Saputangan Buat Bapak

Weni Suryandari
http://kompas.co.id/

?Bu..untuk apa Ibu menyulam saputangan itu? Sudah malam, Bu!? aku mengingatkan Ibu sambil menutup novel yang kubaca ini sebentar.

Ibu tak menyahut. Tangannya khusyuk meneruskan sulaman berinisial nama Bapak pada sebuah saputangan warna biru. Itu adalah saputangan baru. Semua saputangan Bapak ada 7 lembar. Ternyata ada satu yang hilang entah dimana. Tak kutemukan. Mungkin tertiup angin saat baru kering di tali jemuran belakang sana. Aku ingat, beberapa hari yang lalu memang angin bertiup sangat kencang. Beberapa celana dalam sempat berjatuhan ke tanah.

?Bu?sudahlah. Nanti Ibu masuk angin. ? Aku memaksa.
?Sambil menunggu Bapakmu ?.? Sahutnya tanpa menoleh. Kacamata plusnya semakin tebal saja kulihat.
?Tapi sebentar lagi Bapak pulang. Masih ada 5 saputangan lagi di lemari yang bersih Bu. Apa itu tidak bisa dipakai??
?Itu kan untuk hari Selasa. Ini untuk hari Senin, yang hilang itu??
?Sama saja ?kan Bu? Kenapa harus berbeda?? Kututup novel yang kubaca itu dan kuletakkan di meja kecil.
?Ya Kau tak kan pernah mengerti. Ibu menyiapkan saputangan Bapak untuk tujuh hari. Supaya Bapakmu ingat kita setiap hari, Ning!?

Aku menghela nafas panjang. Adik-adikku sudah tidur semua. Sepi sekali rasanya. Kembali kusandarkan punggung pada bantal kursi. Ibu semakin terlihat tua. Aku tahu ia memang sudah menanggung beban sangat berat. Uban di kepalanya mulai bertumbuhan satu persatu. Kerut di wajahnya tak begitu tampak jelas, tetapi kantung matanya mulai kelihatan. Kacamata plus nya semakin tebal.

Tapi sungguh, Ibu tetap cantik, sederhana dan sabar menghadapi kesulitan. Bertahun-tahun kami hidup dalam kesulitan. Gaji Bapak hanya cukup untuk membayar kebutuhan tetap, seperti bayaran sekolah kami, dan kebutuhan belanja yang sungguh pas-pasan. Kami berempat sudah terbiasa hidup mengais-ngais sisa uang receh hanya untuk ongkos sekolah. Kadang aku mengalah untuk berjalan kaki sampai di tempat tertentu, baru naik kendaraan umum. Hanya demi adikku agar ia bisa membeli sekedar makanan ringan untuk jajan selama jam istirahat sekolah. Sementara sekolahku berjarak cukup jauh dari rumah.

Bapak. Bapak bagiku adalah lelaki yang cukup sabar. Tapi masih kurang gesit dan ulet. Aku kasihan melihat Ibu yang selalu mencari-cari tambahan untuk membiayai dirinya sendiri dan menambal kebutuhan bulanan.

Bagaimana tidak? Kami bisa membeli baju atau sepatu baru, tapi harus menunggak pembayaran sekolah. Kami bisa lunas membayar sekolah dan belanja, tapi tak bisa pergi jalan-jalan ke mal. Setiap bulan kami selalu kekurangan. Kata Ibu, kita selalu minus.

Untunglah Ibu punya kepandaian lain, sebagai guru di sekolah-sekolah. Tapi sejak lima tahun yang lalu, sejak perusahaan Bapak bangkrut dan Bapak bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta kecil dengan gaji tak seberapa, Ibu mulai malas mengajar terlalu jauh dari rumah, dengan alasan capek. Tak heran. Karena kendaraan kami satu-satunya terjual, jadi Ibu harus naik omprengan atau bus menuju kota. Yah,aku maklum dengan maksud Ibu. Jika sesekali Ibu menangis, mengeluh tentang kelelahannya, sementara tak berbuah apa-apa, alias tetap saja tak bisa menabung.

Ibu. Bagiku adalah segala-galanya. Ibuku begitu cerdas dan supel. Aku kasihan melihatnya menjadi tak berdaya. Karena sekarang hanya menjadi guru sekolah dengan jam kerja yang lumayan padat, sementara gajinya masih tak beranjak dari jumlah minimal. Sekolah itu memang sangat pelit dalam menghargai kerja keras guru.

Suara pagar bergeser terdengar berisik mengagetkan. Aku lupa bahwa Bapak memang belum pulang.
?Ning?buka pintu. Bapak pulang?.!?

Aku beranjak dengan malas. Sambil membuka pintu ruang tamu kujawab salam Bapak.

?Wa?alaikumsalam?.? Aku mencium tangan Bapak. Bau keringat lusuhnya membuat pengap ruangan. Matahari memang terasa terik hari ini, apalagi Bapak memang menggunakan motor satu-satunya untuk pergi ke kantor. Bapak tersenyum sambil menatapku.
?Lho, belum tidur Ning? Adik-adikmu sudah tidur semua??
?Sudah Pak. Aku nunggu Ibu menyulam saputangan baru buat Bapak.?
?Lho, kan masih ada yang bersih di lemari, Na? Kenapa beli baru?? Bapak meraba saputangan yang masih bau kain dan kaku itu.
?Iya. Tapi untuk yang Selasa kan hilang Pak??
?Hmm?Ratna. Ya sudahlah. Aku mau mandi dulu. Ning, bikinkan kopi ya? Biasaa?!? Bapak membuka kancing kemejanya satu persatu.

Kubuatkan kopi segera setelah air mendidih. Malam semakin larut. Ibu masih menyulam lagi satu huruf. Aku segera masuk ke kamar takut besok bangun kesiangan.

?Bu, aku tidur ya??
?Ya. Pelajaranmu sudah kau siapkan??
?Sudah, Bu!? Ibu selalu mengingatkan kami untuk menyiapkan buku pada malam hari. Ibu lupa bahwa aku sudah kelas tiga SMU. Adik-adikku yang tiga kelas dua SMP dan SD kelas empat dan kelas enam.

Di kamar, aku tak bisa memejamkan mata. Entah mengapa malam ini aku gelisah sekali. Terbayang olehku jika Ibu pontang panting cari tambahan. Bayangkan saja, pulang dari sekolah pukul tiga atau empat sore. Lalu kadang menerima les. Bahkan dulu Ibu pernah juga berangkat lagi untuk mengajar di sebuah lembaga yang cukup bergengsi, hingga tiba di rumah lagi sudah pukul sembilan malam.

Hanya lelah yang tersisa di wajah Ibu. Siapa yang mengajari adik-adikku belajar? Tidak ada. Karena Bapak tidak seluwes Ibu dalam mengajari kami. Dengan Ibu, kami bisa mengerti bagaimana cara belajar.

Bapak? Kadang diam di rumah jika sedang malas ke kantor kecilnya di kota. Berangkat selalu siang. Aku sering mendengar Ibu mendorong Bapak agar lebih giat mencari uang. Uang pendaftaran ulang sekolah setiap tahun, atau uang buku dan uang pangkal selalu menjadi beban. Gajinya yang pas-pasan tak pernah tersisa bahkan uang Ibu pun amblas untuk kebutuhan rumah tangga. Sekali lagi, aku maklum jika Ibu menangis. Sebab kami tak bisa hidup aman dalam segi ekonomi.

Ingin sekali aku berhenti sekolah dan bekerja. Tapi kata Ibu, perempuan harus sekolah tinggi. Supaya bisa berguna sebagai perempuan. Tetapi kupikir lagi, apa juga guna karir jika setelah berumah tangga kehidupan akan dimulai dengan kebutuhan memberi makan mulut-mulut mungil keturunan suami istri. Seorang perempuan pasti akan mengalahkan profesinya jika sudah memikirkan anak-anak yang dilahirkannya. Ah, aku mulai mengantuk.

***
Pagi begitu gaduh dengan suara-suara kami bersiap-siap pergi sekolah. Sementara Ibu sudah harus bersiap berangkat mengajar. Suara empat mulut menagih ongkos seperti biasanya, membuat kening Ibu berkerut dan mulutnya tak berhenti dari teriakan.

?Ibu sudah tidak ada uang lagi! Minta Bapakmu. Ini untuk ongkos Adi dan Ari. Kamu, Ning dan Arin minta bapakmu. Ibu hanya pegang untuk ongkos!?

Aku meminta ongkos pada Bapak. Bapak terlihat santai sambil menyeruput kopi. Suara gumam terdengar.

?Ah, Bapak juga nggak ada uang. Betul. Sama sekali nggak ada!? Suara Bapak menyakitkan hati Ibu tentu saja. Padahal aku tahu Bapak sering memegang uang entah berapa di saku celananya.
?Ya sudah, Ning, Arin. Nggak usah sekolah kalau tidak ada ongkos. Itu tanggung jawab bapakmu!? Ibu segera mengambil tasnya dan keluar hendak berangkat.

Akhirnya bapak keluarkan juga uang limapuluh ribuan dan duapuluh ribuan.

?Ini, tukarkan dulu. Beli gula atau kopi.? Dengan terburu aku mesti ke warung untuk membeli yang dimaksud sekalian menukar uang.

Segera Bapak memberi uang untukku dan untuk Arin. Pemandangan seperti itu kerap terjadi jika sudah memasuki minggu ketiga setiap bulan.

Ibu sering meminta Bapak untuk menjual rumah ini, dan membeli rumah yang lebih kecil. Sisa penjualan akan ditabungkan untuk sekolah kami. Tetapi Bapak kelihatannya tak terlalu ambil pusing. Entah apa yang diharapkannya dengan membiarkan keadaan begini terus. Aku menduga, mungkin Bapak mengira suatu saat kelak pendidikan di perguruan tinggi akan gratis. Bagaimana tidak? Menurut Ibu, sepeserpun uang tabunganpun kami tak punya. Ibu selalu mempersalahkan Bapak jika sedang mengeluh padaku sebagai anak sulung. Menurut Ibu, tanggung jawab seharusnya berada di pundak Bapak seluruhnya. Bukan Ibu yang harus membanting tulang memenuhi kekurangan kebutuhan kami. Seharusnya Ibu bekerja hanya sebagai sambilan saja bisa duduk manis di rumah dengan santai dan kami berempat mengeliinginya.

Pernah suatu siang ketika kami sedang bercanda di kamar, berlima, kami berikrar untuk menjadi orang kaya. Harus mencari suami orang sukses. Lalu kami akan saling menabrakkan telapak tangan berlima sambil tertawa bersama mengaminkan impian-impian itu. Aku tersenyum sendiri jika ingat kejadian itu.

Adikku Arin bahkan bercita-cita ingin menjadi dokter sukses dan bisa mengajak Ibuku pergi haji. Saat Arin mengatakan itu, Ibu hanya menangis terharu. Mungkin Ibu memiliki keinginan itu, tapi melihat kekurangan kami sehari-hari, rasanya menjadi Haji hanyalah sebuah impian.

***
Malam itu, seperti biasa Ibu sedang mengerjakan tugas dari sekolah. Sepanjang siang Ibu sibuk di depan computer memasukkan data. Matanya terlihat lelah. Maklum pekerjaan itu harus diserahkan dua hari lagi, kata Ibu.

?Assalamu?alaikum?!? Sebuah suara wanita memanggil dari balik pagar.
?Wa?alaikumsalam?! Aning, buka pintu.? Aku beranjak membuka pintu. Seorang wanita muda, mungkin seusia tanteku, adik bungsu ibuku yang baru saja punya bayi. Kulitnya kuning langsat, wajahnya cantik, tampak sangat ?kotaan?. Aku tersenyum ramah. Ia sedang menggendong bayi merah. Mungkin umurnya belum sebulan.

?Darimana tante? Mau cari siapa??
?Apa benar ini rumah Mas Radit? ? tanyanya ragu. Raditya adalah nama Bapak. Tapi mungkin ia adik Bapak entah dari silsilah mana. Sebab aku mengenal semua anggota keluarga Bapak. Wanita ini tak pernah kulihat jika kami sedang kumpul-kumpul di rumah Mbah.

?Benar, Tante, silakan masuk! Bu?ada yang mencari Bapak!? Seruku pada Ibu sambil membuka pintu ruang tamu. Wanita muda itu masuk. Sambil mengipas-ngipasi kepala bayinya dengan saputangan warna coklat.

Ibu keluar dari ruang tengah. Wajahnya belum kelihatan segar setelah mencuci muka. Sebab biasanya jika Ibu pulang mengajar, pasti mencuci muka dan membereskan kamar sebelum rebah sekedarnya.

?Iya. Mau cari siapa Bu?? Ibuku yang bijaksana dan tenang segera menyilakan tamunya duduk. Ibupun duduk di hadapannya

?Ma?af Mbak, saya cari Mas Radit?.?
?Iya?Mas Radit belum pulang dari kantor. Adik ini siapa??
?Saya?saya?.Susilawati Bu. ? Aku mengintip wanita itu berbicara di hadapan Ibuku.

Aku beranjak mengambilkan minum buat Ibu, sekaligus buat wanita itu. Kudengar percakapan mereka meski samar-samar. Aku tidak yakin akan pendengaranku sendiri.

?Ibu?minum Bu?.Silahkan diminum Tante..!? Aku mengajak kedua wanita itu minum air teh hangat. Ibu meminumnya dengan gugup. Gelas yang digenggamnya ikut gemetar karena tangan Ibu yang gemetar sangat. Wanita itu tidak. Ia diam mengelap air matanya dengan saputangan yang tadi digunakannya mengipas bayinya. Bayi itu sedang tidur dengan nyaman, meski butiran keringat mulai membasahi dahinya. Wajahnya mirip dengan Arin, tapi alisnya mirip tante ini. Siapa bayi ini?

?Ini anak Mas Raditya Mbak. Mas Radit sudah 8 bulan tak pernah menjenguk saya di Sukabumi.?

Astaghfirullah?..! Aku terjerembab duduk di sofa satunya lagi. Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tak mampu menghapus butiran airmata lukanya. Ia merebut saputangan yang dipakai wanita muda itu dan menghamparkannya di atas pangkuannya. Itu adalah saputangan cokelat muda milik Bapak dengan sulaman nama Bapak, M Raditya Adhi. Pasti saputangan itu adalah saputangan yang dipakai Bapak pada salah satu hari kerja Bapak. Hanya Ibu yang mengingat itu.

Saputangan Bapak yang hilang, rupanya tertinggal di rumah wanita simpanan Bapak. Aku semakin membenci Bapak yang sama sekali tak menjadi Bapak yang berguna buat kami dan sebagai suami bagi Ibuku.

Bogor, 14 Januari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *