SASTRA PEMULUNG !

Berhentilah membodohi masyarakat

Abdul Wachid B.S.
kr.co.id

ADA beberapa hal penyebab hidup bersastra dan karya sastra di Yogya terasa tidak sehat. Hal ini jika dibandingkan berdasar romantisme sejarah, Yogya barometer sastra Indonesia. Penyebabnya dalam dua pemaknaan, pertama, memaknainya dari aspek lingkungan yang menghidupi karya sastra, tempat sastrawan hidup bersentuhan dengan komunitas dan masyarakatnya, lalu menuliskannya dalam sastra; kedua, memaknainya dari aspek karya sastra itu sendiri.

Dari aspek pertama, Yogya sebagai “pusat” kebudayaan Jawa Mataram sampai hari ini terus hidup bersamaan beranak-pinaknya? wong Yogya? dengan begitu akan terus dapat dimaknai sebagai inspirasi budaya oleh siapapun yang memiliki sensibilitas, via wujud hasil budaya apapun, juga sastra. Bukan jalan buntu memberi makna terhadap kebudayaan Jawa-Mataram itu sekalipun sudah ditulis Linus Suryadi AG dalam Pengakuan Pariyem, Umar Kayam (Para Priyayi), Kuntowijoyo (Suluk Awang-uwung), Suminto A. Sayuti (Malam Tamansari); dan lainnya dengan variannya. Selagi suatu kebudayaan dihidupi masyarakatnya, maka akan terus hidup pula di alam pikir manusianya, karenanya hasil budaya pun akan terus merefleksikannya, juga sastra.

Dalam konteks Yogya sebagai “rahim” kebudayaan, memang ada gugatan keras kepadanya. Mengapa tegur-sapa budaya di Yogya kini tak lagi melahirkan maestro sastra seperti tempo dulu? (Esai Gus Zaenal Arifin Thoha, KR, 2/3/03; juga, “Dialog Sastrawan Indonesia-Yogya” dimotori penerbit Gama Media, 2/3/03, dilontarkan Mas Prof. Dr. Suminto A. Sayuti)

Saya mengambil contoh dekade 1980-1990-an. Dekade itu, Yogya diramaikan berbagai “forum” sastra, di kampus, IAIN Sunan Kalijaga, UGM, IKIP Negeri, Sarjanawiyata, dan lainnya; juga di luar kampus dengan sanggar teater, lukis dan semacamnya. Dari kehidupan bersastra, yang dominan ialah “Forum Pengadilan Penyair”. Secara bergilir dari rumah ke rumah seniman dan kampus, diadakan pembacaan puisi, mendiskusikannya hingga larut malam. Berkumpullah yang tua dan muda dalam forum itu, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa, Fauzi Absal, Emha Ainun Nadjib, Faruk, Suminto A. Sayuti, dan lainnya; yang muda Hamdy Salad, Abidah El-Khalieqy, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Mathori A Elwar, Ulfatin Ch, Adi Wicaksono, Ismet NM Haris, M. Haryadi Hadipranoto, Otto Sukatno CR, Joko Pinurbo, Dorothea Rosa Herliany, dan banyak lainnya.

Yang saya maknai dari forum serupa itu, belajar secara langsung menulis puisi, dan memaknai puisi kaitannya dengan dimensi kehidupan yang melangsungkannya. Juga, belajar beretorika. Sebab saat itu masih dominannya ?orangtua? Persada Studi Klub (PSK), wajarlah pola PSK dalam transformasi sastra menjadi style-nya. Pola itu saya pahami sebagai varian budaya lisan agraris di ambang budaya tulis. Karenanya, pertemuan komunitas dalam proses kreatif memperoleh efektivitasnya sebab menjadi muara informasi. Informasi menjadi determinis dari komunikasi sastra maupun bersastra. Tanpa terlibat dalam forum, kita kehilangan informasi, karenanya tak merangsang perdebatan di koran (budaya tulis). Pada konteks itu, koran-majalah sebagai media lanjut dari silang informasi.

Hal lain bisa dimaknai dari tipikal proses kreatif semacam itu, bahwa proses kreatif sastra berkutat pada bagaimana cara bersastra; belum lagi sampai pada eksplorasi wacana hubungan karya sastra dengan berbagai perilaku budaya yang mengkonstruksinya. Karenanya, tipikalitas PSK hanya cocok untuk atmosfer dekadenya saja. Tatkala zaman berubah, pelaku sastra yang dulu muda, kini menuai hasil karyanya, tiba-tiba merasa ada yang hilang dengan “ke-Yogya-an” ini. Mereka sudah menuai karya besarnya, Ahmad Syubbanuddin Alwy dengan Bentangan Sunyi, Hamdy Salad (Sebuah Kampung di Pedalaman Waktu), Abidah El-Khalieqy (Perempuan Berkalung Sorban), Ulfatin Ch (Selembar Daun Jati), Mathori A Elwa (Yang Maha Sahwat), Joni Ariadinata (Kali Mati), Agus Noor (Selingkuh Itu Indah), Kuswaidi Syafi?ie (Pohon Sidrah), beberapa contoh saja. Mereka muncul dan dibesarkan bukan semata oleh tradisi berseni PSK, di satu sisi merasai atmosfer PSK, tapi secara media massa mereka dibendung oleh “dewa” yang menguasai media massa Yogya. Tapi justru sebab itu mereka berhadapan langsung dengan dewa sastra semacam Linus Suryadi AG, karenanya mental juaranyalah yang mendorong mencari lahan ekspresi koran dan majalah di Jakarta. Forum Puisi 1987 merupakan ajang pertama yang membuat mereka diterima secara nasional, baru kemudian koran Yogya membukakan pintunya.

Tapi tatkala sastrawan kini merindukan kembali “mangan ora mangan nek kumpul” gaya 1970-1980-an, mengklaim Yogya kini miskin ide cemerlang, sastrawan hidup sendiri-sendiri, tak ada tegur-sapa budaya; timbul pertanyaan, senada dengan Ismet NM Haris, pentingkah “kumpul-kumpul” semacam itu di tengah informasi mudah didapat via internet? Yogya kini berubah, mengalami kapitalisasi dengan tolok-ukur seberapa pentingkah sastra bagi kehidupan riel di tengah mencekiknya harga makan dan kontrakan rumah melambung sehingga “penduduk” Yogya tak lagi kongkow-kongkow berlama di Yogya, harus cepat lulus, lalu pulang kampung atau ke Jakarta mencari kerja! Ada pragmatisme di situ, sehingga bersastra pun mengalami pragmatisme.

Jika cara bertegur-sapa budaya antar-personal masyarakat mengalami perubahan, maka seharusnya bersastra dan karya sastra juga mencari strategi baru untuk meresponnya sehingga tidak terombang-ambing oleh perubahan. Bersastra selalu memerlukan cara baru, jika tidak justru mengalami keputusasaan saat merespon berkembangnya lingkungan; sastrawan akan gagap terhadap perkembangan masyarakatnya. Kemudian, apa yang akan ditulisnya?

Dari sini muncul problem aspek kedua yakni “isi” karya sastra, sebab perkembangan masyarakat tidak bisa disikapi oleh sastrawan, tidak mampu melakukan transendensi terhadap sosialnya, karenanya bagaimana akan melakukan emansipasi, atau liberasi terhadap belenggu perilaku budayanya?

Kegagapan merefleksi sosial-kulturalnya itu juga akan melahirkan pragmatisme bentuk seni. Kita membaca cerpen dan puisi di koran ada fenomena, “asal dimuat” dinilai memiliki mutu sastra oleh sastrawannya. Memang, perkembangan sastra juga ditentukan oleh eksistensi media massa, tapi jika mentalitas sastrawan berpijak pada “asal dimuat”, maka inilah awal pemulungan sastra. Sebenarnya redaktur budaya kerap mengeluh tentang hal ini, karya sastra yang mereka terima tidak ada inovasi mutu sastra.

Zaman sudah berubah, tapi mengapa banyak penyair masih menulis berpijak adagium pembocoran fakta “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Bicara” ala Seno Gumira Ajidarma? Dengan begitu, ada blunder, sebab sastrawan kalah cepat memperoleh informasi dibanding jurnalis, sehingga tatkala kita membaca karya sastra hanya merupakan reproduksi dari berita, tanpa memiliki strategi estetika memadai. Padahal, baik-buruknya karya sastra sangat ditentukan seberapa jauh memiliki independensi dan inovasi estetika. Fenomena itu, tidak saja di Yogya, bahkan di media massa Jakarta, sastrawan hanya merasa beruntung karya sastranya sebagai pemulung informasi dari jurnalis, dengan estetika penulisan yang juga pemulung. Karya sastra kemudian hanya menjadi “sastra (koran) bekas”.

Tak ada yang salah dengan media massa, sebab berposisi sebagai kritikus pasif, menerima sastra yang dikirim sastrawan. Sebab seminggu sekali harus ada karya sastra yang dimuat, maka yang dikirim itulah yang diseleksi lalu dimuat.

Berjalan di tempatnya sastra kita hari ini, ada keterkaitan erat dengan tiadanya kritik sastra, lantas sastrawan menuduh kritikus atau akademisi sebagai mandul. Bagaimana mungkin memberi apresiasi, kritik, terhadap “sastra (koran) bekas?” Tiadanya kritik sebab utamanya justru pada tiadanya karya sastra yang layak untuk diperhitungkan oleh kritik. Memang, karya sastra tiap minggu selalu dimuat di koran, tapi tidak menarik kritikus, apalagi berharap dipresiasi masyarakat luas. Jadi, jangan salahkan sebagai “koran bar-bar” jika kemudian mereka menutup rubrik sastranya sebab memang tidak layak diperhitungkan masyarakat luas.

Sudah waktunya sastrawan menghentikan kesombongannya agar tidak merasa pintar sendiri, supaya tidak terusan mengklaim bahwa masyarakat bodoh sebab tak mau membaca karya sastranya!
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *