Problematik Sastra Buruh

S Yoga
suarakarya-online.com

Pada tanggal 30 April dan 1 Mei lalu — dalam rangka memperingati Hari Buruh — telah diadakan Festival Sastra Buruh di Blitar. Berkait dengan itu penggiat sastra dan budaya Bagus Putu Parto sangat sibuk. Sebagai pembicara, ditampilkan Beni Setia, Bonari Nabonenar dan Kuswinarto. Beberapa pengarang buruh (migran) yang hadir di antaranya Saiful Bakri (Mojokerto), Arsusi, Endang Pratiwi dan Etik Juwita (Blitar), Lik Kismawati (Sidoarjo), Denok Rokhmatika dan Rini Widyawati (Malang), Continue reading “Problematik Sastra Buruh”

Sastra Perempuan Tempo Dulu

Nova Christina
http://kompas-cetak/

Sastra Indonesia karya para perempuan penulis pada periode-periode sebelum 1990, setidaknya dapat dipilah menjadi tiga periodisasi. Pertama adalah masa ketika konsep Indonesia sebagai bangsa mulai matang dan mendekati masa kelahiran (1930-1950-an). Periode ini ditandai dengan kemunculan roman karya Soewarsih Djojopoespito, Buiten Het Gareel, pada tahun 1940. Continue reading “Sastra Perempuan Tempo Dulu”

Sastrawan masih Trauma Terjun ke Politik?

I Nyoman Suaka
balipost.co.id

Menjelang Pemilu 2004, hampir tidak terdengar ada sastrawan yang masuk menjadi calon legislatif (caleg) sebuah partai. Berbeda dengan seniman lain seperti penyanyi, aktor, bintang film dan sinetron. Para selebritis itu ramai-ramai dilamar oleh pengurus partai karena diyakini sebagai mesin pengumpul suara. Bahkan ditempatkan sebagai caleg nomor kecil alias caleg jadi. Apakah sastrawan tidak berminat terjun ke panggung politik? Continue reading “Sastrawan masih Trauma Terjun ke Politik?”

Bahasa ยป