Orang Asing

Sunlie Thomas Alexander
suaramerdeka.com

TENTU kau tak bakal mengharapkan kehilangan lelaki itu. Sekiranya kau tahu, setelah sekian lamanya setiap pagi kau selalu menunggunya turun dari bus yang berhenti di depan salon, pagi ini ternyata kau tak akan menemukan sosoknya yang senantiasa membuat jantungmu terpompa lebih kencang.

Dari balik kaca etalase salon tempat dia bekerja, Miranda menatap lurus ke jalan. Ia biarkan sinar matahari pagi awal April yang menembus gelap kaca, menghangatkan kulitnya yang segar sehabis disiram dingin air shower. Sabun mandinya yang beraroma mawar meruap wangi. Miranda menghela napas. Sinar matahari yang jatuh ke rambutnya yang masih basah menciptakan kemilau cahaya.

Tak lama lagi lelaki itu akan muncul, batinnya. Ada gelisah yang ia rasakan mendekap hatinya. Miranda melirik jam antik yang tergantung di dinding samping kiri. Mungkin lima menit lagi, gerutunya tak sabaran. Di mata Miranda, jarum jam itu seolah bergerak lebih lamban. Ia kembali melemparkan pandang ke jalan, di mana orang semakin banyak berlalu-lalang dan kendaraan mulai ramai melintas. Ia yakin, tidak lama lagi bus kota itu akan muncul dan berhenti di seberang jalan, tepat di muka salon untuk menurunkan penumpang. Lalu seperti biasa, ia akan mengawasi satu persatu penumpang yang turun hingga menemukan sosok yang dicarinya, lelaki itu, terselip di antara orang-orang yang bergegas.

Dan betapa debar dadanya semakin keras…

Selalu, setiap pukul delapan pagi, kadang lebih lima dan sepuluh menit, tentu ia telah hapal benar, bus kota itu akan datang dan menurunkan penumpang di seberang jalan di depan salon. Setiap kali itu pula, jantungnya akan berdegup lebih kencang. Sampai ia melihat lelaki itu turun, berjalan cepat dengan langkah-langkah lebar ke arah pusat pertokoan. Ia akan terus memperhatikan lelaki itu hingga lenyap di pertigaan jalan yang cukup sibuk, hingga bayangan tubuh lelaki itu yang jangkung dengan tungkai-tungkai kakinya yang panjang lenyap sama sekali.

Ia tidak tahu dari mana lelaki itu datang dan apa yang sedang ia kerjakan di kota kecil ini. Ia tak mungkin meninggalkan salon untuk mengikuti lelaki itu, meski kadang ia berpikir konyol untuk menyapa lelaki itu, atau berlari menyeberang jalan menemui lelaki itu. Namun, tentu hal tersebut tak ia lakukan. Mungkin ia harus cukup berpuas diri dengan melihat lelaki itu dari balik gelap kaca etalase salon setiap pagi.

Miranda masih ingat saat kali pertama melihat lelaki itu empat bulan yang silam. Ia sedang membersihkan etalase salon dengan cairan pembersih kaca ketika bus kota itu muncul dan menurunkan penumpang yang lumayan padat. Entahlah, tiba-tiba saja matanya terpaku pada sosok lelaki yang terselip di antara penumpang yang berebutan turun itu. Ada sesuatu pada lelaki itu, yang sampai kini ia tidak benar-benar tahu apa, yang membuatnya tak kuasa memalingkan pandang dari sosok lelaki itu. Sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia belum pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Ia hampir mengenal semua penghuni kota kecil ini, tentu saja, karena ia lahir dan besar di kota ini.

Sejak itu, Miranda merasa paginya mulai berbeda. Ia jadi memiliki sebuah rutinitas baru, yaitu menunggu bus kota itu berhenti di seberang jalan di muka salon, hingga lelaki yang ia nanti turun di antara penumpang yang berdesakan kemudian berlalu dengan langkah-langkah yang bergegas.

Tapi tidak setiap pagi ia dapat berdiri berlama-lama di depan kaca etalase, memandang ke jalan sambil pura-pura membersihkan kaca menunggu bis kota itu muncul. Seringkali para tamu datang tidak tepat pada waktunya, terlampau pagi. Dan itu sungguh menjengkelkan Miranda. Atau terkadang, ia ditegur Mbak Metty, bila ternyata pemilik salon tempatnya bekerja tersebut datang lebih awal. Kalau sudah begitu, ia pun terpaksa menurut sambil berusaha menyembunyikan kekecewaan.
***

MIRANDA masih terus menatap ke jalan. Jarum jam sudah bergeser dari jam delapan lewat sepuluh menit, tetapi bus kota itu belum juga datang. Ia berusaha menikmati degup jantungnya, menikmati setiap detak yang tak beraturan. Ah, bukankah setiap pagi ia persis berbuat hal yang sama, sambil membayangkan lelaki jangkung itu hingga kemunculan sosoknya yang memompa lebih keras degup jantung? Lelaki tak bernama yang tanpa sadar telah sekian lama menyita benaknya. O, bahkan tak secuil pun pengetahuannya tentang lelaki itu!

Miranda merasa malu sendiri. Sebenarnya apa pedulinya dengan lelaki itu? Kenal pun tidak. Lelaki itu cuma seorang asing yang setiap pagi turun dari bis kota yang berhenti di muka salon, melintas begitu saja tak lebih dari satu menit, sama seperti sekian banyak orang lain yang berlalu-lalang di muka salon. Bahkan terlalu bergegas. Toh, lelaki itu tak pernah mengetahui akan keberadaan dirinya.

Tapi Miranda suka membayangkan seandainya saja lelaki itu mengetahui kehadirannya yang setiap pagi mengintip dari balik gelap kaca etalase, seandainya saja lelaki itu mengetahui dirinya yang setiap pagi menunggu dengan debar keras di dada. Namun bukankah ia tak terlihat dari luar sana?

Sering ia berharap, suatu kali lelaki itu akan mampir ke salon. Sekadar creambath atau gunting rambut, bisa juga mencukur kumis. Atau blow? Hahaha. Ia membayangkan rambut ikal lelaki itu dicat pirang. Sama sekali tidak bagus.

Miranda tersenyum kecut. Matahari sudah semakin tinggi. Jalanan semakin sibuk. Bis-bis datang dan pergi, ada yang melintas seperti pesawat **). Tapi bus yang ditunggunya belum juga muncul. Bus berwarna biru muda dengan lukisan airbrush berupa pemandangan pengunungan. Bus yang jelek sebenarnya.

Ah, hari ini kelewat lama, pikirnya mulai tidak tenteram dengan praduga buruk yang menyelinap tiba-tiba. Biasanya bus itu sudah menurunkan penumpang, dan lelaki itu tentunya telah muncul untuk berlalu dengan langkah-langkahnya yang lebar. Bayangan-bayangan tidak mengenakan semakin liar berseliweran dalam benaknya. Mungkin saja bus itu mogok, atau jalanan macet. Barangkali jembatan putus, atau yang lebih buruk bus itu mengalami kecelakaan… Buru-buru Miranda mengusir semua bayangan mengerikan dari pikirannya. Kecemasan kini sepenuhnya menjajah benak dan hatinya.

Ia coba melawan kecemasan itu dengan kesibukan menggosok kaca etalase dengan kain lap, meskipun kaca itu telah bersih berkilau. Tapi sepertinya usaha itu sia-sia. Ia mulai menggosok kaca sekeras-kerasnya. Seorang gadis cilik yang mengintip ke dalam salon dengan menempelkan wajah ke etalase diusirnya dengan pelototan mata galak.

Miranda meringis. Ia merasa keadaan dirinya begitu menyedihkan. Kalau saja ada seseorang yang tahu apa yang sedang terjadi. Betapa memalukan! Ah, sebetulnya apa yang telah dialaminya saat ini? Kenapa ia mesti melakukan semua kekonyolan ini. Seperti seorang gadis kurang kerjaan. Atau kurang waras? Atau sebutan apa lagi yang cocok untuk seorang gadis muda yang setiap pagi menunggu seorang lelaki asing turun dari bus dengan dada berdebar kencang? Ia kembali melirik jam dinding. Waktu telah bergeser dari yang diharapkan. Miranda seperti tersentak.

Bus itu tidak datang. Ia menggigit bibirnya. Ada kesenyapan di antara detak cepat jantungnya.

Tapi tunggu dulu, baru jam delapan lewat dua puluh. Toh, pasti kadangkala bus terlambat agak lama. Ia kembali memandang ke jalan sambil berusaha memelihara harapan yang tersisa. Ada perasaan sedikit lega karena salon masih saja sepi, belum ada satu pun pengunjung yang mampir. Ia merasa kian tak mengerti dirinya sendiri. Seharusnya ia mengharapkan pengunjung yang banyak pada musim buah ***) ini, musim yang memungkinkan lebih banyak orang yang pergi kencan atau menikah. Adakah seorang karyawati salon mengharapkan salonnya sepi? Barangkali cuma ia sendiri. Dengan alasan menunggu sebuah bus tiba membawa seorang lelaki asing. Sungguh kelewat konyol!

Kau jatuh cinta! Ada yang berbusik dalam hatinya. Ia tersedak, batuk-batuk. Cepat-cepat ia ke dapur kecil di belakang salon, meraih gelas di meja dan menuangkan air mineral dari dispencer lalu minum terburu-buru dengan beberapa kali teguk, dan kembali ke depan. Jatuh cinta? Jangan mengada-ada! Miranda merutuk. Ia ingin tertawa, tapi tak ada suara yang keluar. Bibirnya yang terkuak lebih mirip menyeringai daripada tersenyum. Ia menyangkal habus-habusan busikan halus itu. Bagaimana ia bisa jatuh cinta pada seorang asing yang namanya pun ia tidak tahu?

Tapi apa lagi yang lebih cocok untuk menggambarkan keadaanmu saat ini, Miranda?

Miranda tidak tahu. Ia terdiam. Ingin menyangkal lagi bisikan itu, tapi bingung. Aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, batinnya kemudian. Tak mudah bagi seorang lelaki masuk ke dalam hatiku, apalagi seorang asing yang tidak saling mengenal sama sekali. Bahkan aku tidak pernah pacaran waktu SMA sehingga teman-teman mengejekku puteri salju, pikirnya kian gelisah. “Hati Miranda terbuat dari batu es! Perlu perjuangan ekstra untuk mencairkan hatinya! Hahaha…,” seloroh mereka begitu menjengkelkan waktu itu.

Tapi sekarang kau jatuh cinta! Bisik suara itu kembali.

Kaca etalase itu memaparkan semua pemandangan di jalan. Tapi seolah dalam adegan slow motion. Segala yang bergegas kini seakan menggantung. Bagai merangkak. Miranda menggerutu tertahan. Ia tahu, ia masih ingin menunggu, dengan semakin tak yakin. Tapi tiba-tiba saja ia merasa seolah-olah melihat sosok lelaki itu ada di mana-mana, berseliweran di sepanjang jalan yang ramai. Miranda terbelalak. Mulutnya terbuka-mengatup dengan cepat, ingin berteriak tapi lagi-lagi tak ada suara yang keluar. Ia hanya mampu ternganga sebelum segalanya kembali normal, serupa kembali ke senyap. Senyap hatinya.

Percayalah, kau telah jatuh cinta. Bagaimana kau hendak menyangkalnya lagi, bila setiap waktumu, kalau kau mau mengakui, hanya tersita oleh bayangan lelaki itu. Bukankah ia begitu kerap hadir, nyaris setiap saat dan di segala tempat. Hingga menjelma dalam film-film dan acara tivi yang kau tonton atau foto-foto dalam majalah yang sedang kau baca. Tentu, hingga ke dalam tidurmu.

Miranda masih melemparkan pandang ke jalan. Setengah termangu.

Dan ia terkejut tatkala seseorang mendorong pintu salon dan memanggil namanya. Gugup ia menoleh dan memaksakan sebaris senyum ketika menemukan Tante Endah, langganannya telah berdiri di hadapannya di dalam salon.

“Pagi-pagi kok melamun, Mir?” tukas perempuan tambun itu tersenyum sambil menghapus keringat yang berlelehan di wajah dan lehernya berlemak dengan sapu tangan. Tapi Miranda tak sempat lagi menjawab. Telinganya keburu mendengar suara klakson itu. Klakson yang amat dikenalnya, amat dirindukannya. Bergegas ia membuang pandang ke luar etalase. Dan di kejauhan, di tikungan jalan, ia melihat bus itu perlahan muncul, seolah dari balik kabut. Hatinya bersorak kegirangan.

Ah, sekiranya saja kau tahu kesenyapan bakal kian menjajah hatimu, Miranda. Kalau saja kau tahu pagi ini dia tak ada dalam bus biru itu, dan mungkin kau tak akan pernah melihatnya lagi.

Sungailiat-Yogyakarta, Maret-Juni 2006

Catatan:
*) Terilhami oleh lagu lama The Stangerman Trims buat Ira Esmiralda yang menyanyikannya untukku.
**) Ingatan pada cerpen Raudal Tanjung Banua, ?Bus itu Seperti Pesawat?.
***) Ingatan pada cerpen-cerpen Yetti AKA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *