Terompah Bakiak di Bukit Kapur Putih

Satmoko Budi Santoso
http://www.lampungpost.com/

RATUSAN terompah bakiak di kaki bukit kapur putih itu menapak, tentu, tak memunculkan suara menderap. Tanah injakan yang berkapur, bukan padas melainkan gembur, menenggelamkan suara derapan. Ratusan orang mirip gipsi itu berjalan, berderet satu-satu ke belakang, berpakaian rumbai-rumbai, khusus lelaki-lelaki muda, beranting-anting pecahan gigi taring babi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga pantas sebagai aksesori.

“Kita mesti selalu bersama, tak boleh berpencar. Anak-anak kita yang ingusan, teruslah diamati, jangan alpa mendekap. Jika terasa membahayakan atau rewel, gantianlah menggendong. Jika di dalam hutan, gendonglah anak-anak kita di punggung,” tutur seseorang yang diakui sebagai tetua rombongan, pada mula keberangkatan perjalanan mereka.
***

“Ya. Kita tak boleh berpencar. Bayi itu harus kita temukan,” kata seorang perempuan dengan suara cempreng, sesuara angsa terinjak.

Sungguh, alangkah sayang, salah seorang bayi dalam rombongan perjalanan itu sampai bisa tertinggal di hutan. Naudzubillah, ibu bayi tersebut dipastikan meninggal karena keracunan. Tentu saja, ia digigit ular. Memang, tak cuma satu atau dua orang dalam karnaval perjalanan itu yang sempat digigit ular. Jika dihitung-hitung, hampir sepertiga orang dari jumlah rombongan itu mengaku digigit ular. Pengakuan yang terucapkan dengan serta-merta, sekeluar dari hutan. Namun, masing-masing dari mereka mampu mengatasi setiap aral, setiap bencana, apalagi hanya karena gigitan ular di kaki. Isapan mulut untuk menyedot bisa ular dan tempelan kunyahan rumput rakakas pada bekas luka cukup sebagai penyembuh.

Begitulah. Biasanya, tak perlu ribut-ribut, tuntas cuma dengan berhenti sebentar, menyelesaikan aral, pejalan yang lain boleh-boleh saja jika tak hirau.

Namun, ibu bayi itu ternyata tak membawa bekal rumput rakakas. Hal ini diketahui justru karena suaminya berjalan mendahului, jauh di depan, di deretan para tetua. Ternyata, rumput rakakas yang mestinya wajib dibawa setiap orang dalam serangkaian perjalanan itu malah terbawa suaminya. Padahal, bagi yang lain, setiap orang tak sampai kelupaan untuk mengantongi dalam saku baju atau celana.

Demikianlah. Dalam perjalanan yang agar khidmat maka dibayar dengan sepenuh diam, satu, dua, tiga, empat atau entah berapa kali pasti menyisihkan aral. Harap tahu, niat mereka berjalan hanyalah ingin pindah kampung halaman yang mereka anggap tak lagi nyaman. Bayangkan saja, orang yang sedang khusyuk berdoa, jelas di tempat ibadah, tiba-tiba saja bisa mati tertembak. Bayangkan pula, kehidupan yang tenteram hanya dengan bertani dan berladang, sontak terasa rawan justru karena tanah yang mereka tempati ditimbuni ranjau. Tentu, ujung cangkul yang terayunkan di sawah, yang nyangkut pada ranjau bakalan berisiko meledak; ratusan orang sudah meninggal karena ledakan ranjau.

Kini, dengan tetap merasa bingung apakah sebetulnya kesalahan mereka terhadap orang-orang yang gatal jika tak menembak, jumlah mereka hanya tinggal seratusan kepala, bukan lagi ribuan. Jika saat petang mereka berjalan semirip barisan yang memanjang, benarlah, tampak bagai goresan siluet alam yang indah, apalagi ketika melewati pematang sawah yang lengang.

Tetapi, bukankah mereka harus tetap kembali memasuki hutan yang telah terlampaui? Padahal, jika dipikir-pikir, perjalanan mereka kira-kira hanya tinggal lima kilometeran untuk mencapai keluasan tanah lapang berkapur putih di selingkar puncak bukit. Itulah kampung halaman yang mereka anggap bakalan lebih nyaman, setidaknya dalam kurun waktu bertahun-tahun ke depan. Pastilah dengan risiko lumayan berat; mereka harus membangun tempat tinggal lebih dulu.

Memang, bukan suatu hal yang sulit bagi mereka untuk keperluan membangun tempat tinggal ala kadarnya. Bambu-bambu, pokok kayu, genting yang terbuat dari kelaras atau kebutuhan apa pun yang mereka inginkan untuk membangun sekadar gubuk, mudah didapat di sepanjang jalan menuju perbukitan itu. Keinginan lebih khusyuk mempertahankan hidup, apalagi dalam berdoa, telah menggerakkan nyali dan semangat mereka.

Tentu saja, hanya mereka yang tak beranting-anting pecahan gigi taring babi yang boleh dikatakan rajin berdoa karena yang beranting-anting pecahan gigi taring babi adalah orang-orang yang di mata para tetua masih suka mengumbar keliaran masa muda, belum begitu sadar dengan kebiasaan berdoa. Meskipun satu per satu dari mereka kini justru mulai tergerak sembahyang, terbukti ketika mendengar suara azan, ternyata masih rikuh, menahan jengah tak berkesudahan. Bolehlah ditertawakan, ekspresi kenakalan mereka dengan mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi yang cuma bisa didapat dengan berburu di hutan bernilai amat nanggung, diam-diam malah memalukan. Bukan simbol kejantanan lelaki.
***

Sebagian dari mereka menggerutu, perjalanan kembali memasuki hutan adalah kesia-siaan. Namun, bagaimana dengan janji kebersamaan mereka? Terlihat di antara mereka berunding, berusaha menghindar dari saling menyalahkan karena untuk apalah pertengkaran dijadikan picu penyelesaian.

Pada akhirnya disepakati, hanya laki-laki muda yang beranting-anting pecahan gigi taring babi itulah yang diutus kembali berjalan menyusuri rerimbun hutan yang maha lebat bersama ayah sang bayi. Sekalianlah menjemput mayat ibu bayi, jangan berharap apa pun kecuali mulutnya akan kelihatan nyinyir biru lebam, bertubuh kaku tersebab sengatan racun yang menjalar karena bisa ular. Ehmmm, jika ditemukan, mulut ibu sang bayi itu pastilah menganga, dikerumuni ratusan semut.

Sebab itu, berjalanlah para lelaki muda beranting pecahan gigi taring babi di kanan-kiri ujung daun telinga itu menuju hutan. Tentu saja, setelah makan sisa perbekalan jatah hari itu. Karena mulai petang, perjalanan menggunakan obor begitu menantang nyali, meskipun hal semacam itu sangatlah lazim. Keluar-masuk hutan pada waktu kapan pun bukan merupakan halangan, apalagi hanya karena malam hari. Jangan kaget, jika ada harimau yang tahu perjalanan mereka tentu lebih memilih diam, seperti maklum dengan bau keringat mereka.

Celaka, sebentar lagi hujan mengguyur. Geledek menyambar-nyambar seperti sengaja menggoda perjalanan para lelaki muda. Kalau rombongan kaum serupa gipsi yang berada di luar hutan bisa berteduh dengan mendirikan tenda, tak cemas dengan binatang buas yang jika mau setiap saat siap memangsa, bagaimana dengan serombongan orang yang kini menempuh sepertiga perjalanan di dalam hutan? Bukankah jika hujan jadi mengguyur obor mereka akan mati?

Tidak meleset dari tebakan, hujan memanglah turun, tapi hanya pantas disebut gerimis. Meskipun geledek menggedebur, mereka tak lagi cemas bahwa obor yang mereka bawa akan mati. Jika hanya rinai gerimis yang turun, tidaklah muskil berarti apa-apa kalau di dalam hutan? Rerimbun dedaunan yang lebat sanggup menahan deraian gerimis.

Sampai di tengah hutan yang pekat, untuk mempercepat pencarian mau tak mau mereka berpencar, berjalan dua-dua. Mereka tak begitu mengakrabi perjalanan yang sepagi dan sesiang tadi terlalui karena risiko malam hari. Tak mungkinlah usaha pencarian hanya mengandalkan feeling atau intuisi. Sementara, tangis bayi yang diharapkan mampu sebagai penunjuk jalan sama sekali tak terdengar. Apakah nasib si jabang bayi sungguh tak lagi bernapas?

Setelah kurang lebih empat jam mereka di dalam hutan, syukurlah, bayi itu mereka temukan di sudut bagian tenggara, ditandai adanya pohon jati yang diperkirakan paling besar di hutan itu. Masya Allah, entah tadi entah kapan, bayi itu tampaknya diseret-seret anjing yang suka berkeliaran keluar-masuk hutan. Untunglah, yang diseret-seret anjing bukan tubuh si jabang bayi, melainkan jarit yang membebat tubuhnya. Untunglah pula, jarit yang membebat tubuh bayi itu hanya koyak-moyak, tak sampai robek. Meskipun tubuh bayi itu terluka, memar-memar, mungkin kebentur-bentur gundukan tanah atau akar pepohonan yang menyembul di atas tanah, harapan hidup masihlah ada.

Tibalah saatnya bayi itu digendong, ayah bayi itu segera berjalan keluar hutan, dikawal tiga orang. Sementara, yang lain masih melanjutkan pencarian mayat sang ibu. Logikanya, pasti tak jauh dari keberadaan bayi itu pas ditemukan. Sebab itu, di sekeliling ditemukannya bayi itulah sisa lelaki-lelaki berusia belasan meneruskan pencarian.

Nihil. Rupa-rupanya perkiraan mereka meleset. Jauh sekitar lima puluhan meter, menjorok ke tengah hutan barulah ditemukan mayat sang ibu, berposisi menelungkup. Setelah tubuhnya dibalik, terlihat cadarnya terbuka. Wajahnya biru-lebam, bibirnya bengkak, menganga–puji Tuhan tak dikerumuni ratusan semut. Aih, matanya melek. Tepatlah dugaan, beragam jenis ular yang lalu-lalang di dalam hutan, yang gemar melintas lewat sela-sela kaki yang sejenak berhenti, menghendaki mematok kaki sang ibu.

Selewat dini hari, tak sampai menjelang pagi mereka berhasil memanggul mayat sang ibu. Alhamdulillah, nyala obor mereka tak kehabisan minyak. Kalau kehabisan minyak? Wah! Tak ada jalan lain kecuali menunggu fajar merekah sebelum keluar hutan. Bagaimana jika mendadak ada puluhan ular berbisa menghampiri mereka lebih dari maksud sekadar melintas?
***

Di luar hutan, rombongan yang menunggu kedatangan para pencari mayat menyambut suka cita. Para ibu disibukkan merawat bayi yang kedinginan itu.

Bayi itu cuma lemas. Ia masih sehat. Setelah minum sekadarnya, bahkan ada seorang ibu yang mencoba memaksa memberikan air susunya meskipun jelas menolak, barulah ia bereaksi. Menggeliat. Menangis. Tetua yang dihormati sebagai kepala rombongan memutuskan melanjutkan perjalanan, tak usah terlalu larut dalam kesedihan.

Dalam perjalanan kembali ke arah bukit kapur putih, serombongan pengungsi itu bergantian melafalkan zikir. Mereka yang berumur belasan tahun dan bukan bagian dari yang mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi memanggul mayat dengan tandu, bikinan mendadak, dari bambu.

Ada prosesi mendesak yang menyusul terselesaikan: sebelum membangun permukiman baru adalah bagaimana selayaknya mengubur mayat perempuan itu, memandikannya secara wajar lewat kucuran air yang mengalir dari lereng bukit. Siapa pun yang tahu pasti heran, air yang mengalir dari selingkar bukit itu sungguh kelewat bersih. Apakah air yang bening memang menjadi cermin betapa sucinya hati seorang ibu yang akan mereka mandikan? Kecerahan langit seolah-olah juga mengabarkan sejumput nyawa yang melayang dari tubuh perempuan itu telah diterima Tuhan dengan ikhlas, terbukti tak ada gagak-gagak liar yang berkaok-kaok mengiringi pemandian mayat itu.

Baru ketika siang menyengat, selesai memandikan mayat mereka beristirahat. Jika ada yang berkeinginan makan dipersilakan. Sesudahnya, mereka menyalatkan jenazah, berjemaah. Aneh, siang itu aura alam terasa menggidikkan bulu kuduk. Sengaja mereka menyalatkan jenazah di tenda yang besar.

Nah, saat mayat itu dimandikan, yang berkewajiban mengeduk kalang tanah sedalam dua meter adalah anak-anak bengal beranting pecahan gigi taring babi. Mereka sigap bekerja sepenuh hati. Dengan sendirinya, mereka tak ikut rombongan tetua, juga ibu-ibu yang menyalatkan jenazah. Mereka cukup berada di area tanah yang digali.

Hampir pukul tiga sore matahari meredup, kibasan angin terasakan mengusir hawa panas. Ada yang sungguh-sungguh aneh dalam suasana penguburan jenazah yang terasa sunyi itu. Ketika mayat perempuan yang akan dikubur ditidurkan dalam kalang tanah, para lelaki muda yang beranting pecahan gigi taring babi seperti merasa sangat bersalah. Mereka belingsatan. Selama ini, tak ada yang menggampar pilihan kelakuan mereka untuk bengal, lengkap dengan aneka tato bikinan sendiri di sekujur tubuh.

Jelas, dalam suasana semacam itu semua orang sedang terlibat kesedihan yang sama, tapi entahlah, para lelaki muda itu seperti berada dalam puncak kebingungan. Yang mengagetkan, tanpa ada yang menyuruh, mereka berpandangan. Mereka pun melepas satu per satu anting-anting yang dikenakan, melemparkannya bersamaan dengan ditimbuninya mayat itu dengan tanah. Pada saat itulah, senggukan tangis tak sekadar menjadi suara yang tertahan; banyak orang meledakkan tangis sendiri-sendiri.

Sehabis asar, barulah mereka usai dengan prosesi penguburan jenazah. Setelah selesai berdoa bersama yang dipimpin tetua rombongan, dengan sisa kesedihan yang membuat muka sembap sekalipun bercadar, mereka melangkah dengan harapan segera membangun permukiman baru. Para lelaki muda yang tak lagi mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi terlihat membersihkan apa pun yang ada di sekitar tanah-ladang yang bakalan mereka jadikan permukiman.

Diiringi tangis bayi yang melengking karena ibunya baru saja dikubur, para lelaki muda itu terus bekerja. Tak usah ditanya, mulai besok pagi, ayah bayi itu pasti kerepotan, ia mesti berusaha keras mencari pengganti susu. Mungkinkah bayi itu cukup diberi seduhan teh setiap harinya? Benarkah usia bayi yang menginjak angka sembilan bulan lebih mudah disapih?

Malam ini mereka tidur di tenda. Ada empat tenda besar yang muat menampung mereka. Keesokan harinya, setelah area ladang itu purna-dibersihkan sebagai kelayakan tempat tinggal, barulah mereka mencicil membangun permukiman sederhana dengan bambu atau apa pun yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh.

Segerombol para lelaki muda yang tak lagi beranting pecahan gigi taring babi barusan bersih-bersih badan. Rupa-rupanya, setelah mandi di pancuran air lereng bukit mereka tergoda wudu. Matahari yang merapat menjadi sah disebut petang, sekalipun belum terdengar suara azan yang mengalun.

Nun dari rerimbun pepohonan, terdengar kemerosak. Salah seorang di antara lelaki muda yang tadinya beranting gigi taring babi mempercepat langkah ke gelaran tikar di dalam tenda yang disediakan untuk salat berjemaah. Ah, lelaki muda yang berjalan gegas itu pun berazan, membuat para tetua, laki-laki maupun perempuan terhenyak, heran sekaligus haru dengan suara adzan yang syahdu. Ternyata dari mulut yang berazan itu tak selamanya cuma lihai mengucapkan umpatan-umpatan kotor? Bajingan, umpamanya?

Ah, merekalah orang-orang yang telah sengaja menghunjam dan menguburkan kecemasan mendengarkan serentetan tembakan yang membuat salah seorang di antara mereka bakalan menyusul mati tanpa alasan yang pasti, apalagi menjadikannya berarti. ***

Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *