Perbandingan Cerpen “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” dan “Cinta Ibu”

Dr Junaidi SS MHum
http://www.riaupos.com/

Ketika saya membaca cerpen yang terhimpun dalam buku Pipa Air Mata Cerpen Pilihan Riau Pos 2008, terbitan Yayasan Sagang tahun 2008, saya menemukan dua cerpen yang menarik untuk dibandingkan. Cerpen pertama berjudul “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” karya Fakhrunnas MA Jabbar dan yang kedua berjudul “Cinta Ibu” karya Hary B Kori’un. Cerpen lain yang terdapat dalam buku ini sebenarnya sangat menarik juga untuk dibincangkan. Namun demikian, tulisan singkat ini hanya akan membahas kedua cerpen tersebut. Common ground atau azas utama yang dijadikan dasar untuk membandingkan kedua cerpen ini adalah kedua cerpen menyampaikan gagasan kemunduran nilai-nilai kemanusian yang menyebabkan bencana dan duka mendalam bagi manusia itu sendiri. Berikut disampaikan beberapa gagasan yang dapat dibandingkan setelah membaca kedua cerpen tersebut.

Pertama, keserakahan manusia. Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” sifat serakah manusia terlihat dari aktivitas penambangan pasir laut dan darat secara besar-besaran oleh kaum pendatang. Eksploitasi alam secara berlebihan telah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan dan pada akhirnya keserakahan itu menyebabkan bencana alam yang sangat dahsyat seperti tsunami. Masyarakat dan pulau itu benar-benar luluh-lantak oleh kekuatan alam yang tidak lagi bersahabat dengan manusia. Alam telah murka kepada manusia karena manusia tidak lagi menjaga keseimbangan alam. Tindakan serakah juga ditunjukkan oleh aktivitas penjualan pasir ke Singapura dan Johor. Secara metaforik, penjualan pasir itu bermakna penggadaian harga diri orang Melayu Riau. Pasir itu sama dengan tanah. Tanah itu adalah warisan yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya sehingga kita menyebut kampung kita itu dengan tanah air. Dengan demikian, menjual pasir atau tanah sama seperti menjual tanah air sendiri kepada orang lain. Bila tanah air telah dijual, tiada lagi harga diri, tiada lagi identitas, dan tiada lagi eksistensi. Tersebab penggadaian tanah air itu pula lah pulau itu mendapat murka dari alam. Kekuatan moral dan agama yang disampaikan oleh tokoh Sayed Sobri tiada kuasa untuk merubah perbuatan serakah yang dilakukan oleh para pendatang dan penduduk tempatan. Kekuatan moral dan agama telah dikalahkan oleh keserakahan umat manusia.

Dalam “Cinta Ibu” keserakahan manusia terlihat dari aktivitas pengalihfungsian lahan penduduk dan pemakaman umum menjadi ladang sawit. Penduduk sebenarnya tidak setuju dengan program itu. Tetapi para pengusaha kaya dengan dibantu oleh aparat pemerintah memaksa penduduk untuk melepaskan tanah mereka. Para pengusaha tidak peduli terhadap penolakan yang dilakukan oleh penduduk. Secara metaforik, perebutan tanah penduduk Tongar bermakna tiada lagi warisan yang dimiliki oleh penduduk sebab tanah kelahiran mereka telah dirampas oleh nafsu serakah para pengusaha kaya. Tindakan serakah yang dilakukan oleh para pengusaha kaya dan aparat pemerintah telah menyebabkan penderitaan yang sangat mendalam bagi tokoh “Cah Bagus” alias “Aku” sebab kuburan ibunya telah diratakan oleh para pengusaha kaya untuk dijadikan ladang sawit.

Kedua, eksploitasi alam. Dalam kedua cerita terdapat tindakan ekploitasi yang dilakukan oleh umat manusia. Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” ekploitasi dilakukan oleh kaum pendatang dengan cara mengambil pasir laut dan darat yang terdapat di pulau. Pengambilan pasir itu dilakukan secara besar-besaran dengan mengunakan alat berat. Bila dilakukan secara tradisional oleh masyarakat tempatan tentu saja tidak akan merusak alam. Manusia boleh saja mengambil manfaat dari alam. Tetapi manusia harus memperhatikan aspek keseimbanan dalam mengolah alam. Alam itu perlu dijaga. Bila alam tidak dijaga, maka ia dapat mendatangkan bencana seperti bencana yang menimpa pulau itu. Manusia mesti bersahabat denga alam, jika tidak alam akan menunjukkan kemurkaannya kepada manusia dengan mendatangkan bencana.

Dalam cerita ini masyarakat tempatan hanya menjadi korban akibat eksploitasi alam oleh kaum pendatang. Kaum tempatan memang lebih cenderung peduli terhadap tanah airnya sendiri sebab itu adalah tanah kelahiran mereka yang diwariskan secara sah oleh leluhur mereka. Sedangkan para pendatang cenderung untuk mengabaikan alam sebab mereka merasa tanah itu bukan milik mereka. Mereka hanya tinggal sementara di situ untuk mengumpulkan kekayaan. Setelah mereka kaya dan alam itu telah hancur mereka pun akan meninggal tempat dan kembali ke kampung mereka sendiri. Kerusakannya akan dirasakan oleh masyarakat tempatan.

Dalam “Cinta Ibu” ekploitasi alam tergambar dari tindakan membabat lahan masyarakat tempatan dan digantikan dengan kebun sawit. Perusahaan besar secara paksa merampas tanah masyarakat untuk dijadikan perkebunan sawit. Bahkan pemakaman umum pun mereka ratakan untuk dijadikan perkebunan sawit. Pembabatan lahan penduduk secara paksa menunjukkan bahwa para pengusaha kaya tidak mempertimbangkan kondisi alam yang telah akrab dengan penduduk tempatan. Perbuatan pengingkaran terhadap alam lebih ditunjukkan oleh pengalihfungsian tanah pemakaman umum menjadi ladang sawit. Arwah orang yang telah meninggal juga mempunyai hak untuk tidur dengan tenang bersama alam. Tetapi dalam cerita ini perbuatan pengusaha kaya telah mengusir arwah penduduk tempatan termasuk arwah ibu Cah Bagus dari alam ini. Para pengusaha kaya tampaknya mempunyai pandangan bahwa orang yang telah meninggal tidak mempunyai hak untuk tinggal di alam ini.

Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau”, eksploitasi alam telah menyebabkan bencana alam yang sangat dahsyat sehingga telah menghancurkan pulau dan membinasahkan masyarakat yang tinggal dipulau itu. Bencana itu diibaratkan kiamat kecil yang melanda kehidupan manusia. Kiamat kecil itu memberikan makna bahwa ekploitasi dalam telah menyebabkan petaka bagi umat manusia itu sendiri. Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan adalah manusia harus menjaga keseimbangan dengan alam.

Meskipun dalam “Cinta Ibu” akibat ekploitasi alam tidak ditampilkan dalam bentuk bencana alam, eksploitasi alam telah menyebabkan kemarahan yang sangat mendalam bagi tokoh Cah Bagus. Cah Bagus sangat dan sedih ketika ia menyaksikan tanah kuburan ibunya telah hilang digantikan dengan ladang sawit. Cah Bagus sangat terpukul oleh tindakan pengusaha kaya. Sebenarnya, bagi Cah Bagus sendiri dan masyarakat di Tongar perampasan tanah mereka juga merupakan kiamat sebab mereka tidak mempunyai tanah lagi di negeri mereka sendiri. Perasaan Cah Bagus sama seperti perasaan yang dirasakan tokoh Sayed Sobri ketika bencana alam melanda pulau itu.

Makna cinta ibu dalam cerpen kedua ini tidak hanya merujuk pada cinta seorang anak kepada ibu kandungnya sendiri tetapi secara metaforik dapat diartikan sebagai cinta seorang anak manusia terhadap tanah airnya sendiri. Untuk menjelaskan tanah air kita sering menggunakan kata “ibu pertiwi”. Dengan kata lain, dalam cerita ini cinta ibu dapat bermakna cinta kepada seorang ibu dan dapat juga bermakna cinta terhadap ibu pertiwi atau kampung halaman sebagai alam diberikan Tuhan untuk tempat manusia hidup. Setiap orang mempunyai fitrah untuk mencintai tanah airnya sendiri sehingga bila ada orang yang menzalimi alam atau tanah airnya maka ia akan marah. Persoalan itulah sebenarnya dihadapi tokoh Cah Bagus dalam cerita ini.

Ketiga, kepentingan ekonomi. Faktor kepentingan ekonomi menjadi dasar terjadinya kezaliman manusia dalam kedua cerpen. Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” eksploitasi dan penjualan pasir ke negeri tetangga tentu saja bermotifkan kepentingan ekonomi. Pendirian karaoke, diskotek, tempat hiburan dan perjudian semuanya dilakukan untuk kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi telah mengalahkan sistem moral dan agama yang selalu diperjuangkan oleh tokoh Sayed Sobri terdapat dipulau itu. Orang telah melupakan aspek moral dan agama untuk mendapatkan kekayaan. Uang jauh lebih penting dan realistis bagi masyarakat di pulau itu dibandingkan moral dan agama.

Dalam “Cinta Ibu”, pengalihfungsian lahan pemakaman umum menjadi ladang sawit juga dilakukan atas dasar kepentingan ekonomi. Keberadaan kuburan dianggap tidak penting lagi sebab tidak mendatangkan nilai ekonomi. Tetapi bila ladang sawit yang dibangun akan mendatang uang yang banyak. Meskipun tindakan yang dilakukan dalam kedua cerita itu dapat memberikan keuntungan ekonomi, keuntungan itu bukan untuk masyarakat tempatan tetapi hanya untuk kaum pendatang. Kaum pendatanglah mendapatkan keuntungan ekonomi. Sebaliknya kaum tempatan hanya menjadi korban dari kepentingan kaum pendatang.

Keempat, dehumanisasi. Dalam kedua cerpen ini terlihat adanya fenomena dehumanisasi atau penghilangan harkat dan martabat manusia. Manusia digambarkan tidak lagi mempunyai sifat-sifat kemanusian. Bila manusia tidak lagi mempunyai sifat kemanusian, apakah mereka masih bisa disebut manusia? Manusia memakan manusia. Bahkan manusia telah berubah seperti dogs eat dogs. Atau dalam bahasa orang Kampar disebut “ikan bocek makan ikan bocek”. Degradasi moral benar-benar telah terjadi sehingga manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki sifat-sifat kemanusian dan manusia telah tercerabut dari hakekat kebudayaannya.

Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” terlihat adanya perbuatan amoral sehingga manusia berbuat dengan semaunya tanpa mempertimbangkan aspek moral dan agama. Perkembangan dan persaingan ekonomi telah menghancurkan sistem sosial dalam masyarakat dipulau itu. Ajaran moral yang dikembangkan Syed Sobri telah terkalahkan oleh gaya kehidupan modern yang mengedepan nilai uang dalam setiap tindakan manusia. Dalam Cinta Ibu dehumanisasi terlihat dari tindakan perampasan pemakaman umum untuk dijadikan kebun sawit. Bahkan kuburan yang terdapat ditanah itu tidak dipindahkan. Meskipun itu hanya kuburan, itu mesti dihormati sebab di situlah leluhur, orang tua, keluarga dan masyarakat lainnya di kubur.

Kelima, makna cinta. Meskipun kedua cerita yang bincangkan dalam tulisan ini tidak termasuk dalam kategori cerita cinta kasih sepasang kekasih, kedua cerita ini menyampaikan makna cinta yang perlu kita renungkan. Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau”, makna cinta disampaikan dalam bentuk ketidaksetian istri kepada suami. Pendek kata, cinta dapat dibeli dengan uang. Ini terlihat dari tindakan yang dilakukan Ah Cun yang merayu istri keempat Sayed Sobri. Ah Cun berhasil memperdaya istri Sayed Sobri untuk meninggalkan Sayed Sobri dan membawanya lari ke negeri jiran. Padahal Sayed Sobri adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat. Tetapi mengapa istrinya bisa berpaling dari dirinya? Ini menunjukkan bahwa cinta itu ternyata bisa dibeli dengan uang. Kesetian dan pengabdian istri kepada suami dapat sirna oleh kekuatan uang.

Berbeda dengan cerita pertama, “Cinta Ibu” benar-benar menampilkan kesetian seorang istri kepada suaminya. Meskipun suaminya tidak pulang-pulang setelah sekian lama pergi, sang istri (Ibu Cah Bagus) tetap setia untuk menunggu sang suami. Sang istri tidak mau kawin lagi dengan lelaki lain karena ia sangat yakin dengan cintanya kepada sang suami. Bahkan sampai akhir hayatnya pun sang istri tetap setia menunggu sang suami meskipun suaminya tak pernah datang.

Kedua cerpen di atas telah memotret sepengal kondisi kehidupan yang dialami manusia di dunia ini. Manusia digambarkan berkembang tidak menuju progressive (kemajuan) melainkan menunju regressive (kemunduran) sebab manusia telah semakin serakah, tidak menjaga keseimbangan alam, semakin materialistis dan semakin dehumanisasi. Ternyata perkembangan manusia terbalik. Arah perkembangan manusia menuju kemunduran bukan kemajuan. Apakah ini yang disebut sebagai hasil dari peradaban manusia modern? Sulit untuk menjawabnya.***

*) Adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *