (mengingatkan pada hobi novelis Ahmad Tohari), juga melahirkan karya seputar “dunia ikan”. Ia menulis “Fordata” (dengan setting Pulau Wetar, NTT) “Ayah”, dan “Mancing” yang tidak hanya bercerita tentang aktivitas memancing secara harfiah, namun juga mengungkap makna dan perasaan simbolik di sebalik itu, misalnya bagaimana ia menghubungkannya dengan soal waktu.

“Kalau kau sedang merasakan lewatnya detik demi detik menjadi terlalu lamban karena tidak ada lagi yang harus kau lakukan, pergilah mancing. Kalau kau mancing memakai pelampung, gerakan pelampung di atas permukaan air akan membantu mempercepat lewatnya menit demi menit. Getaran arus air yang diantarkan ke tanganmu lewat tali pancing dan joran akan mengambil tugas memutar waktu.” (hal.43). Kepiawaian Agus Vrisaba membangun suasana yang harfiah dan simbolik, mengingatkan kita kepada kepiawaian Gerson Poyk, Hamsad Rangkuti dan Nyoman Rastha Sindhu yang notabene seangkatan dengannya.

Meski begitu, mungkin lantaran kelewat bersetia dengan konvensi (dan sesekali memang perlu juga mencoba kemungkinan lain, katakanlah eksperimentasi), tidak jarang Agus Vrisaba terjebak pada alur yang ia susun sendiri. Alur yang memerangkap karena terlalu didramatisasi, seperti dapat dilihat dalam cerpen “Nyoman Tidak Mendapat Firasat”. Diceritakan, Nyoman, seorang mahasiswa asal Bali, dalam perjalanan ke Yogya naik bis. Sepanjang perjalanan ia bersua berbagai kejadian aneh, seperti pertemuan mendadak dengan gadis kawan masa sekolah dulu, kapal penyeberangan yang oleng di Selat Bali, dan sopir yang melihat pemandangan gaib (orang yang di tepi jalan melambai tapi lantas menghilang begitu saja). Semua tanda-tanda firasat itu dibuat serba kebetulan dan dijejalkan sedemikian rupa, sehingga sangat kental suasana dramatisasinya. Apalagi ternyata, bis benar-benar kecelakaan di Prambanan dan menewaskan gadis sahabat Nyoman. Padahal, jika tidak terjadi kecelakaan (dengan sedikit berani merombak alur), tanda-tanda itu akan menjelma sebagai solilokui perjalanan yang tak kalah dingin, misteri dan, lagi-lagi, bersahaja!

Begitu pula cerpen “Nun”, yang sebenarnya sudah sangat menyentak dan mengharukan ketika ada kalimat, “Luh merasa celana dalamnya basah” (hal. 143). Cerita akan terkunci dengan interpretasi yang menggigit, mungkin soal keguguran kandungan yang membuat pembaca tercekam. Namun demi mengejar efek yang dianggap lebih mengejutkan, yakni, tentang siapa sebenarnya Nun?seorang dokter yang “menyamar?” cerita jalan terus dan malah berakhir happy ending. Yang terjadi hanya sebuah surpraise kecil (atas pengakuan Nun), namun menghilangkan ketercekaman yang lebih besar. Padahal kalau boleh memilih, ketercekaman jauh lebih penting untuk cerita realis semacam ini.

Sebagai penulis produktif era 70-an, Agus Vrisaba pastilah punya banyak karya yang berserak di mana-mana. Cerpennya yang dimuat Jurnal CAK, Paman Sam dan Tangis, misalnya, tidak diikutkan dalam kumpulan ini. Padahal cerpen ini tak kalah khas. Tapi yang jelas, buku ini sekaligus dapat membuka cakrawala kita terhadap keberadaan para pengarang di luar mainstream kesusasteraan. Sebab boleh dikata, Agus selama ini tidak “terdaftar” dalam gerbong kesusasteraan Tanah Air, bahkan untuk sebuah leksikon sederhana pun, sebagaimana dialami sastrawan lain yang menempuh jalannya sendiri, jauh dari hiruk-pikuk politik sastra. Karenanya, catatan biografis Agus Vrisaba oleh Warih Wisatsana dalam buku ini cukup bisa mengenalkan sosok pengarang yang wafat di Tawangmangu, 1992 itu.

*) Penulis adalah Redaktur Jurnal Cerpen Indonesia dan Koordinator Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *