Puisi, Penyair, Penjahat

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

BARANGKALI ini serupa cerita misteri saja. Meski demikian, mungkin juga cerita ini justru bermaksud melampaui keberadaan manusia sebagai diri yang misterius. Sehingga boleh jadi tulisan ini sesungguhnya hendak menerobos sisi rohaniah?sebuah ruang yang tidak untuk diperdebatkan ada dan tiadanya, disoal keyakinan atau kadar ketidakpercayaan atasnya.

Inilah suatu gambaran, betapa apapun sama-sama diberi hak untuk disoal, sebagai pertanyaan atas dirinya sendiri. Karena itu boleh dikata inilah upaya menyingkap tabir alangkah sangat terbuka dan memungkinkan membedah wilayah ini. Bahkan amat mengundang gairah ketika manusia, siapapun, penyair, agamawan, orang biasa, juga penjahat berbicara dengan bahasanya masing-masing atas wilayah rohani tersebut?sepanjang tanpa meninggalkan watak misterinya.

Sebaliknya, justru sangat dapat dimengerti, dicurigai atau bila perlu dianggap makhluk asing di buminya sendiri manakala ada diantara kita manusia ini tak lagi menempatkan sisi misteri atas ruang itu. Jadi kefatalan menimpa bilamana sekelompok orang amat percaya diri bahwa seolah-olah tidak ada satupun pojok-pojok semesta ini yang misterius.

Sungguh malapetaka ini telah terjadi: berjuta-juta manusia ada di posisi yang tak manusiawi ini?orang-orang yang sangat percaya diri, seorang penjahat yang hidup sendiri di semesta ini sampai tidak pernah terungkap apakah kehadirannya di semesta ini sebentuk kejahatan ataukah justru kemuliaan. Lantas siapa yang memahami atas tragedi itu, apalagi ketika tuhan pun melakukan hal serupa? Saat tuhan tidak tahu-menahu selain dengan sangat percaya diri menurunkan ayat-ayat yang meski belum sempat dia kirim namun ia menggariskan larangan dan perintah?

Lebih dari itu tuhan juga menyisipkan ayat-ayat kompromi. Hanya beberapa gelintir ayat saja yang tak sempat direnungkan, termasuk perihal tumbuhnya kepercayaan diri yang berlebihan. Kedengarannya, hal ini terjadi oleh karena dunia batin tuhan pun seperti terjadi pada manusia. Bahwa keduanya telah bersama-sama dalam keberadaannya yaitu dalam pusaran Takdir dan Waktu. Tak satu pun yang bebas dari dua dalam satu atau satu dalam dua: Takdir dan Waktu. Dua dalam satu yang sangat misterius justru karena keadaannya, atau adanya telah dimisterikan sebagaimana tersingkap dari ayat-ayat Tuhan.

Misteri itu sepaham pertanyaan manusia mana yang menyeret dirinya Waktu atau Takdir. Atau dua-duanya dalam kesatuan yang saling seret sehingga menempatkan manusia seolah-olah tenggelam keberadaannya. Jikapun kemudian adanya sanggup menumbuhkan kepercayaan diri namun sebetulnya ia telah merenggut kuasa Tuhan itu melebihi Takdir dan Waktu.

Takdir manusia berbeda dengan takdir puisi. Kodrat penyair tidak sama dengan kodrat penjahat. Jasmani maupun rohani. Hanya saja barangkali diantara ?mereka? yang memiliki takdir sendiri-sendiri perlu sesekali basa-basi untuk saling memasuki, saling merasuki, saling mempengaruhi meski itu sesuatu cara yang sia-sia: menjadi sesuatu yang lain. Kecuali bagi setiap yang punya kepercayaan diri luar biasa untuk menjadi sesuatu yang lain dan ini tragedi entah itu lucu atau tidak. Mungkinkah kita saling bertukar ruang rohaniah?

Menjawab pertanyaan ini serupa dengan bermain dalam tataran bahasa yang belum ada kosakatanya tentang kenyataan.
***

KODRAT puisi mesti ditulis atau dimantrakan. Tapi kodrat puisi tidak untuk dibaca karena kuasa puisi tak bisa dipindahtangankan, dipindahpikirkan, dipindahrasakan karena hal ini justru menyalahi ruh kehadirannya. Banyak sekali misteri yang hanya berpindah-pindah saja ketika puisi ditulis dan kemudian dibacakan. Apalagi oleh sang penyairnya sendiri. Misteri bukan untuk dipindahtangankan. Misteri untuk dipecahkan?paling tidak dicoba untuk dipecahkan meski tak sama persis dengan memecahkan teka-teki silang. Ada kejahatan, kebohongan di sana ketika puisi tengah dibacakan, bahkan oleh penyairnya sendiri. Penyair seringkali membunuh puisinya sendiri dengan kejam. Bahkan sekalipun ketika ia membaca, sebetulnya penyair sedang berbasa-basi untuk menempatkan diri selaku pembaca puisi: orang lain.

Mengherankan sungguh, mengapa manusia sampai hati melakukan demikian. Kejahatan besar manusia, pembaca, juga penyair adalah ketika tanpa ada perintah kemudian membaca puisi. Dalam sejarah umat manusia, yang diperintahkan dibaca adalah ayat-ayat Tuhan. Bukan puisi. Bahkan menurut catatan kritikus dan sastrawan, Mashuri, dalam surat Asy-Syuara, Al-Quran dengan lantang menabuh genderang perang terhadap para penyair. Terdapat peringatan yang sangat tegas bagi para penyair yang menyimpang dari jalan Tuhan. Dengan sebuah ancaman yang tidak main-main, bahwa penyair itu bakal mendapatkan siksa.

Kenyataan yang lebih fatal lagi, tidak sedikit yang kemudian mempersepsikan ayat-ayat Al-Quran adalah kata-kata yang puitis sehingga menjadi sangat kabur antara keduanya berkaitan dengan idiom dan estetika puisi. Penulisan artikel ini tidak hendak mempertegas mengatakan mana diantara keduanya yang diuntungkan dari perjumbuhan ini?yang tentu saja sudah menjadi khas manusia bisa dijawab mana yang diuntungkan.

Manusia amat sadar celah ini digunakan karena memang tidak ada tersebut di dalam ayat-ayat tentang pelajaran menulis puisi atau bagaimana puisi yang bagus dengan kadar estetik dan artistik yang tinggi dalam ayat-ayat suci Al-Quran.

Maka sangat wajar manakala puisi sangat kurang ajar, liar bahkan jahat bukan hanya karena tidak ada dalam kitab. Melainkan lantaran puisi meniru perilaku kejahatan manusia. Namun penulis artikel ini percaya, hal itu hanyalah basa-basi dari puisi. Ia punya ruh yang murni, ruang rohani yang keadaannya tak bisa sepenuhnya diungkap, disingkap. Puisi tetap menjadi misteri.

Barangkali hubungan yang benar antara puisi dan manusia itu mirip dengan jin dan manusia. Personifikasi ini juga tidak menggairahkan penulis untuk menjelaskan detail teoritisnya. Tak lain karena contoh ini kiranyaa sangat tepat justru karena penulis tidak punya kapasitas untuk menjelaskan hubungan keduanya: takdirnya, ruang waktunya, alam citanya dan sebagainya. Perkecualian bila ada kisah tentang jin yang merasuki ruang waktu manusia atau sebaliknya manusia yang berkomunikasi baik dengan jin. Perkecualian berarti keragu-raguan.

Boleh jadi benar bahwa ketika puncak-puncak pencapaian ilmu pengetahuan yang berbuah keragu-raguan, akhirnya ilmuwan mengembalikannya pada tataran yang murni, asali, sublim. Termasuk puisi. Sebut saja yang asali itu mitos atau religi. Puisi religius?terlepas dari masih terbukanya bagi para penjahat untuk mendistorsi metafora ini?mengandung arti sebagai laku religius lebih bertitik tolak pada proses menjadi, lahirnya dan seluruh takdirnya yang mendarah daging, meruang dan mewaktu padanya dalam pengertian yang rohaniah.

Sehingga barangkali benar puisi ditakdirkan lahir dari pengalaman religious penyair. Namun terus terang penulis artikel ini agak ragu dengan kata-kata tersebut karena alasan kosakata ?religius? telah dipersempit dan mungkin juga kata-kata itu ditakdirkan menyempit. Satu-satunya yang menyakinkan adalah penggunaan istilah ?pengalaman religious penyair? manakala adanya persyaratan rohaniah bahwa pengalaman religius tidak bisa ditranfer, dikomunikasikan kepada orang lain.

Pengalaman religius sangat personal. Bahkan boleh jadi manusia bukanlah makhluk satu-satunya yang berhak memfetakompli mendapatkan pengalaman religiusnya. Di sinilah puisi kemudian bernasib buruk ditakdirkan menjadi semacam pisau atau kapak kejahatan penyair. Apalagi penyair yang berharap lebih kepada puisi melampaui takdirnya dengan mengkomunikasikan pengalaman religius itu kepada orang lain.

Puncak dari kejahatan-kejahatan seperti ini serupa dengan konspirasi teori yang gelap yang berpeluang untuk disamarkan oleh para penyair-penyair yang sangat piawai dan menguasai jagad kepenyairan: sejarah, kritik, maupun teori puisi. Yaitu konspirasi teori para penyair cerdas. Seorang penyair cerdas, sebetulnya penyair yang cerdas tentu saja berbanding lurus dengan kejahatannya dan teori konspirasi ini sudah begitu banyak kita pelajari gejalanya di dunia perpolitikan atau kriminalisasi kekuasaan. Tidak sulit untuk membayangkan penyair yang demikian dan tentunya lagi-lagi korbannya adalah puisi.

Yang benar adalah setiap puisi senantiasa gelap bagi orang lain karena takdir puisi adalah ditulis dan bukan untuk dibaca. Ini bisa digunakan semacam kartu truf atau saksi kunci dalam upaya mengusut muasal puisi di belantara konspirasi teori, kecerdasan, dan ketika kejujuran penyair menjadi taruhannya. Betapa sulit untuk menguji perihal satu ini. Apalagi puncak-puncak atau ujung terjauh antara puisi, penyair, religiusitas, dan kejahatan semua itu justru berada di gerbang menuju ruang rohani.

Oleh karena itu, barangkali lebih tepat bila meminjam semacam asas pembuktian hukum terbalik untuk menguji ada tidaknya unsur kejahatan, kebohongan, korup atau bahkan hanya pencemaran nama baik yang menimpa diri penyair, puisi dan kemungkinan keterlibatan geng-gengnya. Sudah barangtentu salah satu alat bukti utamanya adalah puisi. Yaitu terkait ada tidaknya persyaratan setiap puisi yang senantiasa gelap bagi orang lain karena takdir puisi adalah ditulis dan bukan dibaca.

Tentu saja pembuktian ini harus dilakukan oleh para ilmuwan yang bebas dan jujur menggali spirit kemurnian puisi, paham akan kerohanian, psikologi dan juga penganut mazhab puisi sebagai ilmu sastra yang murni. Dalam bahasa penggagas Manifesto Puisi Gelap, Indra Tjahyadi tentang kemurnian, bahwa menghancurkan dunia bermakna mengembalikan kemurnian, mengembalikan kemurnian berarti mendekatkan manusia pada ?surga? yang dijanjikan. Dan untuk sampai pada surga yang dijanjikan,manusia harus memahami ?maut?, sebab hanya pada mautlah segala nilai-nilai kemanusiaan dapat dibangkitkan kembali dan manusia terselamatkan dari kejatuhannya yang mengerikan.

Mungkin juga sesungguhnya problem beratnya ada pada metafora itu sendiri sejak religiusitas, spiritualitas, rohaniah, alam cita yang tidak pernah selesai diperdebatkan kecuali bagi yang punya nyali untuk menghentikannya: menyakininya, mempercayainya atau mengakhiri demi tujuan-tujuan tertentu. Atau ketika yang lain memilih untuk saling bergerak diatara religi-rohani-alam cita-spiritual dan terkadang masih perlu menambah satu kosakata lagi, mitos.
***

PUISI bukanlah apa-apa bagi penyair yang sedang mengalami luka, penderitaan, siksaan tatkala menerima pengalaman ?religious?. Puisi bukan obat sekalipun bagi penyair yang menyakini bahwa dalam ketersiksaan menerima pengalaman religius sang penyair menemukan kenikmatan. Mungkin tidak sedikit yang tak berhasil menemukan kenikmatan yang inhern dengan siksaan itu yang fatalnya kenikmatan seringkali dipersandingkan dengan pencerahan?sesuatu istilah yang amat khas manusiawi dalam sejarah peradaban manusia.

Walhasil, manusia, penyair, orang biasa semakin sulit untuk dibedakan. Namun sangat mudah untuk membedakan antara puisi dan penyair. Bahwa puisi bukanlah apa-apa. Puisi hanya ditulis oleh penyair karena takdirnya. Artinya, menjadi semakin sia-sia ketika mencoba menarik pemaknaan puisi yang bagus dan penyair yang luar biasa.

Bahwa satu kalimat terakhir ini tak lain merupakan usaha untuk menjawab spirit prosa. Penulis artikel ini sendiri termasuk yang ragu dan berpendapat hampir seluruh puisi-puisi yang ada jangan-jangan itulah sebetulnya spirit prosa. Atau setidaknya puisi-puisi yang sukses luar biasa menggiring pembaca untuk menjadi sesuatu yang lain: prosa. Lalu dimana puisi?

Bahkan selanjutnya, penulis artikel ini sangat percaya tidak sedikit puisi-puisi yang menjungkirbalikkan korbannya?utamanya mahasiswa sastra, sastrawan, calon penyair, ahli sastra yaitu ketika tanpa sadar dirinya sebetulnya sedang dibaca oleh yang berpura-pura sebagai puisi. Pilih mana yang benar: membaca atau dibaca?

Mengenai pertanyaan dibaca atau membaca pernah disingkap penyair F Aziz Manna, ketika menyoal banyaknya remaja yang gandrung pada karya-karya Kahlil Gibran. Bahwa sebetulnya yang terjadi adalah sebaliknya, membludaknya remaja yang tengah dibaca oleh ?prosa? Kahlil Gibran. Gibran bukan apa-apa dan bisa diganti oleh siapa saja. Tapi airmata yang bercucuran, perasaan yang berlebihan, imajinasi yang sombong bukan pada tempatnya dan tetek mbengek pencitraan atas nama sastra itu adalah bukti konkret ?kekayaan? hasil kejahatan, penjarahan, perampokan dan dzolim terhadap hak-hak asasi manusia.

Pendek kata, dalam kasus ini karena pembaca ?prosa? Gibran tak memiliki kesanggupan menyingkap pengalaman dirinya sendiri, meski sebetulnya telah memiliki pengalaman batin yang serupa menempatkan pembaca sebagai korban dengan sosok berlumur dosa?memiliki tanpa kuasa. Dalam bahasa yang gampang dipahami tapi sulit dimengerti adalah betapa zaman sekarang semakin banyak nabi yang jahat atau kitab yang laknat?menyebarkan wahyu kepada umat adalah kejahatan terbesar yang tak terampuni karena sesungguhnya hal itu hanyalah untuk dirinya sendiri.

Manusia telah memiliki penderitaan yang sama justru karena kesempurnaannya yang puncak kekayaannya ada pada hati. Tidak perlu ditambah atau dikurangi dengan puisi. Puisi adalah puisi karena takdirnya. Puisi bukan seperti puisi. Puisi adalah puisi itu sendiri. Tetapi puisi itu seperti Rosario atau butir tasbih yang kebetulan dirangkai dalam satuan melingkar dan boleh berbeda ukuran. Sementara manusia, penyair itu doa dan sembahyangnya.

Dengan demikian, lalu dimana sebetulnya manusia berada? Analisa tajam pernah dikemukakan kritikus sastra Ribut Wijoto sebagaimana dipublikasikan media Jaringan Islam Liberal (JIL) beberapa waktu lalu. Ribut menyingkap dengan khidmat bahwa manusia tak pernah ada dalam puisi sebagaimana keterbatasan manusia yang hanya sampai pada pengetahuan menangkap tamsilan-tamsilan dunia keseharian atau dunia yang terhasilkan oleh indrawi kemanusiaan. Menurutnya, segala yang mucul di hadapan indrawi dan batin manusia hanyalah penampakan sifat-sifat Tuhan. ?Manusia tak pernah ada, yang ada hanya Tuhan.?

Ketika keberadaan manusia dipastikan keraguannya, ketiadaannya tanpa terkecuali terhadap seluruh pencitraannya, perasaannya, hatinya, imajinasinya, alam citanya, maka puisi tetap sendiri dengan keindahannya yang menyendiri pula sebagaimana takdirnya. Mungkin puisi sedang melakoni kejahatannya. Barangkali lagi menebus kehormatannya. Tidak ada yang tahu.

Bukan mustahil kejahatan puisi terjadi karena menyerang pencitraannya, perasaannya, pikirannya, hatinya bahkan alam citanya. Akan tetapi siapa yang bisa menghentikan manakala justru dengan itu puisi hendak merebut kembali kehormatannya, kemurniannya?
***

BAGI penulis, menulis artikel yang dimaksudkan sebagai sebentuk gagasan perpuisian ke depan ini, tentu saja berikut menyadari peluang-peluang jebakan atas logika perihal puisi itu sendiri. Atau lebih tepatnya, menyoal setiap diterminan dan menyokong sikap apriori.

Jawaban setiap soal yang diajukan mungkin sulit dijawab (apalagi dengan kebenaran pasti) atas pertimbangan kemungkinan kesalahan logika tersebut. Barangkali hanya bisa diyakini dengan sebentuk bahasa langit belaka?yang kehadirannya bisa dirasakan meski tak perlu dibuktikan. Semisal, mengapa puisi tetap ditulis hingga kini bila mustahil dikomunikasikan? Tak lain karena sudah menjadi takdir puisi dan di luar takdirnya telah terlampau banyak campur tangan yang mendekati kecurangan, kejahatan.

Problem serupa tapi tak sama, terjadi pada masih adanya pembaca puisi yang mendeklamasikan puisi di depan publik. Kenyataan ini boleh jadi semacam ?usaha keras kepala? untuk memberi makna puisi kepada orang lain?inilah usaha paling tersia-sia. Seberapa pun besar atau sekecil apapun pendengar atau pembaca puisi yang berhasil memaknai sebuah puisi, hal itu adalah masalah yang sama sekali lain. Bukan masalah puisi dan bukan pula masalah pengalaman religius yang melatari lahirnya puisi tersebut, apalagi masalah hubungan penyair, puisi dan penikmatnya.

Tepatnya hal itu adalah seberapa menyala daya tangkap penikmat, imaji, perasaan, intuisi, penafsiran dan sebagainya yang sama sekali tidak tergantung kepada sepotong puisi. Puisi yang sama dalam suasana yang lain, sanggup membawa pemaknaan yang berbeda. Apalagi sepenggal puisi yang berbeda. Artinya, tradisi pembacaan puisi sebetulnya kekonyolan yang dimaklumi demi atas nama baik puisi dan harga diri manusia ketika itu.

Sebetulnya, hal yang tak jauh berbeda bisa ditarik dengan garis lurus masalah perpuisian (berikut keragu-raguannya) adalah terkait dengan penerbitan buku-buku puisi yang masih berlangsung. Juga kritikus-kritikus yang menafsir, memberi makna atau menganalisa dan kemudian menempatkan puisi dalam sejarah perpuisian. Terhadap usaha penerbitan, tanpa mengurangi atau menambah kejahatan pada puisi, menempatkan usaha penerbitan buku puisi sebagai kegiatan paling konyol dari yang paling konyol adalah hal mudah. Setiap penerbitan senantiasa berorientasi pada usaha laba dan bukan nirlaba, tapi puisi tidak pernah bisa dijual. Tidakkah dua hal ini antara penerbitan dan penjualan puisi semata-mata hanya bermaksud mencoba menciptakan misteri yang membingungkan saja. Bukan misteri dalam arti terhadap yang asali dan senantiasa menjadi inspirasi.

Lalu kritikuslah, yang paling dekat dengan kejahatan terhadap puisi. Meski hanya kritikuslah yang sahih menggunakan bungkus keilmuannya atas nama pisau bedah puisi. Bahkan, boleh jadi yang terjadi sesungguhnya adalah kritikuslah otak dari seluruh kejahatan terhadap puisi ketika: membekukan puisi dalam aliran tertentu. Lima kata terakhir ini bisa penulis ganti dengan idiom yang pasti?inilah kejahatan.

Lantas apakah sesungguhnya puisi itu?
Barangkali takdir puisi itu serupa dengan kodrat sejarah ketika tak seorang pun yang berhak memfetakompli objektif atas namanya. Puisi adalah puisi. Pembaca puisi, kritik, tafsir itu bukanlah puisi itu sendiri.

Kecenderungan manusia untuk mempertimbangkan pengetahuan secara konseptual dan eksperimen juga menjadi hak asasi bagi puisi. Mungkin masalahnya hanya dua secara konseptual bisa serupa jalan keluar atau pintu menuju alam cita. Sebaliknya sebagai gagasan pun berpeluang bagai ruang jebakan yang menyebabkan manusia tak melakukan apa-apa?seperti penyair yang tak membuat syair. Namun, begitulah takdir puisi tetap harus ditulis. Mungkin tidak untuk dibaca apalagi untuk dimuat di media.[]

*) Penulis adalah pengarang, bergiat di Komunitas Keluarga (Kelompok Intelektual Asal Lingkungan Jalan Airlangga), Kini bekerja selaku Head of Arts and Cultural Outreach, The Center for Religious and Community Studies (CeRCS) Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *