Realisme Dalam Puisi Kita Kini

Indra Tjahyadi*
http://www.sinarharapan.co.id/

Beberapa tahun belakangan ini kita disuguhi pemadangan terlalu banyaknya realisme dalam puisi kita. Hampir setiap bulan, bahkan minggu, pemandangan puisi yang muncul dihadapan kita sesak benar dengan realisme. Hal ini jelas berbeda apabila kita bandingkan dengan keadaan pemandangan puisi yang merebak pada kisaran era pertengahan tahun 1980-an sampai dengan awal 2000an.

Pada kisaran era pertengahan tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 2000an pemandangan puisi yang muncul penuh dengan semerbak aroma sihir metafora yang mampu menghipnotis dan membangkitkan daya dan semangat dalam rasa puitik penikmatnya. Jalinan metafora yang membetuk larik-larik puisi semacam:

Kucium lumpur dan aku maklum pada kesuraman
Yang menandai jejak bulan

kamar sunyi. dengan jemariku yang gemetaran
laut ombak matamu kudiamkan. darah zaman,
di mana muaramu? di sini tanah dan kerikil

Seperti kilatan lembing, kemurnian masa kanakku
Mengusir mereka ke jurang-jurang galaksi.

ataupun larik semacam:

Lalu kubayangkan tanganku bersayap
Tubuhku berbulu seperti seekor gagak
Aku pun menari lalu berteriak:
Ini lambungku empuk. Tikamlah aku
Dan:

cahaya larut meluluhkan semua benda
sementara itu hari hari dan kelam malam
menunggu angin memandikan jagat

adalah pemandangan puisi ?keseharian? kita pada saat itu, yang pada beberapa tahun belakangan ini seakan-akan raib.

Tren terlampau banyaknya atau melimpah ruahnya realisme dalam pemandangan puisi kita beberapa tahun belakangan ini, sebenarnya dapatlah dikatakan, dimulai semenjak diterbitkannya untuk pertama kali kumpulan puisi ?Misalkan Kita di Sarajevo? milik Goenawan Muhammad oleh penerbit Kalam pada tahun 1998.

Tengok saja puisi-puisinya yang termuat dalam buku kumpulan puisi tersebut, semisal puisi yang menceritakan kembali tentang keadaan dan perasaan, serta harapan dan khayalan, seorang perempuan yang sedang menggerus garam di sebuah dapur, yang berjudul ?Perempuan itu Menggerus Garam? ataupun pada puisi ?Di Malioboro? yang bercerita tentang pertemuan antara subyek-lirik dengan sesuatu di luarnya di sepanjang jalan Malioboro.

Dan tren ini semakin menguat tatkala Joko Pinurbo menerbitkan buku kumpulan puisinya yang berjudul ?Pacar Senja? pada tahun 2005.

Buku kumpulan puisi ?Pacar Senja?, yang diberi kata penutup oleh Ayu Utami tersebut, sebenarnya lebih merupakan buku kumpulan sepilihan puisi karya penyair Joko Pinurbo dalam rentang karir kepenyairannya semenjak tahun 1991 s/d 2004, meskipun demikian dapatlah dilihat, dipahami dan dirasakan betapa realisme begitu kuat menafasi dan memenuhi ?semangat putik? dari puisi-puisi yang termuat dalam kumpulan tersebut. Semisal pada puisinya yang berjudul ?Penjual Bakso?:

Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya
lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting.
Seperti suara piring dan mangkok peninggalan ibuku.
(2005: 130)

Ataupun juga pada puisinya yang berjudul ?Telepon Tengah Malam?:

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
?Siapa ini??, jawabannya cuma ?Ini siapa??
(2005: 104)

dari dua kutipan puisi tersebut dapatlah dilihat bagaimana Joko Pinurbo, sebagai penyairnya, dengan kuat sekali dihidupi oleh realisme, sehingga dalam kedua karya puisinya tersebut dapatlah dirasakan betapa realisme terasa melimpah ruah memenuhi daya dalam dan luar puisinya.

Pada puisi ?Penjual Bakso?, keberadaan sosok penjual bakso beserta realitas peristiwa yang melingkupinya adalah objek bagi puisi tersebut, sementara pada puisi ?Telepon Tengah Malam? keberadaan realitas telepon dan peristiwanya adalah objek bagi puisi tersebut, dan dalam kedua puisi tersebut keberadaan objek dihadirkan atau dibiarkan hadir sebagaimana adanya objek tersebut meng-ada dan tampak. Bagi seorang penganut realisme hal semacam ini adalah sebuah pilihan yang mutlak, kebiasaan yang tak dapat ditolak. Karena seorang realisme, merujuk pada Lorens Bagus, dalam melihat sesuatu akan senantiasa berupaya melihat sesuatu tersebut sebagaimana adanya tanpa idealisasi, spekulasi atau idolisasi, dan juga menerima fakta-fakta apa adanya, betapapun tidak menyenangkan atau kurang menyenangkannya sesuatu tersebut.

Hal ini akan berbeda keadaannya apabila kita bandingkan dengan puisi-puisi yang dihidupi dan disesaki oleh semangat selain realisme, surrealisme misalnya. Pada puisi-puisi yang dilimpahi daya surrealisme, objek tidak akan hanya jadir begitu saja, melainkan akan mengalami pemecahan, penghancuran dan penciptaannya kembali.

Seorang surrealis, tidak akan melihat objek dan menampilkannya kembali sebagaimana sebuah objek itu tampak, akan tetapi objek tersebut akan diimpikan, difantasikan, diasosiasikan secara bebas, diintuisikan, disurrealkan dengan menggunakan tenaga bawah sadar alam pikiran, sehingga objek tersebut hancur dan tampil kembali dalam wujudnya yang berbeda, atau dalam bahasa kaum surrealis, muncul kembali sebagai sebuah ?dunia yang baru?, sebuah realitas tersendiri yang berbeda secara semena-mena dengan realitas sehari-hari.

Sebagai contoh puisi yang dilimpahi surrealisme bisa saya kutipkan sebuah puisi karya Ronnie Burk yang dimuat di sebuah media komunikasi kaum surrealis Manticore edisi autumn 1998, yang terbit di Leeds, yang berjudul ?Fever?:

To suck the diamond
spinning
behind the tongue
A flower sweats
dying of its own
grief

twelve pills
the sleeping
machine?s
chrome to touch
this side of you

hangnail is the serpent
raped of wisdom &
the lotus of sleep
returns the damage

Saat ini melimpahnya realisme bukan hanya menjadi milik puisi-puisi Goenawan Muhammad ataupun Joko Pinurbo, akan tetapi para penyair di luar itu, para penyair yang datang belakangan sesudah mereka, utamanya penyair yang mulai menapaki jejang karir kepenyairannya pada kisaran tahun awal 2000an.

Adakah kecenderungan atau tren yang sedang merebaki pemandangan puisi kita ini merupakan hal buruk atau berdampak buruk bagi perkembangan puisi kita ke depan?

Entahlah. Barangkali hanya Tuhan yang tahu adakah hal ini merupakan sesuatu yang buruk ataupun negatif bagi perkembangan puisi kita, ataukah bernilai baik ataupun positif bagi keberadaan puisi kita, atau hal yang biasa-biasa saja, yang tidak perlu terlampau dipusingkan. Hanya saja seorang penyair pelopor puisi modern Jepang, Sakutaro Hagiwara pernah menyatakan bahwa sebuah puisi haruslah mengemban semangat puitik yang berupa: (a) mengatasi kenyataan, (b) mencari yang ideal, (c) memperbaiki bahasa, (d) mengangkat keindahan lebih tinggi daripada kebenaran, (e) mengkritik kenyataan, (f) mengangkan dunia yang transendental, (g) menuntut bentuk, dan (h) menuntut kebangsawanan dan kejarangan.

Dan seorang pemikir besar sastra Indonesia, Wiratmo Soekito, pernah berpendapat bahwa krisis puitis akan terjadi apabila seorang penyair, ketika menciptakan sajaknya, telah mencoba untuk mengadakan komunikasi dengan masyarakat, sebab di bawah kondisi ini ia tidak lagi melahirkan suatu mitos melainkan ingin memotret mitos yang tidak ada.

*) Penyair, esais, staf pengajar di Fakultas Sastra & Filsafat, Universitas Panca Marga, Probolinggo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *