Sastra Sufi dan Mainstream Politik

Judul Buku : Oposisi Sastra Sufi
Penulis : Aprinus Salam
Penerbit : LKiS, Jogjakarta
Cetakan : 1, Juni 2004
Tebal : xii+205 halaman
Peresensi : Marluwi
http://arsip.pontianakpost.com/

PUNCAK sufisme adalah tercapainya ‘ekstase’ religius bagi hamba di hadapan Ilahi. ‘Ekstase’ tersebut dalam bentuk kesalehan yang sungguh-sungguh. Dalam agama, pencapaian ‘ekstase’ menuju Ilahi melalui jalan sufis merupakan jalan yang sah. Pencapaian absolut dunia sufis, seperti yang “dibentangkan” Aprinus Salam dari ujarannya Sayyid Hossein Nasr, adalah: “…ia menjadi sumber batin kehidupan dan menjadi pusat yang mengatur seluruh organisme keagamaan Islam” (hlm. 28).

Kajian Aprinus Salam dalam buku Oposisi Sastra Sufi (2004) menekankan sufis dalam spektrum-singgungan politik, khususnya yang terjadi dalam pergulatan politik di Tanah Air. Dengan memposisikan gerakan sufis sebagai lokomotif dan kekuatan moral dalam upaya melawan politik pada konteks saat itu (Orde Baru) yang hegemonis dalam ruang sosial umat-kemanusiaan.

Di sini sufisme ‘berpihak’ pada kekuatan medium teks sebagai bahasa penyampainya, misalnya melalui syair-syair puisi sufis yang di dalamnya memuat (1) bahasa ketuhanan dan (2) bahasa sosio-politik. Lebih jelasnya lihat buku ini yang banyak menguraikan keduanya tersebut.

Pada konteks lain juga diuraikan rentetan historis terjadi dan munculnya gerakan kaum sufis dengan medium teks yang berpijak pada kekuatan moral-religius. Dalam hal ini Kota Yogyakarta, sebagaimana menjadi titik sentral perhatian peneliti (Aprinus Salam) di satu sisi, dan isi syair-syair sufisme pada sisi yang lain. Penyair-penyair sufis yang mengambil posisi embrionya di Kota Gudeg ini. Sebutlah, Emha Ainun Nadjib, Herfanda dan masih banyak sejumlah pelantun syair sufis lainnya. Kendati kebanyakan dari mereka secara biologis tidak dilahirkan di Kota Gudeg itu.

Yogyakarta yang diyakini sebagai pagar dan pusat kebudayaan utama di Indonesia (hlm. Pengantar Redaksi). Sebuah laboratorium geografis yang memberikan kemungkinan-kemungkinan terhadap siapa pun yang ingin bermetamorfosis secara intelektual termasuk pula gerakan dunia sufis. Tradisi intelektual di kota ini (Yogya) telah mengakar dengan kuat keberadaannya hingga saat ini.

Munculnya gerakan sastra sufi di kota ini tidak dapat dilepaskan dan terpisah dengan diskursus intelektual yang menguat tersebut. Saling mengait, terikat dan berhubungan satu sama lain secara langsung maupun tidak. Artinya sastra sufi tidak berdiri sendiri melainkan ada ranah keilmuan lain yang ikut dan saling mempengaruhi.

Buku ini secara garis besar tidak saja menonjolkan isi sastra sufi, pergulatan dan persinggungannya dengan politik sekaligus demokrasi di Tanah Air menjadi titik singgung yang saling mempengaruhi.**

*) Peresensi alumnus PPs (S-2) Universitas Islam Malang (UNISMA), peminat buku tinggal di Pontianak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *