PERJALANAN PENUH MAKNA

Nadhi Kiara Zifen
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

“Broak!!!”
Pintu kamar ditutup Nadin dengan sekeras-kerasnya. Entah mengapa Nadin juga heran perasaannya hari ini sangat acak kadut tak beraturan.

Pulang dari sekolah, Nadin langsung menelentangkan tubuhnya di atas ranjang yang biasa dibuatnya melepas lelah. Ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi, kayaknya tak ada yang peduli dengan hari ulang tahun Nadin. Dunia remaja telah digenggamnya, umurnya telah menginjak 17 tahun, masa paling manis-manisnya dalam hitungan remaja.

Suasana di rumah Nadin bagai di kuburan yang penuh dengan misteri. Sunyi senyap. Tanpa pikir panjang, Nadin dengan scuter matic putihnya bergerak menuju tempat biasa dia nongkrong.
Pukul 15.00 ditunjukkan oleh jarum jam tangan Nadin. Sesampai di Mall Citra tempat ia nongkrong. Di hadapannya berdiri sosok yang gagah nan angkuh yang ia kenal. Dia adalah pacar Nadin yang bernama Melvin. Nadin terkejut saat Melvin mengulurkan tangannya dan menggenggam sebuah kotak lucu nan unik berwarna pink.

“Ini Din, buat lo. Terima yah, happy birthday.”
“Duh? Melvin, lo baik banget sih.” Ujar Nadin membuka riang hatinya.
“Bibuka dong!”
Kemudian dibukanya kotak itu perlahan. Terlihat sebuah boneka warna pink yang lucu. Sejak dulu, memang Nadin sangat menginginkan boneka itu. Sungguh sangat girang nan bahagianya perasaan Nadin. Ini adalah pengalaman Nadin yang sangat indah.

Mentari mulai turun ke ufuk barat, hari menjelang sore. Mega merah mengundang malam datang. Melvin mengantar Nadin pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan Melvin mengisinya dengan percakapan ringan untuk mengusir sepi.

“Din, nggak terasa ya, kita sudah 5 bulan jadian.”
“Iya, selama ini kita fine aja yach.”
Melvin memandang Nadin lekat-lekat
“Din, lo masih sayang kan, ma aku?”
“Vin, selamanya, gue bakal sayang ama lo.”
“Gue juga selamanya akan sayang ama lo dan selalu ada di dekat lo.”
“Ahrgh? gombal.”
***

Hari-hari pun dijalani Melvin dan Nadin mengalir begitu saja. Tapi entah apa sebabnya Nadin dan Melvin semakin jarang berkomunikasi. Jangankan bertemu, sekedar sms pun tak lagi ajeg terkirim seperti hari-hari biasanya. Nadin ahir-ahir ini sering melamun lantaran ia merasa rindu yang amat sangat dalam kepada Melvin. Tapi Nadin tak ingin mengganggu aktivitas Melvin hanya sekedar rindu. Nadin yakin bahwa Melvin juga rindu kepadanya tapi biarlah semuanya berjalan sebagaimana hari menuntun waktu.

Mentari kini telah terbit. Tapi, kini mentari terbit di balik awan hitam bersama jalannya pagi. Saat itu, Nadin menerima surat bersampul merah jambu. Tertulis di atas sampul itu, nama Melvin. Sungguh, saat itu Nadin merasa bahagia sekali ketika mendapat surat dari Melvin. Dibukanya surat itu perlahan dengan dada bergetar.

Untuk Nadin,

Din, jujur gue masih sayang sama loe. Tapi, gue minta mulai saat loe baca surat ini, kita tak ada ikatan cinta lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing. Gue terpaksa melakukan ini. Gue dipaksa ortu gue buat menikah dengan gadis pilihan mereka.
Maafin gue Din. Loe jangan sedih dan putus harapan. Kalau perlu, loe boleh membenci gue. Tapi, yang penting loe jangan sedih. Sebenernya, gue berat memutuskan ini tapi gue nggak bisa ngelak dari keputusan ortu gue.

Terima kasih untuk semuanya.
Yang selalu menyayangimu?
Melvin

Tiba-tiba hati Nadin terasa membeku bagai batu. Rantaian air mata kesedihan tak sanggup lagi terbendung. Pipi halus itupun terbasahi oleh air mata yang keruh. Bayangan indah merajut masa depan bersama Melvin hanya sekedar kenangan yang pahit, seperti bayang-bayang gelap dalam mimpi yang selalu menyelimuti malam.
***

Keesokan hari, bersama terangnya sinar mentari. Nadin yang sekarang bukanlah Nadin anak kemarin sore yang lantas menangisi kesedihan yang tak berarti. Sekarang Nadin mengisi hari-harinya dengan sesuatu yang lebih baik dari hari-hari biasanya, lebih bersemangat dalam menjalani hidup dan membuang jauh-jauh angan yang tak pasti, membuang jauh-jauh pikiran yang lena akan hayalan-hayalan semu.

Nadin yang sekarang adalah Nadin yang mulai menata kehidupan hari-harinya dengan sebuah perjalanan yang penuh dengan makna, karena kegagalan bukanlah kekalahan atau bahkan kekalahan sekalipun tidak berhak melemahkan semangat untuk bangkit.**

Lamongan, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *